Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil - Bab 6

  1. Home
  2. Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil
  3. Bab 6 - Lima Tahun yang Hilang
Prev
Next

Matahari sore membiaskan sinar keemasan yang lembut di atas rumput hijau taman perumahan. Sebuah bangku kayu di bawah naungan pohon mahoni menjadi tempat Nayara duduk menyilangkan kaki, memerhatikan dua sosok manusia yang berada beberapa meter di depannya.

Alvaro berlutut di tanah rumput tanpa memedulikan celana bahan mewahnya yang tersingkap kotor. Pria berjas tegap itu tampak begitu tekun membantu seorang anak laki-laki kecil membetulkan rantai sepeda roda tiga yang terlepas dari girnya.

“Om Alvaro, bisa tidak?” tanya Arsen polos. Matanya yang bulat menatap cemas ke arah rantai besi yang beroli.

“Tentu saja bisa,” sahut Alvaro dengan suara hangat yang renyah. Jemari jemari tangannya yang biasa memegang pena mahal kini belepotan noda oli hitam. Dengan satu tarikan terukur, rantai itu kembali masuk ke jalurnya. “Nah! Coba Arsen kayuh sekarang.”

Arsen melompat gembira, lalu memanjat naik ke atas jok sepeda. “Asyik! Bisa lagi! Terima kasih, Om Alvaro!”

Alvaro tersenyum lebar, sebuah senyuman tulus yang memancarkan binar bahagia dari matanya. Ia mengusap pelipisnya menggunakan lengan kemeja yang tergulung, memerhatikan Arsen yang mulai mengayuh sepedanya berputar-putar di jalan setapak taman.

Dari bangku kayu, Nayara mengawasi setiap gerak-gerik itu dalam diam. Sudah tiga minggu berlalu sejak malam di mana Alvaro berlutut di teras rumahnya. Nayara akhirnya menetapkan batasan yang sangat tegas: Alvaro diizinkan bertemu Arsen hanya di akhir pekan, di tempat umum, dan hanya diperkenalkan sebagai ‘Om Alvaro’—kawan lama Mama. Tidak ada status ayah, tidak ada drama permohonan rujuk mendadak.

Alvaro menyanggupi seluruh syarat itu tanpa bantahan sedikit pun. Ia datang setiap Sabtu sore dengan kesabaran luar biasa, membawa mainan edukatif atau sekadar duduk bersama Arsen mengumpulkan daun-daun gugur di taman.

“Capek?” tanya Nayara saat Alvaro berjalan mendekat dan duduk di ujung lain bangku kayu, menjaga jarak aman yang disepakati.

Alvaro menoleh, lalu menggeleng pelan sambil menyapu keringat di dahinya. “Tidak sama sekali, Nay. Rasanya… rasanya luar biasa bisa mendengar tawanya dari dekat seperti ini.”

Nayara menyesap botol air mineralnya. “Arsen anak yang mudah dekat dengan orang yang tulus padanya. Tapi ingat janji kamu, Alvaro. Jangan sampai kamu membocorkan hal yang belum waktunya.”

“Aku ingat, Nay,” potong Alvaro cepat, tatapannya sarat rasa hormat dan patuh. “Aku tidak akan merusak kepercayaan yang sudah kamu berikan. Bisa berdiri di dekatnya saja sudah merupakan keajaiban buatku.”

Alvaro mengalihkan pandangannya kembali pada Arsen yang sedang memarkirkan sepedanya di tepi lapangan. Setiap lekuk wajah dan kebiasaan anak itu seolah menjadi cermin mini bagi dirinya sendiri. Bintik hitam kecil di cuping telinga kanan Arsen, cara anak itu mengedipkan mata dua kali saat gembira—semua itu adalah genetiknya yang mengalir nyata.

“Dia sangat mirip denganku waktu kecil,” gumam Alvaro lirih, bibirnya mengukir senyum tipis yang getir. “Ibu pernah menunjukkan foto masa kecilku… Arsen persis seperti itu.”

“Garis fisiknya mungkin mirip kamu,” sahut Nayara datar tanpa menoleh. “Tapi hatinya, kelembutan perasaannya, dan ketegarannya… itu hasil dari air mata dan usahaku membesarkannya sendirian.”

Alvaro mendadak bungkam. Kata-kata Nayara menghantam kesadarannya tanpa ampun. Pria itu menundukkan kepala, menatap kedua telapak tangannya yang kotor oleh oli sepeda.

“Aku tahu, Nay,” bisik Alvaro, suaranya parau menahan rasa bersalah yang membakar dada. “Aku tidak punya hak untuk mengklaim keberhasilannya tumbuh menjadi anak yang hebat ini. Semua kredibilitas itu milikmu sepenuhnya.”

Tak lama kemudian, Arsen berlari-lari kecil menghampiri mereka. Napasnya terengah-engah dengan pipi gempal yang bersemu merah akibat kelelahan bermain.

“Mama! Om Alvaro! Lihat, Arsen dapat daun bentuk bintang!” seru anak itu gembira sambil memamerkan selembar daun kering di telapak tangan mungilnya.

Nayara tersenyum lembut, menyapu helai rambut Arsen yang basah oleh keringat. “Wah, cantik sekali daunnya. Mau disimpan di buku gambar?”

“Mau!” sahut Arsen riang. Anak itu lalu berbalik menatap Alvaro yang duduk di ujung bangku. Arsen memiringkan kepalanya sedikit, menatap pria berjas tergulung itu dengan sepasang mata bulat yang penuh rasa ingin tahu.

“Om Alvaro…” panggil Arsen pelan.

“Iya, Arsen? Ada apa, Sayang?” sahut Alvaro lembut, langsung memajukan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi duduk anak itu.

Arsen memegang tali sepedanya, mengayunkan kakinya perlahan di atas rumput. “Kenapa Om Alvaro sekarang sering sekali datang ke rumah Arsen? Hampir tiap Sabtu Om datang…”

Alvaro tertegun sejenak. Ia melirik Nayara sekilas, lalu kembali menatap mata polos anak kandungnya. Sebuah senyuman hangat merekah alami di bibirnya.

“Kenapa, ya?” ulas Alvaro pelan, matanya berbinar tulus. “Karena… Om kangen.”

Arsen mengedipkan matanya polos. “Kangen siapa? Kangen Arsen?”

Alvaro perlahan mengangkat pandangannya dari wajah mungil Arsen, menatap lurus ke dalam mata Nayara yang duduk kaku di sampingnya.

“Om kangen… kalian berdua,” jawab Alvaro rendah, penuh penekanan emosional yang amat dalam.

Nayara mengalihkan pandangannya ke arah lain, menahan getaran aneh yang mendadak menyusup ke dalam relung hatinya. Sementara itu, Arsen hanya manggut-manggut polos tanpa mengerti kedalaman makna di balik ucapan pria di hadapannya.

“Kalau kangen, Om Alvaro boleh main ke sini terus, kok! Arsen suka kalau dijemput Om naik mobil besar!” ceracau Arsen riang sebelum kembali berlari menghampiri sepedanya.

Setelah Arsen kembali agak jauh, suasana di antara mereka berdua kembali diliputi keheningan yang syahdu. Angin sore berembus lembut, memutarkan daun-daun kering di sekeliling bangku taman.

“Alvaro,” panggil Nayara pelan setelah sekian lama berdiam diri.

Pria itu menoleh cepat. “Ya, Nay?”

“Selama tiga minggu ini… aku memperhatikanmu,” tutur Nayara lurus, suaranya tenang tanpa ada lagi amarah yang berapi-api. “Kamu berubah banyak. Kamu bukan lagi Alvaro yang gila kerja, dingin, dan selalu merasa paling benar seperti lima tahun lalu.”

Alvaro menghela napas panjang, menatap bayangan pohon di tanah. “Kehilangan kamu… dan hidup dalam pernikahan yang salah bersama Selina telah menghancurkan seluruh kesombonganku, Nay.”

“Kenapa kamu dulu tega melakukan semua itu padaku, Alvaro?” tanya Nayara, menyuarakan pertanyaan yang selama lima tahun ini tersimpan rapi sebagai luka di dasar hatinya. “Apa aku begitu membosankan? Apa aku tidak pernah cukup buat kamu saat itu?”

Alvaro menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang amat hancur dan penuh penyesalan. Ia menatap Nayara dengan mata yang kembali memerah basah.

“Bukan karena kamu tidak cukup, Nay. Demi Tuhan, tidak,” bisik Alvaro, suaranya bergetar hebat. “Bukan karena kamu kurang, dan bukan pula karena aku tidak mencintaimu…”

“Lalu kenapa?” cecar Nayara pelan, matanya mulai digenangi air mata yang tertahan.

“Aku bodoh, Nay,” tutur Alvaro jujur tanpa lagi mencari pembenaran. “Saat itu… di puncak karir dan masa mudaku, aku pikir aku sedang mencari kebahagiaan yang lebih besar. Aku terbuai oleh ilusi kebebasan dan gairah sesaat. Aku pikir ada sesuatu yang luar biasa di luar sana… Padahal kenyataannya, aku hanya seorang pria tolol yang tidak tahu cara menghargai apa yang sudah ada di dalam genggamannya.”

Nayara memejamkan matanya, membiarkan satu tetes air mata jatuh melintasi pipinya.

“Aku baru sadar saat kamu benar-benar pergi dari hidupku,” lanjut Alvaro dengan isak pelan yang tertahan di kerongkongan. “Rumah yang besar itu terasa begitu hampa dan dingin tanpa kehadiranmu. Setiap tawa yang kubagi bersama Selina hanyalah panggung sandiwara. Aku kehilangan arah, Nay. Aku menghancurkan wanita terbaik dalam hidupku demi ilusi murahan… dan penyesalan itu membakar jiwaku setiap hari selama lima tahun ini.”

Pengakuan tulus yang keluar dari mulut Alvaro terasa begitu memukul dada Nayara. Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi keangkuhan pria itu. Yang duduk di hadapannya hanyalah seorang manusia yang hancur oleh kebodohannya sendiri di masa lalu.

Nayara menyapu air mata di pipinya dengan ujung jemarinya, lalu menghela napas panjang untuk menata detak jantungnya. Ia menatap ke arah Arsen yang sedang tertawa riang dikejar seekor kupu-kupu di lapangan.

“Aku tidak bisa menghapus masa lalu, Alvaro,” kata Nayara pelan namun amat mantap. “Luka yang kamu torehkan malam itu meninggalkan parut yang akan selalu ada di hatiku.”

Alvaro menunduk pasrah. “Aku tahu, Nay… Aku tidak pernah berharap kamu melupakan semuanya begitu saja.”

“Tapi…” Nayara menggantungkan kalimatnya.

Alvaro mendongak cepat, menatap wajah Nayara dengan dada berdebar kencang.

Nayara memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata pria yang pernah menjadi bagian tersuci sekaligus tersakit dalam hidupnya.

“Aku melihat bagaimana kamu menatap Arsen selama tiga minggu ini,” ucap Nayara dengan suara yang amat jernih. “Aku melihat kesabaranmu, ketulusanmu, dan usahamu untuk menebus waktu yang hilang. Arsen berhak tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Dan aku… aku bisa memberimu kesempatan untuk menjadi ayah buat Arsen.”

Seketika itu juga, air mata Alvaro menetes deras melintasi pipinya. Sebuah perasaan lega dan haru yang tak terkira membuncah hebat di dalam dadanya.

“Nayara… terima kasih…” bisik Alvaro serak, bibirnya gemetar tak sanggup menahan kebahagiaan. “Terima kasih banyak…”

“Tapi, Alvaro,” potong Nayara cepat, nadanya mendadak berubah sangat tegas.

Alvaro menahan napasnya, menatap Nayara menunggu kelanjutan kalimat wanita itu.

Nayara menatapnya tanpa ragu sedikit pun.

“Aku memberimu kesempatan untuk menjadi ayah buat Arsen,” pangkas Nayara dingin dan mantap. “Tapi untuk menjadi suamiku lagi… aku belum tahu. Dan aku tidak menjanjikan apa pun padamu.”

Kalimat itu melayang kaku di udara sore yang mulai berganti remang senja.

Alvaro terdiam membeku. Namun alih-alih kecewa, sebuah senyuman paling tulus dan pasrah terukir di bibirnya yang basah oleh air mata. Ia mengangguk pelan, menerima vonis itu dengan seluruh ketundukan jiwanya.

“Aku mengerti, Nay,” bisik Alvaro mantap. “Aku akan membuktikan padamu… seumur hidupku jika perlu.”

BERSAMBUNG

Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️

Bagaimana menurutmu keputusan Nayara? Komen “LANJUT” di kolom komentar kalau kamu ingin melihat bagaimana reaksi Arsen saat akhirnya mengetahui bahwa ‘Om Alvaro’ adalah ayah kandungnya! 👇

Prev
Next
Tags:
Cinta Kedua, Drama Rumah Tangga, Free Novel, Perceraian
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita