Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil - Bab 5

  1. Home
  2. Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil
  3. Bab 5 - Kamu Tidak Punya Hak
Prev
Next

Pintu kayu cokelat itu terbuka pelan dari dalam.

Nayara melangkah keluar memegang kantong sampah plastik hitam, berniat membuangnya ke tong sampah di depan pagar. Namun, langkah kakinya terhenti seketika. Sosok pria berjas gelap yang berdiri mematung di teras rumahnya membuat jantung Nayara seolah berhenti berdetak.

Alvaro berdiri hanya berjarak dua meter darinya. Pria itu menatapnya dengan mata yang sembap, memerah, dan basah oleh air mata.

Napas Nayara mendadak sesak. Ketakutan yang amat sangat menyapu seluruh kesadarannya. Ia Reflex melangkah mundur, siap menutup dan mengunci pintu rumahnya kembali.

“Nayara, tolong! Jangan kunci pintunya!” panggil Alvaro serak. Pria itu melangkah cepat menahan tepi pintu kayu dengan telapak tangannya yang gemetar. “Tolong… jangan lari lagi dariku.”

“Pergi dari sini, Alvaro!” bentak Nayara. Suaranya dipenuhi amarah bercampur kepanikan yang mendalam. Matanya mengilat tajam menatap mantan suaminya. “Bagaimana bisa kamu menemukan tempat ini?! Untuk apa kamu datang ke sini?!”

“Aku cuma ingin bertemu denganmu, Nay,” bisik Alvaro, suaranya pecah menahan isak. “Aku perlu mendengar kejujuran dari mulutmu sendiri.”

“Tidak ada yang perlu diujur-ujurkan lagi di antara kita!” Nayara mencoba mendorong pintu untuk menutupnya, namun Alvaro menahannya dengan sisa tenaga yang ia miliki, tanpa berniat menyakiti. “Pergi, Alvaro! Jangan kacaukan kehidupan tenang yang sudah aku bangun selama lima tahun ini!”

“Tolong, Nayara… sebentar saja!” mohon Alvaro dengan mata berkaca-kaca. “Aku mendengarnya… Aku mendengar semuanya dari luar pintu tadi!”

Perkataan Alvaro membuat tubuh Nayara menegak kaku. Tangannya yang memegang tepi pintu bergetar hebat.

“Kamu… kamu mendengar apa?” bisik Nayara, suaranya mendadak berubah sangat pelan dan dingin.

Alvaro menatap Nayara dengan tatapan paling hancur yang pernah wanita itu lihat. Air mata baru meluncur bebas di pipi pria yang biasanya amat membanggakan harga dirinya itu.

“Arsen…” suara Alvaro bergetar hebat, menyebut nama itu dengan nada yang sarat akan kepedihan. “Anak itu… dia menanyakan ayahnya. Dia bertanya kenapa ayahnya tidak pernah datang menjemputnya…”

Nayara mengepalkan jemarinya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Itu urusanku dan anakku. Kamu tidak punya hak untuk ikut campur!”

“Bagaimana bisa aku tidak punya hak?!” bentak Alvaro pelan namun penuh penekanan yang menyayat hati. “Dia menyebut nama ayahnya, Nay! Dan anak itu… anak itu lahir sembilan bulan setelah hari kita bercerai! Namanya Arsen Alvaro Pratama! Tolong jawab aku secara jujur, Nayara… demi Tuhan, tatap mataku dan katakan padaku!”

Alvaro melangkah maju satu tapak, menatap lurus ke dalam mata Nayara yang mulai digenangi air mata amarah.

“Dia anakku, kan?” tanya Alvaro dengan napas memburu. “Arsen… dia darah dagingku, kan?”

Suasana di teras rumah mungil itu mendadak hening mencengkeram. Hanya terdengar suara gesekan dedaunan pohon yang ditiup angin sore dan helaan napas berat dari mereka berdua.

Nayara memejamkan matanya rapat-rapat. Satu usapan air mata panas lolos menetes di pipinya. Ia tahu, berbohong di hadapan bukti tanggal lahir dan kemiripan fisik Arsen yang begitu mencolok hanya akan menjadi kebohongan sia-sia.

Saat Nayara membuka matanya kembali, tatapannya begitu lurus, dingin, dan menusuk langsung ke relung jiwa Alvaro.

“Iya,” ucap Nayara mantap dengan suara yang amat jernih. “Arsen anakmu.”

Brak.

Meski Alvaro sudah menduga jawaban itu sejak awal, mendengar pengakuan langsung dari bibir Nayara tetap menghantam jiwanya bagaikan dentuman meriam. Tubuh tegapnya berguncang hebat. Pria itu menyandarkan sebelah tangannya ke tembok teras, menahan tubuhnya yang mendadak lemas tak berdaya.

Lima tahun.

Lima tahun ia hidup dalam kemewahan, kesendirian, dan egoismenya, tanpa pernah tahu bahwa di sudut kota lain ada seorang anak laki-laki berdarah dagingnya yang tumbuh tanpa pernah merasakan pelukan seorang ayah.

“Lima tahun…” bisik Alvaro serak, air matanya menetes makin deras membasahi kerah kemejanya. “Selama lima tahun ini… aku punya anak? Dan aku tidak pernah tahu…?”

“Kamu tidak tahu karena kamu memang tidak perlu tahu, Alvaro,” balas Nayara tanpa sedikit pun belas kasihan dalam nadanya.

Alvaro mendongak, menatap Nayara dengan pandangan terluka dan tidak percaya. “Kenapa, Nayara?! Kenapa kamu tega merahasiakan hal sebesar ini dariku?!”

“Tega kamu bilang?!” potong Nayara dengan suara meninggi, amarah yang terpendam selama lima tahun akhirnya meledak keluar. “Kamu bertanya kenapa aku tidak memberitahumu?! Kamu lupa apa yang kamu lakukan malam itu, Alvaro?!”

Alvaro tertegun, bibirnya terkatup kaku.

“Malam itu kamu datang membawa lembaran surat cerai!” jerit Nayara pelan, air matanya menetes deras melintasi pipinya. “Kamu meletakkannya di atas meja dan bilang hatimu sudah milik wanita lain! Kamu bilang pernikahan kita adalah kesalahan dan kamu ingin bebas mengejar kebahagiaanmu bersama Selina! Kamu ingat itu?!”

“Nayara, aku…”

“Lalu kamu mengharapkanku melakukan apa?!” cecar Nayara, menunjuk dada Alvaro dengan jarinya yang gemetar. “Kamu mau aku berlutut di kakimu malam itu? Memohon-mohon padamu agar tidak pergi hanya karena ada janin kecil di dalam perutku?! Kamu mau aku menahanmu dengan rasa kasihan?!”

Alvaro menggelengkan kepalanya dengan wajah hancur. “Aku tidak bilang begitu, Nay…”

“Aku tahu siapa kamu, Alvaro!” potong Nayara tajam. “Kamu pria yang penuh dengan rasa tanggung jawab dan harga diri. Kalau malam itu aku bilang aku sedang hamil, kamu mungkin tidak akan pernah menandatangani surat cerai itu. Kamu akan tetap tinggal di sisiku!”

Alvaro menelan ludahnya yang terasa pahit. “Lalu apa yang salah dengan itu?! Aku akan bertangung jawab! Aku akan menjaga kalian!”

“Tapi kamu tinggal bukan karena kamu mencintaiku!” teriak Nayara, suara gemetarnya sarat akan luka masa lalu yang begitu dalam. “Kamu akan tinggal hanya karena rasa bersalah! Kamu akan tinggal di rumah kita sambil terus membayangkan wanita lain yang kamu cintai! Dan aku… aku akan menjadi istri yang setiap hari mati rasa melihat suaminya terpaksa bertahan demi anak!”

Alvaro membeku. Kata-kata Nayara menembus jantungnya begitu telak, meremukkan seluruh pembelaan diri yang ingin ia lontarkan.

“Aku tidak sudi membawa anakku tumbuh di dalam rumah tangga yang hampa seperti itu,” lanjut Nayara dengan napas terengah-engah, mengusap air matanya kasar. “Aku tidak mau Arsen tumbuh melihat ibunya menangis setiap malam karena ayahnya berada di sana hanya karena terpaksa. Lebih baik aku membesarkannya sendirian dengan kasih sayang penuh daripada memberikannya sebuah keluarga palsu!”

“Tapi aku berhak tahu, Nayara…” bisik Alvaro, suaranya begitu rapuh dan memohon. “Bagaimanapun jahatnya aku padamu waktu itu… aku tetap ayahnya. Aku berhak tahu tentang keberadaan darah dagingku sendiri.”

Nayara tersenyum pahit, sebuah senyuman penuh ironi yang menyayat hati.

“Mungkin,” jawab Nayara dingin. “Mungkin kamu memang berhak tahu. Tapi waktu itu, aku terlalu takut. Aku tidak tahu apakah kalau kamu datang… kamu akan datang sebagai pria yang benar-benar ingin menjadi ayah, atau cuma pria asing yang merasa bersalah dan ingin menguji kekuasaannya padaku.”

Alvaro memejamkan mata rapat-rapat. Rasa bersalah yang amat besar meremukkan seluruh pertahanan dirinya. Ia berlutut di teras dingin itu, menundukkan kepalanya di hadapan wanita yang pernah ia sia-siakan.

“Aku minta maaf, Nayara…” isak Alvaro. Pria berjas mewah itu kini bersimpuh tanpa sisa kebanggaan sama sekali. “Aku minta maaf untuk semua dosa dan kebodohanku lima tahun lalu… Aku pria brengsek yang sudah menghancurkan hidupmu. Kamu boleh membenciku seumur hidupmu, kamu boleh memukulku… tapi tolong… tolong jangan jauhkan aku dari Arsen.”

Nayara menatap pria yang dulu begitu ia cintai kini berlutut di depannya. Tidak ada rasa puas atau bahagia di hati Nayara melihat kehancuran Alvaro; yang ada hanyalah rasa lelah yang amat sangat.

“Berdirilah, Alvaro,” kata Nayara pelan. “Jangan bersikap seperti ini di depan rumahku.”

Alvaro perlahan berdiri, mengusap wajahnya yang basah oleh air mata dengan telapak tangannya. Matanya memerah, menatap Nayara dengan tatapan penuh permohonan.

“Nay…” suara Alvaro bergetar. “Kalau… kalau aku ingin mengenal Arsen… kalau aku ingin belajar menjadi ayah yang baik buat dia… apa kamu akan membiarkanku?”

Pertanyaan itu melayang kaku di antara mereka.

Nayara tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke dalam rumah, di mana Arsen mungkin sedang duduk di sofa sambil menggambar, menunggunya kembali. Bayangan pertanyaan polos Arsen tentang ayahnya tadi sore kembali berputar di kepalanya.

Arsen butuh jawaban. Arsen butuh kepastian tentang sosok ayah yang selama ini hanya ada dalam imajinasinya. Namun di sisi lain, hati Nayara masih terlalu takut untuk membiarkan Alvaro melangkah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan mereka.

Keheningan menyelimuti mereka cukup lama. Alvaro menunggu dengan dada berdebar kencang, menantikan vonis keputusan dari wanita di hadapannya.

Nayara kembali menatap Alvaro. Tatapannya masih dingin, namun tidak lagi sekeras sebelumnya.

“Aku akan memikirkannya,” jawab Nayara pelan namun tegas.

Satu kalimat itu sudah cukup untuk memberikan secercah harapan kecil di tengah kegelapan penyesalan Alvaro.

“Terima kasih, Nayara…” bisik Alvaro tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. “Terima kasih banyak…”

“Sekarang pergi,” pinta Nayara datar. “Sebelum Arsen keluar dan melihatmu dalam kondisi seperti ini.”

Alvaro mengangguk cepat. Ia melangkah mundur perlahan, matanya menatap pintu rumah itu sekali lagi sebelum berbalik dan berjalan keluar dari halaman pagar dengan langkah yang masih bergetar.

Nayara memutarkan badan, melangkah masuk ke dalam rumahnya, lalu menutup pintu kayu itu rapat-rapat. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, memejamkan mata sambil menghela napas panjang. Badai yang selama lima tahun ia hindari akhirnya telah sampai di depan pintunya.

BERSAMBUNG

Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️

Apakah Nayara akan mengambil keputusan yang tepat? Komen di kolom komentar! 👇

Prev
Next
Tags:
Cinta Kedua, Drama Rumah Tangga, Free Novel, Perceraian
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita