Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil - Bab 4

  1. Home
  2. Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil
  3. Bab 4 - Aku Tidak Mau Kamu Tahu
Prev
Next

Napas Nayara memburu tajam saat matanya menatap Alvaro yang berdiri membeku dengan wajah pucat pasi. Tanpa menunggu pria itu menyelesaikan kepanikannya, Nayara menarik jemari Arsen lebih erat.

“Ayo, Arsen. Kita pulang sekarang!” bisik Nayara cepat. Suaranya penuh getaran ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan.

“Mama, es krimnya tidak jadi?” tanya Arsen polos sambil mendongak, kebingungan melihat ibunya yang mendadak panik.

“Nanti Mama belikan di dekat rumah! Ayo, Sayang, cepat jalan!”

Nayara memutarkan badan dan melangkah selebar mungkin, setengah menyeret langkah mungil Arsen menembus kerumunan pengunjung mall. Ia tidak menengok ke belakang sama sekali. Ketakutan hebat yang bersarang di dadanya bukan karena rasa salah, melainkan kepanikan murni bahwa dunia tenang yang ia bangun bersama Arsen selama lima tahun akan hancur lebur dalam sekejap.

“Nayara! Tunggu, Nayara!” seru suara Alvaro dari kejauhan, mencoba memburu langkah mereka.

Namun, Nayara bergerak cepat masuk ke dalam lift yang kebetulan pintunya baru saja terbuka. Ia membaur di antara kerumunan pengunjung lain yang hendak turun. Begitu pintu besi lift tertutup rapat, Nayara menyandarkan punggungnya ke dinding dingin, memejamkan mata rapat-rapat sambil menahan napasnya yang terengah-engah.

“Mama… Mama kenapa menangis lagi?” tanya Arsen polos sambil memegangi ujung gaun ibunya. Mata bulatnya menatap bingung pada lelehan air mata yang lolos di pipi Nayara.

Nayara berlutut cepat di dalam lift, menghapus air matanya lalu mengusap pipi gempal anaknya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. “Mama tidak apa-apa, Nak… Mama cuma capek. Nanti sampai di rumah, kita langsung kunci pintu, ya?”

*Aku tidak boleh biarkan dia tahu,* batin Nayara menjerit ketakutan. *Aku tidak boleh membiarkan Alvaro tahu kalau Arsen adalah darah dagingnya. Kalau dia tahu, dia akan datang menggunakan kekuasaan, pengaruh, dan uangnya untuk merebut Arsen. Dia tidak akan kembali karena mencintaiku, tapi karena merasa memiliki hak sebagai seorang ayah! Aku tidak sudi anakku diambil atau dibagi dengan pria yang dulu membuang kami demi wanita lain!*

—

Sementara itu, di lantai dua mall yang ramai, Alvaro berdiri mematung di depan pintu lift yang sudah tertutup rapat. Dadanya naik turun memburu, menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam kepalanya. Tangannya yang terkepal di samping tubuh bergetar hebat.

“Pak Alvaro? Anda tidak apa-apa, Pak?” sang sekretaris yang kebetulan naik kembali karena cemas melihat atasannya mendadak menghilang, kini berdiri di sampingnya dengan wajah panik. “Wajah Anda pucat sekali. Perlu saya panggilkan bantuan medis?”

Alvaro menggeleng pelan, lalu menoleh menatap sekretarisnya dengan tatapan tajam dan mata yang memerah basah.

“Rian,” panggil Alvaro. Suaranya parau, rendah, dan menyimpan keterdesakan yang teramat sangat.

“Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”

“Cari tahu keberadaan wanita tadi. Cari semua informasi tentang dirinya, alamat tinggalnya sekarang, dan…” Alvaro menelan ludahnya yang terasa pahit dan menyumbat kerongkongan. “…riwayat medis kelahiran anaknya lima tahun lalu di kota ini.”

Rian sempat tertegun heran, namun ia segera mengangguk patuh. “Baik, Pak. Akan saya selidiki secepatnya melalui relasi kita di dinas kependudukan dan rumah sakit daerah.”

“Lakukan sekarang juga,” tegas Alvaro.

Alvaro berjalan lunglai menuju mobil mewahnya yang terparkir di basement. Selama perjalanan kembali ke hotel, pikirannya berputar hebat bagaikan kilatan petir di malam gelap.

Ia bersandar pada jok kulit mobilnya yang empuk, memejamkan mata rapat-rapat. Pikirannya melayang jauh melintasi lorong waktu, kembali ke malam kelam lima tahun lalu di ruang tamu rumah lamanya.

Malam itu, hujan deras mengguyur kota. Alvaro ingat betul bagaimana angkuhnya ia saat meletakkan lembaran surat gugatan cerai di atas meja kaca. Ia ingat bagaimana dinginnya suaranya sendiri saat mengucapkan bahwa hatinya telah milik Selina.

Namun, ada satu detail penting yang selama lima tahun ini terlewat dari ingatannya—detail yang baru malam ini terasa begitu menghantam kesadarannya hingga membuatnya mual.

Saat ia menyerahkan pulpen pada Nayara, wanita itu tidak langsung menangis histeris atau memohon-mohon padanya. Nayara hanya duduk kaku dengan wajah pucat, matanya menatap lurus ke arah surat itu sementara telapak tangan kirinya tak henti-hentinya mengusap lembut bagian bawah perutnya.

Bahkan saat Nayara berdiri menandatangani surat itu, tangannya yang sebelah lagi terus memegangi perutnya seolah sedang melindungi sesuatu yang amat berharga dari kekejaman suaminya sendiri.

*Tuhan…* bisik Alvaro di dalam hatinya, rasa sakit yang luar biasa mendadak meremukkan dadanya. *Malam itu… dia sudah tahu. Dia sudah tahu sedang mengandung anakku, tapi aku malah mencampakkannya dan mengusirnya dari hidupku…*

Air mata Alvaro menetes deras tanpa suara, membasahi pipinya yang kaku. Penyesalan yang terlambat lima tahun itu kini menjelma menjadi sembilu tajam yang mengoyak jiwanya sampai tak tersisa.

—

Dua hari berlalu bagaikan siksaan lambat bagi Alvaro. Selama dua hari itu, ia tidak bisa tidur maupun bekerja dengan tenang. Setiap kali memejamkan mata, wajah polos Arsen dan tatapan dingin penuh luka dari Nayara selalu hadir membayanginya.

Hingga pada Sabtu sore, Rian datang mengetuk pintu kamar suite hotel tempat Alvaro menginap.

“Pak Alvaro,” Rian menyerahkan sebuah map cokelat tebal dengan raut wajah serius dan prihatin. “Saya sudah mendapatkan data lengkapnya.”

Alvaro merebut map itu dengan tangan gemetar. “Bagaimana? Apa yang kamu temukan, Rian? Jawab aku!”

“Ibu Nayara memang melahirkan seorang bayi laki-laki pada tanggal 14 Oktober lima tahun lalu di Rumah Sakit Daerah Kota ini, Pak,” terang Rian pelan. “Dari dokumen rekam medis yang kami dapatkan dari arsip rumah sakit, tidak ada nama ayah yang terdaftar di lembar persalinan. Beliau menjalani proses melahirkan dan masa perawatan sendirian.”

Alvaro membuka map tersebut dengan jemari yang makin bergetar. Matanya menatap lembaran salinan dokumen medis kusam. Di sana tertera nama pasien: *Nayara Putri*, dan nama bayi: *Arsen Alvaro Pratama*.

Melihat nama tengah anak itu yang menggunakan namanya sendiri, pertahanan Alvaro hancur total. Isak tangis pelan yang tertahan akhirnya lolos dari bibirnya.

“Dia… dia menamai anak itu dengan namaku…” gumam Alvaro serak. Air matanya menetes membasahi kertas di tangannya hingga tulisannya memudar. “Dia membesarkan darah dagingku sendirian tanpa bantuan siapa pun selama lima tahun…”

“Saya juga sudah mendapatkan alamat rumah Ibu Nayara saat ini, Pak,” tambah Rian ragu-ragu. “Beliau tinggal di sebuah rumah mungil di daerah komplek perumahan sederhana, sekitar dua puluh menit dari sini.”

“Siapkan mobil sekarang,” perintah Alvaro tegas sambil menyapu air matanya kasar. “Aku harus ke sana hari ini juga.”

—

Matahari sore mulai condong ke barat, memancarkan warna jingga kemerahan di sepanjang jalan komplek perumahan sederhana yang asri dan tenang.

Alvaro menyuruh sopirnya menyalakan mobil agak jauh dari blok rumah Nayara. Pria itu memilih berjalan kaki menyusuri jalan setapak kecil beraspal, mencari nomor rumah yang tertera di dalam catatan Rian.

Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah mungil berpagar besi hijau rendah. Halaman depannya bersih dengan beberapa pot bunga krisan warna-warni dan sebuah sepeda roda tiga berwarna biru terparkir rapi di dekat teras.

Alvaro berdiri kaku di balik pagar besi yang terbuka sedikit. Jantungnya berdebar kencang secara tidak teratur. Setiap helaan napasnya terasa amat berat. Ia memegang ujung pagar besi yang dingin, ragu apakah ia memiliki keberanian dan kepantasan untuk mengetuk pintu rumah wanita yang telah ia lukai begitu dalam.

Pria itu melangkah pelan memasuki halaman kecil, mendekati pintu kayu cokelat yang tertutup rapat. Tangannya terangkat, mengudara beberapa sentimeter dari permukaan pintu, bersiap untuk mengetuk.

Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh kayu pintu, suara nyaring dan polos seorang anak kecil dari balik pintu membuat seluruh tubuh Alvaro mendadak membeku di tempat.

“Mama… kenapa Ayah tidak pernah datang?”

Alvaro menahan napasnya seketika. Tangannya yang mengudara gemetar hebat.

Dari dalam rumah, terdengar helaan napas panjang Nayara yang terdengar begitu lelah namun penuh kelembutan.

“Kan Mama sudah pernah cerita, Sayang…” jawab suara Nayara pelan dari balik pintu. “Ayah itu sangat sibuk di tempat yang jauh.”

“Tapi kawan-kawan Arsen di sekolah semuanya diantar sama Ayah mereka,” suara Arsen terdengar memburu, polos namun menyimpan kerinduan yang sangat dalam. “Arsen juga mau dijemput sama Ayah… Arsen mau dipeluk sama Ayah seperti kawan-kawan yang lain. Kenapa Ayah tidak pernah pulang menemui Arsen, Ma? Apa Ayah tidak sayang sama Arsen?”

Suasana di dalam rumah mendadak hening sejenak, hanya terdengar suara gesekan kain baju saat Nayara merengkuh tubuh mungil anaknya.

“Ayah… Ayah bukannya tidak sayang,” suara Nayara bergetar menahan tangis yang teramat berat. “Tapi Ayah punya kehidupannya sendiri, Sayang. Arsen tidak perlu sedih, ya? Kan ada Mama di sini… Mama yang akan jadi Ayah sekaligus Ibu buat Arsen selamanya.”

Di luar pintu, Alvaro berdiri mematung. Air matanya menetes deras tanpa bisa ditahan lagi. Setiap patah kata yang diucapkan anak kecil itu dari balik pintu terasa seperti palu godam yang menghantam dadanya hingga hancur berkeping-keping.

Ia adalah ayah anak itu. Pria yang selama lima tahun ini hidup bergelimang harta dan kemewahan, sementara anak kandungnya sendiri menangis merindukan kehadiran seorang ayah yang bahkan tak pernah tahu ia ada di dunia.

BERSAMBUNG

Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️

Bagaimana perasaanmu setelah mendengar pertanyaan polos Arsen? Komen “LANJUT” di kolom komentar kalau kamu ingin melihat momen Alvaro akhirnya membuka pintu itu. 👇

Prev
Next
Tags:
Cinta Kedua, Drama Rumah Tangga, Free Novel, Perceraian
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita