Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil - Bab 3

  1. Home
  2. Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil
  3. Bab 3 - Anak Itu Siapa?
Prev
Next

Keheningan yang mencekat mendadak merebak di antara keriuhan pengunjung mall sore itu. Udara di sekitar koridor lantai dua serasa mendadak membeku, menyisakan dua pasang mata yang saling terkunci dalam pusaran emosi yang tak tertahankan.

Alvaro berdiri kaku hanya sejauh lima meter di depan mereka. Pria berjas gelap itu menatap Nayara seolah baru saja melihat hantu dari masa lalunya. Wajahnya yang biasa dingin dan penuh kendali kini pucat pasi, matanya membelalak tak percaya.

Di sisinya, Nayara mencengkeram jemari kecil Arsen erat-erat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Naluri pertahanan dirinya sebagai seorang ibu berteriak keras untuk segera berbalik dan berlari secepat mungkin dari tempat itu.

“Mama? Tangan Mama dingin sekali…” gumam Arsen polos sambil menengadah, menatap ibunya dengan dahi terlipat bingung.

Suara mungil anak itu memecahkan kebekuan. Nayara mengeripkan matanya dengan cepat, berusaha sekuat tenaga menguasai kepanikan yang mendera jiwanya. Ia memaksakan sebuah helaan napas pendek, lalu mengusap puncak kepala Arsen.

“Tidak apa-apa, Sayang. Mama cuma… sedikit kaget,” bisik Nayara dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski bibirnya gemetar tipis.

Alvaro melangkah maju. Setiap pijakan kakinya di atas lantai marmer yang berkilau terasa begitu berat. Matanya tak sedikit pun lepas dari sosok wanita yang pernah meninggalkannya lima tahun lalu.

“Nayara…?” suara Alvaro akhirnya lolos dari kerongkongannya. Suara itu parau, rendah, dan menyimpan keterkejutan yang teramat mendalam. “Ini… ini benar-benar kamu?”

Nayara menarik Arsen sedikit ke belakang gaunnya. Sikap refleks yang sarat akan proteksi itu tidak lolos dari pandangan Alvaro.

“Alvaro,” sapa Nayara datar. Suaranya dipaksakan sedingin es, menutupi kecemasan hebat yang sedang bergejolak di dalam dadanya. “Apa kabar?”

Alvaro tertegun mendengarkan nada suara yang begitu asing dan penuh jarak tersebut. Ia menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan Nayara, mematuhi batas tak kasatmata yang dipasang oleh mantan istrinya.

“Aku… aku baik,” sahut Alvaro patah-patah. Matanya dengan liar menelusuri wajah Nayara yang kini tampak sedikit berbeda—lebih matang, lebih mandiri, dan memancarkan aura ketegaran yang tak pernah ia lihat dulu. “Aku hampir tidak mengenali kamu…”

“Tentu saja. Lima tahun adalah waktu yang sangat lama untuk seseorang berubah,” balas Nayara cepat. Pandangannya lurus menatap Alvaro, enggan menunjukkan kelemahan sedikit pun.

“Pak Alvaro, apakah acara kita sudah selesai?” sekretaris Alvaro yang sejak tadi memperhatikan dari belakang akhirnya melangkah mendekat dengan wajah bingung. “Mitra dari Surabaya sudah menunggu di mobil.”

Alvaro tidak menoleh sama sekali. Ia mengibaskan tangannya pelan tanpa memalingkan pandangan. “Kamu ke bawah duluan. Tunggu saya di mobil.”

“Baik, Pak,” sang sekretaris membungkuk pelan, lalu berbalik pergi meninggalkan mereka berdua—atau lebih tepatnya bertiga.

Suasana menjadi canggung dan tegang kembali. Beberapa pejalan kaki yang melintas sempat menoleh heran melihat interaksi dua orang dewasa berpenampilan kontras yang berdiri mematung di dekat wahana permainan anak.

“Kamu… kamu tinggal di sini?” tanya Alvaro akhirnya. Ia berusaha membuka percakapan, mencoba mengikis dinding tebal yang memisahkan mereka.

“Iya,” jawab Nayara singkat.

“Sudah lama?”

“Sudah lama,” sahut Nayara tanpa berniat memberikan rincian detail. Setiap detik yang dihabiskan di depan Alvaro terasa seperti berjalan di atas hamparan paku tajam. “Kami harus pergi sekarang.”

“Tunggu, Nay! Tolong…” potong Alvaro refleks. Tangannya terangkat seolah ingin menggapai lengan Nayara, namun ia buru-buru menariknya kembali saat melihat mata Nayara mengilat tajam memancarkan peringatan. Alvaro menelan ludahnya yang terasa pahit. “Tolong… jangan langsung pergi seperti ini. Kita sudah lima tahun tidak bertemu. Bisakah kita bicara sebentar?”

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Alvaro,” tegas Nayara. “Semua urusan di antara kita sudah selesai sejak hari kita menandatangani surat perceraian lima tahun lalu.”

“Aku tahu… aku tahu aku tidak punya hak lagi padamu,” bisik Alvaro, suaranya dipenuhi rasa bersalah yang terpendam. Namun matanya kini perlahan bergeser pelan, turun menatap ke arah samping gaun Nayara.

Di sana, seorang anak laki-laki berkaus biru cerah sedang berdiri mengintipnya dengan mata bulat yang penuh rasa ingin tahu. Anak itu memegang sebuah balon kuning di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam erat kain gaun ibunya.

Jantung Alvaro kembali bergemuruh hebat saat matanya bertabrakan dengan mata anak itu.

“Kamu…” Alvaro menggantungkan kalimatnya. Napasnya mendadak terasa pendek-pendek. “Kamu tidak sendiri?”

Nayara mengeratkan genggamannya pada Arsen, menggeser posisinya sedikit untuk menghalangi pandangan Alvaro. “Tidak.”

“Anakmu?” tanya Alvaro. Suaranya bergetar tipis saat mengucapkan kata tersebut.

“Ya. Anakku,” jawab Nayara mantap tanpa keraguan sedikit pun.

Alvaro menatap anak laki-laki itu lebih dalam. Perasaan asing yang sangat kuat mendadak menghantam dadanya. Ada dorongan aneh di dalam jiwanya yang membuat matanya enggan berpaling dari anak tersebut.

“Siapa namanya?” tanya Alvaro pelan.

“Arsen,” bukan Nayara yang menjawab, melainkan anak laki-laki itu sendiri. Arsen mendongak dari balik gaun ibunya, menjawab polos dengan suara nyaring yang bersih. “Nama Arsen itu Arsen!”

Alvaro tersentak kecil mendengar suara nyaring itu. Sebuah senyuman tipis dan samar tanpa sadar terukir di bibirnya yang kaku, meski hatinya diliputi kebingungan yang makin membuncah.

“Arsen…” ulang Alvaro pelan di dalam tenggorokannya. Nama itu terasa begitu familiar, seolah pernah hinggap di pikirannya. Alvaro lalu memberanikan diri menatap Nayara kembali. Pertanyaan yang sejak tadi memburu pikirannya akhirnya terlontar dari bibirnya. “Suamimu… mana? Dia tidak ikut bersamamu?”

Nayara diam.

Keheningan menyelimuti di antara mereka selama beberapa detik yang menyiksa. Nayara hanya menatap lurus ke dalam mata Alvaro dengan raut wajah yang tak terbaca, membiarkan angin dingin dari pendingin ruangan mall berembus menyapu helai rambutnya.

“Tidak ada,” jawab Nayara singkat dan dingin.

Alvaro mengernyitkan dahinya. Datar dan tanpa penekanan, jawaban itu justru memicu rentetan spekulasi yang melompat-lompat liar di dalam kepala Alvaro.

“Maksudmu… kamu bercerai lagi? Atau kamu…” Alvaro menahan kata-katanya, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

“Aku bilang tidak ada, Alvaro. Dan itu bukan urusanmu lagi,” potong Nayara tajam. “Ayo, Arsen. Kita beli es krim di lantai bawah lalu langsung pulang.”

“Asyik! Beli es krim cokelat!” seru Arsen gembira sambil melompat kecil.

Saat Arsen melompat dan tertawa lebar, pandangan Alvaro kembali terkunci pada wajah anak itu. Cahaya lampu mall yang terang benderang menyinari setiap detail fitur wajah Arsen secara sempurna.

Alvaro membeku di tempatnya.

Bentuk lesung pipi tipis di sudut bibir anak itu saat tertawa… sudut matanya yang tajam namun hangat… bahkan garis rahang mungilnya. Semua detail fisik itu seperti memicu kilatan memori masa lalu yang bertubi-tubi menghantam kesadaran Alvaro.

Itu bukan sekadar kemiripan acak antara seorang anak dan orang asing. Itu adalah cerminan dari fitur wajahnya sendiri saat ia masih kecil—fitur yang sering ditunjukkan oleh ibunya dalam album foto lama keluarga Pratama.

Ditambah lagi dengan refleks unik mengusap alis kiri yang ia lihat beberapa menit lalu…

Tidak mungkin… batin Alvaro meraung. Logikanya mencoba menolak kemungkinan liar yang mulai merayapi pikirannya, namun perasaannya berteriak sebaliknya. Kepanikan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai merayap naik, mencekik lehernya hingga rasa sesak membakar dadanya.

“Nayara, tunggu!” seru Alvaro saat Nayara berbalik membelakanginya dan mulai menuntun langkah Arsen pergi.

Alvaro memburu langkah mereka, mengabaikan tatapan heran dari para pejalan kaki. Ia mengambil posisi berdiri tepat di depan langkah Nayara, menghalangi jalan wanita itu.

“Alvaro! Apa-apaan kamu ini?!” suara Nayara mulai meninggi. Kemarahan dan ketakutan bercampur aduk di dalam matanya. “Jangan buat keributan di tempat umum!”

“Aku tidak berniat membuat keributan, Nayara!” balas Alvaro dengan napas memburu. Matanya berkaca-kaca, memancarkan kombinasi rasa bingung, takut, dan kecurigaan mendalam yang kian membesar. “Tolong… tolong tatap aku dan jawab satu pertanyaanku secara jujur.”

“Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab apa pun darimu!” Nayara mencoba menggeser langkahnya ke kanan, namun Alvaro menyamakan langkah untuk tetap menghalangi jalan.

“Cuma satu pertanyaan, Nay! Setelah ini aku janji tidak akan menahan langkahmu lagi!” pinta Alvaro desperate. Suaranya bergetar parah, mengundang perhatian beberapa orang yang mulai memperlambat langkah untuk menonton.

Nayara mengepalkan kedua tangannya erat-erat di samping tubuhnya. Ia tahu jika ia terus menghindar, Alvaro yang berkepala batu hanya akan terus mengejarnya dan menciptakan pemandangan buruk di depan Arsen.

“Cepat katakan,” ucap Nayara dingin, menatap mantan suaminya dengan tatapan tajam tak bergeming.

Alvaro menelan ludahnya yang terasa menyumbat di tenggorokan. Matanya bergetar hebat saat ia perlahan menurunkan pandangannya ke arah Arsen yang sedang memegangi gaun ibunya dengan heran, lalu kembali menatap lurus ke dalam iris mata Nayara.

“Nayara…” Alvaro menghela napas panjang yang terasa menyiksa dadanya. “Berapa umur anak itu?”

Pertanyaan itu terlempar ke udara, melayang kaku di antara mereka berdua.

Seketika itu juga, raut wajah Nayara mengeras. Tidak ada lagi kepanikan di matanya, yang tersisa hanyalah pertahanan kokoh dari seorang ibu yang telah melewati neraka sendirian selama bertahun-tahun.

Nayara menatap Alvaro lurus-lurus, memberikan jawaban dengan suara yang amat jernih, pelan, dan sarat akan penekanan:

“Lima tahun.”

Brak.

Kata itu menghantam kesadaran Alvaro bagaikan gumpalan es raksasa yang jatuh menghancurkan kepalanya.

Alvaro terdiam seketika. Tubuhnya yang tegap mendadak kaku membeku di tempat.

Lima tahun…?

Pikirannya langsung berputar hebat secara otomatis, menghitung detik demi detik, bulan demi bulan melintasi waktu.

Perceraian mereka diresmikan oleh pengadilan lima tahun lalu… tepatnya di awal tahun. Jika Arsen sekarang berusia lima tahun… artinya, kehamilan itu dimulai persis saat mereka masih berstatus sebagai suami istri. Saat Nayara masih tidur di sampingnya setiap malam. Saat ia secara kejam melemparkan surat gugatan cerai dan mengaku mencintai wanita lain.

Wajah Alvaro berubah total. Warna kulitnya kian memucat bagaikan kertas polos. Seluruh otot di tubuhnya bergetar hebat, dan pandangannya mendadak mengabur saat air mata memenuhi pelupuk matanya.

Ia menatap Nayara yang berdiri tegak di hadapannya tanpa kedipan, lalu beralih menatap Arsen—anak laki-laki kecil berkaus biru yang membawa darah dagingnya sendiri.

“Nayara… kamu…” suara Alvaro pecah, tak sanggup melanjutkan kata-katanya yang tertahan di tenggorokan yang serasa terkoyak.

BERSAMBUNG

Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️

Kalau kamu penasaran bagaimana reaksi Alvaro setelah menyadari kebenaran pahit ini dan apa yang akan dilakukan Nayara selanjutnya, komen “LANJUT” di kolom komentar. 👇

Prev
Next
Tags:
Cinta Kedua, Drama Rumah Tangga, Free Novel, Perceraian
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita