Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil - Bab 2
Gema ketukan palu hakim hari itu secara resmi memutus tali pernikahan yang pernah diperjuangkan Nayara dengan segenap hatinya. Tanpa harta gono-gini, tanpa tuntutan materi, Nayara melangkah keluar dari gedung pengadilan hanya membawa dua koper pakaian dan sebuah rahasia kecil yang berdenyut lembut di dalam perutnya.
Malam-malam awal di rumah kontrakan sempit berukuran empat kali enam meter terasa amat dingin. Di kamar beratap seng yang riuh setiap kali hujan turun, Nayara sering terbangun di sepertiga malam karena rasa mual yang menyiksa.
“Mual lagi, Mbak?” tanya Bu Lina, pemilik kontrakan paruh baya yang malam itu mengetuk pintu karena mendengar suara muntah berulang dari kamar mandi.
Nayara membasuh mulutnya di depan wastafel kusam, lalu mengangguk pelan sambil mengusap dadanya yang terasa sesak. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu bohlam kuning. “Iya, Bu. Maaf kalau suara saya mengganggu malam-malam.”
Bu Lina melangkah masuk membawakan secangkir teh hangat beraroma jahe. “Masih morning sickness parah, ya? Udah masuk berapa bulan, Mbak Nayara?”
“Baru sepuluh minggu, Bu,” jawab Nayara pelan seraya menerima cangkir hangat itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar.
“Suami Mbak benar-benar tidak bisa dihubungi?” mata Bu Lina memancarkan rasa iba yang jujur. “Zaman sekarang, mana ada calon ayah yang tega membiarkan istrinya hamil muda sendirian begini? Biar bagaimanapun, ini darah dagingnya. Kenapa tidak ditelpon saja?”
Nayara menyesap teh jahe hangat itu perlahan. Rasa hangat menyebar di kerongkongannya, namun hatinya tetap terasa membeku. Ia menatap ke luar jendela kamar yang basah oleh air hujan.
“Tidak usah, Bu,” bisik Nayara. Suaranya tenang, namun ada ketegasan dingin yang mengiris di dalamnya. “Dialah yang memilih untuk pergi saat saya belum tahu keberadaan bayi ini. Kalau saya menghubunginya sekarang, dia mungkin akan kembali… tapi hanya karena rasa kasihan dan tanggung jawab moral, bukan karena dia menginginkan saya.”
“Tapi Mbak Nayara… menjadi ibu tunggal itu berat sekali,” tutur Bu Lina prihatin. “Biaya melahirkan, perawatan bayi, belum lagi kalau anak ini sudah besar nanti.”
“Saya tahu ini tidak akan mudah, Bu,” Nayara mengusap lembut perutnya yang masih datar dengan tatapan yang mendadak penuh dengan kekuatan baru. “Tapi saya lebih rela bersusah payah sendirian membesarkan anak ini daripada membawanya tumbuh di dalam rumah tangga yang hampa, di antara seorang ayah yang pikirannya tertuju pada wanita lain dan seorang ibu yang setiap hari menangis menahan luka.”
Masa-masa sulit itu terus berjalan seiring merangkaknya waktu. Bulan kesembilan tiba pada suatu dini hari di bulan Oktober.
Rasa mual telah berganti menjadi cengkeraman kontraksi yang hebat. Di lorong rumah sakit daerah yang riuh oleh suara mesin medis dan lalu-lalang perawat, Nayara berjuang sendirian di atas tempat tidur bersalin. Jemarinya mencengkeram sprei putih hingga matrasnya melengkung, menahan gelombang rasa sakit yang seolah membelah tubuhnya menjadi dua.
“Tarik napas panjang, Bu Nayara! Dorong perlahan pas kontraksi puncak!” seru dokter kandungan dengan suara mantap.
“Aagghh!” Nayara menjerit pelan, keringat dingin membasahi seluruh pelipis dan helai rambutnya. Di saat wanita lain mencengkeram erat jemari suaminya sambil mendengarkan bisikan doa dan penyemangat, Nayara hanya bisa menggenggam pinggiran besi tempat tidur dengan buku-buku jari yang memutih.
“Ayo sedikit lagi! Kepala bayinya sudah kelihatan!” panggil perawat di sampingnya.
Dalam rasa sakit yang membakar seluruh persendiannya, bayangan wajah Alvaro sempat melintas sekelebat di pikiran Nayara—tatapan dingin pria itu saat menyerahkan surat cerai lima belas bulan lalu. Namun, detik itu juga Nayara mengibaskannya kuat-kuat. Ia menolak membiarkan bayangan pria itu mengotori momen tersuci dalam hidupnya.
Ibu bersamamu, Sayang… Ibu ada di sini, batinnya meraung.
Dengan satu dorongan terakhir yang menguras seluruh sisa tenaga di tubuhnya, sebuah tangisan melengking yang nyaring pecah membelah keheningan ruangan bersalin.
“Owekk! Owekk! Owekk!”
“Selamat, Bu! Anak laki-laki, sangat tampan dan sehat!” ucap sang dokter sambil mengangkat bayi merah yang menangis kencang itu ke dada Nayara.
Begitu kulit hangat bayi itu menyentuh dadanya, seluruh rasa sakit, lelah, dan kesepian yang ditanggung Nayara selama sembilan bulan seolah lebur tanpa sisa. Air matanya menetes deras, membasahi pipi merah sang bayi yang kini mulai tenang meraba dada ibunya.
“Arsen…” bisik Nayara dengan suara terputus-putus oleh isak haru. Ia mencium kening bayinya yang masih basah. “Nama kamu Arsen Alvaro Pratama. Kamu adalah alasan Ibu untuk terus berdiri tegak.”
Tahun-tahun berikutnya adalah pusaran perjuangan tanpa henti. Nayara memanfaatkan keahlian dasarnya di bidang desain interior untuk menerima proyek-proyek freelance dari rumah. Di malam hari, ketika Arsen kecil sudah tertidur lelap di dalam boks bayi, Nayara duduk di depan layar laptop yang menyala terang hingga pukul tiga pagi, menggambar draf tata ruang demi menyambung hidup dan membeli kaleng susu.
Ketika Arsen berusia tiga tahun, anak laki-laki itu mulai menunjukkan kecerdasan dan kepribadian yang amat hangat.
“Mama! Lihat rumah rumput yang Arsen buat!” seru Arsen kecil suatu sore, menunjukkan tumpukan balok plastik warna-warni di lantai ruang tamu kontrakan mereka yang sederhana namun rapi.
Nayara meletakkan cangkir tehnya, lalu berlutut di sebelah anak semata pemangnya. “Wah, bagus sekali! Ada pintunya juga, ya?”
“Ada! Ini pintu buat Mama masuk kalau Mama capek kerja,” sahut Arsen polos sambil tersenyum lebar.
Saat anak itu tersenyum, sepasang lesung pipi tipis tercetak jelas di sudut bibirnya. Setiap kali melihat senyuman itu, dada Nayara selalu bergetar. Wajah Arsen adalah perpaduan sempurna antara dirinya dan pria masa lalunya—namun jiwa dan kepribadian anak itu adalah milik Nayara sepenuhnya.
Kehidupan mereka mulai membaik perlahan. Tabungan dari hasil kerja keras Nayara sebagai desainer lepas membuat mereka mampu menyewa rumah mungil yang lebih layak dengan halaman kecil di depan. Nayara berhasil membangun kehidupan baru yang tenang, mandiri, dan penuh kedamaian tanpa pernah menengok lagi ke belakang.
Di sisi lain kota, kehidupan Alvaro Elian Pratama tidak berjalan seindah janji-janji manis yang pernah ia bayangkan lima tahun lalu.
Pernikahan impulsif yang ia bangun bersama Selina setelah perceraiannya dengan Nayara ternyata berubah menjadi mimpi buruk berisik. Keputusannya yang didasari oleh ilusi kebebasan dan gairah sesaat itu perlahan hancur tergerus oleh benturan kepribadian yang tajam, tuntutan gaya hidup yang tak terpuaskan, dan rasa cemburu Selina yang terus-menerus meragukan kesetiaan Alvaro.
“Kamu selalu pulang malam dan sibuk dengan pekerjaanmu, Al!” bentak Selina dalam sebuah pertengkaran hebat di penthouse mewah mereka dua tahun setelah pernikahan mereka. “Kamu tidak pernah benar-benar ada di sini! Pikiranku selalu merasa kamu menyimpan wanita lain!”
Alvaro yang berdiri di dekat jendela kaca besar hanya menatap Selina dengan pandangan dingin dan lelah. “Aku bekerja keras untuk bisnis kita, Selina. Apa lagi yang kurang dari semua yang sudah kuberikan padamu?”
“Perhatianmu! Senyuman tulusmu!” jerit Selina emosional. “Sejak kita menikah, kamu tidak pernah tersenyum seperti dulu lagi! Kamu berubah menjadi pria asing yang dingin!”
Pernikahan itu akhirnya kandas total di tahun kedua. Perceraian kedua Alvaro berlangsung riuh dan penuh drama tuntutan harta di media lokal. Setelah perceraian itu resmi, Alvaro memilih untuk hidup menyendiri, menutup hatinya rapat-rapat, dan menenggelamkan seluruh fokus hidupnya ke dalam ekspansi bisnis properti dan investasi.
Namun, di balik kejayaan finansial dan nama besarnya yang kian disegani di dunia bisnis, ada kehampaan raksasa yang tak pernah bisa ia tambal.
“Al, kamu tidak berniat mencari pasangan lagi?” tanya Damar, kakak kandungnya, saat mereka berdua sedang menikmati kopi di ruang kerja Alvaro suatu sore.
Alvaro menyandarkan punggungnya di kursi kerja kulit hitamnya. Pandangannya menerawang menatap barisan gedung tinggi di luar jendela kantornya.
“Tidak, Kak,” jawab Alvaro datar. “Hatiku sudah mati untuk urusan seperti itu.”
“Kamu masih sering memikirkan Nayara?” tanya Damar hati-hati.
Alvaro terdiam cukup lama. Jemarinya meremas pulpen mahal di tangannya. “Setiap malam, Kak. Setiap kali aku pulang ke rumah yang sepi, aku selalu teringat bagaimana Nayara dulu menyambutku di depan pintu dengan senyuman hangat… tanpa pernah menuntut hal-hal aneh dariku. Aku yang brengsek. Aku menghancurkan wanita terbaik yang pernah ada dalam hidupku demi keegoisan murahan.”
“Kamu pernah mencoba mencari tahu keberadaannya?”
Alvaro menghela napas berat, menggelengkan kepalanya perlahan. “Aku pernah menyuruh orang untuk mengecek rumah lamanya dan tempat kerjanya dulu. Tapi dia sudah pindah kota tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Dialah yang memilih untuk menghilang dariku… dan aku sadar, aku tidak punya hak sedikit pun untuk mengganggu kedamaian hidupnya lagi.”
Alvaro sama sekali tidak pernah tahu. Ia tidak tahu bahwa dalam pelarian dan kesendirian Nayara selama lima tahun ini, wanita itu tidak pernah benar-benar sendiri.
___
Lima Tahun Kemudian…
Atmosfer pusat perbelanjaan megah di pusat kota sore itu terasa sangat ramai. Suara derak langkah kaki para pengunjung berpadu dengan alunan musik instrumental dari pengeras suara mall.
Alvaro berjalan menyusuri koridor lantai dua bersama sekretaris dan dua mitra bisnisnya setelah menghadiri penandatanganan kontrak kerja sama di salah satu restoran ternama. Jas gelap berpotongan modern yang melekat di tubuh tegapnya membuat beberapa pejalan kaki menoleh mengagumi sosoknya yang berwibawa.
“Pak Alvaro, untuk berkas revisi proyek di Surabaya, apakah perlu saya kirimkan sore ini juga ke email Anda?” tanya sang sekretaris sambil berjalan di sampingnya.
“Kirimkan saja sore ini. Saya akan membacanya malam nanti di—”
Kalimat Alvaro terhenti tiba-tiba.
Langkahnya memburu pelan lalu membeku di tengah-tengah koridor ramai. Pandangan matanya terkunci rapat pada sebuah wahana permainan anak-anak berdinding kaca transparan yang berada beberapa meter di depan sebelah kirinya.
Di dalam area permainan tersebut, seorang anak laki-laki kecil berusia lima tahun berkaus biru cerah sedang berlari riang mengejar balon gas berwarna kuning. Anak itu melompat kecil, lalu tertawa renyah saat berhasil menangkap tali balon tersebut.
“Hahaha! Berhasil!” seru anak laki-laki itu gembira.
Alvaro memperhatikan anak itu tanpa alasan yang jelas. Ada sesuatu pada sosok mungil itu yang mendadak menarik perhatiannya secara intuitif.
Anak laki-laki itu menghentikan langkahnya di dekat pagar pembatas. Ia memiringkan kepalanya sedikit karena bingung melihat tali balonnya tersangkut di tiang. Kemudian, secara refleks, tangan mungil anak itu terangkat—jari telunjuknya mengusap lembut alis kirinya sendiri sambil mengernyitkan dahi pelan.
Deg.
Jantung Alvaro seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Kebiasaan refleks mengusap alis kiri saat sedang bingung atau berpikir keras… itu adalah gestur unik yang selalu dilakukan Alvaro sejak ia masih kecil hingga hari ini.
Alvaro melangkah maju selangkah demi selangkah, mengabaikan panggil sekretarisnya yang heran di belakang. Matanya menatap intens ke arah wajah anak laki-laki itu dari balik dinding kaca.
Bentuk mata anak itu yang sedikit tajam di sudut luar… garis hidungnya yang lurus tegak… dan bentuk bibirnya saat tersenyum…
Seluruh persendian Alvaro mendadak terasa lemas. Gelombang getaran hebat yang tak tertahankan menjalar dari ujung kaki hingga ke dadanya.
“Arsen! Hati-hati, Sayang, nanti balonnya lepas lagi!”
Sebuah suara wanita yang amat familiar—suara yang sering hadir dalam mimpi-mimpi penyesalan Alvaro selama lima tahun terakhir—bergema begitu jernih dari balik pintu keluar area permainan.
Seorang wanita bergaun simpel berwarna pastel melangkah keluar seraya membawa tas kain kecil. Wajahnya tampak makin matang, cantik alami tanpa polesan berlebihan, dengan aura keibuan yang amat kuat.
Wanita itu berlutut di hadapan anak laki-laki berkaus biru tersebut, mengusap pelapis keringat di dahinya dengan lembut.
Darah Alvaro serasa berhenti mengalir secara mendadak. Seluruh badannya menegak kaku. Pria yang biasanya selalu bersikap tenang dan penuh kendali itu kini membelalakkan matanya tak percaya.
“Nayara…?” bisik Alvaro. Suaranya tercekat di tenggorokan, teramat parau dan bergetar.
Seolah merasakan panggilan tak kasatmata itu, Nayara mendadak menghentikan usapan tangannya di dahi Arsen. Ia mendongak, memutarkan pandangan matanya ke arah koridor utama.
Dan pada detik itu juga, di antara lalu-lalang puluhan pengunjung mall yang asing, mata mereka berdua bertabrakan secara langsung.
Langkah Nayara terhenti seketika. Raut wajahnya berubah pucat pasi bagaikan kehilangan seluruh aliran darah.
BERSAMBUNG
Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️
Kalau kamu penasaran akan kelanjutannya, komen “LANJUT” di kolom komentar. 👇