Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil - Bab 1
Malam itu, meja makan kecil di sudut dapur terhias lebih hangat dan rapi dari biasanya. Sebuah lilin aromaterapi beraroma vanilla mengembun halus di udara, memancarkan wangi lembut yang menenangkan. Di atas meja, dua piring hidangan favorit Alvaro—semur daging sapi dan sup sayur hangat—masih mengepulkan uap tipis yang mengundang selera.
Nayara berdiri di tepi meja makan, meremas jemarinya sendiri yang terasa sedikit dingin. Napasnya teratur, namun dadanya berdebar agak kencang oleh rasa gugup dan kebahagiaan yang membuncah. Tangannya yang lain berada di dalam saku dress terusan simpel berwarna merah muda pucat yang ia kenakan. Di dalam saku itu, jarinya perlahan mengelus permukaan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang dari plastik tipis.
Dua garis merah.
Hasil itu masih terasa seperti sebuah keajaiban yang sangat manis baginya. Setelah hampir dua tahun usia pernikahan mereka diwarnai oleh kesibukan kerja yang menyita waktu, kecanggungan yang perlahan menumpuk, dan jarak dingin yang pelan-pelan terbangun di antara mereka, dua garis merah itu terasa seperti jawapan atas semua doa-doa malamnya. Nayara tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Ia membayangkan bagaimana raut wajah Alvaro nanti ketika melihat benda ini. Pria itu mungkin akan tertegun sejenak, menatapnya tak percaya, lalu menariknya ke dalam pelukan yang hangat, membisikkan janji bahwa mereka akan memperbaiki segalanya demi buah hati mereka yang sedang tumbuh.
Suara deru mesin mobil yang melindas kerikil di halaman depan membuat dada Nayara berdesir hebat. Ia segera mematikan api kompor kecil yang menjaga sup tetap hangat, merapikan letak sendok dan garpu, lalu berjalan cepat menuju pintu utama dengan langkah ringan.
Suara kunci diputar terdengar, dan pintu kayu itu terbuka pelan. Alvaro melangkah masuk. Jas hitamnya terlampir di salah satu lengan, sementara dasinya sudah sedikit melonggar di leher kemeja putihnya yang agak kusut. Tampak guratan kelelahan yang nyata di wajahnya yang tampan dan tegas.
“Kamu sudah pulang?” sapa Nayara lembut. Bibirnya mengukir senyum paling hangat yang ia punya. Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk mengambil jas dan tas kerja dari tangan suaminya seperti yang biasa ia lakukan.
Namun, Alvaro menahan gerakannya. Pria itu tidak menyerahkan jasnya. Ia justru melangkah mundur setengah jalan, menghindari sentuhan tangan Nayara. Alvaro menatap istrinya dengan pandangan yang sangat sulit diartikan—ada rasa bersalah yang dalam di sana, namun ditutupi oleh benteng dingin yang amat tebal.
“Alvaro? Ada apa? Kamu kelihatan capek sekali,” tanya Nayara. Raut wajahnya berubah heran, menangkap perubahan atmosfer yang tiba-tiba menjadi sangat kaku di antara mereka.
“Nay, ada yang harus kita bicarakan. Duduklah dulu,” kata Alvaro dengan suara datar. Niat suaranya terdengar terlalu tenang, terlalu formal untuk seorang suami yang baru saja melangkah ke dalam rumah setelah seharian bekerja.
“Soal apa? Kalau soal pekerjaan, kita bisa bicarakan sambil makan malam. Aku sudah masak semur kesukaanmu,” sahut Nayara mencoba mencairkan suasana. Tangannya di dalam saku kembali mengusap tes kehamilan itu. “Lagi pula, aku juga punya hal penting yang mau kukatakan padamu malam ini…”
“Tolong duduk dulu, Nayara,” potong Alvaro tegas. Nadanya memang tidak tinggi, namun ada penekanan dingin yang tak membantah.
Nayara terdiam di tempatnya berdiri. Ia menarik napas pelan, berusaha menepis firasat buruk yang mendadak merayap naik dan menghimpit dadanya. Ia membalikkan badan lalu berjalan mengekor di belakang Alvaro menuju sofa ruang tamu. Jemarinya di dalam saku kain semakin erat menggenggam tes kehamilan itu hingga sudut plastiknya sedikit menekan telapak tangannya.
Alvaro tidak mengambil tempat duduk di samping Nayara sebagaimana mestinya. Pria itu memilih berdiri di balik meja kaca ruang tamu. Ia meletakkan jas dan tas kerjanya di atas armrest sofa, lalu meraih sebuah amplop cokelat berukuran besar dari dalam tasnya. Tanpa ragu, Alvaro meletakkan amplop tebal itu di atas meja kaca, persis di hadapan Nayara.
Nayara menatap amplop cokelat itu beberapa detik, lalu perlahan beralih menatap wajah suaminya. “Ini… dokumen apa? Pekerjaan kantor lagi?”
“Bukan,” jawab Alvaro singkat. “Itu surat gugatan perceraian.”
Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Alvaro. Ringan, dingin, namun terdengar bagaikan dentuman petir di tengah malam yang sunyi. Suara itu berulang kali menggema di dalam kepala Nayara, membuat seluruh persendiannya kaku seketika.
Nayara tertawa kecil. Sebuah tawa sumbang dan hampa yang keluar karena ketidakpercayaan. “Alvaro, kamu bercanda, kan? Kamu mau membalas kejutanku dengan lelucon seperti ini? Hari ini bukan tanggal satu April, Alvaro.”
“Aku tidak sedang bercanda, Nayara,” ujar Alvaro pelan. Pandangannya lurus menatap istrinya, tak ada guratan kebohongan di sana. “Aku sudah memikirkannya baik-baik selama beberapa bulan terakhir. Pernikahan kita… sudah tidak berjalan dengan baik. Kita tidak lagi sejalan. Kita hanya bertahan karena kebiasaan, bukan karena cinta.”
Nayara merasakan jantungnya berdetak liar hingga dadanya terasa sakit. “Bukan karena cinta? Alvaro, kita baru berjalan hampir dua tahun! Pernikahan mana yang tidak punya masa-masa dingin atau sibuk? Kenapa tiba-tiba kamu bicara soal perceraian?”
“Ini bukan hal yang tiba-tiba,” sahut Alvaro. Ia sempat mengalihkan pandangannya ke arah lantai sebelum akhirnya kembali menatap mata Nayara. “Aku merasa hampa setiap kali melangkah masuk ke rumah ini. Aku merasa terjebak dalam rutinitas yang tidak bernyawa. Aku tidak bahagia, Nay. Dan aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama.”
“Aku tidak pernah merasa begitu!” seru Nayara. Suaranya mulai bergetar menahan luapan emosi dan air mata yang mendadak berkumpul di pelupuk matanya. Ia berdiri dari sofa, menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. “Aku selalu berusaha jadi istri yang baik buat kamu! Aku selalu menyambutmu pulang, merawat rumah ini, mendukung pekerjaanmu! Apa kurangnya aku, Alvaro? Katakan padaku, di mana letak salahku?”
Alvaro menarik napas panjang. Ada jeda yang sangat menyiksa di antara mereka sebelum pria itu kembali bersuara dengan nada memendam rasa bersalah. “Bukan salahmu, Nay. Kamu tidak kurang apa pun. Masalahnya ada di aku.”
“Lalu apa maksud dari semua ini?” desak Nayara. Tangannya gemetaran di samping tubuhnya.
“Hatiku sudah untuk orang lain, Nayara.”
Pengakuan itu menghantam dada Nayara jauh lebih keras daripada kata cerai itu sendiri. Dunianya rasanya runtuh seketika tanpa sisa. Kakinya mendadak lemas hingga ia harus berpegangan pada sandaran sofa agar tidak jatuh terjerembap.
“Orang… lain?” bisik Nayara pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh napasnya yang memburu. “Siapa?”
“Kamu tidak perlu tahu siapa dia,” jawab Alvaro dingin. “Yang jelas, dia adalah orang yang membuatku merasa hidup kembali. Dia ada di saat aku merasa asing di rumahku sendiri. Dan aku tidak mau membohongimu lebih lama lagi dengan berpura-pura bahwa pernikahan kita masih punya masa depan.”
Dia mencintai perempuan lain.
Kalimat itu berulang kali menghantam pikiran Nayara. Jadi selama beberapa bulan terakhir ini, ketika ia mengira suaminya hanya lelah karena urusan pekerjaan, pria itu sebenarnya sedang membagikan hatinya kepada wanita lain? Ketika ia menanti suaminya pulang dengan cemas setiap malam, pria itu justru sedang menikmati kehangatan bersama wanita lain yang membuatnya ‘merasa hidup’?
Rasa sakit yang membakar di dalam dadanya teramat sangat. Secara refleks, tangan kanan Nayara yang berada di dalam saku kain bergerak hendak menarik keluar tes kehamilan itu. Jemarinya sudah menyentuh batang plastik kecil itu. Ia ingin melemparkan benda itu ke dada Alvaro. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya: ‘Lihat ini, Alvaro! Aku sedang mengandung anakmu! Di dalam rahimku ada darah dagingmu! Bagaimana bisa kamu beralih ke perempuan lain saat aku sedang menyiapkan kehadiran buah hati kita?!’
Ia ingin memaksa pria itu melihat bahwa mereka bukan lagi sekadar pasangan suami istri, melainkan calon orang tua. Ia ingin membuat Alvaro menyesal dan menarik kembali perkataannya yang kejam.
Namun, sebelum jemarinya benar-benar menarik benda itu keluar dari saku, Alvaro kembali berbicara.
“Aku sudah menyelesaikan semua urusan dengan pengacara,” kata Alvaro. Nadanya kini berubah sangat rasional, begitu tenang dan tertata seperti seseorang yang sedang mempresentasikan transaksi bisnis di ruang rapat. “Soal pembagian aset, kamu tidak perlu cemas. Rumah ini dan sebagian tabungan atas namaku akan dibaliknamakan atas namamu. Aku akan memastikan kamu tidak kekurangan secara finansial setelah kita berpisah. Tapi tolong, Nayara… jangan persulit proses hukumnya nanti. Aku mohon, jangan sampai kita mempertahankan pernikahan ini hanya karena rasa kasihan, atau rasa bersalah, atau sekadar rasa enggan melepas status.”
Rasa kasihan.
Dua kata itu bertindak bagaikan pukulan telak yang menghentikan gerak jemari Nayara seketika.
Tangannya membeku di dalam saku. Ia menatap pria yang berdiri di hadapannya dengan tatapan nanar. Pria yang dua tahun lalu berdiri di hadapan penghulu, mengucapkan janji suci untuk mencintai dan menjaganya dalam suka maupun duka. Pria yang pernah memeluknya hangat di malam-malam dingin. Kini, pria yang sama memandang pernikahan mereka tak lebih dari sekadar beban hukum yang harus segera dilepaskan, dan secara terbuka memintanya agar tidak menggunakan ‘rasa kasihan’ untuk menahannya pergi.
Jika ia mengeluarkan hasil tes kehamilan ini sekarang… apa yang akan terjadi?
Alvaro mungkin akan terkejut. Pria itu mungkin akan menarik kembali berkas gugatan cerainya. Alvaro mungkin akan membatalkan niatnya untuk pergi. Tapi untuk apa?
Pria itu akan bertahan bukan karena mencintainya kembali. Pria itu tidak akan memeluknya karena gembira. Alvaro akan tetap tinggal hanya karena merasa terikat kewajiban moril, karena takut dicap sebagai pria tidak bertanggung jawab oleh keluarganya, atau lebih buruk lagi… pria itu bertahan hanya karena merasa kasihan pada bayi yang dikandungnya.
Nayara membayangkan masa depannya jika ia memaksa Alvaro tinggal. Ia akan hidup bersama seorang suami yang raganya ada di rumah, namun hatinya tertinggal pada perempuan lain. Setiap hari ia akan melihat mata suaminya yang penuh keterpaksaan. Dan anaknya… anak yang sangat ia dambakan ini akan tumbuh di tengah-tengah kebohongan orang tuanya. Anaknya akan tumbuh dari seorang ayah yang memandang kehadirannya sebagai rantai yang membelenggu kebebasannya.
Nayara melepaskan genggamannya pada tes kehamilan di dalam saku kainnya. Perlahan, ia menarik tangannya keluar dengan hampa.
Ia adalah Nayara. Ia mungkin sangat mencintai suaminya, tetapi ia masih memiliki harga diri. Ia tidak akan pernah mengemis cinta dari seorang pria yang hatinya sudah mati untuknya. Dan lebih dari itu, ia adalah seorang ibu. Sebagai seorang ibu, tugas pertamanya adalah melindungi anaknya dari rasa ditolak dan rasa kasihan.
“Jadi…” Nayara mengatur napasnya yang bergetar. Ia menatap Alvaro lurus tepat di matanya. “Kamu benar-benar sudah mantap dengan keputusan ini? Tidak ada lagi yang perlu dipertimbangkan?”
Alvaro mengangguk perlahan. “Ya. Aku sudah mantap.”
Nayara memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik. Ia membiarkan satu tetes air mata hangat lolos melewati pipinya yang pucat. Saat ia membuka matanya kembali, kejernihan dingin telah menggantikan kebingungan di matanya.
“Baiklah,” ucap Nayara pelan namun amat jelas. “Kalau memang itu keputusanmu, aku tidak akan menahanmu.”
Nayara melangkah mendekati meja kaca. Ia meraih pulpen hitam yang diletakkan Alvaro di sebelah amplop cokelat itu. Tanpa repot-repot membaca lembaran berlembar-lembar kertas hukum yang ada di dalamnya, Nayara membuka halaman paling belakang. Dengan tangan yang bergetar namun pasti, ia membubuhkan tanda tangannya tepat di atas materi yang telah disediakan.
Sret. Sret.
Suara gesekan pulpen di atas kertas itu terdengar begitu nyaring di ruang tamu yang sunyi.
Alvaro tampak terpana. Pria itu sedikit terkejut dengan kecepatan dan ketegasan keputusan yang diambil oleh istrinya. Ia mengira akan ada perdebatan panjang, tangisan histeris, atau permohonan dari Nayara. “Nay… kamu tidak mau membaca extends berkasnya dulu? Atau memikirkannya satu atau dua hari lagi?”
“Untuk apa?” Nayara mendongak. Ia mengukir senyum paling pahit yang pernah ada di wajahnya, sementara matanya masih basah oleh sisa air mata. “Untuk mendengar lebih banyak cerita tentang betapa sempurnanya perempuan itu? Atau menunggu sampai kamu makin membenciku karena menahanmu lebih lama di sini?”
Alvaro bungkam. Tenggorokannya mendadak mengering, tak mampu membalas sepatah kata pun.
“Ambil ini,” kata Nayara sambil menggeser berkas yang telah ditandatanganinya kembali ke hadapan Alvaro. “Besok pagi aku akan membereskan barang-barang pribadi saya dan keluar dari rumah ini.”
“Nayara, kamu tidak perlu pergi terburu-buru seperti itu,” ujar Alvaro, rasa bersalah kembali menyengat dadanya. “Ini rumahmu juga. Aku bisa tinggal di apartemen sementara waktu sampai prosesnya—”
“Rumah ini bukan rumahku lagi sejak kamu membawa hatimu untuk perempuan lain,” potong Nayara dengan nada suara dingin dan tak tertembus. “Silakan ambil barang-barangmu dan pergi dari sini sekarang, Alvaro. Aku mau sendiri.”
Alvaro menatap wajah Nayara selama beberapa saat, seolah mencoba mencari sisa-sisa kehangatan wanita yang pernah sangat ia kenali. Namun yang tersisa hanya tembok tinggi yang tak bisa ia tembus lagi. Akhirnya, pria itu hanya bisa mengangguk pelan. Ia mengambil berkas gugatan di atas meja, meraih tas dan jasnya, lalu berbalik melangkah menuju pintu depan.
Langkah kaki Alvaro terdengar berat melintasi lantai marmer. Pintu depan terbuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi klik yang pelan namun sangat final.
Detik ketika suara mesin mobil Alvaro terdengar menjauh dan perlahan lenyap di telan keheningan malam, seluruh pertahanan diri yang dibangun Nayara runtuh tanpa sisa.
Kedua kakinya tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Nayara jatuh berlutut di atas lantai dingin ruang tamu. Tangisnya yang sejak tadi ditahan kini pecah memenuhi seluruh sudut rumah yang sepi. Suara isak tangisnya meluapkan rasa sakit yang teramat sangat, meratapi hancurnya mahligai pernikahan yang selama dua tahun ini ia jaga dengan sepenuh hati.
Dengan jemari yang gemetaran hebat, Nayara meraih kembali benda kecil dari dalam saku kain gaunnya.
Tes kehamilan dengan dua garis merah terang yang tak tertutup oleh apa pun.
Nayara membawa benda kecil itu ke dadanya, memeluknya erat-erat sambil terisak hebat. Hari ini seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Hari di mana ia berencana merayakan awal baru sebagai calon ibu. Namun hanya dalam hitungan puluhan menit, hari bahagia itu berubah menjadi hari pemakaman bagi rumah tangganya.
Nayara menunduk. Ia mengusap perutnya yang masih terasa rata dengan telapak tangannya yang hangat.
“Maafkan Ibu, ya…” bisik Nayara di antara sesenggukan air matanya. “Ibu tidak bisa memberimu keluarga yang utuh seperti anak-anak lain. Tapi Ibu janji… Ibu janji akan membesarkanmu dengan seluruh cinta dan kasih sayang yang Ibu punya. Kita tidak butuh seseorang yang sudah tidak memilih kita.”
Di lantai ruang tamu yang dingin malam itu, Nayara menggenggam erat hasil tes kehamilan di dadanya.
Keputusannya sudah bulat. Ia akan pergi jauh, membawa rahasia ini bersamanya. Ia tidak akan pernah membiarkan Alvaro tahu bahwa pria itu sebenarnya akan menjadi seorang ayah. Biarlah Alvaro menjalani kehidupan baru yang ia pilih bersama wanita lain, sementara Nayara akan merajut takdirnya sendiri bersama malaikat kecil yang kini bersemayam di dalam tubuhnya.
Malam itu menjadi saksi berakhirnya status Nayara sebagai seorang istri, dan lahirnya janji suci seorang ibu yang akan melindungi anaknya selamanya.
BERSAMBUNG
Terima kasih sudah membaca sampai di sini. ❤️
Kalau kamu penasaran dengan kelanjutannya, jangan lupa komen “LANJUT” di kolom komentar. 👇
Bab 2 segera menyusul.