Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil - Bab 7
- Home
- Suamiku Menceraikanku Saat Aku Sedang Hamil
- Bab 7 - Aku Tidak Bisa Mengembalikan Apa Yang Hilang
Mentari pagi menyiramkan cahaya hangat di atas rumput taman kota yang hijau dan membendung sisa-sisa embun pagi. Angin sejuk berembus lembut, membelai wajah Nayara yang berdiri anggun mengenakan gaun terusan kasual berwarna krem.
Di depannya, Alvaro berlutut di atas tanah, membetulkan tali sepatu kets berwarna biru terang yang mengenakan kaki kecil Arsen.
“Sudah kencang, Arsen?” tanya Alvaro lembut sambil mengikat simpul pita di atas sepatu anak itu dengan teliti.
“Sudah, Papa!” jawab Arsen ceria.
Mendengar sebutan ‘Papa’ meluncur begitu alami dari bibir mungil anak itu, dada Alvaro berdesir hebat. Senyuman lebar yang memancarkan rasa haru tak kuasa disembunyikannya. Dua minggu lalu, ketika Nayara akhirnya menceritakan sejujurnya tentang siapa sosok Alvaro sebenarnya, tidak ada jeritan kekecewaan dari Arsen. Anak kecil itu justru langsung menubruk dan memeluk leher Alvaro erat-erat, seolah belenggu rindu yang ia simpan selama lima tahun mendadak terlepas tanpa sisa.
“Nah, sekarang anak Papa sudah siap berlari!” ujar Alvaro riang sambil berdiri tegak dan menepuk bahu mungil anaknya.
“Arsen mau main bola sama Papa di sana!” seru Arsen menunjuk area rumput luas yang dipenuhi beberapa anak seusianya.
“Ayo! Siapa yang takut?” sahut Alvaro penuh semangat, langsung menyambut umpan bola plastik yang ditendang Arsen.
Dari tepi jalan setapak taman, Nayara mengawasi interaksi kedua manusia itu dengan tatapan hangat. Tidak ada lagi rasa panik, amarah yang membakar, atau dorongan untuk berlari bersembunyi. Hatinya telah menemukan kedamaian yang selama ini ia cari.
Selama beberapa bulan terakhir, Alvaro tidak pernah absen hadir. Pria itu menepati setiap janjinya dengan ketekunan yang membuktikan keseriusannya. Ia tidak hanya datang membawa hadiah mahal, tetapi hadir secara fisik dan emosional: mendampingi Arsen di acara olahraga sekolah, memangku anak itu saat demam tinggi di tengah malam, hingga mendengarkan dongeng sebelum tidur melalui panggilan video ketika ia harus menyelesaikan urusan pekerjaan di luar kota.
Alvaro tidak lagi memaksa Nayara untuk segera menerima cintanya kembali. Pria itu sepenuhnya melepaskan egonya sebagai pria berkuasa dan menerima posisi baru yang merayap dari titik paling bawah: seorang pria yang sedang berjuang keras menjadi ayah yang baik, sekaligus memohon kesempatan untuk mengenal kembali wanita yang pernah ia sakiti.
“Mama! Lihat! Papa bisa menendang bola tinggi sekali!” teriak Arsen riang dari tengah lapangan rumput. Anak itu melambai-lambai riang ke arah Nayara.
Nayara tertawa pelan, membalas lambaian tangan anaknya. “Iya, Sayang! Jangan lari terlalu kencang, nanti jatuh!”
Setelah hampir satu jam berlari mengejar bola di bawah terik matahari yang makin meninggi, Arsen akhirnya mulai kelelahan. Pipi gempalnya memerah basah oleh keringat.
“Papa… Arsen haus…” ceracau Arsen sambil menuntun tangan Alvaro mendekati bangku taman tempat Nayara duduk.
“Ini air minumnya, Sayang,” ujar Nayara cepat, menyodorkan botol air mineral dan selembar handuk kecil dari dalam tasnya.
Arsen meneguk air mineralnya hingga tandas setengah, lalu membiarkan Nayara mengusap dahi dan lehernya yang basah.
“Arsen…” dipanggil Alvaro pelan sambil menunjuk penjual es krim yang berada tak jauh di dekat gerbang taman. “Arsen mau es krim rasa cokelat yang ada buah stroberinya di atasnya?”
Mata bulat Arsen mendadak berbinar terang. “Mau! Mau banget, Pa!”
“Ayo, sama Papa beli ke sana,” ajak Alvaro, namun ia menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Nayara. “Nay, kamu mau aku belikan minuman dingin juga?”
Nayara menggeleng halus sambil tersenyum tipis. “Tidak perlu, Alvaro. Aku masih ada air mineral.”
“Baiklah. Ayo, Arsen, kita beli es krim!”
Alvaro menggandeng jemari mungil Arsen, menuntun langkah anak itu menuju kedai es krim. Nayara memerhatikan dari kejauhan bagaimana Alvaro bertransaksi, membayar es krim, dan sabar mengusap sudut bibir Arsen ketika anak itu langsung melahap es krimnya tanpa sabar.
Tak lama kemudian, mereka berdua kembali berjalan mendekati bangku taman.
“Mama, Arsen mau makan es krim di dekat ayunan sama teman-teman baru Arsen ya?” izin anak itu polos sambil menunjuk beberapa anak kecil yang sedang bermain di area permainan tak jauh dari sana.
“Boleh, Sayang. Tapi ingat, es krimnya ditelan pelan-pelan dan jangan lari-lari, ya?” pesan Nayara lembut.
“Siap, Mama!” Arsen mencium pipi Nayara singkat, lalu berlari kecil menghampiri area permainan ayunan dengan wajah berseri-seri.
Kini, tersisa Alvaro dan Nayara yang berdiri di tepi jalan setapak taman, berada di bawah naungan rindang daun-daun pohon mahoni. Keheningan yang menenangkan berembus di antara mereka berdua.
Alvaro berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Nayara dengan jarak yang sopan. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kasualnya, pandangannya lurus mengawasi Arsen yang sedang menikmati es krim bersama teman-teman barunya di ayunan.
“Dia makin pintar makan sendiri,” gumam Alvaro membuka percakapan, suaranya terdengar begitu hangat dan penuh kebanggaan. “Kemarin waktu di rumah, dia bahkan memotong buah pisangnya sendiri tanpa minta bantuan.”
“Arsen memang mandiri dari kecil,” sahut Nayara pelan, matanya juga tidak lepas dari sosok anak mereka. “Dia tidak pernah menuntut banyak hal padaku. Mungkin karena dia tahu aku harus bekerja keras membesarkannya sendirian.”
Kata-kata Nayara memicu getaran penyesalan yang samar di dalam dada Alvaro. Namun kali ini, Alvaro tidak lantas tenggelam dalam keputusasaan atau meratapi dirinya sendiri. Pria itu menghela napas panjang, meresapi setiap kata yang diucapkan wanita di sampingnya.
“Aku tahu aku terlambat, Nay,” tutur Alvaro rendah. Suaranya penuh kepasrahan yang tulus, tanpa ada sedikit pun sisa keangkuhan masa lalu.
Nayara menoleh pelan, menatap profil samping wajah Alvaro yang tampak lebih matang dan bijaksana dari yang ia ingat lima tahun lalu.
“Lima tahun,” balas Nayara singkat.
Alvaro menundukkan kepalanya sedikit, mengangguk pelan. “Aku tahu…”
“Kamu tidak bisa mengembalikannya, Alvaro,” lanjut Nayara, suaranya tenang tanpa nada menghakimi, namun sarat akan kenyataan pahit yang tak terbantahkan. “Kamu tidak bisa mengembalikan masa-masa saat aku menangis sendirian di ruang bersalin tanpa ada tangan yang memegang tanganku. Kamu tidak bisa mengembalikan momen saat Arsen pertama kali merangkak, mengucapkan kata pertamanya, atau saat dia pertama kali melangkah tanpa ada sosok ayah di sisinya.”
Alvaro memejamkan mata rapat-rapat. Setiap kalimat Nayara terasa bagaikan patok kayu yang menancap tajam di dadanya. Namun ia menyerap semua rasa sakit itu sebagai bentuk konsekuesi atas dosa-dosa masa lalunya.
“Aku tahu, Nay,” bisik Alvaro serak. “Aku tahu aku tidak akan pernah bisa membeli atau mengembalikan lima tahun yang hilang itu… , waktu yang kubuang karena kebodohanku tidak akan pernah bisa diputar kembali.”
Alvaro perlahan membuka matanya kembali. Ia menatap lurus ke arah Arsen yang sedang tertawa lepas di atas ayunan, memamerkan es krimnya yang mulai meleleh. Binar di mata Alvaro berubah menjadi sangat jernih dan penuh tekad.
“Tapi…” tutur Alvaro pelan namun begitu mantap, “aku masih punya hari esok.”
Nayara mendadak diam membeku. Ia menatap Alvaro yang kini memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arahnya.
Alvaro menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat milik Nayara. Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi manipulasi emosi atau keterpaksaan. Yang ada hanyalah kejujuran seorang pria yang telah melintasi lembah penyesalan terdalam.
“Aku tidak minta kamu menghapus masa lalu yang kelam itu, Nay,” panggil Alvaro, suaranya bergetar lembut. “Aku juga tidak memintamu bersikap seolah perceraian dan luka lima tahun lalu tidak pernah terjadi… Kita tidak bisa berpura-pura menjadi pasangan yang utuh seperti dulu dalam sekejap.”
Nayara menghela napas pelan, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir mantan suaminya.
“Tapi kalau kamu mengizinkan…” lanjut Alvaro, matanya memancarkan ketulusan yang teramat sangat, “aku ingin mulai dari awal. Bukan sebagai suami yang menuntut haknya, tapi sebagai pria baru yang ingin mengenalmu lagi dari nol… Kalau kamu mengizinkan, aku ingin ada di dalam hari esokmu dan hari esok Arsen.”
Keheningan melingkupi mereka selama beberapa saat. Angin sore berembus lembut, memutarkan beberapa helai daun kering yang gugur di jalan setapak taman.
Nayara menatap pria di hadapannya. Ia melihat tidak ada lagi bayangan pria dingin dan gila kerja yang dulu menelantarkan hatinya demi wanita lain. Pria yang berdiri di hadapannya kini adalah seseorang yang telah belajar dari kehancuran egonya sendiri, seseorang yang hadir dengan kerendahan hati untuk menyembuhkan luka yang pernah ia buat.
Sebuah garis senyum tipis—kecil namun amat tulus—perlahan merekah di bibir Nayara. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, tawa dan senyuman di wajah Nayara terasa begitu ringan tanpa ada rasa pahit yang mengganjal.
“Hari esok masih sangat panjang, Alvaro,” jawab Nayara pelan dengan nada bicara yang hangat. “Kita lihat saja sejauh mana kamu bisa bertahan berjalan di samping kami.”
Mendengar jawaban itu, dada Alvaro membuncah hebat oleh rasa lega dan kebahagiaan yang tak terbayangkan. Senyuman lebar merekah di wajah tegapnya. Ia tahu jawaban Nayara bukanlah jaminan rujuk instan, tetapi sebuah pintu kesempatan yang akhirnya dibuka lebar tanpa ada lagi ketakutan.
“Papa! Mama! Ayo ke sini! Arsen mau diayunkan tinggi-tinggi!” teriak Arsen riang dari arah lapangan permainan sambil melambai-lambaikan tangannya.
Alvaro tertawa pelan, lalu menoleh menatap Nayara. Ia perlahan merentangkan jemari tangannya, mengulurkan telapak tangannya ke arah Nayara—sebuah gestur sederhana yang meminta izin untuk melangkah bersama.
Nayara menatap uluran tangan itu sejenak. Kali ini, tidak ada ketakutan yang membuatnya berbalik dan lari. Tanpa ragu sedikit pun, Nayara menyambut uluran tangan tersebut. Jemari mereka bertaut hangat, saling menggenggam dengan erat.
Mereka berdua melangkah bersama menyusuri jalan setapak taman yang disiram cahaya mentari sore, berjalan berdampingan menghampiri anak mereka yang menanti dengan senyuman paling bahagia di atas ayunan.
Pernikahan masa lalu mereka mungkin telah hancur dan menjadi abu, namun di atas puing-puing penyesalan itu, sebuah takdir baru sedang mulai dituliskan kembali—bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk menyongsong hari esok yang jauh lebih indah.
TAMAT
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk seluruh pembaca setia yang sudah mengikuti perjalanan emosional Nayara, Alvaro, dan Arsen dari Bab 1 hingga Bab 7 ini! ❤️
Bagaimana kesan dan perasaanmu setelah membaca ending dari kisah mereka? Apakah kamu puas dengan keputusan Nayara untuk memulai segalanya dari awal tanpa terburu-buru?
Yuk, tuliskan kesan, pesan, dan ulasan terbaikmu di kolom komentar di bawah! Jangan lupa share cerita ini ke teman-temanmu ya! 👇