Suamiku Tiba-Tiba Ingin Mencintaiku - Bab 2

  1. Home
  2. Suamiku Tiba-Tiba Ingin Mencintaiku
  3. Bab 2 - Aku Tidak Percaya Kamu Tiba-Tiba Mencintaiku
Prev
Next

Senin pagi bergulir dengan keanehan yang tidak pernah terjadi selama tiga tahun terakhir.

Saat aku turun ke lantai bawah mengenakan pakaian rapi untuk pergi ke toko bukuku, aroma kopi hitam dan roti panggang sudah menyeruak di udara. Di meja makan, Reza berdiri mengenakan kemeja kerjanya yang belum dikancingkan penuh di bagian lengan.

Dia sedang menata piring.

Aku menghentikan langkahku di ambang pintu dapur, menatap pemandangan itu dengan kening berkerut.

“Pagi,” sapa Reza. Suaranya terdengar agak canggung. Dia meletakkan secangkir kopi di depan kursi yang biasa kududuki. “Aku bikin roti panggang isi keju. Sama kopi… kamu minum kopi kan pagi-pagi?”

Aku melangkah mendekat, menatap roti panggang itu lalu menatap Reza. “Ini untuk siapa?”

“Untuk kamu,” jawabnya singkat.

“Kenapa?”

Reza terdiam sejenak. Tangannya merapikan letak sendok di samping piring. “Karena kamu suka roti panggang keju.”

Aku menatapnya lekat-lekat. “Sejak kapan kamu tahu aku suka roti panggang keju?”

Reza menghentikan gerakannya. Matanya menatap piring di meja sebelum akhirnya terangkat menatapku. Ada kepedihan tipis di matanya. “Aku seharusnya sudah tahu dari dulu.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak menyentuh roti itu. Aku hanya mengambil tas genggamku. “Aku harus ke toko sekarang. Masih ada barang yang mau masuk.”

“Aku antar,” potong Reza cepat. Dia menyambar kunci mobil di atas meja.

“Nggak usah. Aku bawa mobil sendiri.”

“Salma, tolong,” potongnya lagi. Kali ini nadanya tidak menuntut, melainkan memohon. “Sekali ini aja. Aku sekalian berangkat ke kantor.”

Aku menatapnya beberapa detik, menimbang-nimbang. Akhirnya aku mengangguk pelan. “Terserah.”

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sangat kaku. Reza yang biasanya langsung sibuk dengan telepon genggamnya atau mendengarkan berita bisnis di radio, kini mematikan seluruh suara. Dia menggenggam kemudi dengan erat, sesekali melirik ke arahku.

“Nanti malam aku pulang jam lima,” kata Reza tiba-tiba saat mobil berhenti di lampu merah.

Aku menoleh. “Tumben?”

“Aku sudah minta Nadia buat atur ulang semua jadwal rapat malam minggu ini,” jawabnya. “Aku mau makan malam di rumah. Bersama kamu.”

Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap jalanan di depan. Nadia adalah sekretarisnya. Tiga tahun ini aku tahu betapa padatnya jadwal Reza karena Nadia sering menelepon ke rumah jika ada dokumen darurat. Tapi mendengar Reza sengaja mengosongkan jadwal demi makan malam denganku terasa ironis.

“Kamu nggak perlu maksa diri, Reza,” kataku pelan. “Kalau sibuk, kerja saja.”

“Aku nggak maksa diri, Salma,” tegas Reza. tangannya di kemudi mengencang. “Aku mau.”

Perubahan Reza tidak berhenti di situ. Minggu itu, dia benar-benar pulang jam lima sore. Dia membelikanku bunga—sesuatu yang belum pernah dia lakukan bahkan saat kami berpacaran dulu. Dia membantu mengelap meja, membersihkan halaman belakang, dan bahkan duduk di ruang tamu mendengarkan aku menceritakan perkembangan toko bukuku tanpa menyela sekalipun dengan urusan pekerjaannya.

Tapi semakin dia berusaha, hatiku justru semakin membentengi diri. Aku takut. Aku sangat takut ini hanyalah rasa bersalah sesaat dari seorang pria yang egoisnya terganggu karena istrinya tidak lagi memujanya.

Suatu malam di akhir pekan, Reza mengajakku keluar. Dia membawaku ke sebuah restoran kecil berkonsep terbuka di pinggir kota—tempat yang dulu sering kami kunjungi saat masih kuliah, sebelum bisnis keluarganya menyita seluruh jiwanya.

Angin malam berembus pelan. Di atas meja kayu, dua piring makanan favorit kami tersaji.

“Maafkan aku, Salma,” ujar Reza tiba-tiba. Dia menatapku lurus menembus temaram cahaya lilin di meja.

“Maaf untuk apa?” tanyaku datar.

“Untuk tiga tahun ini. Aku terlalu sibuk membangun hidup, membangun karier, mengejar angka… sampai aku lupa menikmati hidup yang sudah aku punya bersama kamu.” Suara Reza terdengar serak. tangannya terulur di atas meja, mencoba meraih jemariku, tapi aku perlahan menarik tanganku ke pangkuan.

Reza menarik tangannya kembali dengan raut terluka.

“Aku nggak butuh kamu merasa bersalah, Reza,” kataku pelan.

“Aku tahu,” balasnya cepat. “Aku tahu maaf aja nggak cukup.”

“Lalu?” tanyaku, menaikkan sebelah alis. “Kenapa kamu melakukan semua ini? Roti panggang, menjemputku, pulang cepat, bawa aku ke sini… Kamu mau membuktikan apa?”

“Aku ingin memperbaikinya,” jawab Reza tanpa ragu. “Aku mau memperbaiki pernikahan kita. Aku mau belajar jadi suami yang kamu inginkan.”

Aku tertawa kecil—sebuah tawa tanpa kebahagiaan. “Reza, pernikahan bukan barang rusak yang bisa kamu perbaiki dalam seminggu cuma karena kamu merasa bersalah.”

“Aku sadar aku salah, Salma! Ibu kemarin telepon aku. Ibu bilang selama ini kamu selalu datang sendiri ke acara keluarga. Kamu selalu cari alasan buat melindungiku di depan Ibu, padahal aku cuma sibuk kerja. Aku baru sadar betapa jahatnya aku sama kamu.”

“Nah, kan,” tumpah sudah rasa kesalku. “Kamu melakukan ini karena teguran Ibu? Karena kamu merasa bersalah?”

“Enggak!” bentak Reza pelan, matanya memerah. “Aku melakukan ini karena aku takut kehilangan kamu!”

Suasana di meja kami mendadak hening. Beberapa pasangan di meja sekitar sempat melirik ke arah kami sebelum kembali ke percakapan mereka.

Aku menatap pria di hadapanku ini. Penampilannya yang biasanya selalu rapi kini tampak agak kacau. Dasinya sedikit miring, dan ada raut ketakutan yang nyata di wajah tampannya.

“Kalau aku kasih kamu kesempatan,” bisikku pelan, suaraku bergetar menahan emosi yang terbendung selama bertahun-tahun, “lalu beberapa bulan lagi kamu sibuk lagi? Kamu kembali dingin lagi? Kamu bosan lagi sama aku?”

Reza terdiam.

“Aku nggak sanggup mengulang tiga tahun yang sama, Reza,” kataku lagi, air mata mulai menggenang di sudut mataku. “Sakitnya diabaikan sama orang yang kita cintai itu… bikin mati rasa. Dan aku baru aja berhasil lepas dari rasa sakit itu. Aku nggak mau masuk ke lubang yang sama.”

Reza memajukan tubuhnya. Dia meraih kedua tanganku di bawah meja, dan kali ini dia menggenggamnya sangat erat hingga aku tidak bisa menariknya kembali.

“Kalau kali ini aku yang takut?” bulir air mata menetes di pipi Reza—pertama kalinya aku melihat pria berhati dingin ini menangis.

“Takut apa?” tanyaku tertegun.

Reza menatap mataku dengan tatapan putus asa.

“Takut kamu benar-benar berhenti mencintaiku.”

Tubuhku membeku. Mataku membelalak menatap bulir air mata yang jatuh ke atas punggung tanganku. Karena untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan kami… Reza terdengar jauh lebih takut kehilangan diriku daripada aku yang dulu selalu takut ditinggalkannya.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Kedua, Drama Rumah Tangga, Free Novel, Pernikahan, Suami Istri
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita