Suamiku Tiba-Tiba Ingin Mencintaiku - Bab 3
Aku tidak langsung melompat ke pelukannya malam itu. Aku tidak langsung mengangguk dan berpura-pura bahwa tiga tahun kesepianku terhapus begitu saja oleh air matanya.
Dan hebatnya, Reza menerima itu.
Dia tidak menuntut jawaban instan. Dia tidak lagi memaksaku untuk langsung kembali tersenyum manis padanya. Reza benar-benar berubah dari seorang pria yang dominan dan menuntut menjadi seorang pria yang belajar mendengarkan dan hadir secara utuh.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cara yang berbeda. Reza tetap pulang tepat waktu, tapi dia tidak lagi bersikap berlebihan. Jika aku terlihat lelah, dia hanya akan menyeduhkan teh hangat, meletakkannya di sampingku, lalu pergi memberi ruang.
Saat akhir pekan tiba dan aku terserang demam tinggi, Reza tidak hanya mengirim pesan atau membelikan obat lewat kurir. Dia mengambil cuti dua hari—hal yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah kariernya. Dia berdiri di dapur, menatap tutorial di ponselnya untuk membuatkan bubur ayam penurun demam, lalu duduk di tepi ranjangku telaten mengompres dahiku sepanjang malam.
Saat aku terbangun di tengah malam, aku melihat Reza tertidur dengan posisi duduk di kursi samping ranjang, memegang tanganku dengan erat seolah takut aku menghilang jika dia melepasnya.
Perlahan, benteng pertahanan yang kubangun setinggi langit mulai runtuh, serpihan demi serpihan.
Dua minggu kemudian, di suatu malam yang hening, kami duduk di teras belakang rumah. Angin malam berembus sejuk membawa aroma tanah basah setelah hujan.
Aku menatap profil samping wajah Reza yang sedang menyesap kopinya.
“Kenapa kamu berubah se-ekstrem ini, Riv?” tanyaku pelan, memecah keheningan.
Reza menoleh, meletakkan cangkirnya di meja. Dia menatapku jujur. “Karena aku hampir kehilangan kamu.”
“Kalau aku nggak bilang mau pisah kamar waktu itu?”
“Mungkin aku masih bodoh,” akunya tanpa rasa gengsi. “Mungkin aku akan terus menganggap kehadiran kamu di rumah ini sebagai sesuatu yang pasti, tanpa pernah sadar kalau hati kamu udah memudar.”
Aku menghembuskan napas panjang, menatap bintang di langit malam. “Reza… jujur, aku belum bisa mencintai kamu seperti dulu.”
Aku bersiap melihat raut kecewa atau marah di wajahnya. Tapi Reza justru mengangguk pelan.
“Aku tahu,” jawabnya tenang.
“Kamu nggak kecewa?” tanyaku heran.
“Nggak.”
“Kenapa?”
Reza tersenyum—sebuah senyuman hangat yang sudah sangat lama tidak kukenali. Dia mengulurkan tangannya, menggenggam jemariku yang bertengger di pegangan kursi.
“Karena dulu kamu yang mengejarku, Salma,” bisiknya lembut. “Dulu kamu yang berjuang sendirian buat hubungan ini, sementara aku cuma diam menikmati. Sekarang giliranku.”
Dia menatap mataku dalam-dalam. “Aku nggak minta kamu langsung cinta sama aku lagi. Aku cuma minta kamu berdiri di sana, biarkan aku yang berjalan mendatangi kamu. Biarkan aku yang memperjuangkan kamu kali ini.”
Dadaku berdesir hebat. Kata-kata itu menghantam tepat di rongga dadaku yang paling dalam, menyapu sisa-sisa rasa sakit yang tertinggal.
Malam itu menjadi titik balik yang sesungguhnya dalam hubungan kami.
Tiga bulan kemudian.
Aroma tumisan bumbu dapur memenuhi ruang tengah rumah kami di suatu pagi yang cerah. Aku sedang berdiri di depan kompor, menggoreng nasi untuk sarapan kami berdua.
Sebuah lengan kekar mendadak melingkar pelan di pinggangku dari belakang. Aroma aftershave yang segar menelusup ke indra penciumanku.
Aku terkejut kecil, tapi tidak menolak saat Reza menyandarkan dagunya di bahu kiriku.
“Kamu masak?” bisiknya di dekat telingaku.
“Iya,” jawabku, mencoba menahan senyum yang ingin terbit.
“Buat aku?” tanyanya lagi, godaan jelas terdengar dalam suaranya.
Aku menoleh sedikit, menatap wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. “Jangan geer ya.”
Reza terkekeh pelan, kecupan singkat mendarat di pipiku. “Berarti buat siapa dong kalau bukan buat aku?”
Aku mematikan kompor, membalikkan badan di dalam dekapan tangannya sehingga kini kami saling berhadapan. Aku memegang kedua sisi kerah kemeja kerjanya, membetulkannya sedikit.
“Untuk suamiku,” kataku pelan, menatap matanya penuh kehangatan.
Reza terdiam seketika. Tubuhnya sedikit menegang, dan matanya membelalak pelan. Sudah sangat lama—mungkin lebih dari dua tahun—sejak terakhir kali dia mendengar kata “suamiku” diucapkan dari bibirku dengan nada sehangat ini, bukan dengan nada dingin nan formal.
Binar kebahagiaan yang sangat terpancar dari matanya membuat dadaku ikut bergetar.
Aku menepuk dada kemejanya pelan sambil tersenyum manis. “Jangan bikin aku menyesal ya, udah kasih kamu kesempatan kedua.”
Reza melingkarkan kedua tangannya lebih erat di pinggangku, menarik tubuhku mendekat hingga tak ada jarak di antara kami. Dia menunduk, menempelkan dahinya di dahiku, menatapku dengan seluruh kesungguhan yang dia miliki.
“Aku nggak akan pernah bikin kamu menyesal, Salma,” bisiknya mantap. “Nggak akan pernah.”
Bibirnya menyentuh bibirku dalam sebuah ciuman yang lembut, hangat, dan penuh janji yang terbayar.
Pernikahan kami akhirnya mendapatkan kesempatan kedua—bukan karena aku kembali menjadi wanita yang dulu selalu mengejar dan mengemis perhatian suaminya, melainkan karena Reza akhirnya belajar bahwa cinta di dalam rumah tangga bukanlah hadiah cuma-cuma yang akan tetap ada tanpa pernah diperjuangkan.
-TAMAT-