Suamiku Tiba-Tiba Ingin Mencintaiku - Bab 1

  1. Home
  2. Suamiku Tiba-Tiba Ingin Mencintaiku
  3. Bab 1 - Setelah Tiga Tahun, Kamu Baru Ingin Jadi Suamiku?
Next

Suasana dapur terasa sepi dan dingin saat jarum jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku duduk sendirian di meja makan, menatap piring kosong di hadapanku. Nasi dan lauk yang kumasak tadi sore sudah dingin, tersimpan rapi di bawah tudung saji.

Suara deru mobil di garasi menandakan kepulangan pria yang berstatus suamiku.

Aku tidak beranjak. Tiga tahun lalu, aku akan melompat dari kursi, berlari kecil ke pintu depan, menyambutnya dengan senyuman hangat, menyambar tas kerjanya, lalu menanyakan bagaimana harinya. Tapi itu dulu. Sebelum rasa lelah mengikis habis semua harapan yang kubawa ke rumah ini.

Pintu terbuka. Langkah kaki Reza terdengar berat menapaki lantai marmer. Dia melepas jas hitamnya, menggantungnya di bahu, lalu melangkah menuju dapur. Langkahnya terhenti saat melihatku masih duduk di sana.

“Kamu sudah makan?” tanya Reza. Suaranya datar, monoton, khas seorang manajer yang terbiasa memberi instruksi di ruang rapat.

“Sudah,” jawabku pelan.

Reza melirik tudung saji di meja. “Nunggu aku?”

Aku menggeleng pelan. “Nggak.”

Reza mengerutkan dahi. Ada riak kebingungan di matanya yang tajam. Selama tiga tahun ini, jangankan pukul sepuluh malam, pukul satu pagi pun aku pasti akan duduk di kursi itu, menunggunya melepas penat. Tapi malam ini, aku hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

“Tadi di kantor ada rapat mendadak sama investor,” kata Reza, seolah merasa perlu memberi penjelasan—sesuatu yang sangat jarang dia lakukan. “Aku sudah makan di luar.”

“Oh. Ya sudah.” Aku berdiri, merapikan piring bekas makanku sendiri dan membawanya ke wastafel.

Reza memperhatikan gerak-gerikku. “Kamu kenapa, Salma? Beberapa hari ini kamu beda.”

“Beda gimana?” tanyaku tanpa menoleh. Aku mulai mencuci piring dengan tenang.

“Kamu… nggak pernah tanya aku pulang jam berapa lagi. Kamu nggak kirim pesan siang-siang. Kamu juga nggak pernah nanya jadwal mingguanku.”

Aku mematikan keran air, mengelap tanganku dengan kain kering, lalu berbalik menatapnya. Wajah Reza tampak lelah, garis wajahnya tegas, tampan tapi terasa asing.

“Aku cuma nggak mau mengganggu kamu lagi, Reza,” jawabku jujur. “Kamu selalu bilang kamu sibuk. Jadi aku belajar untuk nggak merepotkan kamu.”

Reza terdiam. Dia melangkah mendekati meja makan, menarik kursi dan duduk di sana. “Aku sibuk untuk masa depan kita, Salma. Perusahaan keluarga lagi membesar. Kamu tahu itu.”

“Aku tahu,” kataku lembut. “Dan aku nggak pernah menuntut saham kamu.”

Suasana mendadak menjadi canggung. Reza mengusap wajahnya yang lelah. “Ya sudah. Aku mau mandi dulu.”

“Reza,” panggilku sebelum dia melangkah keluar dari dapur.

Dia berhenti, menoleh padaku. “Ada apa?”

“Mulai bulan depan aku mau pindah ke kamar sebelah.”

Langkah Reza terhenti sepenuhnya. Matanya membelalak, menatapku tidak percaya. “Kenapa?”

“Biar kamu lebih nyaman,” jawabku santai. “Kamu sering pulang larut, sering buka laptop malam-malam. Kalau aku di kamar sebelah, kamu nggak perlu takut membangunkan aku.”

“Salma, ini konyol,” suara Reza menajam. “Kita suami istri. Kenapa harus pisah kamar?”

“Biar kamu lebih bebas.”

“Selama ini kamu nggak nyaman?” tanyanya balik, nada suaranya menuntut.

Aku menatap mata pria yang kunikahi tiga tahun lalu itu. Dulu, aku mengira pernikahan ini adalah awal dari kisah cinta kami. Tapi ternyata, pernikahan ini hanyalah status legalitas untuk dua orang yang tinggal di bawah satu atap tanpa percakapan emosional.

Aku tersenyum kecil. “Selama ini aku cuma berusaha nyaman, Reza.”

Kalimat singkat itu membuat Reza membeku. Bibirnya agak terbuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Matanya menatapku seolah baru pertama kali melihat siapa wanita yang berdiri di hadapannya.

“Aku capek,” lanjutku pelan. “Tiga tahun aku berusaha bikin rumah ini terasa hangat. Tiga tahun aku berusaha ngajak kamu bicara, nanya kabar kamu, bikin kamu ngerti kalau aku ada di sini. Tapi kamu selalu tutup pintu itu.”

“Salma, aku enggak—”

“Aku nggak minta cerai,” potongku cepat sebelum dia salah paham. “Aku cuma berhenti. Aku berhenti mengejar kamu. Aku berhenti berharap kamu bakal melirik aku di rumah ini. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing aja. Kamu dengan pekerjaanmu, aku dengan kehidupanku.”

Aku melangkah melewatinya menuju tangga. Aku tidak marah. Tidak ada nada tinggi dalam suaraku. Justru ketenangan luar biasa yang kurasakan saat ini—ketenangan dari seorang wanita yang sudah benar-benar menyerah.

Tepat saat kakiku menapaki anak tangga pertama, sebuah cengkeraman hangat di pergelangan tanganku menahanku. Aku menoleh. Reza berdiri di sana, menatapku dengan mata yang memancarkan kegelisahan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya.

“Kalau aku berubah?” tanyanya, suaranya agak bergetar.

Aku menatap tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku, lalu beralih ke matanya. “Berubah apa?”

“Kalau aku mulai menjadi suami yang kamu harapkan selama ini?”

Aku menatapnya longgar, lalu mengulas senyum pahit yang terasa menyengat di dadaku sendiri. Tiga tahun aku mendambakan kalimat itu. Tiga tahun aku menangis di kamar sendirian, berharap dia menyadari keberadaanku.

Aku menarik tanganku pelan dari genggamannya.

“Tiga tahun, Reza.”

Aku berbalik dan melanjutkan langkahku naik ke atas. Namun sebelum jemariku menyentuh gagang pintu kamar, aku menoleh ke bawah, menatap Reza yang masih berdiri mematung di dasar tangga.

“Kenapa baru sekarang?”

-BERSAMBUNG-

Next
Tags:
Cinta Kedua, Drama Rumah Tangga, Free Novel, Pernikahan, Suami Istri
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita