Suamiku Selalu Memilih Ibunya - Bab 7

  1. Home
  2. Suamiku Selalu Memilih Ibunya
  3. Bab 7 - Kali Ini Aku Memilih Istriku
Prev
Next

“Ibu harus angkat kaki dari rumah ini minggu depan.”

Kalimat Faris memotong keheningan ruang tamu dengan ketegasan yang belum pernah terdengar selama tiga puluh satu tahun hidupnya.

Bu Ratna yang sedang meletakkan cangkir teh di atas meja kayu membeku seketika. Matanya membelalak lebar, memandang anak laki-laki tunggalnya dengan tatapan tak percaya.

“Faris… kamu bicara apa sama Ibu?” suara Bu Ratna bergetar emosi. “Kamu mengusir Ibu kandungmu sendiri?!”

“Aku tidak mengusir Ibu,” jawab Faris pelan, namun tatapan matanya lurus dan tak tergoyahkan. Ia duduk di seberang ibunya, meletakkan sepucuk kunci ruko kecil di atas meja. “Aku sudah sewakan rumah kontrakan kecil dekat toko kelontong lama Ibu di kampung. Lingkungannya tenang, dan ada saudara yang bisa bantu jaga Ibu di sana.”

“Tidak mau!” bentak Bu Ratna, memukul meja hingga cangkir tehnya terguncang. “Ibu tidak mau tinggal di kampung lagi! Ini rumah anak Ibu! Ibu berhak tinggal di sini bersama kamu!”

“Rumah ini sudah laku dijual, Bu,” potong Faris dingin. “Uang pelunasannya sudah ditransfer pagi tadi. Separuhnya dipakai buat melunasi sisa utang almarhum Bapak, dan separuhnya lagi… hak Nadira.”

Mendengar nama menantunya disebut, wajah Bu Ratna mendadak merah padam. “Hak Nadira?! Perempuan itu sudah menggugat kamu cerai, Faris! Dia sudah kabur sama pria lain! Kenapa kamu masih memikirkan harta buat perempuan tidak tahu diri seperti dia?!”

“Nadira tidak kabur sama pria lain, Bu!” bentak Faris keras, suaranya bergema menembus sudut-sudut rumah yang kini mulai kosong. Pria itu mengusap wajahnya yang lelah, menahan getaran emosi di dadanya. “Pria itu konsultan keuangan dan pengacaranya. Nadira pergi dari rumah ini karena aku! Karena aku pria bodoh yang selalu membiarkan Ibumu menginjak-injak harga dirinya selama empat tahun!”

Bu Ratna tersentak, memegang dadanya yang mendadak terasa sesak. “Faris… kamu tega membentak Ibu demi perempuan itu? Ibu ini orang tua kamu! Ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu setelah Bapak meninggal!”

“Dan aku sangat menghormati Ibu karena itu!” seru Faris, matanya mulai berkaca-kaca oleh rasa sakit yang memuncak. “Tapi menghormati Ibu bukan berarti aku harus membiarkan rumah tanggaku hancur! Bukan berarti aku harus mengorbankan wanita yang sudah berjanji mendampingi hidupku!”

“Kamu anak durhaka, Faris!” tangis Bu Ratna pecah, menggunakan senjata emosional yang selama ini selalu berhasil menundukkan anak laki-lakinya. “Ibu menyesal membesarkan kamu kalau akhirnya kamu lebih memilih istri dibanding Ibu kandung sendiri!”

Faris menarik napas panjang. Dulu, kata ‘anak durhaka’ akan membuat lututnya lemas dan memaksanya kembali mengalah. Namun kali ini, ingatan tentang wajah dingin Nadira di ruko dan keberadaan Dion di samping istrinya membuat Faris berdiri tegak.

“Ibu tetap ibu saya,” kata Faris dengan suara rendah namun amat mantap. “Saya tidak akan pernah menelantarkan Ibu. Kebutuhan makan dan obat Ibu setiap bulan tetap jadi tanggung jawab saya. Tapi Nadira… Nadira adalah istri saya.”

Faris menatap ibunya tanpa rasa ragu lagi.

“Saya tidak akan kehilangan istri saya hanya karena saya terlalu takut katakan ‘tidak’ pada Ibu.”

Bu Ratna terdiam total. Bibirnya terkunci rapat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, wanita itu melihat sebuah batas tebal yang dibangun oleh anak laki-lakinya—sebuah batas yang tak lagi bisa ia tembus dengan ancaman maupun tangisan emosional.

—

Tiga minggu kemudian.

Sinar matahari sore menembus kaca depan Ruko *Nadira Cake & Bakery* di kawasan Kemang. Aroma harum vanila, mentega leleh, dan kayu manis memenuhi seluruh ruangan lantai satu yang kini sudah tertata rapi. Etalase kaca memajang berbagai jenis kue tart dan *fudgy brownie* yang tampak menggugah selera.

Nadira sedang membersihkan meja kasir ketika mendengar gemerincing bel pintu depan berbunyi.

Ia mendongak sambil tersenyum profesional. “Selamat sore, selamat datang di—”

Ucapan Nadira terhenti di udara.

Faris berdiri di ambang pintu. Pria itu tampak jauh berbeda dari beberapa minggu lalu. Kemejanya rapi, wajahnya lebih bersih meski raut penyesalan masih bersemayam samar di matanya. Di tangan kanannya, Faris memegang sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua.

“Boleh aku masuk, Nad?” tanya Faris pelan, suaranya terdengar begitu bersahaja.

Nadira meletakkan kain lap di tangannya. Ia mengangguk pelan. “Masuklah, Mas. Toko baru mau tutup.”

Faris melangkah mendekat, memandang sekeliling toko kue itu dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan. “Tempatnya bagus sekali, Nad. Kamu hebat bisa merintis semua ini dalam waktu singkat.”

“Terima kasih,” jawab Nadira datar namun tidak memusuhi. “Ada perlu apa, Mas? Kalau soal dokumen perceraian, pengacaraku bilang mediasi pertama akan digelar minggu depan.”

Faris menghentikan langkahnya tepat di depan meja kasir. Ia menggelengkan kepala pelan.

“Aku ke sini bukan buat bahas perceraian, Nad,” kata Faris, tatapannya terkunci rapat pada mata Nadira. “Aku sudah transfer hak kamu atas lima puluh persen hasil bersih penjualan rumah ke rekeningmu kemarin. Tanpa potongan sepeser pun.”

Nadira sedikit terkejut. “Uang itu… kamu tidak pakai buat lunasi sisa utang?”

“Sisa utang keluarga sudah selesai pakai bagianku dan tabunganku,” jelas Faris tenang. “Itu uang hak kamu selama empat tahun mendampingi aku. Kamu berhak pakai modal itu buat kembangkan bisnismu.”

Nadira menunduk, merasakan kehangatan samar menyusup ke dadanya yang sempat membeku. “Terima kasih, Mas.”

“Dan soal Ibu…” Faris menarik napas panjang, membiarkan suaranya terdengar mantap. “…Ibu sudah pindah ke kampung tiga hari lalu. Aku sudah belikan rumah kecil yang nyaman buat Ibu di sana.”

Nadira mendongak, matanya membelalak pelan. “Ibu… pindah?”

“Iya,” jawab Faris tulus. “Aku sudah tegaskan sama Ibu kalau aku mencintainya sebagai anak, tapi aku tidak bisa membiarkan Beliau ikut campur dan merusak rumah tanggaku lagi. Aku sudah tetapkan batas, Nad.”

Nadira terdiam seribu bahasa. Ia menatap Faris, mencari tanda-da ketidakjujuran di wajah pria itu, namun yang ditemukannya hanyalah kesungguhan yang teramat nyata.

Faris perlahan meletakkan kotak beludru biru kecil di atas meja kasir, lalu mendorongnya perlahan ke arah Nadira.

“Ini apa, Mas?” tanya Nadira curiga.

“Buka saja,” bisik Faris lembut.

Dengan jemari yang sedikit bergetar, Nadira membuka kotak beludru tersebut. Di dalamnya terbaring sebuah kunci besi baru berukir elegan dengan gantungan bertuliskan sebuah alamat perumahan asri di daerah Selatan.

Nadira mengangkat wajahnya dengan dahi berkerut bingung. “Ini apa? Rumah baru?”

Nadira menggelengkan kepala pelan, hendak menutup kembali kotak tersebut. “Mas… aku sudah bilang, aku tidak butuh rumah baru. Aku sudah punya ruko ini dan aku nyaman tinggal di lantai atas.”

“Aku tahu kamu tidak butuh rumah baru, Nadira,” sahut Faris cepat, melangkah satu pijakan lebih dekat hingga tangannya bisa menyentuh permukaan meja.

“Lalu kenapa kamu kasih kunci ini ke aku?” tanya Nadira parau.

Faris menatap dalam-dalam ke dalam manik mata istrinya, menyunggingkan senyum tulus yang dipenuhi kehangatan dan rasa penyesalan yang mendalam.

“Aku tidak sedang menawari kamu sebuah rumah baru, Nad,” bisik Faris dengan suara bergetar emosi. “Aku ingin meminta izin buat membangun rumah tangga yang baru bersama kamu. Rumah tangga di mana pendapatmu adalah keputusan kita bersama.”

Nadira membeku. Jantungnya berdebar kencang menembus dadanya.

Namun sebelum Nadira sempat memberikan jawaban, pintu kaca ruko mendadak terdorong terbuka keras. Suara langkah kaki tergesa-gesa memecah ketegangan di antara mereka.

Dion melangkah masuk dengan raut wajah yang amat serius, memegang sebuah amplop cokelat resmi dari kepolisian di tangannya.

“Nadira, maaf saya langsung masuk,” kata Dion dengan nada mendesak, melirik Faris sekilas sebelum menatap Nadira lurus-lurus. “Ada masalah hukum baru terkait aset almarhum ayah Pak Faris yang ternyata menyeret nama kamu sebagai penjamin tanpa pengetahuanmu.”

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Drama Rumah Tangga, Free Novel, Konflik Keluarga, Mertua & Menantu, Suami Istri
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita