Suamiku Selalu Memilih Ibunya - Bab 8
“Nama kamu tercantum sebagai penjamin kedua di berkas utang lama itu, Nadira.”
Kalimat Dion menggantung berat di udara toko kue yang baru beberapa detik lalu diwarnai keheningan emosional. Dion melangkah mendekati meja kasir, membuka map cokelat itu dan menunjukkan satu lembar dokumen berstempel merah.
Nadira membelalakkan mata. Jemarinya yang memegang kotak beludru berisi kunci rumah baru mendadak lemas. “Penjamin kedua? Tapi… aku nggak pernah merasa menandatangani surat utang apa pun, Dion!”
Faris merebut dokumen itu dari tangan Dion dengan wajah pucat pasi. Pria itu membaca baris demi baris nama dan tanda tangan yang tertera di lembar bagian bawah.
“Ini… ini tanda tangan palsu,” bisik Faris parau, matanya bergetar hebat memandang lembaran kertas tersebut. Ia lalu mendongak menatap Dion. “Siapa yang memasukkan nama Nadira di berkas ini?”
Dion menarik napas panjang, menatap Faris dengan pandangan tajam dan serba salah. “Pihak pemberi pinjaman bilang, berkas penjaminan ini diserahkan oleh almarhum ayahmu lima tahun lalu, dan diperbarui oleh Ibu Ratna dua tahun lalu tanpa sepengetahuan kamu maupun Nadira.”
Dada Faris serasa dihantam beban seberat tonase truk. Wajahnya memerah menahan amarah dan kehancuran moral yang teramat sangat. Ibunya… lagi-lagi ibunya melompati batas hukum dan moral demi melindungi diri sendiri, bahkan sampai mengorbankan menantunya tanpa rasa bersalah.
“Ibu…” gumam Faris Lirih, kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Bagaimana bisa Ibu melakukan ini…”
“Masalah hukum ini bisa menyeret Nadira ke jalur pidana kalau tidak segera diselesaikan, Pak Faris,” kata Dion tegas namun tenang. “Penagih utang bisa menyita ruko atau rekening bisnis kue Nadira mulai minggu depan.”
Nadira menyandarkan punggungnya ke dinding kayu di belakang kasir. Matanya memburam oleh air mata yang siap menetes. “Kenapa… kenapa harus aku yang kena imbasnya? Aku bahkan nggak tahu apa-apa soal utang keluarga kalian!”
“Nad, dengarkan aku,” Faris memotong cepat, melangkah maju dan melompati batas meja kasir. Tanpa ragu, ia memegang kedua bahu Nadira erat-erat. “Aku bersumpah demi nyawaku, Nadira. Aku tidak tahu apa-apa soal surat penjaminan ini. Dan aku tidak akan biarkan sepeser pun uangmu atau ruko ini disentuh oleh siapa pun!”
Nadira menatap mata suaminya yang berkaca-kaca. “Tapi nama aku di sana, Mas! Kalau mereka lapor polisi—”
“Aku yang akan tanggung jawab!” potong Faris dengan suara mantap dan bariton yang bergetar emosi. “Aku yang akan ke kantor polisi besok pagi. Aku yang akan bayar sisa utang itu sampai tuntas, atau jadikan diriku sendiri penjamin tunggal menggantikan kamu secara hukum!”
Dion memperhatikannya dengan cermat. “Pak Faris, jumlah sisa utang di dokumen tambahan ini hampir tiga ratus juta rupiah. Apa Anda yakin bisa menyelesaikan pemindahan agunan ini dalam waktu singkat?”
Faris memutar badannya, menatap Dion tanpa rasa gentar sedikit pun. “Saya punya kendaraan pribadi, saya punya bagian sisa penjualan rumah, dan saya punya pekerjaan. Saya akan gadaikan segalanya asal nama istri saya bersih seratus persen!”
Nadira membeku. Keberanian dan ketegasan Faris malam ini sungguh jauh berbeda dari sosok suami yang selama empat tahun ini selalu melarikan diri di balik ketiak ibunya.
“Mas…” panggil Nadira parau.
Faris berbalik menatap istrinya, lalu mengambil tangan Nadira dan menggenggamnya erat-erat. “Kamu tidak akan kena masalah hukum ini, Nad. Aku janji. Biarkan aku menyelesaikan kotoran yang dibuat keluargaku sendiri.”
—
Satu bulan kemudian.
Matahari pagi menyinari pelataran Ruko *Nadira Cake & Bakery*. Suasana di dalam toko terasa amat hangat. Bau adonan roti dan mentega kukus memenuhi ruangan.
Di lantai atas ruko, ruangan yang dulunya kosong kini sudah berubah menjadi tempat tinggal yang rapi dan berestetika tinggi. Sebuah sofa kain abu-abu dan meja makan kayu mengisi ruang tengah.
Faris melangkah keluar dari area dapur lantai dua sambil membawa dua piring nasi goreng telur warmindo favorit mereka. Pria itu menaruh piring di atas meja makan, lalu menatap Nadira yang sedang sibuk merapikan buku laporan keuangan bulanan.
Masalah hukum utang palsu itu sudah sepenuhnya tuntas. Faris terbukti mendatangi kepolisian dan pihak lembaga keuangan bersama Dion untuk mengalihkan seluruh beban utang atas namanya sendiri, sekaligus menuntut pihak penyedia pinjaman karena membiarkan pemalsuan tanda tangan terjadi. Nama Nadira bersih total tanpa cela.
“Masih marah sama aku?” goda Faris pelan sambil menarik kursi di depan Nadira.
Nadira mendongak, menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. “Sedikit.”
Faris menaikkan alisnya, berpura-pura panik. “Sedikit? Berapa lama marahnya kira-kira?”
“Seumur hidup mungkin,” jawab Nadira datar, namun ada kilatan jenaka di matanya.
Faris tertawa renyah—sebuah tawa lepas yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar dari tenggorokannya. “Berarti aku harus ekstra sabar ya.”
“Kamu baru sadar kalau jadi suami itu harus sabar?” sindir Nadira sambil menyendok nasi gorengnya.
Faris menghentikan sendoknya. Ia menatap Nadira dengan sorot mata yang amat dalam dan penuh kehangatan. Keheningan manis menyelimuti meja makan di antara mereka selama beberapa detik.
“Aku bukan cuma baru sadar soal sabar, Nad,” panggil Faris lembut.
“Terus?”
Faris mengulurkan tangannya di atas meja, meraih jemari lentik Nadira dan menggenggamnya erat.
“Aku baru tahu satu hal yang paling penting dalam hidupku,” bisik Faris tulus.
“Apa itu?” tanya Nadira pelan, matanya terkunci pada manik mata suaminya.
“Rumah itu bukan tempat di mana aku bisa menyuruh kamu tinggal atau mengalah,” kata Faris dengan suara bergetar emosi. “Rumah adalah tempat yang kita pilih bersama untuk tetap kita perjuangkan, tanpa ada orang lain yang boleh ikut campur.”
Nadira terdiam. Kalimat Faris menusuk lembut ulu hatinya, meluruhkan sisa-sisa tembok kepahitan dan rasa sakit yang sempat bersarang di sana selama bertahun-tahun.
“Kalau begitu…” bisik Nadira, menyunggingkan senyum paling indah yang pernah dilihat Faris setelah sekian lama. “…jangan buat aku memperjuangkannya sendirian lagi, Mas.”
Faris mengangguk mantap, membalas senyuman istrinya. “Tidak akan pernah lagi. Aku janji.”
Pernikahan bukan tentang siapa yang harus mengalah demi membuktikan bakti, melainkan tentang dua manusia yang memilih untuk berdiri seimbang di sisi yang sama—saling melindungi dan saling menghargai.
—
Enam bulan kemudian.
Pintu toko kue Nadira mendadak terdorong terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian batik sederhana melangkah masuk dengan ragu-ragu.
Bu Ratna.
Wanita itu berdiri di dekat pintu, memegang tas belanjaannya dengan canggung. Tampak raut penyesalan dan usia yang makin menua di wajahnya.
Nadira yang sedang berdiri di balik kasir membeku seketika. Faris yang baru keluar dari dapur belakang pun ikut terkejut melihat kedatangan ibunya.
Bu Ratna memandang Nadira dengan mata berkaca-kaca, lalu melangkah pelan mendekati meja kasir.
“Nadira…” panggil Bu Ratna dengan suara serak yang bergetar hebat.
-TAMAT-