Suamiku Selalu Memilih Ibunya - Bab 6

  1. Home
  2. Suamiku Selalu Memilih Ibunya
  3. Bab 6 - Kebenaran Yang Selama Ini Kusembunyikan
Prev
Next

“Ambil kembali surat gila ini, Nadira! Aku tidak akan pernah mau menandatanganinya!”

Faris meremas lembaran kertas berstempel Pengadilan Agama itu hingga kusut di dalam genggamannya. Matanya merah membara, dipenuhi gabungan antara amarah, kepanikan, dan rasa tidak percaya yang amat mendalam.

Ia melemparkan gumpalan kertas itu ke lantai ruko yang dingin, melangkah maju dua pijakan hingga jaraknya dengan Nadira kini hanya tersisa selangkah.

“Kamu pikir pernikahan empat tahun kita ini mainan?” bentak Faris, suaranya bergetar hebat. “Cuma gara-gara masalah kamar dan rumah, kamu tega melayangkan gugatan cerai?! Mana Nadira yang sabar? Mana Nadira yang selalu mengerti aku?!”

Nadira tidak berkedip sedikit pun. Ia berdiri tegak, memandang suaminya yang tampak lepas kendali.

“Nadira yang sabar itu sudah mati, Mas,” jawab Nadira pelan, suaranya dingin dan menusuk. “Dia mati di malam kamu membiarkan Ibumu mengusirnya dari kamar tidur. Dia mati di malam kamu menyembunyikan surat penjualan rumah dari tangannya.”

“Aku punya alasan buat melakukan itu semua, Nadira!” seru Faris frustrasi, mengusap rambutnya dengan kasar hingga berantakan.

“Alasan apa?!” balas Nadira, suaranya ikut naik. “Alasan kalau Ibu kamu selalu jadi nomor satu dan aku cuma pelengkap yang harus selalu mengalah?! Jangan pakai kata ‘demi kebaikan kita’ lagi, Mas. Aku mual mendengarnya!”

Faris mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Rahangnya menegang keras, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan mereka, Nadira melihat setetes air mata jatuh membasahi pipi pria itu.

“Bukan demi Ibu…” suara Faris mendadak serak dan parau, seperti ada yang menyumbat tenggorokannya. “…rumah itu dijual bukan buat turuti kemauan Ibu, Nad.”

Nadira tertawa tipis, memalingkan wajahnya ke arah jendela ruko. “Lalu buat apa, Mas? Buat foya-foya? Buat beli barang mewah?”

“Buat bayar utang almarhum Bapak!” teriak Faris keras, suaranya memecah keheningan ruko hingga bergema ke lantai dua.

Langkah kaki Nadira terhenti. Senyum sinis di wajahnya mendadak pudar. Ia berbalik perlahan, menatap Faris dengan dahi berkerut. “Maksud kamu apa?”

Faris menundukkan kepala, kedua bahunya terkulai lemas seolah seluruh tenaga dalam tubuhnya baru saja disedot habis. Pria itu menyandarkan punggungnya ke dinding keramik ruko, membiarkan tubuhnya meluncur turun hingga ia terduduk di lantai.

“Utang almarhum Bapak…” panggil Faris lirih, menatap ubin di bawah kakinya dengan tatapan kosong. “Lima tahun lalu, sebelum kita menikah, usaha travel milik Bapak bangkrut total. Bapak ditipu mitra bisnisnya dan meninggalkan utang hampir satu koma dua miliar rupiah ke bank dan penagih utang.”

Nadira membeku di tempatnya. Napasnya tertahan di dada. “Satu koma dua miliar?”

“Iya,” gumam Faris, suaranya bergetar menahan isaknya sendiri. “Bapak meninggal kena serangan jantung gara-gara dikejar-kejar penagih utang. Sewaktu aku menikahi kamu, utang itu masih bersisa delapan ratus juta rupiah. Penagih utang terus datang meneror Ibu di kampung. Rumah toko kelontong Ibu… sebenarnya disita bank, Nad. Bukan ditutup karena Ibu mau pensiun.”

Nadira membelalakkan mata, lidahnya mendadak kaku. Selama empat tahun ini, yang ia tahu adalah toko kelontong Bu Ratna dijual secara sukarela karena faktor usia.

“Setiap bulan…” Faris menengadah, menatap Nadira dengan mata merah yang dipenuhi kepedihan. “…setiap bulan selama empat tahun kita menikah, separuh gajiku sebagai supervisor terpotong buat bayar cicilan utang itu. Aku diam-diam sisihkan tabunganku, aku ambil lembur tiap malam, cuma buat lunasi utang Bapak supaya Ibu nggak masuk penjara atau diganggu orang.”

“Mas…” bisik Nadira parau, tangannya yang memegang buku catatan mulai gemetar.

“Tapi cicilan bunga bank terlalu mencekik, Nad,” lanjut Faris, air matanya kini mengalir deras membasahi pipinya. “Bulan lalu, pihak bank kasih peringatan terakhir. Kalau utang pokok tidak dilunasi bulan ini, aset rumah yang kita tinggali sekarang—rumah yang atas nama aku—bakal disita paksa. Ibu panik, Ibu takut sekali… Makanya Ibu minta aku jual rumah itu cepat-cepat lewat agen supaya dapat uang tunai buat tutup semua sisa utang Bapak.”

Keheningan yang amat membekukan menyelimuti ruko kosong itu. Hanya suara deru mobil di jalan raya luar yang terdengar samar.

Nadira berdiri mematung. Potongan-potongan teka-teki selama empat tahun terakhir mendadak tersusun rapi di kepalanya. Alasan mengapa Faris selalu terlihat sangat lelah. Alasan mengapa uang belanja mereka sering kali pas-pasan meski gaji Faris cukup besar. Alasan mengapa Faris begitu protektif dan takut melihat ibunya stres.

Namun di antara rasa terkejut yang menghantamnya, ada rasa sakit baru yang jauh lebih menusuk ulu hatinya.

Nadira melangkah pelan mendekati Faris yang masih terduduk di lantai. Ia berlutut di hadapan suaminya, menatap pria itu dengan pandangan yang penuh dengan campuran antara kepahitan dan kepedihan yang mendalam.

“Kenapa, Mas?” bisik Nadira, suaranya bergetar hebat.

Faris mendongak. “Apa, Nad?”

“Kenapa kamu tidak pernah cerita sama aku?!” seru Nadira, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. “Kenapa selama empat tahun kita menikah, kamu simpan rahasia sebesar ini sendirian?! Kenapa kamu anggap aku seperti orang asing yang tidak berhak tahu beban hidup kamu?!”

“Aku cuma mau melindungi kamu, Nadira!” sahut Faris emosional, meraih kedua pergelangan tangan istrinya. “Aku suami kamu! Tanggung jawab utang keluarga ini ada di pundakku! Aku nggak mau kamu kepikiran, aku nggak mau kamu ikut terbebani utang keluarga Wiratama!”

“Melindungi aku?!” tawa kepedihan meluncur dari bibir Nadira. Ia memburu-buru menarik tangannya dari genggaman Faris. “Kamu pikir dengan menyembunyikan ini kamu lagi melindungi aku, Mas?! Kamu bukan melindungiku! Kamu membuatku tidak punya pilihan!”

“Nadira, dengarkan aku—”

“Empat tahun, Mas!” potong Nadira dengan suara melengking menahan isak tangis. “Empat tahun aku mengira kamu lebih sayang Ibu daripada aku cuma gara-gara kamu selalu menyuruhku mengalah! Empat tahun aku merasa seperti numpang di rumah itu! Kalau saja kamu jujur dari awal… kalau saja kamu ajak aku bicara… aku bakal bantu kamu, Mas! Kita bisa cari jalan keluar sama-sama!”

Faris menundukkan kepala, memegang dadanya yang terasa sesak oleh penyesalan. “Aku takut kamu bakal tinggalkan aku kalau tahu keluargaku punya utang sebanyak itu, Nad…”

“Bukan utang itu yang bikin aku pergi dari kamu, Faris!” tegas Nadira lurus, menunjuk dada suaminya. “Aku pergi bukan karena keluarga kamu miskin atau punya utang! Aku pergi karena kamu tidak pernah menganggapku cukup penting untuk diajak menghadapi masalah bersama! Kamu buat aku merasa tidak berguna dalam pernikahan ini!”

Faris terpaku mendengarnya. Kalimat Nadira bagaikan pukulan telak yang merubuhkan seluruh pertahanan dan pemikirannya selama ini. Pria itu menyadari betapa fatalnya kesalahan langkah yang diambilnya atas nama ‘melindungi’.

Nadira perlahan berdiri, mengusap air mata di pipinya dengan kasar. Ia merapikan bajunya, lalu mengambil kembali dokumen gugatan cerai yang remuk di lantai.

Faris ikut berdiri dengan tergesa-gesa. Kebencian pada dirinya sendiri membakar dadanya. Ia memegang lengan Nadira dengan tatapan mata yang penuh desakan keputusasaan.

“Aku minta maaf, Nad…” bujuk Faris parau, suaranya terdengar begitu hancur. “Aku salah. Cara penyelesaianku salah besar. Tapi tolong… tolong pulang, Nadira. Aku ingin kamu pulang. Kita perbaiki semuanya dari awal.”

Nadira menatap mata Faris lurus-lurus. Tidak ada lagi amarah yang meluap-luap di sana, hanya menyisa ketegasan seorang wanita yang sudah menemukan kembali harga dirinya.

“Kalau aku pulang, Mas…” panggil Nadira pelan, suaranya tenang namun menusuk. “…apa yang akan berubah?”

Faris tidak langsung menjawab. Pria itu memandang istrinya dengan bibir bergetar, lalu berbisik mantap, “Semuanya. Aku akan ubah semuanya.”

“Termasuk membiarkan aku ikut mengambil keputusan dalam rumah tangga kita?” tanya Nadira lagi.

“Iya! Apapun yang kamu mau!” janjinya panik.

Nadira menghela napas panjang, menatap pintu kaca ruko yang terbuka. Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan ruko. Dari dalam mobil, seorang pria berjas rapi dengan postur tinggi dan tenang melangkah keluar.

Pria itu adalah Dion Pratama—sahabat lama Nadira sekaligus konsultan keuangan yang kemarin disarankan oleh Maya untuk membantu menghitung pembagian harta dan kelayakan modal bisnis kue Nadira.

Dion melangkah masuk ke dalam ruko, memegang sebuah map dokumen tebal di tangannya. Ia melirik Faris sekilas dengan tatapan netral, lalu menatap Nadira dengan senyuman hangat.

“Maaf saya terlambat, Nadira,” kata Dion santai, suaranya terdengar sangat dewasa dan meyakinkan. “Draf pengajuan modal usaha ruko dan berkas hukum pertanahan untuk tuntutan harta bersama kamu sudah selesai saya periksa.”

Faris membeku di tempatnya. Matanya berpindah dari Dion ke Nadira, dadanya mendadak dihantam rasa cemburu dan ancaman luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Dion memutar tubuhnya menghadap Faris, lalu menyodorkan kartu namanya dengan tenang.

“Selamat sore, Pak Faris. Saya Dion, konsultan keuangan sekaligus perwakilan hukum yang ditunjuk Nadira untuk mengurus seluruh aset dan hak finansialnya mulai hari ini.”

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Drama Rumah Tangga, Free Novel, Konflik Keluarga, Mertua & Menantu, Suami Istri
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita