Suamiku Selalu Memilih Ibunya - Bab 5
“Di sini kamu aman, Nad. Dia tidak akan bisa menyakiti atau memaksa kamu lagi.”
Suara Maya memecah keheningan apartemen lantai lima itu. Sahabat Nadira sejak masa kuliah itu menyodorkan secangkir teh chamomile hangat yang asapnya masih mengepul pelan.
Nadira duduk di sofa empuk berwarna abu-abu, jemarinya memeluk cangkir porselen dingin itu erat-erat. Hujan di luar jendela balkon masih turun mengguyur Kota Jakarta, membiaskan cahaya lampu jalanan menjadi pendar-pendar samar.
“Aku masih nggak percaya aku berani melangkah keluar dari rumah itu, May,” bisik Nadira parau. Suaranya serak akibat menangis sepanjang perjalanan di dalam taksi tadi.
Maya mengambil tempat duduk di samping Nadira, memegang lembut bahu sahabatnya. “Kamu bukan cuma berani, Nad. Kamu menyelamatkan diri kamu sendiri. Kalau kamu terus bertahan di sana, kamu bakal hancur pelan-pelan.”
Nadira menunduk, menatap pantulan dirinya di dalam permukaan teh hangat. “Tapi aku meninggalkan pernikahan yang sudah aku perjuangkan selama empat tahun. Aku… aku merasa seperti orang gagal.”
“Gagal?” Maya mendengus pelan, matanya memancarkan amarah sekaligus rasa iba. “Nad, dengar aku. Yang gagal di sini itu Faris, bukan kamu! Pria mana yang tega membiarkan istrinya diusir dari kamar tidur sendiri? Pria mana yang tega menjual rumah tempat kalian tinggal tanpa diskusi sama sekali?!”
Nadira terdiam. Kalimat Maya menghantam kesadarannya bagaikan deburan ombak.
“Aku cuma ingin dihargai sebagai istri, May,” lirih Nadira, air matanya menetes lagi jatuh ke dalam cangkir. “Aku nggak pernah minta hidup bergelimang harta. Aku cuma mau rumah tangga di mana suamiku mau mendengarkan suaraku, bukan cuma menganggapku seperti pajangan rumah.”
“Dan Faris gagal memberikan itu,” tegas Maya lembut namun tanpa kompromi. “Sekarang, fokus kamu cuma satu: bangun kembali hidup kamu. Kamu punya keahlian. Usaha kue kamu itu punya banyak pelanggan setia. Kamu bisa berdiri di atas kakimu sendiri, Nad.”
Nadira mengusap air matanya dengan punggung tangan. Kata-kata Maya perlahan-lahan menyalakan kembali percikan keberanian di dalam dadanya yang sempat padam.
*Dzz… Dzz… Dzz…*
Ponsel Nadira yang tergeletak di atas meja kaca bergetar hebat. Nama *Faris* terpampang di layar, disertai angka kecil di sampingnya: *17 Panggilan Tak Terjawab*.
Maya melirik layar ponsel itu dengan tatapan sinis. “Panik kan dia sekarang.”
Nadira mengabaikan panggilan itu. Namun tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk.
*[Nadira, tolong angkat telponku. Kamu di mana sekarang? Ibu nangis-nangis di rumah karena mengira aku bentak dia gara-gara kamu. Tolong pulang, Nad. Kita bicarakan ini baik-baik. Ibu cuma mau yang terbaik buat kita.]*
Nadira membaca pesan itu dengan senyuman pahit. Bahkan dalam kondisi seperti ini, dalam kepanikan Faris yang mencari istrinya… nama dan perasaan ibunya tetap menjadi prioritas utama yang disebut pria itu.
*Ibu nangis-nangis… Ibu cuma mau yang terbaik…*
Nadira mematikan ponselnya, membalikkan layarnya menelungkup di atas meja.
“Nggak usah dibalas,” saran Maya tenang. “Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya diabaikan dan dianggap tidak ada.”
“Aku nggak akan balas, May,” jawab Nadira mantap. “Aku sudah selesai.”
—
Keesokan harinya, matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden apartemen Maya. Nadira terbangun dengan perasaan yang aneh—sebuah kombinasi antara rasa hampa yang berlubang di dadanya, namun sekaligus rasa lega yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia bangun tanpa perlu terburu-buru menyiapkan sarapan sesuai selera rumit ibu mertuanya. Ia tidak perlu khawatir masakan kurang asin atau kopi terlalu pahit di mata Bu Ratna.
Pukul sepuluh pagi, Nadira sudah duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Selatan bersama Maya. Di hadapan mereka, seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun menyerahkan sebuah lembaran kunci berujung perak.
“Ini kunci ruko dua lantai di daerah Kemang yang kamu tanyakan kemarin, Nadira,” kata Bu Shinta, pemilik properti sekaligus langganan setia pesanan kue Nadira. “Lantai bawah bisa kamu pakai untuk toko dan dapur produksi, lantai atas ada kamar tidur yang cukup luas untuk kamu tinggali.”
Nadira menerima kunci itu dengan tangan bergetar. Matanya berkaca-kaca melihat logam kecil di telapak tangannya.
“Bu Shinta… terima kasih banyak,” bisik Nadira haru. “Tapi uang sewa yang saya punya saat ini baru cukup untuk membayar tiga bulan pertama—”
“Jangan khawatir soal itu,” potong Bu Shinta tersenyum hangat. “Saya tahu kualitas kue kamu, dan saya tahu perjuangan kamu. Bayar bulanan sesuai kemampuan kamu dulu sampai usaha kamu stabil. Saya percaya sama kamu.”
Maya menggenggam tangan Nadira erat-erat. “Lihat kan, Nad? Pintu rezeki kamu langsung terbuka lebar begitu kamu lepas dari racun di rumah itu.”
“Terima kasih, May… Terima kasih, Bu Shinta,” kata Nadira, menyunggingkan senyum tulus pertamanya setelah sekian lama.
—
Sore harinya, Nadira berdiri di dalam ruko barunya. Ruangan lantai satu itu masih kosong, hanya ada lantai keramik putih bersih dan dinding bercat krem hangat. Namun di mata Nadira, ruangan kosong ini adalah kanvas baru untuk masa depannya.
Ia sedang sibuk mencatat daftar peralatan dapur yang perlu dibeli di buku catatannya ketika mendengar langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari arah pintu kaca ruko yang terbuka separuh.
Nadira mendongak. Jantungnya mendadak berdesir kencang.
Di ambang pintu berdiri Faris. Wajah pria itu tampak sangat kacau. Rambutnya berantakan, lingkaran hitam menghiasi matanya yang lelah, dan kemejanya terlihat agak kusut—sangat berbeda dari penampilan Faris yang biasanya selalu rapi.
“Nadira…” panggil Faris parau, matanya berbinar lega saat menemukan keberadaan istrinya.
Faris melangkah masuk dengan cepat, hendak meraih tangan Nadira. “Aku cari kamu ke mana-mana, Nad! Maya nggak mau kasih tahu kamu di mana. Aku datangi rumah orang tua kamu, mereka juga diam aja. Aku hampir gila nyariin kamu!”
Nadira mundur satu langkah, menghindari jangkauan tangan Faris. Wajahnya dipasang datar tanpa ekspresi.
“Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini, Mas?” tanya Nadira dingin.
“Aku tanya ke Bu Shinta!” jawab Faris cepat, napasnya masih terengah-engah. “Beliau bilang kamu sewa ruko ini dari dia. Nad… tolong, ayo kita pulang sekarang.”
“Pulang ke mana?” tanya Nadira tenang. “Ke rumah yang dua minggu lagi bakal dijual itu? Atau ke kamar belakang yang lembap itu?”
“Nadira, tolong jangan begini,” bujuk Faris dengan nada amat memohon. tangannya terulur di udara. “Aku sudah bicara sama Ibu. Ibu minta maaf kalau bikin kamu tersinggung. Ibu bilang kamu boleh pakai lagi kamar utama kalau kamu mau pulang!”
Nadira tertawa tipis—sebuah tawa yang dipenuhi rasa miris dan kasihan.
“Ibu minta maaf?” ulang Nadira. “Atau kamu yang memohon-mohon sama Ibu supaya pura-pura minta maaf demi bisa bawa aku pulang buat masak dan urus rumah tangga kamu lagi, Mas?”
Faris tersentak. Bibirnya terkatup rapat, tidak mampu membantah tuduhan itu karena memang itulah yang terjadi tadi pagi.
“Aku nggak akan pulang, Mas,” kata Nadira tegas, menatap mata suaminya tanpa ada ragu sedikit pun. “Hidupku sekarang di sini. Di ruko ini. Tanpa kamu, dan tanpa Ibu kamu.”
Faris menggelengkan kepala dengan cepat, matanya mulai memerah menahan rasa panik dan amarah yang campur aduk.
“Nggak bisa begitu, Nadira!” seru Faris, suaranya naik satu oktav. “Kamu itu masih istri sah aku! Kamu nggak bisa mengambil keputusan sepihak buat tinggal terpisah begini tanpa izin dari aku!”
“Keputusan sepihak?” Nadira menaikkan alisnya, menatap Faris dengan tatapan tajam yang menghujam. “Bukannya itu spesialisasi kamu dan Ibu kamu, Mas? Menjual rumah sepihak, memindahkan kamar sepihak, membuang barang-barangku sepihak… Kenapa giliran aku yang ambil keputusan sepihak, kamu mendadak bicara soal aturan pernikahan?!”
Faris mengepalkan tangannya rapat-rapat di sisi tubuhnya. “Nadira, aku ini suami kamu! Aku punya hak atas kamu!”
“Dan aku punya hak atas diriku sendiri!” balasan Nadira memotong udara bagaikan pedang tajam.
Nadira melangkah mendekati Faris, berdiri tepat di hadapan pria yang pernah menjadi pusat dunianya itu. Dari dalam tas tangannya, Nadira mengeluarkan sebuah amplop putih tebal berstempel Pengadilan Agama yang baru saja diurusnya pagi tadi bersama pengacara keluarga Maya.
Ia mengulurkan amplop itu, meletakkannya tepat di dada Faris.
Faris menatap amplop itu dengan dahi berkerut. Tangannya yang gemetar perlahan mengambil amplop tersebut dan membukanya.
Saat mata Faris membaca judul dokumen di lembaran paling atas, seluruh warna kehidupan serasa surut dari wajahnya. Pria itu membeku total.
*GUGATAN CERAI DAN PERMOHONAN PEMBAGIAN HARTA BERSAMA*
“Nad… ini… ini apa?” suara Faris bergetar hebat, hampir tak terdengar. Matanya menatap Nadira dengan pandangan tak percaya dan mengerikan.
Nadira menatap Faris lurus-lurus, menyunggingkan senyum dingin yang menandai akhir dari segalanya.
“Itu surat gugatan cerai kita, Mas,” kata Nadira pelan namun mantap. “Dan bukan cuma itu… aku juga menuntut hak lima puluh persen atas uang hasil penjualan rumah yang kamu jual tanpa izin aku.”
-BERSAMBUNG-