Suamiku Selalu Memilih Ibunya - Bab 4

  1. Home
  2. Suamiku Selalu Memilih Ibunya
  3. Bab 4 - Aku Pergi Dari Rumah Ini
Prev
Next

“Kalau begitu, pilih sekarang, Mas. Kamu mau jadi suami yang punya rumah tangga sendiri, atau cuma anak laki-laki yang hidup dalam kendali ibunya?”

Pertanyaan Nadira memecah keheningan kamar belakang yang sempit. Lampu gantung di langit-langit berkedip pelan, memantulkan pendar remang pada dua koper kain besar yang sudah terbuka di atas tempat tidur.

Faris berdiri membeku di ambang pintu kamar. Matanya membelalak melihat pakaian-pakaian Nadira sudah tertumpuk rapi di dalam koper.

“Nad, kamu apa-apaan sih?” suara Faris terdengar panik, melangkah cepat menghampiri istrinya. “Kenapa kamu kemasi baju-baju kamu? Jangan bikin drama malam-malam begini, malu didengar tetangga!”

Nadira tidak berhenti melipat kemejanya. Tangannya bergerak tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat Faris merasa merinding. Tidak ada lagi emosi meledak-ledak seperti tadi siang di dapur. Yang tersisa dari mata Nadira hanyalah tatapan hampa yang amat dingin.

“Aku nggak lagi bikin drama, Mas,” jawab Nadira pelan tanpa mendongak. “Aku cuma mau pergi dari sini.”

“Pergi ke mana?!” Faris merebut kemeja dari tangan Nadira, melemparnya sembarangan ke atas kasur. “Kita ini suami istri, Nadira! Kalau ada masalah itu dibicarakan baik-baik, bukan malah main kabur!”

Nadira akhirnya menghentikan aktivitasnya. Ia mendongak, menatap wajah Faris lurus-lurus.

“Dibicarakan baik-baik?” tawa tipis yang teramat pahit lolos dari bibir Nadira. “Berapa kali aku ajak kamu bicara baik-baik, Mas? Berapa ratus kali aku cerita kalau aku merasa nggak nyaman sama cara Ibu memperlakukan aku? Dan apa jawaban kamu setiap kali?”

Faris terdiam, tenggorokannya mendadak kaku.

“Jawaban kamu selalu sama,” sambung Nadira dengan suara yang mulai bergetar. “*’Kamu mengalah saja, Nad. Beliau ibuku. Beliau sudah tua.’* Itu kan yang selalu kamu bilang?”

“Nadira, tolonglah pahami aku,” Faris mengusap wajahnya yang terasa panas, mencoba melembutkan suaranya. “Aku cuma minta kamu bersabar sebentar lagi. Rumah ini dijual kan juga buat urusan keluarga. Aku janji semuanya akan selesai setelah urusan ini beres.”

Nadira menatap suaminya dengan tatapan yang dipenuhi rasa kasihan sekaligus patah hati yang mendalam.

“Masalahnya bukan rumah ini, Mas,” bisik Nadira parau.

Faris mengerutkan dahi. “Terus apa? Kalau bukan soal rumah sama loyang kamu yang dibuang Ibu, terus kamu marah karena apa?!”

“Aku capek!” bentak Nadira pelan, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipi. “Aku capek selalu harus mengerti kamu, sementara kamu tidak pernah sekalipun mencoba mengerti aku! Aku capek selalu ditempatkan di posisi paling akhir dalam hidup kamu!”

“Aku ini kerja banting tulang buat siapa kalau bukan buat kamu dan rumah tangga kita, Nad?!” balas Faris, tidak terima dituduh begitu.

“Kamu kerja buat membuktikan kalau kamu anak berbakti di mata Ibu kamu, Mas!” tegas Nadira lurus. “Bukan buat aku! Di rumah ini, keberadaanku cuma dibutuhkan kalau kamu butuh orang buat masak, cuci baju, atau disuruh mengalah tiap kali Ibu bikin masalah! Aku ini istri kamu, Mas. Tapi selama empat tahun ini, aku merasa seperti tamu yang menumpang di rumah kamu sendiri.”

Faris tersentak. Kalimat Nadira menembus bagian terdalam dari dadanya, meninggalkan rasa perih yang teramat sangat. Pria itu mengulurkan tangan, mencoba meraih telapak tangan Nadira.

“Nad… maaf kalau aku bikin kamu merasa begitu,” bujuk Faris dengan nada memohon yang amat dalam. “Jangan pergi ya? Kasih aku kesempatan buat atur semuanya lagi. Aku butuh kamu di sini.”

Nadira perlahan menarik tangannya dari genggaman Faris. Ia menutup ritsleting koper besarnya dengan bunyi *sret* yang menggema di dalam kamar.

“Maaf, Mas. Kesempatan itu sudah habis,” gumam Nadira dingin.

Ia menyambar tas tangannya dari atas meja kecil, memutar tubuh membelakangi Faris. Namun sebelum kakinya melangkah melewati pintu, Nadira melepaskan lingkaran emas putih dari jari manis tangan kirinya.

Cincin pernikahan mereka.

Nadira membalikkan badan, lalu meletakkan lingkaran logam dingin itu di atas meja lipat kayu, tepat di samping lampu tidur.

Faris membeku seketika. Matanya terpaku pada cincin itu, lalu beralih menatap Nadira dengan tatapan panik dan tak percaya.

“Nadira…” suara Faris bergetar hebat. “Kenapa… kenapa cincin kamu dilepas?”

“Aku sudah terlalu lama mengalah, Mas,” kata Nadira lirih, suaranya mantap tanpa ada ragu sedikit pun. “Sampai aku lupa kalau aku juga punya harga diri yang harus kujaga.”

Faris melangkah maju, menghalangi pintu keluar. Tangannya memegang kedua bahu Nadira erat-erat. “Kamu mau ke mana, Nad? Malam-malam begini kamu mau menginap di mana?! Jangan kekanak-kanakan!”

Nadira menepis tangan Faris pelan, memandang pria yang pernah berjanji akan melindunginya di hadapan Tuhan dan kedua orang tuanya empat tahun lalu.

“Ke tempat di mana pendapatku masih dianggap penting,” jawab Nadira datar.

“Nadira!” seru Faris panik. “Kamu nggak bisa keluar begitu saja dari rumah ini!”

Dari lorong luar, Bu Ratna melangkah mendekati pintu kamar belakang dengan bersedekap. Wanita itu memandang koper Nadira dengan raut muka tak acuh.

“Sudah lah, Faris, biarkan saja kalau dia mau pergi!” potong Bu Ratna dingin. “Istri kok sukanya mengancam suami pakai acara kabur segala. Nanti juga kalau uangnya habis dia bakal mengemis pulang ke sini!”

Faris menoleh pada ibunya. “Ibu, tolong diam dulu!” bentak Faris refleks, sebuah reaksi spontan yang membuat Bu Ratna melotot terkejut karena Faris tidak pernah membentaknya sebelumnya.

Namun teguran Faris sudah terlalu lambat.

Nadira melangkah melewati Faris dan Bu Ratna tanpa menoleh lagi sedikit pun. Koper besarnya beroda menyeret bunyi nyaring di atas lantai keramik, melintasi ruang tamu yang sunyi, menuju pintu depan yang terbuka lebar.

Faris mengejarnya hingga ke pelataran teras rumah. Gerimis tipis mulai turun membasahi bumi malam itu.

“Nadira! Tunggu, Nad!” panggil Faris parau dari atas teras.

Nadira memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil taksi daring yang sudah menunggunya di pinggir jalan. Sebelum melangkah masuk ke kursi penumpang, Nadira berhenti sejenak. Ia memutar tubuhnya, memandang rumah sederhana dan suaminya untuk terakhir kalinya.

“Nadira… tolong jangan pergi…” mohoh Faris, kakinya melangkah ragu menerobos rintik hujan.

Nadira menatap Faris dengan mata yang basah oleh air mata dan hujan, lalu tersenyum sangat tipis. Sebuah senyuman yang menyiratkan perpisahan yang amat dalam.

Ia menutup pintu mobil. Taksi itu melaju pelan meninggalkan pelataran rumah, menghilang di antara kegelapan jalan raya dan rintik hujan malam.

Dan untuk pertama kalinya selama empat tahun pernikahan mereka… Faris berdiri mematung di tengah gerimis, sama sekali tidak tahu bagaimana cara membawa istrinya pulang.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Drama Rumah Tangga, Free Novel, Konflik Keluarga, Mertua & Menantu, Suami Istri
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita