Suamiku Selalu Memilih Ibunya - Bab 3
“Kalau kamu tidak suka dengan aturan di rumah ini, kamu yang angkat kaki!”
Pernyataan Bu Ratna itu melayang santai di udara dapur, berbaur dengan aroma adonan kue yang baru saja dikeluarkan Nadira dari oven.
Nadira menghentikan jarinya yang sedang mengoleskan *buttercream* pada permukaan kue tart pesanan pelanggan. Ia menghela napas panjang, mencoba menekan gemuruh amarah yang menyiksa dadanya selama dua minggu terakhir sejak insiden surat penjualan rumah itu.
“Saya cuma minta Ibu jangan memindahkan loyang-loyang kue milik saya sembarangan,” kata Nadira, suaranya diusahakan tetap tenang meski bergetar. “Loyang itu bersih dan siap pakai, Bu. Kalau ditaruh di dekat tempat sampah dapur seperti itu, nanti kotor terkena minyak cair.”
Bu Ratna yang sedang menyeduh teh hangat di meja makan mendengus kencang. Ia meletakkan sendok stainless steel dengan dentang keras ke atas piring kecil.
“Tumpukan seng karatan begitu memenuhi dapur!” cibir Bu Ratna tajam. “Dapur ini jadi kelihatan seperti gudang barang bekas. Lagian, buat apa sih kamu sibuk jualan kue receh begitu? Suamimu itu gaji supervisor-nya cukup buat makan! Kamu itu cuma bikin rumah ini kotor dan berantakan!”
“Ini bukan barang bekas, Bu. Ini peralatan kerja saya,” balasku tegas, menatap mata mertuanya. “Usaha kue ini membantu ekonomi rumah tangga kami. Uang belanja yang Mas Faris kasih tiap bulan itu sering kurang kalau harus menanggung semua kebutuhan rumah tangga dan obat-obatan Ibu.”
Wajah Bu Ratna mendadak merah padam mendengar sindiran halus itu. “Oh, jadi kamu menghitung-hitung obat yang dibeli pakai uang anak saya?! Kamu perhitungan sekali jadi menantu!”
“Bukan begitu, Bu—”
“Ada apa lagi ini? Suaranya sampai kedengaran ke garasi.”
Faris melangkah masuk ke dapur dengan kemeja kerja yang baru separuh dikancingkan. Pria itu menatap Nadira dan ibunya bergantian dengan raut wajah yang tampak amat lelah.
“Faris! Lihat menantumu ini!” adu Bu Ratna cepat sebelum Nadira sempat angkat bicara. “Dia membentak-bentak Ibu cuma gara-gara loyang kue busuknya digeser sedikit! Dia bilang Ibu ini cuma beban yang menghabiskan uang belanja kamu!”
“Aku tidak pernah bilang begitu, Mas!” potong Nadira cepat, dadanya kian sesak. “Aku cuma minta Ibu tidak menaruh peralatan kerjaku di dekat tempat sampah!”
Faris memijat pangkal hidungnya, menghela napas panjang yang amat dipahami Nadira sebagai sinyal bahwa suaminya itu akan kembali memintanya mengalah.
“Nadira… loyang kan bisa dicuci lagi kalau kotor,” kata Faris pelan, nada suaranya ketus dan lelah. “Kamu tidak perlu bicara dengan nada tinggi ke Ibu. Kasihan Ibu, tensinya bisa naik lagi.”
Nadira membelalakkan mata, memandang suaminya dengan tatapan tak percaya. “Mas! Ibu yang membuang peralatan kerjaku ke dekat sampah! Kenapa kamu malah salahkan aku?!”
“Aku tidak menyalahkan kamu, Nad,” bujuk Faris kaku sambil memegang bahu istrinya. “Tapi tolong lah mengalah sedikit. Ibu kan sudah tua, perasaannya sensitif.”
“Mengalah lagi?” panggil Nadira parau, menepis tangan Faris. “Dari kamar tidur, dapur, menu makan malam, sampai peralatan kerjaku… aku harus mengalah sampai kapan, Mas? Ini rumahku juga!”
“Rumah ini sebentar lagi juga dijual, Nadira!” potong Faris dengan suara tinggi, kehilangan kesabarannya.
Kalimat Faris membuat dapur mendadak hening seketika. Nadira membeku, sementara Bu Ratna menyunggingkan senyum kemenangan di sudut bibirnya.
“Iya, rumah ini mau dijual,” lanjut Bu Ratna santai sambil menyesap tehnya. “Makanya dari sekarang kamu harus belajar membereskan barang-barangmu. Lagian Ibu sudah menyumbangkan sebagian perabotan dan barang-barangmu yang tidak terpakai ke panti asuhan tadi pagi.”
Jantung Nadira serasa berhenti berdetak seketika. “Maaf… Ibu bilang apa?”
“Barang-barang di kamar belakang itu,” sahut Bu Ratna tanpa dosa. “Kardus-kardus isi baju lama kamu, mixer cadangan, sama beberapa oven kecil yang cuma memenuhi ruangan. T tadi pagi ada mobil bak dari panti asuhan datang, ya sudah Ibu kasihkan saja. Buat apa menyimpan barang menumpuk begitu?”
“Bu!” jerit Nadira, seluruh pertahanannya runtuh saat itu juga. Air matanya menetes deras. “Mixer cadangan itu dibeli pakai uang tabunganku sendiri dari hasil jualan! Baju-baju di kardus itu barang-barang kenangan dari almarhumah ibuku!”
Nadira memutar tubuhnya menghadap Bu Ratna dengan tatapan menyala. “Bu, saya memang menantu Ibu!”
Bu Ratna mendongak, terkejut melihat keberanian Nadira yang tidak pernah diperlihatkannya selama empat tahun ini. “Kamu… berani membentak Ibu?”
“Saya memang menantu Ibu,” ulang Nadira, suaranya bergetar hebat menahan tangis dan amarah yang meledak. “Tapi saya juga istri sah Faris! Saya punya hak atas rumah ini! Saya punya hak atas barang-barang saya sendiri! Ibu tidak berhak membuang atau memberikan barang saya kepada orang lain tanpa izin saya!”
“Nadira!” bentak Faris keras, suaranya bergema menembus sudut-sudut dapur.
Nadira perlahan berbalik menatap suaminya. Matanya yang basah oleh air mata memancarkan kekecewaan yang sudah menjalar hingga ke tulang.
Faris melangkah maju, berdiri menutupi ibunya lalu menatap Nadira dengan raut muka marah dan penuh teguran.
“Nadira, jaga ucapanmu!” tegur Faris dengan nada dingin yang menyayat hati. “Jangan pernah bicara kasar seperti itu kepada Ibu!”
Nadira membeku. Pandangannya memburam oleh air mata yang makin deras menetes.
“Jadi…” bisik Nadira parau, bibirnya bergetar hebat. “Jadi sekarang… aku bahkan tidak boleh membela diriku sendiri saat barang-barangku dirampas di rumahku sendiri, Mas?”
-BERSAMBUNG-