Suamiku Selalu Memilih Ibunya - Bab 2
“Kenapa rumah ini mau dijual, Mas?!”
Pertanyaan itu memotong keheningan malam bagaikan kibasan pisau. Nadira berdiri di tengah ruang kerja Faris, mengepal lembaran Akta Jual Beli yang bergetar hebat di dalam genggamannya.
Faris, yang baru saja melangkah masuk dengan handuk kecil mengantung di lehernya, membeku di tempat. Wajahnya mendadak pucat begitu melihat dokumen berstempel resmi itu berada di tangan istrinya.
“Nadira… kamu ngapain buka-buka meja kerja aku?” suara Faris terdengar gugup, mencoba merebut lembaran kertas itu dari tangan Nadira.
Namun Nadira mundur satu langkah, menyembunyikan kertas itu di belakang tubuhnya. Matanya yang memerah menatap Faris lurus-lurus, memancarkan amarah dan rasa terluka yang amat dalam.
“Jawab aku, Mas!” bentak Nadira, suaranya naik satu nada. “Kenapa ada surat perjanjian pelepasan hak atas tanah dan bangunan rumah ini? Kenapa tanggal penandatanganannya tinggal dua minggu lagi?!”
Faris menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. Pria itu mengunci pintu ruang kerja pelan-pelan, takut suara perdebatan mereka terdengar sampai ke kamar depan.
“Nad, tolong pelankan suaramu,” bisik Faris memohon. “Aku bisa jelaskan semuanya baik-baik.”
“Jelaskan apa lagi, Mas?” tawa sumbang lolos dari bibir Nadira, tawa yang dipenuhi kepahitan. “Kamu mau jelaskan kalau rumah tempat aku tinggal, tempat aku bangun usaha kue dari nol, tempat yang kita tempati selama empat tahun ini… bakal dijual tanpa aku tahu sedikit pun?!”
“Rumah ini memang harus dijual, Nad,” kata Faris akhirnya, nada suaranya berubah menjadi pasrah namun tegas.
Nadira membelalakkan mata, seolah tak percaya pada pendengarannya sendiri. “Harus dijual? Kenapa harus dijual? Kita ada masalah keuangan apa sampai harus jual rumah ini, Mas? Gaji kamu cukup, usaha kue aku berkembang! Kenapa tiba-tiba dijua?!”
Faris memalingkan wajahnya, enggan menatap mata Nadira. “Ada hal yang harus aku selesaikan. Ini demi kebaikan kita juga.”
“Kebaikan siapa?!” cecar Nadira, melangkah maju mendekati suaminya. “Kebaikan siapa yang kamu maksud kalau aku sendiri bahkan baru tahu dokumen ini secara tidak sengaja?! Kenapa aku baru tahu sekarang, Mas?!”
“Aku mau menyelesaikannya dulu!” tangkas Faris sedikit menaikkan suaranya, tampak frustrasi. “Aku nggak mau bikin kamu pusing, Nad. Aku ini suami kamu, tanggung jawab aku buat urus hal-hal berat begini!”
“Kita menikah, Mas!” seru Nadira, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. Tangannya menunjuk dada Faris dengan gemetar. “Pernikahan itu artinya kita menanggung semuanya bersama-sama! Keputusan besar kayak jual rumah bukan cuma tanggung jawab kamu sendiri!”
“Nadira, dengarkan aku dulu—”
“Aku tahu!” potong Nadira cepat, suaranya bergetar menahan isak. “Aku tahu kamu selalu anggap aku cuma sekadar pelengkap di rumah ini! Tapi jual rumah ini, Mas? Ini sudah terlalu jauh!”
“Aku cuma butuh waktu buat atur semuanya, Nad,” bujuk Faris, mencoba meraih lengan istrinya. “Setelah rumah ini laku, kita bisa kontrak rumah lain dulu yang lebih—”
“Lalu kenapa aku selalu jadi orang terakhir yang tahu?!” potong Nadira lagi, menepis tangan Faris dengan kasar.
Kata-kata itu menggantung di udara. Menggema di ruangan kecil yang mendadak terasa makin menyempit.
“Jawab aku, Mas!” panggil Nadira lirih, air matanya mengalir makin deras. “Kenapa setiap ada keputusan penting di rumah tangga ini… pendapatku selalu nggak dianggap? Kenapa aku selalu jadi orang luar di antara kamu dan keluarga kamu?”
Faris terdiam. Pria itu berdiri kaku di hadapan Nadira, bibirnya terkatup rapat. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan istrinya.
*Klek.*
Pintu ruang kerja yang tadi dikunci Faris tiba-tiba bergetar karena dorongan dari luar. Gagang pintu diputar paksa beberapa kali sebelum suara ketukan kencang terdengar.
“Faris! Ada apa malam-malam begini kok rebut-ribut?” suara Bu Ratna menggelegar dari balik pintu.
Faris menghela napas pendek, lalu melangkah memutar kunci dan membuka pintu sedikit. Bu Ratna berdiri di sana dengan daster panjangnya, bersedekap sambil memandang Nadira dengan tatapan penuh penilaian dan ketidaksukaan.
“Ada apa ini, Ris? Ibu dari kamar depan dengar suara Nadira teriak-teriak,” tegur Bu Ratna dingin, melirik Nadira yang sedang mengusap air matanya. “Kamu itu jadi istri kok nggak ada sopan-santunnya sama suami? Malam-malam teriak begitu.”
“Nggak apa-apa, Bu. Cuma salah paham sedikit,” potong Faris berusaha menenangkan ibunya.
“Salah paham apa?” Bu Ratna melangkah masuk tanpa diundang, matanya menangkap kertas yang dipegang Nadira. “Oh… Soal jual rumah ini?”
Nadira menatap ibu mertuanya. “Ibu tahu soal rumah ini mau dijual?”
Bu Ratna mendengus pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. “Tentu saja Ibu tahu. Ibu yang minta Faris jual rumah ini.”
Darah Nadira rasanya mendidih seketika. “Ibu yang minta? Tapi ini rumah Mas Faris dan saya, Bu!”
“Rumah Faris!” potong Bu Ratna cepat dengan nada tajam. “Uang mukanya dulu pakai uang tabungan almarhum Bapak kamu, kan, Ris? Ini aset keluarga Wiratama. Dan Faris itu anak laki-laki Ibu satu-satunya. Dia berbakti sama Ibunya, bukan kayak kamu yang mau menguasai semuanya sendiri!”
Nadira menahan napasnya yang terasa menyesakkan dada. Ia beralih menatap Faris, berharap suaminya akan berdiri menyuarakan hak mereka sebagai pasangan suami-istri. Berharap Faris akan mengatakan bahwa keputusan menjual rumah adalah urusan rumah tangga mereka berdua.
“Mas…” bisik Nadira memohon dengan mata berkaca-kaca. “Bicara, Mas…”
Faris menatap Nadira sekilas, lalu beralih menatap ibunya. Wajah pria itu dipenuhi keraguan dan tekanan, namun pada akhirnya… dia menundukkan kepala.
“Nad… Ibu ada benarnya,” gumam Faris pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Uang hasil penjualan rumah ini memang dibutuhkan untuk urusan keluarga.”
Hati Nadira hancur berkeping-keping di tempat itu juga.
Bu Ratna melangkah mendekati Nadira, menyunggingkan senyum penuh kemenangan sebelum memberikan kalimat tajam yang bagaikan paku terakhir di peti mati pernikahan mereka:
“Karena kalau semua hal harus dibicarakan dan disetujui sama istri, kapan seorang anak laki-laki bisa berbakti penuh kepada ibunya?”
Nadira menatap Faris lurus-lurus. Dan yang paling menyakitkan dari seluruh kejadian malam ini… Faris sama sekali tidak membantah kalimat ibunya. Pria itu memilih diam, membiarkan istrinya diinjak-injak di rumahnya sendiri.
-BERSAMBUNG-