Suamiku Selalu Memilih Ibunya - Bab 1
“Mulai besok kamar kalian dipakai Ibu.”
Kalimat itu terucap begitu santai dari mulut Bu Ratna, tepat saat Nadira baru saja melangkahkan kaki melewati pintu depan.
Nadira membeku di ambang pintu. Dua kantong plastik berisi bahan-bahan kue yang berat terasa nyaris terlepas dari jemarinya. Di lorong tengah rumah sederhana itu, tumpukan kardus besar sudah menggunung, dan seorang tukang bangunan tua tampak sibuk menggeser lemari jati milik Nadira dari dalam kamar utamanya.
“Maaf, Bu?” suara Nadira bergetar, berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. “Maksud Ibu bagaimana?”
Bu Ratna memutar tubuhnya, menatap menantunya itu dengan pandangan datar tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Ibu sudah memutuskan,” lanjut Bu Ratna sambil mengusap siku lemarinya yang berdebu. “Kamar utama ini kan paling luas, ada kamar mandi dalamnya juga. Lutut Ibu akhir-akhir ini sering kumat kalau harus jalan jauh ke kamar mandi belakang. Lagi pula kalian kan cuma berdua, belum punya anak. Buat apa pakai kamar besar-besar?”
Dada Nadira berdesir panas. Bukan sekadar soal pemindahan kamar itu sendiri, melainkan cara ibu mertuanya mengambil keputusan sepihak tanpa mengajak atau sekadar memberitahunya terlebih dahulu. Ini adalah rumah yang ia tinggali bersama Faris selama empat tahun pernikahan mereka!
“Tapi, Bu…” Nadira mencoba menahan suaranya agar tetap sopan. “Ini kan kamar pribadi saya sama Mas Faris. Kalau Ibu mau kamar mandi di dalam, kita bisa bicarakan dulu atau bikin perbaikan di kamar yang tengah—”
“Tidak usah repot-repot,” potong Bu Ratna cepat dengan nada dingin yang biasa dipakainya jika tidak mau dibantah. “Ibu sudah bilang sama Faris tadi pagi. Lagian ini kan rumah anak Ibu juga. Kenapa Ibu harus minta izin sama kamu?”
Nadira menahan napasnya yang mendadak terasa sesak. Tanpa menjawab lagi kalimat ibu mertuanya, ia memutar badan dan berjalan cepat menuju ruang kerja kecil di samping garasi. Di sana, Faris—suaminya—sedang duduk di depan laptop dengan tumpukan dokumen logistik di sekelilingnya.
“Mas!” panggil Nadira, menutup pintu ruang kerja itu dengan agak keras.
Faris mendongak, sedikit tersentak melihat wajah istrinya yang memerah menahan amarah. Pria berusia tiga puluh satu tahun itu menghela napas pendek, seolah sudah menduga kedatangan Nadira.
“Kenapa, Nad? Kok mukanya cemberut gitu?” tanya Faris dengan nada tenang yang justru terasa menyebalkan bagi Nadira.
“Mas, maksud Ibu apa?” cecar Nadira langsung, berdiri tegak di depan meja kerja Faris. “Kenapa Ibu tiba-tiba mindahin barang-barang dari kamar utama kita? Kenapa barang-barang kita dikeluarin gitu aja?”
Faris menghindari tatapan mata Nadira. Jemarinya mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja kayu.
“Iya, Nad… tadi pagi Ibu cerita kalau kakinya sakit lagi. Kaki Ibu nggak kuat kalau harus jalan ke kamar mandi belakang pas tengah malam,” jawab Faris pelan. “Jadi… untuk sementara kita pindah ke kamar belakang ya?”
Nadira menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. “Kita?”
Faris mengangguk pelan. “Iya, kita. Kamar belakang kan masih layak, cuma agak lebih kecil aja.”
“Mas!” suara Nadira meninggi, memecah hening ruangan. “Bukan soal kecil atau besarnya kamar! Ini soal batas! Ibu mindahin barang-barang pribadi kita tanpa ngomong sama aku! Dan kamu tahu soal ini dari tadi pagi tapi kamu diam aja?!”
“Nadira, pelankan suaramu. Nanti Ibu dengar,” bisik Faris gusar, ikut berdiri dari kursinya. Dia mengusap wajahnya yang lelah. “Aku bukan diam. Aku cuma nggak mau bikin Ibu stres. Kamu tahu sendiri kan kesehatan Ibu baru pulih semenjak toko kelontongnya ditutup?”
“Terus kalau kesehatan Ibu jadi alasan, perasaan aku gimana, Mas?” tanya Nadira, matanya mulai berkaca-kaca oleh kepedihan yang familier. “Empat tahun kita nikah, Mas. Aku selalu berusaha jadi menantu yang baik. Ibu komplain masakan aku terlalu asin, aku ganti resepnya. Ibu komplain baju aku terlalu santai, aku turuti. Ibu mau ngatur letak perabotan di ruang tamu, aku mengalah! Tapi kali ini kamar pribadi kita, Mas!”
Faris melangkah mendekat, memegang kedua bahu Nadira dengan lembut. Namun bagi Nadira, sentuhan itu tak lagi menghangatkan, melainkan terasa seperti bujukan agar ia kembali mengalah.
“Nad, tolonglah paham,” bujuk Faris dengan nada memohon yang amat dipahaminya. “Ibu itu sudah tua. Setelah Bapak meninggal, Ibu cuma punya aku. Beliau sudah banyak menderita sewaktu membesarkan aku.”
“Aku paham, Mas. Aku respect sama Ibu,” bisik Nadira parau. “Tapi kamu setuju begitu aja tanpa tanyain aku?”
Faris menghela napas panjang, memberikan jawaban yang selalu menjadi kalimat pamungkasnya selama empat tahun terakhir.
“Dia ibuku, Nad. Cuma kamar tidur aja, masa kamu tega bikin Ibu kecewa? Kamu mengalah sedikit ya? Demi aku.”
*Kamu mengalah saja. Dia ibuku.*
Kalimat itu bagaikan sembilu yang menggores ulu hati Nadira. Sekali lagi, posisi dan pendapatnya sebagai seorang istri tergeser begitu saja ke urutan paling belakang. Nadira perlahan menepis tangan Faris dari bahunya.
“Aku capek, Mas,” gumam Nadira dingin, berbalik lalu berjalan keluar ruangan tanpa menunggu tanggapan Faris lagi.
—
Malam harinya, rumah terasa sangat tegang. Bu Ratna sudah melenggang masuk ke kamar utama dengan wajah puas, sementara Nadira terpaksa merapikan pakaian mereka di kamar belakang yang lebih sempit dan lembap. Faris belum masuk ke kamar; pria itu masih berada di ruang kerjanya untuk menyelesaikan laporan bulanan.
Pukul sebelas malam, Nadira melangkah ke ruang kerja Faris untuk mengambil mug bekas teh suaminya. Ruangan itu kosong, Faris sepertinya sedang ke kamar mandi.
Saat hendak mengambil mug di meja, mata Nadira tidak sengaja menangkap tumpukan kertas dokumen berstempel resmi yang terletak di bawah map cokelat yang sedikit terbuka. Di halaman paling atas, tertera tulisan tebal yang membuat dadanya mendadak berdebar kencang.
*AKTA JUAL BELI DAN SURAT PERJANJIAN PELEPASAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN*
Dengan tangan gemetar, Nadira menarik dokumen tersebut. Ia membaca baris demi baris teks hukum di dalamnya. Rumah yang saat ini mereka tinggali—rumah sederhana tempat Nadira membangun usaha kuenya, tempat yang selalu ia anggap sebagai benteng kedamaiannya—sedang dalam proses penjualan.
Nama pemilik yang tertera di sana adalah *Faris Wiratama*.
Dan yang membuat seluruh persendian Nadira serasa meloloskan diri adalah baris paling bawah:
*Tanggal Penandatanganan Akhir dan Pelunasan: 14 Hari Dari Sekarang.*
Dua minggu lagi. Rumah ini akan dijual dua minggu lagi, dan Nadira—istri yang tinggal di dalamnya—sama sekali tidak tahu apa-apa.
-BERSAMBUNG-