Suamiku Meminta Izin Menikah Lagi di Depan Dokter - Bab 2

  1. Home
  2. Suamiku Meminta Izin Menikah Lagi di Depan Dokter
  3. Bab 2 - Garis Merah yang Palsu
Prev
Next

Hening yang memekakkan telinga menguasai ruangan Dr. Hendra. Udara ber-AC yang dingin terasa membekukan seluruh persendian di dalam ruangan tersebut. Arga mendadak menyambar ponselnya dengan tangan gemetaran hebat, mematikan layar dan membalikkan benda persegi itu ke atas meja sebelum Dr. Hendra sempat membaca detail pesan teks dari Maya. Wajah pria itu yang tadinya segar dan penuh percaya diri kini bercucuran keringat dingin. Rona keangkuhannya hilang tak berbekas, berganti kebingungan, ketakutan, dan kepanikan yang luar biasa hebat.

“Ini… ini tidak mungkin. Dokter pasti tertukar menguji sampel saya!” suara Arga meninggi, parau, dan sarat akan penolakan yang membabi buta. Ia berdiri mendadak dari kursinya hingga lututnya membentur pinggiran meja kayu dengan keras. “Saya pria normal, Dok! Saya tidak pernah sakit keras, saya tidak pernah operasi! Bagaimana bisa Dokter dengan mudahnya menyimpulkan saya mandul?! Ini pasti ada kesalahan sistem di laboratorium rumah sakit ini!”

Dr. Hendra tetap duduk tenang di kursi kerjanya. Dokter senior itu menarik napas dalam-dalam, sudah sangat terbiasa menghadapi fase penolakan awal dari pasien laki-laki yang dihantam kenyataan pait mengenai fertilitas mereka.

“Pak Arga, harap kendalikan emosi Anda dan duduk kembali,” ujar Dr. Hendra dengan nada suara yang terkontrol, konstan, namun sangat tegas. “Laboratorium kami tidak bekerja berdasarkan asumsi. Tim analis kami telah melakukan pengujian ulang sebanyak tiga kali pada sampel Anda untuk memastikan validitas data sebelum berkas ini diserahkan kepada saya. Kondisi Azoospermia tidak selalu disebabkan oleh riwayat penyakit berat. Banyak kasus disebabkan oleh faktor genetik, kelainan kongenital pada saluran vas deferens, atau gangguan produksi di tingkat jaringan testis yang tidak memberikan gejala fisik luar sama sekali. Secara postur dan penampilan luar Anda terlihat sangat sehat, namun untuk fungsi reproduksi spesifik… hasilnya nihil.”

“Bohong! Ini pasti salah! Ini pasti konspirasi!” tuduh Arga mentah-mentah, matanya yang memerah menatap tajam ke arah istrinya. Telunjuknya yang bergetar hebat menunjuk tepat di depan wajah Nadia. “Kamu kan, Nadia?! Kamu membayar dokter ini untuk memalsukan data agar kamu tidak diceraikan?! Kamu tahu aku mau minta izin nikah lagi hari ini, jadi kamu buat skenario gila ini untuk membalas dendam padaku?!”

Nadia perlahan berdiri dari duduknya. Ia membetulkan letak blazer dan tas tangannya, menatap Arga dengan pandangan mata yang dingin, jernih, dan tanpa ekspresi. Tidak ada setetes pun air mata yang tersisa di pipinya.

“Membayar dokter?” suara Nadia meluncur pelan namun sarat akan cemoohan yang tajam. “Mas, kamu lupa? Dua tahun lalu, saat kita pertama kali memutuskan untuk berkonsultasi ke spesialis, kamu sendiri yang memilih Rumah Sakit Citra Kasih ini. Kamu sendiri yang memilih Dr. Hendra karena dia adalah teman kuliah seniormu. Kamu yang mengatur semua janji temu dan membayar seluruh biayanya dari rekeningmu. Bagaimana bisa aku yang mengatur hasil tes laboratoriummu hari ini?”

Arga mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya naik turun dengan cepat saat napasnya memburu. Pikirannya terdorong ke sudut paling gelap, terjepit di antara dua kenyataan yang saling bertolak belakang dan menghancurkan logikanya.

“Tapi Maya hamil!” teriak Arga tanpa sadar, melupakan sama sekali keberadaan Dr. Hendra yang duduk tepat di hadapan mereka.

Ruangan itu mendadak makin mencengkeram. Dr. Hendra menaikkan kedua alisnya dari balik kacamata, lalu berdeham pelan seraya merapikan kembali berkas-berkas rekam medis di meja. Sang dokter menutup map tebal itu dengan ketukan yang mantap.

“Saya rasa urusan ini sudah melenceng jauh dari konteks konsultasi medis,” kata Dr. Hendra dengan nada dingin profesional. “Hasil evaluasi resmi laboratorium sudah saya serahkan secara sah kepada Anda berdua. Jika Pak Arga tidak puas dan ingin mencari second opinion dari rumah sakit atau laboratorium lain, silakan. Itu adalah hak Anda sebagai pasien. Namun dari sudut pandang medis ilmiah dengan metodologi yang kami gunakan hari ini, saya jamin hasilnya akan tetap sama.”

“Mas, apa yang baru saja keluar dari mulutmu?” suara Nadia terdengar pelan, namun bergetar menuntut penjelasan yang jujur. “Maya hamil? Maya… sekretaris pribadimu yang sering datang ke rumah kita?”

Arga tersentak hebat, baru menyadari kebodohan dan kecerobohan mulutnya sendiri akibat kepanikan yang membakar otaknya. Ia menelan ludah dengan susah payah, memegang kepalanya yang mendadak terasa dihantam godam besi. Kebenaran yang saling berbenturan keras menghantam kesadarannya sekaligus: dokter menyatakan dirinya mandul total tanpa sel sperma, namun di saat yang bersamaan, wanita simpanannya baru saja mengabarkan kehamilan yang telah ia impi-impikan selama tiga tahun.

“Nadia… kita… kita bicara di rumah saja,” bisik Arga, suaranya mendadak melunak, mencoba meraih lengan kanan Nadia. “Ada yang tidak beres di sini. Ada konspirasi di rumah sakit ini. Kita harus pulang dan selesaikan ini secara kekeluargaan.”

Nadia menepis tangan Arga dengan gerakan yang sangat kasar dan bertenaga. “Jangan sentuh aku! Bicara di sini, Mas! Di depan bukti-bukti medis ini! Kamu sudah berselingkuh dengan Maya? Dan dia hamil?”

“Aku… aku terpaksa!” kilih Arga, mencari pembenaran secara panik dengan wajah tanpa rasa malu. “Aku melakukan ini semua demi keluarga kita, Nadia! Demi Ibu! Aku melakukan ini karena aku pikir kamu yang tidak bisa memberi aku keturunan selama bertahun-tahun! Maya datang dan menawarkan diri untuk membantuku, dan sekarang dia membuktikan kalau aku ini pria sejati! Dia hamil anakku! Hasil lab dokter ini pasti salah, rusak, atau tertukar dengan pasien lain!”

Nadia menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan kasihan yang teramat sangat—bukan kasihan karena kondisi fisik Arga yang mandul, melainkan karena Arga begitu buta, dungu, dan tenggelam dalam kesombongan egonya sendiri.

“Kamu begitu yakin, Mas… bahwa bayi yang ada di dalam kandungan Maya itu benar-benar darah dagingmu?” tanya Nadia tenang, sebuah senyuman tipis yang mematikan mengukir bibirnya.

“Tentu saja anakku! Seratus persen anakku!” bentak Arga membela diri dengan emosi yang meledak-ledak. “Maya wanita baik-baik! Dia polos dan dia hanya berhubungan denganku selama ini! Aku akan membuktikannya padamu hari ini juga! Aku akan membawa Maya ke klinik kandungan lain sekarang, dan aku akan membuktikan bahwa dokter ini salah dan kamu yang gagal sebagai seorang istri!”

Nadia mengangguk pelan, merapikan tali tas di bahunya. “Baik. Buktikan, Mas. Mari kita pergi bersama-sama dan buktikan siapa yang sebenarnya sedang dibodohi di sini.”

Mereka keluar dari ruangan Dr. Hendra tanpa menguncapkan sepatah kata perpisahan pun. Sepanjang perjalanan menyusuri koridor rumah sakit hingga ke area parkir VIP, suasana di antara mereka sangat mencekam. Arga berjalan cepat di depan dengan langkah lebar yang panik, sementara Nadia mengikutinya dari belakang dengan langkah yang tenang dan anggun.

Di dalam mobil sedan milik Arga, suasana terasa seakan oksigen telah disedot habis. Arga mengemudikan mobilnya secara brutal dan ugal-ugalan. Jemarinya meremas roda kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Tangan kirinya mengoperasikan ponsel, menekan tombol loudspeaker dan menghubungi nomor Maya.

“Maya! Kamu di mana sekarang?!” seru Arga begitu panggilan terhubung, suaranya bergetar menahan luapan emosi. “Kamu serius dengan foto tes kehamilan yang kamu kirimkan ke hp-ku tadi?!”

“Mas Arga? Iya, Mas! Aku baru saja keluar dari klinik Pratama dekat rumahku,” suara Maya terdengar begitu riang dan gembira dari speaker mobil, tanpa menyadari situasi horor yang sedang terjadi. “Aku mual-mual dan terlambat haid sejak minggu lalu, dan hari ini tesnya positif! Dua garis merahnya tebal sekali, Mas! Anak kita… akhirnya aku mengandung buah cinta kita berdua, Mas! Kamu akan jadi ayah!”

Arga melirik ke arah kaca spion tengah. Di kursi belakang, Nadia duduk tenang, menyilangkan kakinya, dan menatap pemandangan kota di luar jendela seolah-olah ia sedang menikmati perjalanan santai.

“Maya, dengarkan aku baik-baik,” kata Arga, berusaha keras menekan getaran dalam suaranya agar tidak terdengar panik. “Aku ingin kita bertemu sekarang juga di Klinik Medika Ibu dan Anak di daerah Senopati. Kita lakukan tes darah dan pemeriksaan USG lengkap hari ini juga dari dokter spesialis.”

“Lho, Mas? Kenapa harus terburu-buru sekali sampai ke klinik besar?” suara Maya di ujung telepon mendadak berubah. Nada riangnya surut, berganti desakan panik dan keraguan yang tertahan. “Kan aku baru terlambat haid beberapa hari… Kalau USG sekarang belum tentu kelihatan kantung janinnya, Mas… Lagipula aku agak pusing…”

“Aku butuh kepastian medis resmi hari ini juga, Maya!” potong Arga dengan bentakan keras yang membuat speaker mobil bergetar. “Nadia sudah tahu soal hubungan kita! Dan dokter di rumah sakit tadi menyampaikan hal yang sama sekali tidak masuk akal tentang kesehatanku! Aku harus membuktikan pada Nadia, pada diriku sendiri, dan pada Ibu kalau bayi yang kamu kandung itu adalah darah dagingku!”

Hening sejenak di ujung telepon. Maya terdengar menahan napasnya untuk beberapa detik yang terasa sangat lama. “Nadia… sudah tahu semuanya? Tapi Mas, bukannya kamu bilang mau membicarakannya pelan-pelan setelah hasil tesmu keluar?”

“Jangan banyak alasan dan jangan membuang waktu, Maya! Kamu berangkat ke Klinik Medika Senopati sekarang juga naik taksi! Aku dan Nadia sudah ada di jalan menuju ke sana!” perintah Arga tanpa bisa dibantah sebelum mematikan sambungan telepon secara sepihak.

—

Satu jam kemudian, atmosfer kaku bertumpuk di ruang tunggu VIP Klinik Medika Ibu dan Anak. Maya sudah duduk di sana saat Arga dan Nadia tiba. Wanita muda itu tampak sangat gelisah. Blazer kerjanya terlihat sedikit kusut, dan jemarinya tak berhenti meremas tali tas tangannya di atas pangkuan. Ia terus memindahkan pandangannya ke sembarang arah, sangat menghindari tatapan mata Nadia yang begitu tenang, jernih, dan menghujam.

“Nadia… aku… aku minta maaf,” bisik Maya dengan suara bergetar yang dipaksakan agar terdengar seperti kepasrahan seorang korban. “Aku tahu aku salah. Aku tidak pernah bermaksud merusak rumah tangga kalian yang sudah berjalan lima tahun. Tapi aku dan Mas Arga… kami saling mencintai, Nadia. Dan Tuhan memberkati cinta kami dengan janin ini…”

Nadia menatap wanita yang menjadi sekretaris suaminya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kamu tidak perlu meminta maaf atau berakting manis padaku, Maya. Jika bayi di dalam perutmu itu memang benar-benar anak Arga, kamu justru pahlawan yang menyelamatkan hidupku dari kerangkeng keluarga Prasetya.”

“Cukup, Nadia! Jangan berlagak seolah-olah kamu yang memegang kendali di sini!” bentak Arga kasar, tidak terima istrinya merendahkan harga dirinya. “Sebentar lagi hasil tes darah kehamilan Maya dan pengecekan usia kandungan dari dokter kandungan di sini akan keluar. Kamu akan melihat sendiri dengan mata kepala mu betapa subur dan perkasa nya aku!”

“Nyonya Maya Kirana?” seorang suster berseragam serba merah muda keluar dari pintu poliklinik dan memanggil nama tersebut.

“Ya, Saya!” jawab Maya gugup.

Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter spesialis kandungan. Seorang dokter wanita setengah baya bernama Dr. Siska menyambut mereka dengan senyum ramah. Setelah mendengar keluhan awal dari Arga yang bertindak sangat dominan, Dr. Siska meminta Maya untuk berbaring di atas ranjang pemeriksaan untuk dilakukan tindakan tes USG transvaginal guna mengonfirmasi keberadaan dan kondisi janin awal.

Arga berdiri tegak di samping ranjang pemeriksaan dengan dada terbusung busung, memasang raut wajah penuh antisipasi dan rasa bangga yang meluap-luap, siap merayakan kemenangannya sebagai seorang calon ayah. Sementara itu, Nadia memilih berdiri di sudut ruangan dekat pintu, menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya yang tajam tidak pernah lepas memperhatikan raut wajah Maya yang kian detik kian pucat, dengan bulir-bulir keringat dingin yang mulai bermunculan di dahinya di bawah sorotan lampu pemeriksaan.

Dr. Siska mengoleskan gel bening dan mulai menggerakkan alat pemindai di atas perut Maya seraya memfokuskan pandangannya pada layar monitor hitam-putih di samping ranjang. Kening dokter wanita itu perlahan berkerut rapat. Ia menyesuaikan kontras dan ukuran gambar di layar beberapa kali, melakukan pengukuran jarak dari dua titik fokus pada gambar struktur lingkaran hitam di dalam rahim.

“Bagaimana, Dokter Siska?” tanya Arga tidak sabar, senyum kemenangan yang licik mulai mengembang lebar di bibirnya. “Sudah kelihatan jelas kan kantung janinnya? Sudah berapa minggu usia anak saya di dalam sana?”

Dr. Siska menghentikan gerakan tangannya. Ia mematikan alat pemindai, mengambil tisu untuk membersihkan sisa gel dari perut Maya, lalu meminta Maya untuk bangun dan duduk kembali. Dokter itu berjalan kembali ke meja kerjanya tanpa mengumbar senyum, mengklik beberapa data di layar komputernya.

“Pak Arga, Ibu Maya, silakan duduk,” ujar Dr. Siska dengan suara yang sangat tenang dan teratur. “Dari hasil pemindaian USG baru saja, dan dikonfirmasi dengan data uji laboratorium kadar hormon beta-HCG darah yang baru saja ditransfer oleh analis kami… Ibu Maya memang benar-benar dipastikan positif hamil.”

Arga seketika tertawa lepas dengan suara nyaring, menoleh ke arah Nadia di sudut ruangan dengan raut wajah penuh kemenangan yang liar dan puas. “Dengar itu?! Dengar tidak, Nadia?! Dia hamil! Aku seorang ayah! Dokter di Rumah Sakit Citra Kasih tadi itu penipu yang kamu bayar kan?!”

“Tapi tunggu dulu, Pak Arga. Mohon dengarkan saya sampai selesai,” potong Dr. Siska dengan nada suara yang sangat dingin dan datar, seketika menghentikan tawa Arga seperti memotong aliran listrik. “Ada hal klinis yang sangat krusial yang perlu saya jelaskan mengenai kondisi kehamilan Ibu Maya, khususnya terkait usia gestasi atau usia kandungannya.”

Arga mengernyitkan keningnya, tawa di wajahnya memudar. “Usia kandungan? Ya, sekitar empat atau lima minggu kan, Dok? Sesuai dengan saat saya dan Maya pergi dinas akhir pekan ke Bali bulan lalu?”

Dr. Siska menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Sama sekali bukan empat atau lima minggu, Pak. Berdasarkan pengukuran *Crown-Rump Length* (CRL) atau panjang janin serta kadar hormon kehamilan dalam darahnya… usia kehamilan Ibu Maya saat ini sudah secara presisi memasuki minggu ke-11 menuju minggu ke-12.”

Keheningan yang mencekam runtuh menghantam ruangan itu.

Arga membeku di tempatnya berdiri. Matanya bergerak melirik ke kiri dan ke kanan dengan sangat cepat, otaknya yang panik bekerja keras menghitung tanggal dan kalender kerja bulan-bulan sebelumnya. Sebelas minggu? Hampir tiga bulan?

“Sebelas… minggu?” bisik Arga, suaranya mendadak kehilangan seluruh tenaga dan intonasi. “Dokter… Dokter pasti salah menghitung rumus atau salah membaca skala alat! Tiga bulan yang lalu aku sedang dinas luar kota di Surabaya selama satu bulan penuh! Aku tidak pernah menyentuh Maya tiga bulan yang lalu!”

Arga dengan perlahan dan kaku menolehkan kepalanya ke arah Maya.

Wajah Maya saat ini sudah benar-benar putih pucat bagai kain kafan. Seluruh tubuh wanita muda itu gemetar hebat hingga kursinya bergetar. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya dan sangat menghindari kontak mata dengan Arga.

“Maya…” suara Arga terdengar seperti raungan parau dari seekor binatang yang terluka parah. “Tiga bulan lalu aku ada di Surabaya… Aku tidak ada di Jakarta… Kalau usia bayimu sudah tiga bulan… anak haram siapa yang sedang kamu kandung di dalam perutmu itu?!”

Sebelum Maya sempat membuka mulutnya untuk bersuara, pintu ruangan dokter mendadak terdorong dan terbuka lebar dari luar.

Ibu Arga—Ibu Rahmi—dengan pakaian sutra mewahnya dan perhiasan emas yang mencolok di leher serta pergelangan tangannya, melangkah masuk dengan wajah berang yang merah padam. Di belakangnya, dua kakak perempuan Arga, Sinta dan Maya Pertiwi, mengikutinya dengan napas terengah-engah dan ponsel yang masih tergenggam erat di tangan mereka.

tbc

 

Prev
Next
Tags:
Cinta Segitiga, Drama Rumah Tangga, Free Novel, Suami Istri
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita