Suamiku Meminta Izin Menikah Lagi di Depan Dokter - Bab 3

  1. Home
  2. Suamiku Meminta Izin Menikah Lagi di Depan Dokter
  3. Bab 3 - Kebenaran yang Menghancurkan
Prev
Novel Info

“Arga! Apa-apaan ini?!” suara Ibu Rahmi menggelegar memenuhi ruangan poliklinik yang sempit itu, memotong keheningan mencekam yang sedang terjadi. Wanita paruh baya dengan riasan tebal, gaun sutra mencolok, serta perhiasan emas yang mengilat di leher dan pergelangan tangannya itu melangkah masuk dengan napas terengah-engah. Dua anak perempuannya, Sinta dan Maya Pertiwi, menyusul di belakang dengan raut wajah campuran antara berang dan penasaran.

“Sinta telepon Ibu dan bilang kamu ada di klinik ini sama Maya! Katanya kamu mau mengurus nikah siri karena Nadia tidak bisa memberi keturunan?!” lanjut Ibu Rahmi, dadanya naik turun meluapkan kekesalan. “Kenapa kamu tidak bicara dulu sama Ibu?! Lalu kenapa wanita ini bersimpuh di lantai?!”

Arga tidak mengindahkan seruan ibunya. Seluruh dunianya telah runtuh dalam hitungan detik. Pandangannya terkunci rapat pada Maya yang kini bersimpuh meratap di samping ranjang pemeriksaan, menangis terisak-isak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Jawab aku, Maya!” bentak Arga histeris. Ia melangkah maju, mencengkeram kedua bahu wanita itu dengan kasar hingga Maya meringis kesakitan. “Anak siapa ini?! Tiga bulan yang lalu aku ada di Surabaya selama empat minggu penuh! Aku tidak pernah menyentuhmu di bulan itu! Siapa pria bajingan yang tidur denganmu saat aku tidak ada di Jakarta?!”

“Mas… Mas Arga, tolong… ampuni aku, Mas…” tangis Maya pecah, suaranya tersengal-sengal di antara napasnya yang memburu. “Aku… aku tidak tahu kalau akan jadi seperti ini… Aku panik luar biasa saat tahu aku hamil…”

Ibu Rahmi dan kedua kakak Arga melotot kaget. Langkah Ibu Rahmi terhenti seketika, matanya membelalak lebar memandang anaknya dan Maya bergantian. “Tunggu… hamil? Maya hamil?! Arga, apa maksudnya ini?! Anak siapa yang dia maksud?!”

Nadia melangkah maju dari sudut ruangan. Langkah kakinya terdengar begitu teratur, mantap, dan berwibawa di atas lantai keramik klinik. Tidak ada lagi raut kekecewaan atau kepedihan di wajahnya; yang tersisa hanyalah aura dingin seorang wanita yang telah selesai dengan masa lalunya. Dari dalam tas tangannya, Nadia mengeluarkan dua buah amplop dokumen tebal—satu amplop cokelat dari Dr. Hendra di Rumah Sakit Citra Kasih, dan satu lagi lembaran rekam medis yang baru saja dicetak oleh Dr. Siska di klinik ini.

Dengan gerakan yang anggun namun penuh penekanan, Nadia melemparkan kedua dokumen itu ke atas meja kaca di hadapan mertuanya. *Plak.*

“Ibu mau tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga banggaan Ibu ini?” suara Nadia terdengar sangat tenang, namun memiliki daya tekan yang luar biasa, mendominasi seluruh ruangan hingga tak seorang pun berani menyela. “Silakan Ibu dan Mbak Sinta baca sendiri surat pernyataan dari dokter spesialis fertilitas dan andrologi itu.”

Dengan tangan gemetaran dan alis berkerut bingung, Ibu Rahmi menyambar lembaran kertas tersebut. Sinta dan adiknya ikut berdesakan di samping ibunya, menyapu deretan istilah medis di atas kertas berstempel resmi rumah sakit.

“Azoospermia… tidak ditemukan satu pun sel sperma hidup…” Sinta membaca kalimat kesimpulan medis itu dengan suara berbisik yang masih bisa terdengar sangat jelas oleh semua orang di ruangan. Tangannya yang memegang kertas mulai bergetar. Sinta mendongak, menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya yang bercampur horor. “Arga… kamu… kamu mandul?”

“TIDAK! ITU BOHONG! DOKTER ITU PENIPU!” teriak Arga frustrasi, menjambak rambutnya sendiri hingga berantakan. Ia meraung bagai orang kesetanan di tengah ruangan. “Dokter di rumah sakit tadi pasti disogok oleh Nadia! Maya yang hamil ini adalah bukti nyata kalau aku ini pria sehat dan perkasa! Aku bisa membuat wanita hamil!”

“Tapi anak dalam kandungan Maya itu usianya sudah memasuki minggu ke-12, Mas!” potong Nadia dengan nada suara yang tajam bak sembilu, memotong raungan Arga tanpa ampun. “Tiga bulan yang lalu, saat kamu menginap di hotel mewah di Surabaya selama empat minggu dengan alasan mengurus ekspansi bisnis perusahaan, Maya tidur dengan pria lain di Jakarta. Dan ketika dia sadar dirinya hamil tanpa suami, dia memanfaatkan kebodohan, kesombongan, dan egomu yang begitu bernafsu ingin membuktikan pada dunia bahwa aku adalah istri yang bermasalah!”

“Maya! Berani-beraninya kamu!” Ibu Rahmi berseru murka. Wajah tua yang biasanya selalu memandang rendah orang lain itu kini merah padam oleh amarah yang meledak. Ia melangkah menghampiri Maya dan hampir saja melayangkan tamparan keras jika tidak segera ditahan oleh Sinta. “Kamu wanita tidak tahu diri! Wanita gatal! Kamu mau menumbalkan anak haram hasil perzinahanmu pada keluarga Prasetya?!”

“Maafkan saya, Ibu… tolong maafkan saya!” jerit Maya pasrah dari lantai, tangisnya kian histeris. “Mantan pacar saya yang menghamilkan saya… tapi dia kabur dan tidak mau bertanggung jawab saat tahu saya hamil! Mas Arga selalu bercerita di kantor kalau dia sangat ingin punya anak dan selalu menuduh Bu Nadia mandul… Mas Arga bilang Bu Nadia tidak berguna… Jadi saya pikir… saya pikir Mas Arga tidak akan pernah tahu kalau anak ini bukan anaknya…”

Pengakuan polos dan jujur dari bibir Maya bagaikan hantaman godam raksasa yang menghancurkan seluruh harga diri, ego, dan kebanggaan Arga hingga tak tersisa sedikit pun. Arga terhuyung mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding, lalu tubuhnya perlahan merosot jatuh. Pria itu terduduk lemas di lantai klinik, menatap kosong ke udara dengan mata hampa. Pria yang beberapa jam lalu begitu sombong dan berwibawa meminta izin menikah lagi di depan dokter, kini terlihat seperti lelucon paling tragis dan menyedihkan di dunia.

Keluarga besar Prasetya saling pandang dalam kepanikan, ketakutan, dan rasa malu yang amat sangat. Ibu Rahmi—yang selama tiga tahun ini tidak pernah berhenti merendahkan, menghina, dan menyudutkan Nadia sebagai menantu mandul yang membawa kemalangan—kini berdiri membeku dengan bibir gemetar. Wajahnya yang biasa dihiasi senyum keangkuhan kini pucat pasi, menanggung kebenaran pahit di depan Dr. Siska dan para suster yang menyaksikan drama keluarga mereka.

Ibu Rahmi perlahan mengalihkan pandangannya pada Nadia. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan anak mereka, mata tua itu tidak lagi memancarkan kebencian, melainkan rasa bersalah yang mendalam bercampur ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya.

“Nadia… Nadia, Nak…” suara Ibu Rahmi mendadak berubah lembut, terbata-bata saat ia mencoba melangkah mendekati menantunya. Tangannya yang dipenuhi perhiasan terulur ragu. “Ini… ini pasti ada salah paham, Nak. Dokter di sini pasti bisa mengobati Arga, kan? Zaman sekarang teknologi medis sudah canggih. Kita bisa cari jalan keluar bersama secara baik-baik… Kita ini keluarga…”

Nadia menyunggingkan senyum paling dingin dan paling asing yang pernah disaksikan oleh keluarga itu. Ia mengambil kembali lembaran dokumen kesehatannya sendiri dari atas meja—lembaran resmi yang menyatakan bahwa organ reproduksinya 100% subur, sehat, dan sempurna.

“Tidak ada jalan keluar untuk kita lagi, Bu,” jawab Nadia tegas, menatap mata mantan mertuanya itu tanpa rasa takut, ragu, atau segan sedikit pun. “Selama tiga tahun pernikahan kami, Ibu dan seluruh keluarga besar Ibu tidak pernah berhenti merendahkan saya. Ibu menyebut saya wanita cacat, istri yang tidak lengkap, dan pembawa sial hanya karena saya belum memberikan cucu. Arga menggunakan tuduhan palsu itu sebagai alasan untuk berselingkuh di belakang saya, membuang uang keluarga, dan bahkan berani meminta izin menikah lagi di depan dokter hari ini.”

“Nadia, tolong… Mas mohon, Nadia…” Arga yang terpuruk di lantai mulai merangkak mendekati kaki Nadia. Air mata penyesalan dan kehancuran mengalir deras membasahi wajahnya yang kusam. Pria itu mencoba memegang ujung celana istrinya dengan jemari yang bergetar. “Mas salah, Nadia… Mas khilaf… Mas dibutakan oleh ego dan kesombongan Mas… Tolong maafkan Mas… Kita bisa berobat ke luar negeri, kita bisa jalani terapi, atau kita bisa adopsi anak… Tolong jangan tinggalkan Mas…”

Nadia mundur satu langkah dengan cepat, menarik kakinya dari jangkauan tangan Arga seolah-olah pria itu adalah wabah penyakit yang menjijikkan.

“Jangan pernah sentuh aku lagi dengan tangan kotormu itu, Arga,” potong Nadia dingin, suaranya tajam menembus kesadaran Arga. “Kamu tidak hanya mengkhianati janji suci pernikahan kita, tapi kamu juga telah mempermalukan dirimu sendiri dan keluargamu dengan kebodohan serta kesombonganmu. Hasil tes medis ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mengambil keputusan.”

Nadia menarik sebuah amplop putih tebal berstempel kantor hukum dari dalam tas tangannya. Amplop yang sudah ia persiapkan dengan matang sejak beberapa minggu lalu, saat ia pertama kali mencium bau kebohongan dari mutasi rekening Arga dan keterlibatan Maya dalam kehidupan pribadi mereka. Ia meletakkannya di atas meja kaca dengan ketukan yang mantap, tepat di sebelah dokumen kesehatan Arga yang mandul.

“Ini adalah surat gugatan cerai resmi dan pendaftaran pembagian harta gono-gini yang sudah diselesaikan oleh tim pengacara saya,” ujar Nadia dengan nada mantap tanpa keraguan. “Semua bukti transfer uang perusahaan milik keluarga saya yang kamu salah gunakan untuk membelikan Maya mobil, menyewa apartemen mewah, dan membiayai perselingkuhan kalian sudah tercatat rapi secara rinci dalam dokumen ini. Tim pengacara saya akan memastikan kamu mengembalikan setiap sen aset milik keluarga saya yang telah kamu pakai tanpa hak.”

“Nadia! Jangan lakukan ini pada Arga!” jerit Ibu Rahmi panik, kedua tangannya terkepal di dada. “Bagaimana dengan nama baik keluarga kami?! Bagaimana kalau kerabat, relasi bisnis, dan media tahu bahwa Arga…”

“Nama baik keluarga Ibu sudah hancur sejak Ibu membiarkan anak tunggal Ibu menjadi pria arogan, egois, dan tidak tahu cara menghargai seorang istri,” balas Nadia tanpa memberi celah sedikit pun untuk pembelaan diri.

Nadia merapikan blazernya, membetulkan letak tali tas di bahunya, lalu berdiri tegak memandang Arga yang masih terpuruk meratapi nasibnya di lantai klinik bagai pria yang kehilangan seluruh tulang belulangnya.

“Selamat atas calon anakmu dari wanita pilihanmu sendiri, Arga. Dan selamat menikmati sisa hidupmu bersama keluarga kebanggaanmu ini,” kata Nadia penuh penekanan pada setiap kata yang meluncur dari bibirnya.

Tanpa menoleh lagi, tanpa ada setetes air mata penyesalan, Nadia membalikkan badannya secara anggun dan melangkah keluar dari ruangan poliklinik tersebut.

Di balik punggungnya, suara jeritan histeris Arga yang memanggil namanya, makian kasar Ibu Rahmi yang meluapkan amarahnya pada Maya, serta keributan hebat keluarga besar Prasetya membahana, memecah keheningan klinik kandungan itu menjadi sebuah panggung kehancuran yang sempurna.

Saat melangkah keluar menembus pintu kaca utama klinik menuju udara bebas di bawah terik matahari siang, Nadia menarik napas dalam-dalam. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, dadanya tidak lagi terasa sesak. Paru-parunya terisi oleh udara segar yang membebaskan, menyapu bersih seluruh rasa sakit hati, penindasan, dan penghinaan yang pernah ia pikul sendirian selama ini.

Nadia menyunggingkan senyum tipis yang indah, mengibaskan rambutnya, lalu melangkah mantap memasuki mobilnya—menyongsong kehidupan baru yang merdeka tanpa pernah melihat ke belakang lagi.

Selesai.

Prev
Novel Info
Tags:
Cinta Segitiga, Drama Rumah Tangga, Free Novel, Suami Istri
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita