Suamiku Meminta Izin Menikah Lagi di Depan Dokter - Bab 1

  1. Home
  2. Suamiku Meminta Izin Menikah Lagi di Depan Dokter
  3. Bab 1 - Suara di Balik Pintu
Next

Lantai rumah sakit yang dingin dan aroma antiseptik yang menyengat selalu berhasil membuat dada Nadia sesak. Namun, siang ini, rasa sesak itu berlipat ganda saat ia berdiri mematung di lorong sepi lantai tiga Rumah Sakit Citra Kasih. Langkah kakinya terhenti tepat beberapa senti di samping pintu kayu berwarna cokelat gelap yang sedikit terbuka. Papan nama kuningan bertuliskan Dr. Hendra, Sp.And, Subsp.FER – Spesialis Fertilitas & Andrologi terpajang kaku di dinding.

“Kamu tenang saja, Maya. Aku sudah memikirkan semuanya dengan matang,” suara Arga terdengar jelas dari dalam ruangan, tenang, berwibawa, namun terasa dingin tak tersentuh.

Nadia memegang amplop cokelat berlogo rumah sakit di tangannya dengan jemari yang makin lama makin bergetar. Kertas tebal itu berisi lembar hasil analisis laboratorium fertilitas terbaru miliknya. Ia baru saja mengambilnya dari bagian administrasi di lantai dasar lima belas menit yang lalu. Awalnya, jantungnya berdebar penuh harap, membayangkan rentetan doa yang selalu ia langitkan setiap malam selama tiga tahun terakhir akhirnya terjawab. Ia bermaksud membawa berkas itu ke dalam untuk ditinjau langsung oleh Dr. Hendra bersama suaminya. Namun, percakapan di dalam ruangan memaku kedua kakinya di atas lantai granit.

“Tapi bagaimana kalau Nadia menolak, Mas?” suara seorang wanita membalas dari dalam. Nada bicaranya lembut, sarat akan kehati-hatian yang dibuat-buat. Nadia mengenali warna suara itu tanpa perlu melihat wajah pemiliknya. Maya. Sekretaris pribadi Arga yang belakangan ini makin sering datang ke rumah mereka, bahkan di akhir pekan, dengan alasan mengantar dokumen penting perusahaan.

“Dia tidak punya posisi atau hak untuk menolak,” jawab Arga. Terdengar tawa kecil yang santai dan meremehkan keluar dari tenggorokan pria itu. “Keluargaku sudah menuntut cucu selama tiga tahun, Maya. Ibu juga sudah lelah dan habis kesabaran menunggu dia hamil. Setiap kali acara keluarga, Ibu selalu harus menanggung malu. Setelah hasil tes hari ini keluar dan membuktikan secara medis bahwa dialah yang bermasalah, aku akan langsung bicara padanya.”

“Kamu yakin mau langsung minta izin?” tanya Maya lagi, ada nada desakan yang terselubung di balik kelembutannya.

“Aku akan meminta izin menikah lagi di depan Dr. Hendra sekalian, saat membicarakan hasil analisis fertilitas ini,” tegas Arga tanpa ada nada ragu sedikit pun. “Dengan begitu, Nadia tidak bisa mengelak, tidak bisa membuat drama histeris, atau berpura-pura menjadi korban. Semuanya akan ada bukti medis resmi bahwa dia yang gagal memberikan keturunan untuk keluarga besar Prasetya. Aku akan mengurus surat nikah siri kita minggu depan. Setelah urusan pembagian aset dan pengalihan beberapa saham kecil selesai, aku akan menceraikan Nadia secara resmi setelah hasil pemeriksaan ini benar-benar dipublikasikan ke keluarga.”

Setiap kata yang keluar dari mulut pria yang telah mendampinginya selama lima tahun itu terasa seperti sembilatan pisau belati yang menghujam dada Nadia secara bertubi-tubi. Napasnya tertahan di tenggorokan, membuat paru-parunya terasa bagai terbakar. Air mata panas membakar sudut matanya, namun Nadia memaksa seluruh syaraf tubuhnya untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Jemarinya meremas amplop cokelat itu hingga kertas tebal di genggamannya terlipat, kusut, dan rusak.

“Mas, aku dengar langkah kaki Dr. Hendra dari arah koridor. Aku keluar lewat pintu samping saja ya? Aku tidak enak kalau kelihatan di sini sebelum kamu selesai bicara,” ujar Maya.

“Iya, Sayang. Hati-hati. Sampai ketemu di rumah nanti malam,” balas Arga manis. Nada suara penuh kasih sayang yang dulu selalu menjadi milik Nadia seorang.

Nadia dengan cepat mundur beberapa langkah, menekan tumit sepatu hak tingginya agar tidak menimbulkan bunyi gesekan. Ia bersembunyi di balik pilar beton besar dekat tangga darurat. Beberapa detik kemudian, ia melihat Maya keluar dari pintu samping ruangan. Wanita itu merapikan blazer kantornya yang pas badan, mengibaskan rambut panjangnya, lalu berjalan cepat menuju area lift dengan senyum kecil kemenangan di bibirnya.

Begitu figur Maya menghilang di balik pintu lift yang tertutup, Nadia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor yang dingin. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes, melintasi pipinya yang pucat. Namun, ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Dengan gerakan kasar dan tegas, ia mengusap pipinya hingga kering.

Nadia membuka lipatan amplop cokelat yang kusut di tangannya. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia menarik keluar lembaran kertas hasil pemeriksaan laboratorium. Matanya menyapu deretan istilah medis, angka-angka parameter, dan grafik hormonal yang tertera di sana. Pandangannya berhenti tepat di bagian kesimpulan bawah yang dicetak tebal:

Kesimpulan Evaluasi Fertilitas Pasien:
Kondisi organ reproduksi, pasokan sel telur (ovarian reserve), patensi tuba falopi, dan profil hormonal pasien berada dalam batas sangat optimal/normal. Tidak ditemukan kelainan struktur maupun fungsional yang menghambat proses konsepsi alami.

Nadia terpaku. Matanya membaca kalimat itu berulang kali untuk memastikan ia tidak salah mengartikan istilah medis tersebut.

Selama tiga tahun ini, Ibu Rahmi—ibu mertuanya—selalu memandangnya dengan tatapan hina. Dalam setiap jamuan keluarga, Nadia selalu dijadikan sasaran sindiran halus maupun terang-terangan. Ia disebut wanita ‘kering’, istri yang tidak lengkap, dan menantu yang membawa kemalangan bagi silsilah keluarga Prasetya. Dan Arga? Arga selalu menampilkannya seolah dialah suami paling sabar, pria mulia yang rela mengorbankan masa depannya demi bertahan bersama seorang istri yang ‘cacat’ dan tidak bisa memberikan keturunan.

Dan sekarang, lembaran kertas resmi berstempel rumah sakit ini membuktikan kebenaran yang gamblang: Nadia sepenuhnya subur. Rahimnya sehat. Tubuhnya siap mengandung kapan saja.

“Bu Nadia?” sebuah suara berat menyapa dari arah belakang.

Nadia tersentak kecil, mematikan pergolakan batinnya dalam hitungan detik. Dr. Hendra berjalan menghampirinya sambil membawa sebuah map rekam medis tebal. Dokter berambut perak itu tersenyum ramah. “Kenapa berdiri di luar lorong? Mari masuk, Pak Arga sudah menunggu di dalam dari tadi.”

Nadia dengan cepat dan rapi memasukkan kembali kertas itu ke dalam amplop. Ia memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya, memoles wajahnya dengan ketenangan buatan yang luar biasa. “Ah, iya, Dokter. Saya baru saja mengambil hasil laboratorium dari lantai bawah.”

“Baguslah. Mari kita bahas bersama di dalam agar semuanya jelas,” kata Dr. Hendra seraya membukakan pintu kayu ruangan periksanya.

Arga yang sedang duduk di kursi pengunjung langsung menoleh saat pintu terbuka. Dalam hitungan detik, waut wajahnya berubah total. Pria itu memasang raut keprihatinan yang dibuat-buat—wajah suami penyabar penuh simpati palsu yang selama lima tahun ini berhasil membuai dan mengecoh Nadia.

“Dari mana saja kamu, Nadia? Mas khawatir kamu tersesat atau pingsan di bawah,” kata Arga, langsung berdiri dan merangkul bahu Nadia.

Sentuhan tangan Arga yang hangat kini terasa bagai lelehan timah panas yang menjijikkan bagi Nadia. Kulit di tengkuknya merinding menolak kehadiran pria itu. Namun, Nadia menahan diri untuk tidak meledak di tempat. Ia melepas rangkulan Arga secara halus saat memposisikan dirinya duduk di kursi kayu di sebelah suaminya.

“Aku hanya mengambil amplop ini dari bagian lab, Mas. Antrenya agak panjang,” jawab Nadia pelan, suaranya datar tanpa intonasi.

Dr. Hendra mengitari meja kerjanya, duduk di kursi putarnya, lalu mengenakan kacamata baca. Ia merapikan beberapa dokumen yang berserakan di meja sebelum menatap pasangan suami istri di hadapannya.

“Baiklah, Pak Arga, Bu Nadia,” buka Dr. Hendra dengan nada profesional. “Hari ini kita akan membahas hasil evaluasi menyeluruh dari rangkaian tes fertilitas maraton yang kalian jalani bulan ini. Ini mencakup tes laboratorium Bu Nadia dan analisis spesimen milik Pak Arga. Namun sebelum saya membuka dan membacakan berkasnya, apakah ada hal yang ingin disampaikan terlebih dahulu dari pihak Pak Arga atau Bu Nadia?”

Arga berdeham cukup keras, membetulkan posisi kerah kemeja kerjanya, lalu menegakkan posisi duduknya. Ia menatap Dr. Hendra dengan raut wajah sangat serius, lalu menoleh sebentar ke arah Nadia dengan tatapan pura-pura penuh penyesalan.

“Dokter Hendra, sebelumnya saya minta maaf jika apa yang akan saya sampaikan ini terkesan kurang sopan atau terlalu mendadak,” Arga memulai dramanya. Suaranya diatur sedemikian rupa hingga terdengar mantap, berat, dan penuh wibawa. “Tapi menurut saya, kita harus jujur sejak awal agar tidak ada waktu dan biaya yang terbuang sia-sia lagi.”

Dr. Hendra menaikkan sebelah alisnya dari balik kacamata. “Maksud Pak Arga bagaimana?”

“Saya sangat mencintai istri saya,” kata Arga. Kalimat itu meluncur begitu mulus dari bibirnya, lengkap dengan tatapan mata yang dalam, seolah-olah ia adalah pria yang paling menderita di dunia. “Tapi keluarga besar saya adalah keluarga peninggalan almarhum Ayah yang membutuhkan penerus garis keturunan. Sudah tiga tahun kami mencoba berbagai metode alternatif dan medis, dan melihat gejalanya selama ini, kita semua yang ada di ruangan ini tahu siapa yang memiliki kendala biologis. Ibu saya terus menangis dan menekan saya setiap hari.”

Nadia memalingkan wajahnya menatap suaminya lurus-lurus. Tidak ada lagi raut kebingungan atau kerapuhan di matanya, hanya ada kehampaan yang dingin. “Apa yang mau kamu katakan sebenarnya, Mas?”

Arga menghela napas panjang dan berat, berpura-pura terpukul. Ia meraih tangan kanan Nadia di atas pangkuan—yang langsung ditarik secara perlahan namun tegas oleh Nadia. Arga tidak mempedulikan penolakan kecil itu dan melanjutkan bicaranya.

“Nadia, tolong mengerti posisi Mas sebagai anak tunggal di keluarga Prasetya,” ujar Arga dengan nada memohon yang dibuat-buat. “Hari ini, di depan Dokter Hendra sebagai saksi hukum dan ahli medis kita, Mas ingin meminta izin padamu secara terbuka. Mas ingin menikah lagi secara sah untuk mendapatkan keturunan.”

Suasana ruangan yang berpendingin udara itu seketika menjadi hening, dingin, dan kaku. Dr. Hendra menghentikan gerakan pulpennya di atas kertas, matanya menatap Arga dengan kening mengerut rapat. “Pak Arga, tunggu dulu. Bicara apa Anda ini di dalam ruang praktik saya?”

“Saya sangat serius, Dok,” potong Arga cepat, takut kehilangan momen untuk menuduh istrinya. “Saya tidak berniat langsung menceraikan Nadia sekarang karena saya masih punya rasa kasihan dan tanggung jawab moral padanya. Tapi saya butuh anak. Jika hasil tes yang ada di tangan Nadia ini mengonfirmasi kekurangan biologisnya, saya harap Nadia bisa berjiwa besar dan lapang dada mengizinkan saya menduakan dia demi nama besar keluarga kami.”

Nadia menatap Arga, lalu sebuah senyum tipis—senyum dingin yang begitu asing dan belum pernah dilihat Arga selama lima tahun pernikahan mereka—terukir di bibirnya.

“Kamu meminta izin menikah lagi di depan dokter, Mas?” tanya Nadia, suaranya tenang tanpa getaran sedikit pun. “Tepat sebelum dokter membacakan hasil tes laboratorium kita?”

“Ini demi kebaikan kita berdua, Nadia!” pangkas Arga dengan suara yang sedikit meninggi, mulai kehilangan kesabaran karena respon istrinya yang tidak sesuai skenario reaksinya. “Jangan egois! Kamu tahu betul kondisi tubuhmu sendiri dari dulu selalu lemah dan bermasalah. Jangan memperpanjang penderitaan kita berdua dengan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja!”

Nadia menyandarkan Punggungnya ke sandaran kursi kayu. Ia menatap pria yang dulu pernah ia puja itu dengan rasa kepedihan mendalam yang dalam hitungan detik terbilas bersih, berganti menjadi kemarahan murni yang sangat terkendali.

“Jadi menurut pandanganmu selama ini, aku yang mandul, Mas?” tanya Nadia singkat.

“Siapa lagi?” jawab Arga tanpa ragu sedikit pun. Suaranya dipenuhi keyakinan yang sombong dan arogan. “Aku ini pria sehat. Aku berolahraga setiap minggu, tidak pernah sakit keras, dan keluarga besarku tidak punya riwayat kelainan. Jangan membuat Dokter Hendra bingung dengan penolakan emosionalmu.”

Klak.

Dr. Hendra mengetukkan pulpennya agak keras ke atas meja kayu, menghentikan ketegangan dingin yang makin memuncak di antara suami istri itu. Wajah sang dokter ahli fertilitas itu kini tampak sangat serius, garis-garis di wajahnya menegang. Ia menatap Arga cukup lama, lalu mengalihkan pandangannya pada amplop cokelat di tangan Nadia.

“Pak Arga,” ujar Dr. Hendra dengan suara yang sangat berat dan tegas. “Sepertinya Anda telah membuat sebuah andaian yang sangat keliru, fatal, dan terlalu terburu-buru.”

Arga tertawa pendek, mengibaskan tangannya di udara seolah perkataan dokter hanyalah formalitas penyenang hati. “Keliru bagaimana, Dok? Saya sangat mengenal tubuh istri saya. Hasil tesnya pasti menunjukkan kegagalan fungsi rahim, kelainan hormon, atau semacamnya, kan? Tolong buka saja amplop yang dibawa Nadia dan bacakan di depan kami berdua, agar dia bisa menerima kenyataan ini dengan sadar.”

Dr. Hendra mengulurkan tangannya. Nadia menyerahkan amplop cokelat itu tanpa kata. Dokter berambut perak itu menarik keluar lembaran kertas hasil laboratorium milik Nadia, membaca sepintas untuk mengonfirmasi, lalu mencocokkannya dengan lembar dokumen pemeriksaan analisis spesimen milik Arga yang sudah berada di dalam map mejanya sejak pagi tadi.

Dr. Hendra melepas kacamatanya, menghela napas panjang, lalu menatap Arga dengan pandangan mata yang sulit diartikan—perpaduan antara keprihatinan, ketegasan, dan rasa tidak percaya atas sikap arogan pasiennya.

“Pak Arga, hasil pemeriksaan laboratorium komprehensif milik Bu Nadia baru saja keluar dan divalidasi,” kata Dr. Hendra pelan namun setiap katanya terdengar sangat lugas. “Kondisi organ reproduksi, pasokan sel telur, rahim, hingga kadar hormonal Bu Nadia sama sekali tidak memiliki masalah apa pun. Beliau sangat subur, sehat, dan sepenuhnya mampu untuk mengandung anak secara alami.”

Mata Arga membelalak lebar. Wajahnya yang tadinya penuh percaya diri dan rasa unggul seketika membeku kaku. “Apa? Dok… Anda pasti salah membaca berkas pasien lain! Itu tidak mungkin! Dia yang selama ini tidak pernah hamil meskipun kami—”

“Tunggu dulu, Pak Arga. Biarkan saya menyelesaikan penjelasan saya,” potong Dr. Hendra, mengangkat satu tangannya untuk membungkam kepanikan Arga. “Masalah ketidaksuburan dalam pernikahan kalian selama tiga tahun ini sama sekali bukan terletak pada istri Anda. Tapi pada lembar pemeriksaan medis kedua ini. Lembar milik Anda sendiri.”

Arga menyipitkan matanya, dadanya mulai naik turun dengan cepat saat rasa cemas yang tak asing mulai menjalar ke tenggorokannya. “Milik saya? Ada apa dengan berkas saya? Saya ini pria sehat! Saya tidak punya keluhan!”

Dr. Hendra menatap dokumen teknis di tangannya, lalu mengarahkan pandangannya tepat ke manik mata Arga. “Hasil analisis laboratorium spesimen cairan semen Anda menunjukkan kondisi Azoospermia total.”

Dunia seolah berhenti berputar di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu. Suara pendingin udara mendadak terdengar begitu bising.

Arga terpaku kaku di kursinya, warna kulit wajahnya yang tadinya segar mendadak pucat pasi bagai kertas linen. “A… apa maksud Dokter? Azoospermia?”

“Secara medis,” lanjut Dr. Hendra tanpa mengurangi keakuratan bahasanya, “Azoospermia berarti tidak ditemukan satu pun sel sperma hidup maupun mati dalam sampel cairan reproduksi Anda, Pak Arga. Berdasarkan analisis jaringan dan jalur duktus yang kami periksa, kondisi ini bersifat permanen.”

Arga menggelengkan kepalanya dengan cepat, jemarinya meremas pinggiran meja Dr. Hendra. “Dokter bercanda kan?! Ini tidak lucu! Maksudnya tidak ada sperma itu bagaimana?!”

Dr. Hendra menatap Arga dengan tatapan prihatin yang jujur. “Artinya, Pak Arga… secara biologis, Anda dipastikan mandul total. Anda tidak memiliki sel reproduksi untuk membuahi sel telur, dan secara medis Anda tidak akan pernah bisa memiliki keturunan biologis.”

Keheningan melumpuhkan Arga. Lidahnya mendadak kelut, tubuhnya gemetar hebat seolah baru saja disiram air es di tengah puncak musim dingin. Kesombongan, wibawa, dan harga dirinya sebagai seorang pria hancur berkeping-keping di lantai ruang praktik dokter tersebut.

Nadia menatap wajah suaminya yang hancur dan berantakan dalam diam. Tidak ada kepuasan yang murah, hanya ada kepastian bahwa takdir sedang menjalankan keadilannya sendiri.

Namun, sebelum Arga sempat memproses kehancuran mental yang baru saja menghantamnya, ponsel pintar milik Arga yang tergeletak di atas meja kaca bergetar dan berdering nyaring.

Layar ponsel yang terang itu menampilkan panggilan masuk dari kontak bernama Maya, diikuti oleh sebuah notifikasi pesan gambar yang terpampang sangat jelas di layar terkunci:

Sebuah foto alat pack test kehamilan dengan dua garis merah tebal yang sangat jelas, disertai sebuah pesan teks singkat:
Mas, aku mual-mual dan tesku positif! Garis merahnya dua tebal sekali! Anak kita akhirnya hadir, Mas!

Nadia menunduk sedikit, membaca pesan bernada bahagia dari wanita simpanan suaminya itu dengan sangat jelas. Lalu, ia perlahan mengalihkan pandangannya pada Arga.

Pria itu kini gemetar hebat dari kepala hingga ujung kaki. Matanya terbelalak horor, menatap bergantian antara layar ponsel yang menyala dan lembaran surat medis dari Dr. Hendra yang menyatakan dirinya mandul total.

tbc

Next
Tags:
Cinta Segitiga, Drama Rumah Tangga, Free Novel, Suami Istri
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita