Suamiku Meminta Cerai Saat Aku Sedang Hamil - Bab 2

  1. Home
  2. Suamiku Meminta Cerai Saat Aku Sedang Hamil
  3. Bab 2 - Ternyata Suamiku Sudah Tahu Aku Hamil
Prev
Next

Dua hari berlalu seperti mimpi buruk yang enggan usai. Rumah kami terasa seperti medan perang yang senyap. Rian tidur di kamar tamu, sementara aku membaringkan tubuh di kamar utama. Kami hampir tidak pernah saling menyapa, kecuali untuk urusan formalitas perceraian yang terus ia desak.

Aku memutuskan untuk tidak memohon lagi. Harga diriku yang tersisa melarangku untuk berlutut di hadapan pria yang sudah terang-terangan membuangku. Jika Rian memang ingin pergi, aku akan melepaskannya. Aku fokus menata emosiku demi janin yang sedang berkembang di dalam perutku.

Siang itu, aku mendatangi sebuah gedung perkantoran di pusat kota untuk mengurus pembatalan beberapa kontrak kerja interior. Namun, saat aku melangkah keluar dari area parkir basement, langkahku terhenti mendadak.

Di depan pintu masuk sebuah gedung perkantoran hukum ternama, aku melihat Rian. Ia tidak sendiri. Di sampingnya, berjalan seorang wanita bertubuh jangkung dengan pakaian formal yang sangat rapi. Rambut hitamnya yang sebahu tertata sempurna. Wanita itu adalah Selena.

Aku mengenalnya. Selena adalah pengacara muda yang belakangan ini sering terlihat menghadiri acara-acara keluarga Rian. Dulu, Rian selalu mengatakannya sebagai ‘teman bisnis keluarga’.

Tetapi melihat bagaimana Selena menyentuh lengan Rian dengan lembut saat mereka melangkah masuk ke dalam gedung—dan bagaimana Rian membiarkannya tanpa menolak—membuat darahku mendidih seketika. Rasa sakit yang beberapa hari ini kutahan berganti menjadi kemarahan yang membakar.

Jadi ini alasannya? batinku. Karena wanita ini?

Tanpa berpikir panjang, aku melangkah lebar menyeberangi jalan, mengikuti langkah mereka hingga ke lobi gedung.

“Rian!” panggilku dengan suara keras dan lantang.

Suaraku menggema di lobi yang cukup lengang itu. Rian memutar tubuhnya dengan terkejut. Matanya membelalak saat melihatku berdiri hanya beberapa meter darinya dengan pandangan membunuh. Selena pun ikut menoleh, menatapku dengan raut wajah tetap tenang dan profesional.

“Naya?” Rian melangkah maju mendekatiku, dahinya berkerut. “Kamu ngapain di sini?”

“Harusnya aku yang tanya,” potongku cepat, mataku melirik tajam ke arah Selena yang berdiri tegap di belakangnya. “Siapa perempuan ini sebenarnya, Mas? Kenapa kamu selalu sama dia belakangan ini?”

Rian menghela napas pendek, raut wajahnya kembali menyebalkan—dingin dan tak tersentuh.

“Ini bukan urusanmu lagi, Naya,” jawabnya datar.

Kata-kata itu membakar sisa kesabaranku. Aku tertawa sinis, menatapnya dengan penuh ketidakpercayaan.

“Bukan urusanku?” ulagku dengan nada meninggi. “Benar. Sebentar lagi aku memang bukan istrimu lagi. Kamu bebas mau bergandengan tangan sama perempuan mana pun di luar sana!”

Rian terdiam, bibirnya terkatup rapat. Ada kilatan rasa bersalah di matanya, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya.

Aku melangkah satu tapak lebih dekat, menatap langsung ke dalam manik matanya.

“Tapi ingat satu hal, Mas,” bisikku, suaraku bergetar menahan gejolak emosi. “Meskipun aku bukan istrimu lagi… aku tetap ibu dari anakmu.”

Kalimat itu terlempar begitu saja. Aku ingin melihat reaksi keterkejutannya. Aku ingin melihatnya menyesal karena telah membuangku sebelum tahu bahwa aku sedang mengandung darah dagingnya.

Namun, reaksi Rian sama sekali di luar dugaanku.

Pria itu tidak menunjukkan raut terkejut. Ia tidak membelalakkan mata. Tubuhnya justru membeku seketika. Matanya bertambah redup, dipenuhi duka yang teramat dalam yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.

Aku terpaku melihat reaksinya. Sebuah pemahaman mengerikan mendadak terlintas di kepalaku.

“Kamu… kamu sudah tahu?” bisikku ragu.

Rian tetap membisu. Ia mengalihkan pandangannya ke lantai keramik lobi yang mengilap, menolak menatap mataku.

“Jawab aku, Rian!” teriakku, tak peduli lagi pada beberapa staf gedung yang mulai memperhatikan kami. “Kamu sudah tahu kalau aku hamil?!”

“Iya,” jawab Rian pelan. Sangat pelan, tetapi sanggup menghancurkan sisa-sisa hatiku yang sudah terpukul. “Aku udah tahu.”

“Sejak kapan?” suaraku terdengar seperti bisikan memohon. “Sejak kapan kamu tahu?!”

“Sejak malam sebelum aku kasih kamu surat cerai itu,” aku Rian akhirnya. “Tes kehamilanmu tertinggal di lantai mobil. Aku lihat.”

Duniaku rasanya runtuh total. Air mata panas menyembur keluar dari mataku. Jadi, malam itu, saat ia menyodorkan surat cerai padaku, saat ia dengan dingin mengatakan perasaannya sudah berubah, ia sudah tahu bahwa ada benihnya di dalam perutku?

“Jadi kamu tahu aku sedang hamil… dan kamu tetap tega menceraikan aku?!” tangisku pecah di tengah lobi. Aku memukul dadanya dengan telapak tanganku, namun Rian hanya bergeming, membiarkan diriku meluapkan kemarahan padanya. “Kamu jahat, Rian! Kamu manusia paling jahat yang pernah aku kenal! Gimana bisa kamu buang anak kamu sendiri?!”

“Aku nggak buang anak kita, Nay!” bentak Rian tiba-tiba, suaranya pecah, memperlihatkan retakan emosi yang selama ini ia tutup-tutupi. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku melakukan ini justru untuk melindungi kamu dan bayi kita!”

“Melindungi?” aku tertawa sumbang di antara isak tangisku. “Alasan konyol apa lagi ini?! Kalau kamu benar-benar mencintaiku dan mau melindungi kami, kamu seharusnya bicara! Kamu seharusnya kasih aku pilihan, bukan malah mengambil keputusan sepihak dan buang aku kayak sampah!”

Rian tertunduk dalam-dalam. Bahunya bergetar pelan. Ia tidak sanggup membalas perkataanku lagi.

Di tengah ketegangan yang membakar itu, Selena melangkah maju. Ia menarik sebuah map dokumen tebal dari dalam tas kerjanya. Wajahnya yang sejak tadi tenang kini tampak sangat serius.

“Naya,” panggil Selena lembut. “Kalau kamu masih mengira Rian menceraikanmu karena perempuan lain atau karena dia tidak menginginkan anak itu… kamu harus melihat ini.”

Aku menatap Selena dengan curiga, mengusap air mata di pipiku secara kasar. “Dokumen apa itu?”

Selena tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyerahkan berkas tebal itu langsung ke tanganku. Dengan tangan yang masih gemetaran, aku menerima berkas tersebut dan membuka halaman pertamanya.

Di dalamnya berisi salinan bukti transaksi keuangan bernilai miliaran rupiah, laporan audit internal, serta sebuah lembaran kertas berisi cetakan pesan ancaman yang mengerikan. Lembaran itu memuat foto rumah kami yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jauh.

Mataku terpaku pada satu kalimat yang diketik dengan huruf tebal di bagian bawah surat ancaman tersebut:

‘Jika Rian terus menyelidiki kasus penyelewengan dana ini dan berniat melaporkannya ke polisi, keluarganya—terutama istrinya—yang akan menjadi sasaran berikutnya.’

Napas tersangkut di tenggorokanku. Aku mendongak, menatap Rian dengan tatapan tak percaya dan keputusasaan yang mendalam.

“Mas… apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan?”

Prev
Next
Tags:
Drama Rumah Tangga, Free Novel, Pengkhianatan, Perceraian, Suami Istri
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita