Suamiku Meminta Cerai Saat Aku Sedang Hamil - Bab 1
- Home
- Suamiku Meminta Cerai Saat Aku Sedang Hamil
- Bab 1 - Suamiku Meminta Cerai Saat Aku Sedang Hamil
Dua garis merah terang di alat tes kehamilan itu masih terasa hangat dalam genggamanku. Senyumku tak henti-hentinya mengembang sepanjang jalan pulang. Ini adalah momen yang paling kami tunggu selama tiga tahun pernikahan kami. Aku membayangkan betapa bahagianya Rian saat aku menunjukkan kabar gembira ini. Pria itu pasti akan melompat girang, memelukku erat, dan membisikkan kata-kata manis yang selalu berhasil membuat hatiku menghangat.
Namun, begitu aku melangkah masuk ke dalam rumah, suasana terasa amat dingin. Tidak ada musik santai yang biasa diputar Rian saat akhir pekan, tidak ada aroma masakan, dan tak ada sambutan hangat dari suamiku.
Rian duduk sendirian di ruang makan. Lampu gantung di atas meja dibiarkan temaram. Di hadapannya, ada dua gelas kopi yang sudah dingin dan sebuah map cokelat tebal yang tertutup rapat. Raut wajahnya begitu kaku, matanya menatap lurus ke arah pintu masuk.
Aku berusaha mengikis kecanggokan yang tiba-tiba menyeruak. Aku memeluk tas tanganku—tempat hasil tes kehamilan itu tersembunyi rapat—lalu melangkah mendekatinya dengan senyum lebar.
“Kok kayak mau rapat?” tanyaku penuh nada kelakar. “Serius banget mukanya, Mas.”
Rian tidak membalas senyumanku. Ia bahkan tidak berkedip. Jemarinya yang panjang dan kokoh mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur. Sebuah tanda bahwa pikiran pria itu sedang sangat kacau.
“Duduk, Nay,” ucapnya dengan suara berat dan datar.
Aku menghela napas pendek, menuruti permintaannya. Aku duduk tepat di seberangnya, meletakkan tas tanganku di atas pangkuan. tanganku tak berhenti meremas permukaan tas itu, menahan sabar untuk memberikan kejutan yang sudah kusiapkan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rian memajukan jemarinya, mendorong map cokelat tebal itu ke hadapanku.
“Apa ini?” tanyaku bingung. “Berkas desain rumah yang baru?”
“Buka aja,” balasnya singkat.
Aku menatap Rian sejenak, mencari petunjuk di matanya, tetapi pria itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dengan sisa senyum yang mulai memudar, aku membuka tali pengikat map tersebut dan menarik selembar kertas tebal dari dalamnya.
Mataku langsung terpaku pada tulisan berukuran besar dan tebal di bagian atas lembaran itu:
SURAT PERMOHONAN PERCERAIAN
Jantungku seperti berhenti berdetak seketika. Seluruh pasokan udara di dalam paru-paruku seolah menguap begitu saja. Aku berkedip berulang kali, berharap mataku salah membaca, atau ini hanyalah draft dokumen pekerjaan milik kliennya yang tidak sengaja terbawa.
Namun, di lembar itu, jelas tertulis namaku dan nama Rian Adipratama.
Tanganku mulai gemetaran. Lembaran kertas itu bergetar hebat dalam genggamanku. Aku mengangkat wajahku, menatap Rian yang masih menolak untuk menatap mataku.
“Ini… ini apa, Mas?” suaraku bergetar, hampir tak terdengar.
Rian menarik napas panjang. Dadanya naik turun dengan berat sebelum akhirnya ia memutar kepala dan menatapku lurus. Matanya terlihat sangat dingin, asing, seolah-olah pria di hadapanku ini bukanlah suami yang memelukku penuh kehangatan tadi pagi.
“Aku mau kita bercerai,” ucapnya tanpa ragu. Setiap kata keluar dari mulutnya bagaikan belati yang menusuk dadaku tanpa ampun.
Aku tertawa kecil. Tawa hampa yang dipaksakan. Aku mengusap wajahku yang mendadak terasa panas.
“Rian, jangan bercanda,” kataku berusaha terkekeh. “Ini nggak lucu sama sekali. Kamu tahu kan aku paling nggak suka bercandaan soal hubungan kita?”
“Aku nggak bercanda, Naya,” potong Rian cepat. Suaranya datar, namun tegas. “Aku serius. Tolong tanda tangani surat itu.”
Senyum palsuku runtuh sepenuhnya. Dunia di sekitarku rasanya mendadak berputar. Air mata meluncur begitu saja melewati pipiku tanpa bisa kutahan lagi.
“Kenapa?” tanyaku dengan napas yang mulai terengah-engah. “Kenapa tiba-tiba begini, Mas? Kita kemarin baik-baik aja! Kita baru aja liburan, kita baru aja merencanakan renovasi kamar belakang… Kenapa?”
Rian membuang muka. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas meja, begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aku salah apa?” tangisku pecah. Aku memajukan tubuhku, berusaha menggapai tangannya, tetapi Rian dengan cepat menarik tangannya menjauh dari jangkauanku. Penolakan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan. “Sebutin salahku apa, Mas! Aku kurang apa jadi istri kamu? Tolong kasih tahu aku!”
“Kamu nggak salah,” sahut Rian pelan, suaranya terdengar makin serak. “Kamu istri yang baik, Nay. Sangat baik.”
“Terus kenapa kamu mau menceraikan aku?!” teriakku histeris. Dada rasanya sesak luar biasa. “Kalau aku nggak salah, kenapa kamu tega buang aku kayak gini?”
Rian berdiri dari kursinya dengan gerakan mendadak, membuat kursi kayu itu terdorong ke belakang dan menimbulkan bunyi berdecit yang nyaring di atas lantai keramik. Ia berdiri membelakangiku, menatap kegelapan di luar jendela rumah kami.
“Karena pernikahan ini sudah nggak bisa diteruskan,” jawabnya dingin. “Perasaan aku udah berubah. Aku nggak bisa lagi jalanin ini sama kamu.”
Aku membeku. Perasaannya sudah berubah? Secepat itu? Bagaimana mungkin cinta yang dipupuk bertahun-tahun bisa lenyap hanya dalam hitungan hari?
Jemariku melingkar erat di atas tas di pangkuanku. Di dalam sana, ada hasil tes kehamilan yang membuktikan bahwa ada buah cinta kami yang mulai tumbuh di dalam rahimku. Aku ingin sekali mencabut dokumen itu, melemparnya ke wajah Rian, dan berteriak, ‘Lihat! Aku sedang hamil anakmu!’
Namun, lidahku mendadak kelu. Pemandangan Rian yang begitu dingin dan asing melumpuhkan keberanianku. Jika seorang pria sudah terang-terangan mengaku tidak lagi mencintaiku dan ingin menyudahi rumah tangga ini, apakah kehadiran seorang bayi akan mengubah hatinya? Atau hanya akan membuat anakku kelak lahir dari belas kasihan, bukan dari cinta?
Aku menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Aku memutuskan untuk menahan rahasia itu di dalam tas.
Rian melangkah melewatiku, hendak berjalan menuju kamar utama. Namun, langkahnya terhenti sejenak tepat di samping kursiku. Tanpa menoleh sedikit pun, ia bergumam dengan suara yang teramat pelan.
“Setelah kita bercerai, kamu akan lebih aman.”
Kata-kata itu terlempar begitu saja. Aku mendongak cepat, menatap punggungnya dengan kerutan di dahi. Tangisku terhenti sejenak oleh kebingungan yang tiba-tiba menyeruak.
“Lebih aman?” bisikku bingung. “Lebih aman dari apa, Mas? Maksud kamu apa?”
Rian tidak menjawab pertanyaan itu. Ia kembali melangkah, membuka pintu kamar, lalu menutupnya rapat-rapat, meninggalkan aku sendirian di ruang makan yang dingin dan gelap.
Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Aku meringkuk di sofa ruang tamu, memeluk lututku erat-erat. Keheningan rumah terasa begitu mencekam. Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepala: Apakah Rian punya wanita lain? Apakah perusahaan keluarganya hancur? Mengapa ia menyebut kata ‘aman’?
Dengan tangan bergetar, aku membuka tas tanganku dalam kegelapan. Aku mengeluarkan batang plastik putih berujung merah muda itu. Dua garis merah terlihat sangat jelas di bawah cahaya redup layar ponselku.
Aku memegang perutku yang masih terasa sangat rata. Air mata yang sempat mengering kembali menetes, menetes deras jatuh membasahi batang tes kehamilan itu.
“Kenapa kamu datang di saat seperti ini, Nak?” bisikku lirih, menahan isak tangar agar tidak terdengar sampai ke dalam kamar. “Ayahmu… ayahmu udah nggak menginginkan kita lagi.”
Aku mengusap perutku perlahan, mencoba menyalurkan rasa hangat yang tersisa di dalam dadaku.
“Kalau memang begitu kemauan ayahmu…” bisikku penuh ketegasan yang lahir dari rasa sakit yang teramat dalam, “aku nggak akan memohon. Aku akan membesarkan kamu sendirian.”
Di balik kegelapan lorong rumah, tak jauh dari tempatku meringkuk di sofa, sesosok tubuh berdiri membeku. Rian menyandarkan punggungnya di dinding lorong, mendengar setiap bisikan dan isakan tangisku. Tangannya mengepal sangat keras hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri, menahan tangis yang mengancam meledak dari dadanya.
-BERSAMBUNG-