Suamiku Meminta Cerai Saat Aku Sedang Hamil - Bab 3
- Home
- Suamiku Meminta Cerai Saat Aku Sedang Hamil
- Bab 3 - Kalau Kita Menikah, Masalah Ini Harus Kita Hadapi Bersama
Ruangan kerja Selena yang berada di lantai delapan gedung itu terasa sangat sunyi. Hanya terdengar suara dengung pendingin udara dan helaan napas berat Rian yang duduk di hadapanku. Map dokumen ancaman itu kini tergeletak terbuka di atas meja kaca di antara kami.
Selena berdiri di dekat jendela, membiarkan kami berdua menyelesaikan konflik ini secara pribadi.
“Seseorang di internal perusahaan keluarga menyalahgunakan dana proyek dalam jumlah yang sangat besar,” Rian mulai angkat bicara dengan suara lirih. “Aku berhasil menemukan buktinya minggu lalu. Tapi saat aku mau bawa masalah ini ke jalur hukum, Ibu melarangku. Ibu takut nama baik keluarga dan perusahaan hancur.”
Aku mendengarkan setiap patah kata Rian dengan dada bergemuruh.
“Ternyata, paman yang melakukan penyelewengan itu tidak bergerak sendiri,” lanjut Rian. “Dia bekerja sama dengan kelompok ormas berbahaya yang biasa memegang proyek lapangan. Begitu mereka tahu aku punya buktinya, mereka mulai mengawasi rumah kita. Kapan pun mereka bisa mencelakaimu, Naya.”
Rian mendongak, menatapku dengan mata yang memerah dan sembap.
“Ibu yang mendesakku untuk menceraikanmu sementara waktu. Menurut Ibu, kalau status hukummu bukan lagi bagian dari keluarga Adipratama, mereka tidak akan menjadikanmu sasaran. Dan begitu aku tahu kamu hamil…” Suara Rian tercekat. Airmata akhirnya menetes melewati pipinya. “Aku makin panik, Nay. Aku nggak bisa membiarkan kamu atau bayi kita kenapa-napa. Jadi aku pikir… kalau aku buat kamu benci sama aku, kamu bakal pergi jauh dan tetap aman.”
Aku duduk terpaku. Semua potongan teka-teki yang membingungkanku selama beberapa hari terakhir kini menyatu dengan jelas. Sikap dingin Rian, kemunculan Selena yang ternyata adalah pengacara yang disewa Rian untuk membantunya mengusut kasus ini secara diam-diam, serta pesan aneh Rian tentang ‘keamanan’.
Namun, bukannya merasa lega, hatiku justru makin terasa sesak dan kecewa.
“Kamu bilang kamu mau melindungiku, Mas?” suaraku terdengar begitu tajam.
Rian mengangguk pelan. “Iya. Itu satu-satunya cara yang ada di pikiranku saat itu.”
“Tapi kamu justru buat aku merasa sendirian!” tegas ku, membuat Rian terhenyak. “Kamu buat aku merasa tidak dicintai! Kamu buat aku berpikir bahwa pernikahan kita selama tiga tahun ini nggak ada artinya buat kamu!”
Rian menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pria itu tidak berani membantah seruan kekecewaanku.
“Aku takut kehilangan kamu, Nay,” bisiknya sangat pelan. “Aku benar-benar takut.”
Aku menyapu air mata yang mengalir di pipiku, lalu menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi.
“Dan karena kamu takut kehilangan aku… kamu memilih untuk meninggalkan aku duluan?” tanyaku menohok. “Logika dari mana itu, Mas?”
Rian memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan penyesalan membakar dirinya.
“Pernikahan itu bukan cuma soal berbagi kebahagiaan, Rian,” lanjutku dengan nada suara yang mulai stabil, penuh ketegasan seorang ibu yang ingin melindungi masa depan anak dan rumah tangganya. “Kalau kita menikah, masalah sebesar apa pun harus kita hadapi bersama. Bukan dengan cara kamu pura-pura jadi pahlawan, mengambil keputusan sepihak, dan membuangku begitu saja!”
“Aku tahu… aku salah, Nay,” sahut Rian pelan, suaranya sarat akan rasa bersalah yang mendalam. “Aku sangat salah. Maafkan aku.”
Aku menghela napas panjang, menatapnya lurus. “Aku nggak bisa melanjutkan pernikahan kita kalau caranya masih seperti kemarin. Kalau kamu mau mempertahankan rumah tangga ini, kita harus selesaikan masalah ini bersama-sama. Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada lagi keputusan sepihak.”
Rian mendongak cepat, matanya berbinar menatapku penuh harapan yang tak terkira. “Kamu… kamu masih mau memberi aku kesempatan?”
“Aku memberi kesempatan untuk rumah tangga kita,” koreksiku tegas. “Bukan berarti aku sudah memaafkan tindakan konyolmu.”
Rian mengangguk berulang kali, menyapu air matanya. “Apapun, Nay. Apapun yang kamu minta, aku akan turuti.”
Hari-hari berikutnya menjadi babak baru yang penuh perjuangan bagi kami. Dengan keberanian yang dikumpulkan bersama, Rian—didampingi oleh Selena sebagai kuasa hukum—resmi menyerahkan seluruh bukti penyelewengan dana dan ancaman tersebut ke pihak kepolisian. Paman Rian beserta kroninya berhasil diamankan tanpa sempat melakukan tindakan berbahaya.
Ibu Ratih, ibu mertuaku, sempat terpukul oleh kejadian ini. Namun, saat Rian membawa beliau bertemu denganku dan menjelaskan segalanya, wanita paruh baya yang keras itu akhirnya menundukkan kepala. Beliau menggenggam tanganku erat-erat sambil terisak, meminta maaf atas keputusannya yang egois dan membahayakan keutuhan rumah tangga kami.
Dua bulan kemudian…
Suasana klinik kandungan terasa begitu tenang. Aroma terapi lavender menyeruak pelan di dalam ruangan. Aku berbaring di atas ranjang pemeriksaan, sementara dokter mengoleskan gel dingin ke atas perutku yang kini mulai menonjol kecil.
Di samping ranjang, Rian berdiri setia. Tangannya menggenggam jemariku begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, aku akan menghilang dari pandangannya.
“Nah, lihat ke layar ya, Pak, Bu,” ujar dokter wanita itu ramah seraya menggerakkan alat ultrasound di atas perutku.
Di layar monitor hitam putih, tampak sebuah bayangan kecil yang sedang bergerak-gerak halus. Suara detak jantung yang cepat dan berirama memenuhi seluruh ruangan—suara paling indah yang pernah kami dengar.
Duk… duk… duk… duk…
Rian menahan napasnya. Mata suamiku berkaca-kaca menatap monitor tersebut. Jemarinya yang menggenggam tanganku terasa bergetar pelan.
“Bayinya sangat sehat, posisinya bagus, dan perkembangannya sangat optimal,” terang sang dokter sambil tersenyum hangat.
Setelah pemeriksaan selesai dan aku merapikan pakaianku, dokter memberikan kami waktu sejenak di dalam ruangan. Rian masih berdiri di sampingku, menatapku dengan tatapan yang dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga.
“Terima kasih, Nay,” bisiknya tulus, menyentuh pipiku dengan lembut. “Terima kasih karena masih mau memberi aku kesempatan.”
Aku menatap wajah suamiku itu. Garis-garis kelelahan di wajahnya masih ada, tetapi matanya kini memancarkan kejujuran yang utuh.
“Jangan salah paham, Mas,” ucapku datar, berpura-pura menyipitkan mata. “Aku belum lupa gimana jahatnya kamu waktu menyodorkan surat cerai itu.”
Rian mengangguk cepat, terkekeh pelan di antara rasa harunya. “Aku tahu. Dan aku siap menebusnya seumur hidupku.”
“Aku cuma mau kita belajar lagi,” tambahku pelan.
“Dari awal?” tannya lembut.
Aku mengangguk tegas. “Dari awal.”
Rian tersenyum lebar—senyuman tulus yang sudah lama tidak kulihat. Ia kemudian perlahan berlutut di sebelah kursiku, meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas perutku yang mulai membesar. Untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan, badai, dan rasa sakit yang menghantam kami, kami bertiga berada di ruangan yang sama dengan hati yang saling terhubung utuh.
Aku akhirnya memahami satu hal penting dari semua kejadian ini. Cinta bukanlah tentang siapa yang paling banyak berkorban atau siapa yang paling hebat berpura-pura menjadi pahlawan. Cinta adalah tentang keberanian untuk berkata jujur, saling percaya, dan bergandengan tangan menghadapi masalah terburuk sekalipun bersama-sama.
Pernikahan kami tidak langsung kembali sempurna seperti semula. Masih ada luka yang butuh waktu untuk sembuh. Namun, pernikahan kami menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya—karena kali ini, kami tidak akan pernah lagi berjalan sendirian.
-TAMAT-