Pria yang Selalu Mengabaikanku - Bab 2
Darel berdiri di depan kubikel divisi keuangan, berpura-pura sedang memeriksa berkas di tangannya. Matanya mencuri pandang ke arah meja di sudut ruangan. Meja Alina kosong. Tasnya tidak ada, komputer matikan.
“Cari siapa, Rel?”
Darel menoleh terkejut. Vina berdiri di sampingnya membawa sebundel dokumen dengan alis terangkat sebelah.
“Eh. Nggak. Ini mau nganter berkas revisi,” alibi Darel tenang.
“Berkas revisi kan dititip ke Mas Budi, bukan ditaruh di meja Alina,” sindir Vina tanpa tedeng aling-aling.
Darel berdeham, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. “Alina mana? Tadi pagi nggak kelihatan di ruang rapat.”
“Alina sibuk,” jawab Vina singkat.
“Sibuk apa? Biasanya jam segini dia udah selesai rekap bulanan.”
Vina menyilangkan dada, menatap pria setinggi 180 cm di hadapannya dengan tatapan menilai. “Kenapa tanya aku? Kamu kan bisa chat dia sendiri.”
Darel terdiam. Dia sudah mengirim lima pesan sejak dua hari lalu. Tidak ada satu pun yang dibalas dengan pantas, hanya jawaban “Iya” atau “Nggak” jika menyangkut pekerjaan kantor.
“Pesan aku cuma dibaca,” aku Darel akhirnya, suaranya agak merendah.
Vina terkehdih. “Oh, rasanya dibaca doang kayak gitu ya, Rel? Sakit nggak? Kesel nggak?”
“Vin, aku cuma tanya baik-baik.”
“Aku juga jawab baik-baik,” potong Vina dingin. “Alina lagi keluar. Ada urusan lapangan sama Evan.”
“Evan?” Darel mengernyit. “Evan anak divisi pemasaran?”
“Iya. Kenapa? Evan orangnya seru, ramah, terus kalau janjian nggak pernah batalin mendadak. Alina kelihatan seneng banget hari ini.” Vina melewatinya begitu saja tanpa memberikan kesempatan bagi Darel untuk membalas.
Darel berdiri mematung di tengah ruangan. Nama ‘Evan’ berputar-putar di kepalanya. Evan adalah staf baru yang ceria, pandai bergaul, dan memiliki senyum yang disukai banyak staf wanita. Dan sekarang, Alina pergi bersamanya?
Pukul lima sore. Area parkir kantor mulai dipadati karyawan yang hendak pulang.
Darel berdiri di dekat mobilnya, sengaja melambatkan gerakannya saat memasukkan tas ke kursi belakang. Mata ketajamannya menangkap dua sosok yang berjalan keluar dari lobi.
Alina dan Evan.
Alina tertawa lepas mendengar sesuatu yang dikatakan Evan. Tawanya terdengar renyah, bebas, tanpa beban. Darel tertegun. Sudah berapa lama dia tidak melihat Alina tertawa seperti itu? Biasanya, setiap kali bersamanya, Alina selalu terlihat serba salah, cemas, dan berhati-hati dalam memilih kata agar tidak mengganggunya.
“Makasih ya, Van, udah dibantu ambil data tadi,” kata Alina saat mereka sampai di samping mobil Evan.
“Santai aja, Lin. Nanti malam jadi makan ramen yang tadi dibicarain?” tanya Evan sambil membukakan pintu mobil untuk Alina.
“Jadi dong! Aku yang traktir ya,” jawab Alina ceria.
Darel tidak bisa menahannya lagi. Langkah kakinya bergerak sendiri sebelum otak rasionalnya sempat mencegah.
“Alina.”
Alina menghentikan gerakannya yang hendak masuk ke mobil. Dia menoleh, sedikit terkejut melihat Darel berdiri hanya dua langkah di belakangnya.
“Eh, Darel. Ada apa?” tanya Alina. Suaranya terdengar biasa saja. Sangat biasa. Tidak ada nada gembira yang biasanya meluap setiap kali pria itu menyapanya.
“Dia siapa?” tanya Darel langsung, matanya melirik tajam ke arah Evan.
Alina mengedipkan mata, bingung. “Evan. Rekan kerjaku dari pemasaran. Kamu kan udah kenal.”
“Mau ke mana?”
“Makan,” jawab Alina santai.
“Sama dia?”
“Iya. Kenapa?”
Darel mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia ingin melarang. Dia ingin mengatakan ‘Jangan pergi’ atau ‘Makan sama aku aja’. Tapi akal sehatnya menahan kalimat itu di ujung lidah. Status apa yang dia miliki untuk melarang Alina?
Evan yang merasakan tensi aneh di antara keduanya merangkul kunci mobilnya. “Lin, aku tunggu di dalam ya?”
“Iya, Van. Bentar ya,” sahut Alina.
Setelah Evan masuk ke mobil, Alina kembali menatap Darel. “Ada hal penting tentang pekerjaan, Rel? Aku agak terburu-buru.”
“Kamu berubah, Lin,” kata Darel, suaranya serak.
Alina menatap pria di hadapannya. Darel tampak rapi seperti biasa dengan kemeja biru jelanya, namun ada guratan gelisah di matanya yang belum pernah Alina lihat sebelumnya.
“Aku nggak berubah, Darel. Aku cuma balik ke diri aku yang dulu,” jawab Alina lembut, tanpa ada nada benci sedikit pun.
“Kita perlu bicara. Malam ini. Aku tunggu kamu di resto biasa.” Darel memberikan intonasi perintah, kebiasaannya selama ini.
Alina menggeleng pelan. “Aku nggak bisa. Aku ada janji.”
“Sama Evan?”
“Iya.”
“Bisa dibatalin, kan?”
Alina menatap Darel lurus-lurus. Sebuah senyuman tipis yang getir terukir di bibirnya. “Kenapa aku harus batalin janji sama orang yang menghargai waktuku, cuma buat ketemu sama orang yang selalu bikin aku nunggu?”
Darel menegang. Kata-kata itu menamparnya tepat di dada.
“Kamu dulu nggak pernah peduli aku pergi sama siapa, Darel,” lanjut Alina tenang. “Kamu bahkan nggak pernah tanya aku udah makan atau belum. Jadi, kenapa sekarang kamu bertindak seolah-olah kamu peduli?”
Darel membisu. Tenggorokannya terasa tersumbat. Dia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa dia peduli, tapi seluruh memorinya menelanjangi kebohongannya sendiri. Dia memang tidak pernah peduli. Dia hanya terbiasa dikejar.
“Aku pergi dulu ya,” pungkasi Alina, lalu berbalik dan masuk ke dalam mobil Evan tanpa menunggu tanggapan Darel lagi.
Darel menyaksikan mobil silver itu perlahan menghilang di balik gerbang kantor. Hatinya mencelos, meninggalkan kehampaan yang luar biasa besar.
Malam harinya, jam menunjukkan pukul sembilan.
Darel berdiri di depan pagar rumah kontrakan Alina. Dia tidak tahu apa yang merasukinya hingga dia nekat berkendara ke sini dan menunggu di dalam mobil selama satu jam.
Sebuah taksi berhenti di depan rumah. Alina turun dari sana sendirian.
Darel langsung keluar dari mobilnya dan melangkah cepat menghampiri wanita itu.
“Alina.”
Alina terkejut setengah mati melihat Darel muncul dari kegelapan. “Darel? Kamu ngapain di sini? Udah malam.”
Darel menatap Alina. Wajah wanita itu sedikit merona, mungkin karena udara malam atau karena menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama orang lain. Dan pemikiran itu membuat dada Darel berdenyut nyeri.
“Aku nggak suka kamu dekat sama Evan,” kata Darel tanpa basa-basi. Suaranya berat, sarat akan kecemburuan yang tidak bisa dia tutupi lagi.
Alina menatapnya tidak percaya. Dia tertawa kecil, tawa heran. “Sejak kapan kamu berhak cemburu, Darel?”
Darel terdiam, tangannya mengepal di samping tubuh.
“Aku mengejarmu hampir dua tahun,” suara Alina mulai bergetar, emosi yang dipendamnya selama beberapa hari ini mulai membuncah. “Aku selalu ada buat kamu. Aku selalu usahain ada waktu buat kamu, peduli sama hal-hal kecil tentang kamu, bahkan saat kamu mengabaikan aku seolah-olah aku ini cuma angin lalu!”
“Lin, aku—”
“Sekarang aku berhenti,” potong Alina tegas, air mata menggenang di sudut matanya namun tidak biarkan menetes. Alina mengambil napas panjang, berdiri tegak di depan Darel. “Aku udah capek, Darel. Aku mau menghargai diri aku sendiri. Sekarang aku berhenti mengejar kamu.”
Alina berbalik, hendak membuka pintu pagar rumahnya.
“Kenapa kamu malah mengejarku?” tanya Alina tanpa menoleh.
Darel memejamkan matanya rapat-rapat. Seluruh dinding kesombongan dan gengsi yang dibangunnya selama dua tahun runtuh seketika. Ketakutan yang amat sangat menyapu bersih seluruh logikanya. Ketakutan bahwa jika malam ini dia membiarkan Alina melewati pintu itu, wanita itu tidak akan pernah kembali lagi ke dalam hidupnya.
“Karena ternyata aku nggak siap kehilangan kamu,” aku Darel dengan suara bergetar.
-TBC-