Pria yang Selalu Mengabaikanku - Bab 3
Alina mematung di depan pagar. Kata-kata Darel menggantung di udara malam yang dingin.
Dia berbalik perlahan, menatap pria yang selama ini mengisi hampir seluruh pikirannya. “Nggak siap kehilangan?” ulang Alina pelan.
Darel mengangguk, melangkah satu pijakan lebih dekat. “Iya. Aku sadar aku brengsek selama ini, Lin. Aku salah.”
Alina menggelengkan kepala, memberikan senyum sedih. “Kamu nggak takut kehilangan aku, Darel. Kamu cuma kaget karena perhatian yang biasa kamu terima tiba-tiba hilang. Kamu cuma terbiasa aku ada. Itu dua hal yang beda.”
“Nggak, Lin! Aku serius—”
“Takut kehilangan itu nggak selalu berarti cinta,” sela Alina dingin. “Bisa aja kamu cuma merasa ego kamu terganggu karena wanita yang biasanya selalu lari ke kamu, sekarang bisa senyum sama cowok lain. Itu bukan cinta, Darel. Itu cuma rasa kepemilikan.”
Darel bungkam. Kalimat tajam Alina menembus jantung pertahanannya. Dia menunduk, menatap sepatu kulitnya sendiri. Apakah benar begitu? Apakah dia hanya merasa kehilangan perhatian?
Namun ketika dia membayangkan harinya tanpa sapaan Alina, membayangkan Alina memberikan perhatian dan kehangatan yang sama kepada Evan atau pria lain… dadanya terasa begitu sesak hingga sulit bernapas. Itu bukan sekadar ego yang terluka. Itu adalah penyesalan yang terlambat.
“Aku memang terlalu nyaman,” kata Darel pelan, mengangkat wajahnya kembali. Matanya menatap Alina lurus-lurus, sejujur yang dia bisa. “Aku tahu kamu suka sama aku. Dan karena itu, aku jadi ceroboh. Aku menganggap keberadaan kamu sebagai sesuatu yang otomatis, sesuatu yang nggak akan pernah hilang.”
Darel mengambil napas dalam-dalam. “Tapi saat kamu berhenti… saat kamu nggak bales pesanku dan jalan sama orang lain… aku sadar, aku nggak cuma kehilangan perhatian. Aku kehilangan orang yang paling tulus sama aku.”
Alina menatap mata Darel. Tidak ada lagi kilat dingin atau sikap acuh tak acuh yang biasanya menghiasi wajah pria itu. Yang ada hanya kejujuran dan rasa cemas yang telanjang.
“Tapi aku udah cape, Darel,” kata Alina pelan. “Aku nggak mau balik jadi Alina yang dulu. Alina yang selalu memohon-mohon perhatian kamu.”
“Kamu nggak perlu,” jawab Darel cepat.
“Maksud kamu?”
“Kasih aku kesempatan,” ujar Darel lembut. “Bukan buat kamu balik mengejar aku. Tapi buat aku ngebuktiin kalau aku bisa memperlakukan kamu dengan benar.”
Alina tidak menjawab. Dia mengunci pintu pagarnya. “Aku butuh waktu.”
“Aku bakal tunggu,” balas Darel mantap. “Berapa lama pun.”
Sejak malam itu, peta hubungan mereka berbalik seratus delapan puluh derajat.
Darel tidak lagi menjadi pria dingin yang sulit dijangkau. Setiap pagi, sebelum pukul delapan, sebuah pesan selalu masuk ke ponsel Alina.
Darel: Pagi Lin. Hari ini hujan, jangan lupa bawa payung ya. Aku udah titipin kopi favoritmu di meja kamu via ojek online.
Alina tidak lagi harus mencari-cari alasan untuk melewati ruangan Darel. Justru Darel yang kini sering ‘kebetulan’ lewat di depan divisinya, sekadar untuk mengantarkan dokumen kecil atau sekadar memastikan Alina sudah makan siang.
Ketika Alina harus lembur menyelesaikan laporan kuartal, Darel tidak pulang. Pria itu setia duduk di kantin lantai dasar hingga pukul delapan malam, hanya untuk memastikan dia bisa mengantar Alina pulang dengan selamat.
“Dia beneran berubah ya,” gumam Vina suatu sore saat memperhatikan Darel yang sedang berdiri di luar ruangan mereka sambil membawakan kotak camilan untuk Alina.
“Menurut kamu gimana?” tanya Alina, mengalihkan pandangan dari layarnya.
“Awalnya aku pikir dia cuma panik,” kata Vina jujur. “Tapi ini udah tiga minggu, Lin. Dia nggak pernah absen sekali pun. Dia dengerin kamu kalau lagi cerita, dia nggak pernah main HP kalau lagi ngobrol sama kamu. Jujur aja… aku kagum sama niatnya.”
Alina tersenyum kecil. Dia merasakan perubahan itu. Perhatian Darel bukan lagi penyesalan sesaat, melainkan usaha konsisten yang perlahan-lahan meretakkan dinding pertahanan yang dibangunnya.
Sore itu, hujan deras mengguyur kota. Alina berjalan keluar lobi kantor dan menemukan Darel sudah berdiri di sana, memegang dua cangkir cokelat panas.
“Buat kamu,” kata Darel, menyerahkan salah satu cangkir.
Alina menerimanya, merasakan kehangatan menjalar ke jemarinya. “Makasih.”
Mereka berdiri bersisian menatap rintik hujan yang jatuh di halaman.
“Darel,” panggil Alina pelan.
“Ya?”
“Kamu beneran suka sama aku?”
Darel menoleh, menatap profil samping wajah Alina. “Aku baru sadar seberapa besarnya perasaan itu setelah kamu berhenti mengejarku.”
Alina menatapnya balik. “Itu bukan jawaban yang aku mau.”
Darel tersenyum tipis, senyuman paling hangat yang pernah dia tunjukkan. “Iya, Alina. Aku suka kamu. Sangat.”
Dada Alina berdesir. Kata-kata yang dulu sangat ingin dia dengar selama dua tahun akhirnya diucapkan. Namun, Alina menahan diri untuk tidak langsung luluh.
“Tapi aku nggak mau kembali jadi orang yang selalu mengejar,” tegasa Alina.
Darel mengangguk pelan, memahami sepenuhnya. “Kamu nggak perlu mengejar lagi.”
“Kenapa?”
Darel melangkah memangkas jarak di antara mereka, menatap mata Alina dengan kesungguhan yang tak terbantahkan.
“Karena sekarang giliranku.”
Sabtu sore, matahari terbenam memancarkan warna jingga yang indah di sepanjang jalan protokol.
Alina berdiri di depan rumahnya memakai dress simpel berwarna krem. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar. Darel keluar dari kursi pengemudi, mengenakan kemeja kasual yang membuatnya terlihat jauh lebih segar dan tampan.
Dia berjalan mendekati Alina, bukannya menunggu di dalam mobil seperti yang dulu selalu dia lakukan.
“Kamu cantik banget sore ini,” puji Darel tulus.
Pipi Alina merona merah. “Makasih.”
“Siap pergi?” tanya Darel sambil membukakan pintu penumpang untuk Alina.
Alina menatap pintu mobil yang terbuka lebar, lalu menatap pria yang membukakannya dengan penuh kepedulian.
“Ayo,” kata Alina.
Ia masuk ke dalam mobil. Darel menyusul duduk di kursi pengemudi.
“Kita mau ke mana?” tanya Alina saat mobil mulai membelah jalanan.
“Ke restoran tempat kita janji ketemu tiga minggu lalu,” jawab Darel lirih. “Aku mau mengganti malam yang batal itu. Aku mau ini jadi kencan pertama kita yang resmi.”
Alina terkekeuh pelan. “Bukannya dulu kamu pernah bilang ke teman-teman kantor kalau kita cuma teman?”
Darel meliriknya sekilas, terkekeh canggung namun penuh penyesalan. “Aku berubah pikiran. Aku salah besar waktu itu.”
“Terlambat nggak?” goda Alina.
Darel menghentikan mobilnya di lampu merah. Dia memutar tubuhnya, menatap Alina dalam-dalam. Darel mengulurkan tangannya di antara mereka, telapak tangannya terbuka menghadap ke atas.
“Kalau gitu, kasih aku kesempatan buat mengejar kamu sampai terlambat itu nggak berarti lagi,” kata Darel lembut.
Alina menatap tangan yang terulur di hadapannya. Tangan yang dulu terasa begitu jauh untuk digapai, kini terbuka lebar menunggunya.
Alina tersenyum, meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Darel. Darel langsung menggenggamnya erat, seolah tak akan pernah melepaskannya lagi.
Pria yang selama ini selalu mengabaikannya akhirnya belajar satu hal berharga: bahwa seseorang yang terus menunggu dan mencintai dengan tulus bukan berarti akan menunggu selamanya. Dan ketika kesempatan kedua itu datang, dia tidak akan pernah menyia-nyiakannya lagi.
-TAMAT-