Pria yang Selalu Mengabaikanku - Bab 1

  1. Home
  2. Pria yang Selalu Mengabaikanku
  3. Bab 1 - Aku Berhenti Mengejarmu
Next

Kopi hitam di meja Alina sudah mendingin sejak dua puluh menit yang lalu. Es batu di dalamnya mencair sempurna, menyisakan genangan air di sekeliling tatakan gelas. Alina menatap layar ponselnya yang redup. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam lewat empat puluh lima menit.

“Belum datang juga?” tanya Vina. Sahabatnya itu baru saja kembali dari toilet dan menduduki kursi kayu di hadapan Alina.

Alina menggeleng pelan. “Belum.”

“Kamu udah hubungi dia lagi?”

“Udah. Sejam yang lalu. Cuma dibaca.” Alina tersenyum tipis, jenis senyuman yang lebih mirip usahanya menutupi rasa malu pada diri sendiri.

“Lin, ini udah ketiga kalinya dalam bulan ini,” suara Vina meninggi, berusaha menahan kekesalan. “Dia yang janji mau traktir kamu karena kamu bantulah garap materi presentasinya minggu lalu. Sekarang dia bahkan nggak ada kabar?”

“Mungkin urusan kantornya belum kelar, Vin. Darel kan memang sibuk.”

“Sibuk atau nggak peduli?” potong Vina cepat. “Kamu tuh selalu cari alasan buat dia. ‘Darel sibuk’, ‘Darel emang cuek’, ‘Darel nggak pinter ngerangkai kata’. Sampai kapan, Lin?”

Alina terdiam. Jemarinya memainkan pinggiran cangkir. Di benaknya, rekaman dua tahun terakhir berputar seperti pita kaset yang sudah aus.

Dua tahun.

Dua tahun dialah yang selalu mengirim pesan pertama di pagi hari. Dialah yang selalu bertanya apakah Darel sudah makan. Dialah yang rajin membelikan makan siang favorit pria itu dan mengantarkannya ke lantai empat gedung kantor sebelah, hanya untuk mendapat ucapan “makasih” singkat tanpa tatapan mata.

Dua tahun Alina meyakinkan dirinya sendiri bahwa kesabaran akan meluluhkan es batu paling keras sekalipun.

Ponsel di atas meja mendengung singkat. Layarnya menyala. Satu pesan WhatsApp dari kontak bernama ‘Darel’.

Darel: Maaf. Ada urusan.

Hanya itu. Tiga kata. Tanpa penjelasan, tanpa kata ‘nanti’, tanpa tawaran untuk mengganti hari.

“Apa katanya?” tanya Vina, mengintip layar.

Alina menatap tiga kata itu cukup lama. Anehnya, dada yang biasanya sesak oleh rasa kecewa kali ini terasa hampa. Tak ada amarah. Tak ada rasa ingin menangis. Yang tersisa hanya rasa lelah yang amat sangat. Lelah berlari menuju seseorang yang bahkan tidak pernah berbalik arah.

tangannya mengetik balasan dengan cepat: Nggak apa-apa, Darel. Santai aja. Lain kali kalau—

Alina menghentikan jemarinya. Dia memandangi deretan kata yang baru diketiknya. Selalu seperti ini. Dia selalu memberi jalan keluar, selalu memaklumi, selalu bersiap untuk penolakan berikutnya.

“Lin?” tegur Vina, menyadari perubahan raut wajah sahabatnya. “Kapan kamu mau berhenti?”

Alina menatap Vina. Lalu, jempolnya bergerak. Dia menekan tombol backspace, menghapus seluruh kalimat yang baru dibentuknya hingga kolom pesan kembali kosong.

“Hari ini,” kata Alina pelan.

Vina tertegun. “Serius?”

“Iya.” Alina menekan tombol lock pada ponselnya dan meletakkannya telungkup di meja. “Aku capek, Vin. Aku capek jadi satu-satunya orang yang selalu mencari.”

“Kamu yakin? Kamu udah nyukaimu Darel dari zaman kita baru masuk divisi ini, Lin. Kamu yakin bisa?”

“Yakin.” Alina tersenyum, kali ini senyumnya terasa lebih ringan. “Ternyata harga diriku cuma cukup buat dua tahun. Mulai hari ini, aku stop.”

“Nggak bakal kirim pesan duluan?”

“Nggak.”

“Nggak bakal pura-pura lewat depan kubikelnya?”

“Nggak.”

“Nggak bakal bawain kopi favoritnya?”

“Nggak akan pernah lagi.”

Vina menghela napas lega, lalu mengacungkan jempolnya. “Nah, gitu dong! Nah, sekarang ayo pesan makanan yang beneran. Aku yang bayar.”

Malam itu menjadi malam pertama dalam 730 hari terakhir di mana Alina tidak mengirimkan pesan “Sudah sampai rumah?” kepada Darel.

Tiga hari berlalu.

Darel merenggangkan otot lehernya yang kaku di depan monitor komputer. Jam dinding kantor menunjukkan pukul delapan malam. Suasana lantai empat sudah sepi, hanya tersisa beberapa karyawan divisi pemasaran yang masih menyelesaikan laporan bulanan.

Darel bersandar di kursi kerjanya. Dia meraih ponsel di sebelah kibor. Membuka aplikasi pesan instan secara refleks.

Kosong.

Tidak ada notifikasi baru dari Alina.

Darel mengernyit. Dia menggeser layarnya ke bawah, mencari nama ‘Alina’. Pesan terakhir di antara mereka adalah pesannya tiga hari lalu—pesan singkat yang memberitahukan bahwa dia tidak bisa datang ke kafe.

Alina tidak membalas pesan itu. Dan yang lebih aneh, Alina tidak mengirim pesan apa pun setelahnya.

Biasanya, jika Darel membatalkan janji, besok paginya Alina akan tetap mengirimkan stiker kucing lucu dengan pesan: “Pagi Darel! Jangan lupa sarapan ya, hari ini jadwalmu padat.” Atau siang harinya, wanita itu akan muncul di depan mejanya membawa segelas es kopi susu gula aren dengan kadar gula tiga puluh persen—persis seperti yang disukai Darel.

Namun tiga hari ini, tidak ada kopi. Tidak ada stiker. Tidak ada sapaan di lorong lift.

Kemarin sore Darel sempat berpapasan dengan Alina di dekat pantry. Alina sedang tertawa bersama beberapa rekan kerjanya. Saat mata mereka beradu, Darel sudah bersiap mengangguk atau mendengar Alina memanggil namanya. Namun, Alina hanya tersenyum sopan—jenis senyuman formal yang biasa diberikan kepada rekan kerja beda divisi—lalu berlalu begitu saja tanpa menghentikan langkahnya.

Darel meletakkan ponselnya kembali.

Paling dia cuma lagi sibuk, batin Darel. Atau dia ngambek karena kejadian tiga hari lalu.

Darel menggelengkan kepala. Alina tidak pernah bisa ngambek lebih dari dua hari. Wanita itu selalu kembali lebih dulu. Selalu.

Darel kembali mengetik laporannya. Namun fokusnya buyar. Mata pria itu terus tertuju pada layar ponsel yang gelap. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.

Ponsel itu tetap bisu.

Rasa tidak nyaman yang asing mulai merayap di dada Darel. Bukan rasa marah, melainkan sebuah ganjalan kecil yang mengganggu. Seperti ada sesuatu yang biasanya selalu berada di tempatnya, tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Darel mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Dia meraih ponselnya lagi. Mengusap layarnya, lalu membuka ruang obrolan Alina.

Jemarinya menggantung di atas papan ketik virtual. Dia tidak pernah menjadi orang yang memulai percakapan. Tidak pernah sekalipun.

Namun malam ini, keheningan ruangan terasa terlalu pekat.

Darel mengetik satu kalimat singkat.

Darel: Kamu kenapa?

Dia menekan tombol kirim. Centang dua berubah menjadi biru hampir seketika. Alina sedang memegang ponselnya.

Darel menunggu. Satu detik. Lima detik. Satu menit.

Indikator ‘ketik…’ yang biasanya muncul dengan cepat setiap kali dia mengirim pesan ke Alina, kali ini tidak kunjung terlihat.

Tiba-tiba, status ‘Online’ di bawah nama Alina lenyap.

Darel membelalakkan mata. Wanita itu mematikan ponselnya. Atau setidaknya, keluar dari aplikasi tanpa membalas pesannya.

Darel memperbaiki posisi duduknya. Dadanya berhembus kencang. Dia menatap layar itu dengan perasaan tidak percaya.

Jemarinya kembali mengetik dengan cepat, mengabaikan gengsi yang selama ini diagung-agungkannya.

Darel: Kamu marah sama aku?

Pesan itu hanya bercentang satu.

-TBC-

Next
Tags:
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Cinta Kedua, Cinta Perlahan, Free Novel
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita