Pacarku Terlalu Dekat dengan Sahabatku - Bab 2
Hari-hari berikutnya terasa seperti siksaan lambat bagi Nadine. Dia memilih mengamati. Dan semakin dia memperhatikan, semakin banyak hal halus yang menghancurkan hatinya.
Saat mereka bertiga tidak sengaja bertemu di sebuah acara alumni kampus, Farel secara refleks memesankan es teh manis dengan sedikit gula untuk Selvi—tanpa bertanya. Selvi tahu tanpa melihat jam bahwa Farel harus minum obat maag-nya jam empat sore. Mereka berbicara menggunakan istilah-istilah pendek yang tidak Nadine pahami, lalu tertawa bersama.
Nadine berdiri di sana, seperti penonton dalam drama hubungan orang lain.
Tidak tahan lagi dengan tekanan di dadanya, Nadine akhirnya mengajak Selvi bertemu di sebuah kedai kopi yang sepi pada Selasa sore.
“Kamu suka sama Farel?” tanya Nadine tanpa basa-basi begitu cangkir minuman mereka diletakkan di meja.
Selvi yang baru saja hendak menyesap minumannya tertegun. Cangkirnya berdenting pelan saat beradu dengan tatakan. “Kenapa kamu tanya gitu, Din?”
“Karena aku pacarnya, Sel,” tekan Nadine. Matanya menatap tajam ke dalam manik mata sahabatnya. “Tapi belakangan ini, aku merasa kamu lebih tahu segalanya tentang Farel dibanding aku.”
Wajah Selvi dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat. Dia menunduk, tidak berani membalas tatapan Nadine. “Aku tahu kamu pacarnya, Din. Aku tahu banget.”
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu makin dekat sama dia? Kenapa kalian punya rahasia yang sengaja disembunyikan dari aku?” Suara Nadine mulai bergetar. “Aku sahabat kamu dari kuliah, Selvi. Tega kamu?”
“Din, demi Tuhan, ini nggak seperti yang kamu bayangkan,” jawab Selvi defensif, jemarinya meremas kain celananya. “Aku nggak ada rasa apa-apa sama Farel secara romantis.”
“Lalu kenapa rahasia itu ada? Jelasin ke aku sekarang!”
Selvi menghembuskan napas berat. Ada pergolakan hebat di wajahnya, tapi akhirnya dia menggeleng pelan. “Aku udah janji sama Farel. Aku nggak bisa jelasin sekarang.”
Nadine tertawa sumbang. Senyuman pahit menghiasi bibirnya. “Hebat ya. Kamu lebih menjaga janji kamu ke pacar aku dibanding menjaga perasaan aku sebagai sahabat kamu.”
Nadine berdiri dari kursinya, meninggalkan lembaran uang kertas di meja, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Malam harinya, Farel menghadang Nadine di parkiran gedung kantor wanita itu. Pria itu tampak berantakan, kemejanya kusut dan matanya merah.
“Selvi cerita kamu nemuin dia tadi sore,” kata Farel begitu Nadine mendekati mobilnya.
“Terus? Kamu mau marahin aku karena udah menginterogasi ‘rekan rahasia’ kamu itu?” balasan Nadine tajam.
“Nadine, stop,” Farel memegang kedua bahu Nadine, memaksa wanita itu menatapnya. “Kamu nggak percaya sama aku? Kita udah jalan dua tahun. Masa kamu mikir aku selingkuh sama sahabat kamu sendiri?”
Nadine menatap Farel dengan tatapan dingin yang belum pernah dia perlihatkan sebelumnya. “Aku percaya sama kamu, Farel.”
Farel mendesah lega. “Kalau gitu—”
“Yang aku nggak percaya adalah apa yang kamu sembunyikan dari aku,” sela Nadine cepat. Dia menepis tangan Farel dari bahunya. “Kepercayaan itu dibangun dari keterbukaan. Kalau kamu menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya bareng Selvi, gimana bisa aku tetap percaya?”
Farel bungkam. Bibirnya terkunci rapat. Ketidakmampuannya untuk memberi jawaban jujur menjadi paku terakhir yang menancap di hati Nadine.
Dua hari kemudian, Riko—teman satu geng Farel—menghubungi Nadine lewat pesan singkat, menanyakan keberadaan Farel karena ada berkas pekerjaan yang perlu ditandatangani. Saat Nadine bilang dia tidak tahu, Riko malah berseru spontan lewat telepon.
“Loh? Bukannya Farel lagi sama Selvi di resto taman daerah Selatan? Tadi gue lewat sana liat mobilnya Farel parkir.”
Hati Nadine mencelos. Tanpa berpikir panjang, dia mengendarai mobilnya menuju lokasi yang disebutkan Riko.
Sesampainya di sana, Nadine tidak langsung masuk. Dia memperhatikan dari balik pilar taman restoran outdoor tersebut. Farel dan Selvi duduk berhadapan di meja paling sudut yang terlindung tanaman hias.
Nadine melihat Selvi menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal kepada Farel. Farel menerima amplop itu, memeluknya sejenak, lalu menatap Selvi dengan raut wajah sangat serius.
Nadine memajukan langkahnya pelan, bersembunyi di balik dinding tanaman yang cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.
“Kamu yakin ini sudah lengkap semua?” tanya Farel dengan suara berbisik.
“Udah, Rel. Semua data dan persyaratannya sudah di dalam,” jawab Selvi. “Tapi ingat, kalau Nadine sampai tahu sekarang, semuanya bisa berantakan. Kamu harus tahan sebentar lagi.”
Nadine merasa dadanya seperti dihantam godam besar. Kata-kata itu terdengar sangat jelas. Kalau Nadine sampai tahu sekarang, semuanya bisa berantakan.
Cukup. Dia tidak sudi lagi menjadi orang bodoh yang dimainkan di belakang.
Nadine melangkah keluar dari balik tanaman persembunyiannya. Langkah kakinya menyapu rumput taman dengan tegas.
“Bagus,” kata Nadine, suaranya dingin menembus udara malam.
Farel dan Selvi mendongak bersamaan. Wajah keduanya seketika pucat pasi. Farel refleks berdiri, hampir menyenggol cangkir di mejanya. “Nadine?!”
Nadine berdiri tegak di ujung meja, menatap mereka berdua secara bergantian dengan mata yang membara oleh emosi.
“Sekarang aku mau dengar langsung dari mulut kalian berdua,” kata Nadine, suaranya tenang tapi bergetar hebat. “Apa hubungan kalian sebenarnya di belakang aku?”
Selvi menunduk dalam-dalam, tidak sanggup menatap mata sahabatnya. Sementara Farel membisu, memegang amplop cokelat itu lebih erat.
“Kalau memang kalian saling suka, bilang sekarang!” tegas Nadine. “Nggak usah pakai acara main belakang dan bikin aku kayak orang bodoh!”
Farel akhirnya menghembuskan napas panjang, menatap Nadine dengan tatapan penuh rasa bersalah dan penyesalan. “Bukan itu masalahnya, Nadine.”
“Lalu apa?!” teriak Nadine, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi.
Farel maju satu langkah, menatap Nadine lekat-lekat. “Karena semua ini… sebenarnya tentang kamu.”
-TBC-