Pacarku Terlalu Dekat dengan Sahabatku - Bab 1

  1. Home
  2. Pacarku Terlalu Dekat dengan Sahabatku
  3. Bab 1 - Kenapa Kamu Lebih Nyaman Dengannya?
Next

Nadine berdiri terpaku di ambang pintu kafe bernuansa kayu di sudut Jakarta Selatan itu. Tangannya yang memegang tali tas bahunya meremas pelan. Di meja sudut dekat jendela, Farel—pria yang sudah dipacarinya selama hampir dua tahun—sedang tertawa lepas.

Tawa yang renyah, bebas, dan tanpa beban. Jenis tawa yang sudah beberapa minggu terakhir ini tidak pernah Nadine lihat dari pacarnya.

Namun, bukan itu yang membuat dada Nadine berdenyut nyeri. Orang yang duduk di hadapan Farel dan membuat pria itu tertawa adalah Selvi. Sahabat dekat Nadine sejak masa kuliah.

“Seru banget?” suara Nadine meluncur sebelum dia sempat menahannya.

Tawa Farel terhenti seketika. Ekspresi wajahnya berubah drastis dari lepas menjadi kaget, bahkan ada kilat ketegangan yang tertutup cepat. “Nadine? Kamu kok nggak bilang mau datang?”

Nadine menyunggingkan senyum tipis, melangkah mendekati meja mereka. “Memangnya aku harus izin kalau mau ketemu pacarku sendiri?”

Selvi tampak serba salah. Dia menggeser cangkir kopinya sedikit dan membetulkan posisi duduk. “Hai, Din. Aku… kita cuma lagi bahas urusan sebentar kok.”

“Urusan apa?” tanya Nadine santai, mengambil kursi kosong di samping Farel.

“Urusan biasa,” potong Farel cepat. Dia mengelus punggung tangan Nadine, tapi gerakannya terasa canggung dan terburu-buru. “Kamu udah makan? Mau dipesankan apa?”

“Aku udah makan,” jawab Nadine pelan. Matanya beralih menatap Selvi, lalu kembali ke Farel.

Suasana yang tadinya hidup mendadak berubah kaku. Percakapan berjalan tersendat-sendat. Nadine mencoba mencairkan suasana dengan membahas rencana liburan akhir pekan mereka, tapi Farel meresponnya sekadar jawaban pendek. Sebaliknya, ketika Selvi menyebutkan nama sebuah tempat kopi baru di kawasan Menteng, Farel langsung paham tanpa perlu penjelasan panjang. Mereka bahkan bertukar tatapan yang seolah menyembunyikan lelucon rahasia.

Nadine merasa seperti orang asing yang tiba-tiba menyusup ke meja orang lain.

Tiga hari kemudian, perasaan ganjal itu semakin membesar.

“Maaf ya, Din. Nanti malam aku nggak bisa ikut makan malam sama keluarga kamu,” kata Farel melalui sambungan telepon sore itu.

Nadine menghentikan jemarinya yang sedang mengetik di papan ketik laptop. “Kenapa, Rel? Kan kita udah rencanakan ini dari minggu lalu. Mama juga udah reservasi tempat.”

“Aku mendadak ada urusan sama Selvi,” jawab Farel dari ujung telepon. Suaranya terdengar datar, berusaha menutupi sesuatu.

Nadine mengepalkan tangannya. Rasa tidak nyaman yang ditahannya bertumpuk-tumpuk mulai merembes keluar. “Urusan apa, sih? Setiap kali aku tanya, jawabannya selalu ‘ada urusan sama Selvi’. Kamu pacar aku atau pacar Selvi?”

“Nadine, jangan mulai deh,” desah Farel, terdengar lelah. “Ini urusan penting. Nanti aku jelasin.”

“Nanti kapan, Farel? Kamu selalu bilang nanti, tapi nggak pernah dijelaskan!”

“Pokoknya bukan sekarang. Percaya sama aku, ya? Tolong jangan rumit.”

Sambungan telepon terputus. Nadine menatap layarnya yang gelap dengan dada sesak. Jangan rumit? Bagaimana bisa dia tidak rumit jika pacarnya sendiri bertindak seolah-olah sahabatnya lebih penting daripada dirinya?

Malamnya, Farel datang ke apartemen Nadine. Pria itu membawa sekotak martabak manis kesukaan Nadine, berusaha membaiki suasana. Nadine memilih diam, mencoba menekan ego dan emosinya. Dia tidak ingin menjadi wanita posesif yang merusak hubungan yang sudah dibangun dua tahun ini.

Saat Farel sedang mandi di kamar mandi tamu, ponsel pria itu yang tergeletak di atas meja ruang tamu bergetar pendek. Layarnya menyala.

Satu notifikasi pesan masuk dari Selvi.

Selvi: Laporan yang tadi sore udah aku rapihin. Pokoknya jangan sampai Nadine tahu dulu ya, Rel.

Nadine membeku. Matanya tertancap pada kalimat pendek di layar kaca itu. Jangan sampai Nadine tahu dulu.

Pintu kamar mandi terbuka. Farel keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Begitu melihat Nadine berdiri kaku di dekat meja, pandangannya langsung tertuju pada ponselnya. Farel berjalan cepat dan menyambar ponsel tersebut.

“Kamu baca?” tanya Farel, suaranya naik satu oktav.

Nadine menatap mata Farel lurus-lurus. Ada getaran hebat di dadanya, gabungan antara marah, kecewa, dan rasa takut yang meluap.

“Apa yang nggak boleh aku tahu, Farel?” tanya Nadine, suaranya bergetar. “Kalian berdua nyembunying apa dari aku?”

Farel mengusapkan tangannya ke wajah, lalu membuang muka. “Nadine, ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?!” pekik Nadine. “Jelaskan sekarang! Biar aku nggak mikir yang aneh-aneh!”

“Aku belum bisa jelaskan sekarang!” bentak Farel.

Jawaban itu memukul ulu hati Nadine. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nadine meraih tasnya. Dia melangkah lebar menuju pintu keluar, merobek keheningan dengan dentuman pintu apartemen yang ditutup kencang.

Langkahnya tergesa-gesa menyusuri lorong apartemen dengan mata merebak air mata. Namun sebelum dia sempat masuk ke dalam lift, ponsel di genggamannya bergetar.

Sebuah pesan singkat masuk dari Selvi.

Selvi: Nadine, aku bisa jelasin semuanya. Tapi tolong, jangan tanya Farel dulu. Biarkan Farel yang tenang dulu.

Nadine menyandarkan punggungnya pada dinding lift yang dingin. Air matanya akhirnya menetes. Kenapa Selvi harus mengatur apa yang harus dia tanyakan pada pacarnya sendiri? Rahasia besar apa yang sebenarnya sedang mereka simpan di belakang punggungnya?

-TBC-

Next
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Segitiga, Free Novel, Mantan Kekasih, Orang Ketiga
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita