Pacarku Terlalu Dekat dengan Sahabatku - Bab 3

  1. Home
  2. Pacarku Terlalu Dekat dengan Sahabatku
  3. Bab 3 - Ternyata Bukan Seperti yang Kukira
Prev
Novel Info

Nadine tertawa kering, mengusap air mata di pipinya secara kasar. “Tentang aku? Jangan jadikan aku alasan atas kebohongan kalian!”

“Nadine, tolong dengarkan Farel dulu kali ini. Tolong,” potong Selvi, akhirnya berani mengangkat wajahnya. Matanya juga sudah berkaca-kaca.

Farel perlahan mengulurkan amplop cokelat tebal itu ke arah Nadine. “Buka.”

Dengan tangan gemetar, Nadine merebut amplop tersebut. Dia menarik keluar tumpukan dokumen di dalamnya. Matanya menyapu lembar demi lembar berkas tersebut.

Itu bukan surat cinta. Bukan bukti perselingkuhan.

Itu adalah berkas kelulusan beasiswa penuh untuk program magister yang selama ini menjadi impian terbesar Nadine, lengkap dengan berkas pelunasan utang usaha almarhum ayah Nadine yang selama beberapa bulan terakhir ini diam-diam menghantuinya.

“Kamu… dari mana dapat ini?” bisik Nadine, suaranya tercekat di tenggorokan.

“Selvi punya kenalan di lembaga donor dan kementerian,” jawab Farel pelan. Dia melangkah mendekati Nadine, kali ini tidak ada lagi yang dia sembunyikan. “Beberapa bulan lalu, kamu cerita ke aku betapa stresnya kamu karena utang usaha almarhum papamu bikin kamu harus lepas mimpi kuliah lagi. Kamu nangis tiap malam, tapi kamu selalu pura-pura kuat di depan orang lain.”

Farel menunjuk berkas-berkas itu. “Aku nggak punya akses dan pengetahuan buat ngurus dokumen pemutihan dan beasiswa itu sendirian. Makanya aku minta bantuan Selvi. Selvi yang paham hukumnya, Selvi yang bantu mediasi sama pihak bank.”

Selvi ikut berdiri. “Aku yang minta Farel buat rahasiain ini dari kamu, Din. Karena kalau proses mediasi utang itu gagal atau beasiswanya nggak tembus, aku nggak mau kamu makin kepikiran dan kecewa. Pesan yang aku kirim ke Farel itu… maksudnya jangan sampai kamu tahu sebelum semua dokumen resminya selesai dan bersih.”

Nadine memegang berkas-berkas itu di dadanya. Dadanya terasa begitu sesak, namun kali ini bukan oleh kecemburuan, melainkan oleh rasa bersalah dan keharuan yang luar biasa.

Namun, Nadine tidak lantas tersenyum. Dia menatap Farel dengan matanya yang masih basah.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari semua ini, Farel?” tanya Nadine pelan.

Farel menatapnya lurus. “Apa, Din?”

“Bukan karena aku pikir kamu selingkuh sama Selvi,” ujar Nadine dengan suara bergetar. “Tapi karena selama berminggu-minggu ini, aku merasa kamu lebih nyaman cerita dan menghabiskan waktu sama Selvi dibanding sama aku. Kamu membiarkan aku merasa tersisih dalam hubungan kita sendiri.”

Farel terdiam paku. Kata-kata Nadine menghantam kesadarannya yang paling dalam. Pria itu menunduk, mengusap tengkuknya dengan penyesalan mendalam.

“Aku memang salah,” aku Farel dengan suara berat. Dia menatap Nadine kembali, matanya berkaca-kaca. “Aku terlalu fokus ingin menyelesaikan masalah kamu, sampai aku lupa kalau dalam prosesnya, aku malah menyakiti kamu. Aku lupa kalau kamu berhak tahu dan jalan bareng aku, bukan cuma menerima hasilnya.”

Farel berlutut satu kaki di tanah, memegang tangan Nadine yang dingin. “Aku minta maaf, Nadine. Aku bodoh karena mikir ini cara terbaik buat membahagiakan kamu.”

Selvi mendekat, memegang bahu Nadine. “Aku juga minta maaf ya, Din. Aku harusnya sadar kalau cara kami ini bikin kamu salah paham dan merasa terasingkan. Aku cuma mau bantu teman, tapi aku malah bikin sahabatku sendiri menderita.”

Nadine menatap kedua orang di hadapannya. Rasa cemburu dan amarah yang membakar dadanya selama berhari-hari perlahan meluruh, berganti dengan kehangatan yang melegakan.

Seminggu kemudian.

Suasana kafe langganan mereka kembali hangat. Angin sore berembus pelan membawa aroma kopi yang menenangkan. Farel duduk di sebelah Nadine, jemari mereka saling bertaut erat di atas meja.

“Jadi,” Farel memiringkan kepalanya, menatap Nadine dengan senyuman lembut. “Aku udah minta maaf, udah jelasin semuanya, dan udah janji nggak bakal ada rahasia sekecil apa pun lagi. Berarti kita mulai lagi dari awal?”

Nadine berpura-pura menaikkan sebelah alisnya. “Dengan satu syarat.”

“Apa syaratnya? Apapun aku kabulin.”

“Kalau ada masalah atau rencana apa pun, bilang. Jangan sok jadi pahlawan kesiangan yang jalan sendiri di balik punggung aku,” tegas Nadine.

Farel tersenyum lebar, mencium punggung tangan Nadine dengan penuh kasih. “Janji. Nggak akan pernah lagi.”

Dari seberang meja, Selvi yang baru kembali dari toilet menghela napas lega sambil menarik kursinya. “Duh, akhirnya atmosfer racun di antara kalian udah hilang. Lega banget aku.”

Nadine menoleh, menatap Selvi dengan pandangan menelisik yang dibuat-buat.

Selvi langsung duduk tegak, tubuhnya mendadak kaku. “Kenapa kamu lihat-lihat aku kayak gitu, Din?”

“Dan kamu,” kata Nadine, menunjuk Selvi dengan sedotan plastiknya.

“Apa lagi?” tanya Selvi panik.

“Jangan pernah lagi bikin aku berpikir kamu mau merebut pacarku,” ujar Nadine dengan nada serius, sebelum akhirnya bibirnya melengkungkan senyuman jahil.

Selvi tertegun sejenak, lalu tertawa lepas. “Nggak akan! Lagian Farel rewel banget kalau lagi pusing, aku nggak sudi punya pacar kayak dia!”

“Heh!” Farel mendelik bercanda.

Tawa ketiganya pecah mengudara, menyapu bersih seluruh sisa-sisa kesalahpahaman yang sempat meretakkan hubungan mereka.

Nadine menggenggam tangan Farel lebih erat di bawah meja, lalu tersenyum menatap sahabatnya. Dia belajar satu hal penting minggu ini: dalam sebuah hubungan, bahaya terbesar sering kali bukan datang dari kehadiran orang ketiga, melainkan dari rahasia dan komunikasi yang terputus—yang perlahan membuat dua hati saling meragukan.

-SELESAI-

Prev
Novel Info
Tags:
Cinta Perlahan, Cinta Segitiga, Free Novel, Mantan Kekasih, Orang Ketiga
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita