Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku - Bab 6
Dua bulan berlalu dalam sunyi yang amat panjang.
Selama dua bulan itu, aku belajar hidup dengan rasa bersalah yang mengendap di dasar dada. Tidak ada lagi pesan manis, tidak ada lagi deru mesin mobil Dimas, dan tidak ada lagi gelak tawa Naya. Namun, berbeda dengan dua bulan lalu, aku tidak lagi melarikan diri atau membiarkan pikiran liar menguasai kepalaku. Aku memilih bertumbuh, merapikan kekacauan dalam diriku, dan belajar memproses emosi dengan dewasa.
Sore itu, gerimis tipis membasahi kawasan bangunan komersial di sudut kota. Aku berdiri di depan sebuah ruko dua lantai yang pintunya setengah terbuka. Tempat ini adalah lokasi proyek studio desain yang ada di draf kertas kalkir milik Dimas.
Aku melangkah masuk perlahan. Suara langkah kakiku bergema ringan di dalam ruangan beraroma cat dan semen kering.
Di sudut ruangan dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan, seorang pria berjaket kulit hitam sedang berdiri membungkuk di atas meja lipat. Pria itu sibuk menatap lembaran draf, memegang meteran roll di tangan kanannya.
“Dimas,” panggilku pelan.
Pria itu tersentak kaget. Dia berbalik cepat. Garis rahangnya masih selurus dulu, tetapi raut wajahnya tampak jauh lebih tenang meski menyisakan kelelahan.
“Alya?” gumam Dimas. Matanya membelalak pelan, tak mengira akan melihatku berdiri di sana. “Kamu… kok bisa tahu aku di sini?”
“Naya yang kasih tahu,” jawabku jujur, melangkah dua pijakan lebih dekat namun tetap menjaga jarak yang sopan. “Tapi aku nggak minta dia buat bujuk kamu. Aku cuma minta izin buat datang ke sini.”
Dimas meletakkan meteran di atas meja, mengusap leher belakangnya canggung. “Tempat ini belum selesai. Masih banyak bahan bangunan yang berserakan.”
“Tempat ini bagus banget, Dim,” ucapku tulus, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang penuh pencahayaan alami—persis seperti impian yang pernah kuceritakan padanya dulu. “Kamu merancangnya dengan sangat detail.”
Dimas terdiam sejenak. Sorot matanya meredup saat menatapku. “Proyek ini sempat mau dibatalkan pemilik lahan bulan lalu, tapi akhirnya bisa dilanjutkan lagi. Aku cuma mau selesaikan apa yang sudah aku mulai.”
“Aku tahu,” bisikku. Aku menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam matanya tanpa rasa takut atau ragu seperti dulu. “Dim, aku datang ke sini bukan buat menuntut jawaban. Aku juga nggak datang buat memohon-mohon supaya kita balikan hari ini.”
Dimas mengernyitkan alisnya, tampak heran. “Lalu?”
“Aku datang karena kali ini aku mau mendengarkan,” jawabku tegas namun lembut. “Dua bulan lalu aku menghancurkan kita karena aku terlalu takut dan terlalu gengsi buat mendengarkan. Hari ini, aku cuma mau dengar semua hal yang belum sempat kamu jelasin. Tanpa menyela, tanpa memotong, dan tanpa tuduhan apa pun.”
Dimas menatapku lama. Keheningan menyergap ruangan yang beraroma semen itu, hanya diselingi suara rinai hujan di luar.
“Kenapa baru sekarang, Alya?” suara Dimas terdengar serak. “Kenapa waktu aku minta kamu percaya dua bulan lalu, kamu justru milih pergi?”
“Karena aku pengecut, Dim,” aku mengakui kesalahanku tanpa membela diri. “Aku terlalu fokus sama rasa tidak percaya diri aku sendiri dibanding melihat ketulusan kamu. Aku merasa Naya jauh lebih sempurna, dan aku takut kamu bakal sadar kalau aku bukan orang yang tepat buat kamu.”
Dimas mengembaskan napas berat, bersedekap di depan meja lipatnya. “Aku nggak pernah membandingkan kamu sama Naya atau siapa pun, Alya. Naya itu sahabat kamu. Waktu dia kena krisis hukum soal lahan almarhum ayahnya, dia datang ke aku karena aku punya kenalan pengacara properti. Dia minta tolong sambil menangis, tapi dia juga mohon supaya aku nggak cerita ke kamu.”
“Kenapa Naya nggak mau aku tahu?” tanyaku pelan.
“Karena Naya tahu kamu lagi stres berat ngejar target portofolio buat pameran desain,” jelas Dimas dengan suara yang mulai melunak. “Naya nggak mau beban pikirannya merusak fokus kamu. Dan aku setuju sama Naya.”
“Dan soal kesalahan kamu sebut nama aku?”
Dimas tersenyum pahit, menunduk menatap jemarinya. “Waktu itu jadwal aku gila-gilaan. Pagi sampai sore aku di kantor arsitek, malam aku ngurusin dokumen hukum Naya, dan tengah malam aku lembur merancang desain studio ini buat kejutan ulang tahun kamu. Kepala aku benar-benar mau pecah, Alya. Nama Naya sering keluar dari mulut aku murni karena siang malam aku mengurus berkas kasus keluarganya.”
Aku mengangguk lambat. Dada rasanya teremas pelan, namun ada rasa lega luar biasa yang akhirnya mengalir membasahi jiwa.
“Pesan rahasia waktu itu…” sambungku lirih.
“Pemilik lahan studio ini tiba-tiba mau menaikkan harga sewa dua kali lipat secara sepihak,” lanjut Dimas, menatap mataku. “Aku panik setengah mati karena modal uang yang aku kumpulkan dari proyek sampingan belum cukup. Aku kirim pesan ke Naya bilang *’Jangan bilang Alya dulu’* karena aku nggak mau kamu kecewa kalau kejutan studio impian kamu ini batal terwujud.”
Air mata menetas pelan di pipiku, namun kali ini bukan air mata kekecewaan, melainkan air mata penyesalan dan rasa terima kasih.
“Maafkan aku, Dimas,” ucapku tulus dari dasar hati terdalam. “Maaf karena rasa takut aku udah menghancurkan kerja keras dan ketulusan kamu.”
Dimas memandangi wajahku yang kini tampak lebih tenang dan dewasa. Tidak ada lagi lontaran tuduhan, tidak ada lagi teriakan emosional.
“Aku udah maafin kamu dari awal, Alya,” kata Dimas pelan.
“Tapi kamu belum bisa percaya sama aku lagi, kan?” tanyaku lembut.
Dimas menghela napas, menyandarkan tubuhnya di tepi meja. “Rasa percaya yang hancur butuh waktu buat sembuh, Alya. Aku butuh melihat kalau kamu benar-benar udah bisa mengendalikan prasangka kamu sendiri.”
“Aku paham,” jawabku tersenyum tipis. Aku melangkah mendekati meja, meletakkan sebuah kotak kecil berisi gelang perak pemberiannya dulu yang pernah kutinggalkan di balkon. “Aku kembalikan ini bukan buat memutus hubungan, tapi buat disimpan. Sampai suatu hari nanti, kalau kamu merasa aku sudah pantas buat pakai gelang ini lagi.”
Dimas menatap kotak kecil itu, lalu beralih menatapku dengan tatapan yang amat dalam. Guratan kehangatan yang dulu pernah hilang perlahan mulai terpancar kembali dari matanya.
“Kamu benar-benar berubah, Ya,” bisik Dimas tertegun.
“Aku harus berubah, Dim,” balas pelan. “Bukan cuma buat kamu, tapi buat diri aku sendiri. Supaya aku nggak kehilangan orang-orang yang aku sayangi lagi hanya karena ketakutan konyolku.”
Aku berbalik hendak melangkah menuju pintu keluar, memberikan ruang yang dijanjikan tanpa memaksakan kehendak.
“Alya,” panggil Dimas tepat ketika langkahku mencapai ambang pintu.
Aku menoleh kembali padanya. “Ya?”
Dimas menatap draf studio di mejanya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus pertama yang kulihat dari wajahnya setelah sekian lama.
“Studio ini bakal selesai dikerjakan dua minggu lagi,” ucap Dimas pelan. “Kamu… mau datang buat potong pita pembukaannya?”
Dada rasanya membuncah hangat. Aku tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca.
“Aku pasti datang, Dimas,” jawabku mantap. “Aku pasti datang.”
-BERSAMBUNG-