Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku - Bab 7

  1. Home
  2. Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku
  3. Bab 7 - Awal yang Baru (TAMAT)
Prev
Novel Info

Tiga bulan setelah sore gerimis di studio itu, langit Jakarta tampak cerah berawan.

Di atas pintu kaca ruko dua lantai di kawasan strategis kota, sebuah papan nama minimalis berbahan kayu dan besi hitam telah terpasang rapi. Tulisan bertinta emas terpampang tegas di sana: **ALYA DESIGN STUDIO**.

Suara gemerincing bel pintu berbunyi halus ketika aku mendorong pintu kaca masuk ke dalam ruangan. Aroma cat baru dan kayu jati menyeruak hangat. Ruangan berkonsep pencahayaan alami itu kini telah diisi meja-meja kerja kayu ergonomis, perangkat komputer grafis mutakhir, serta papan pajangan portofolio di sepanjang dinding utama.

“Mbak Alya, ini bunga dari klien pameran minggu lalu baru sampai,” panggil Rian, asisten junior yang baru kurekrut seminggu lalu, sambil meletakkan vas berisi bunga lili putih di meja resepsionis.

Aku tersenyum manis padanya. “Makasih ya, Rian. Tolong taruh di dekat jendela depan aja biar makin segar.”

“Siap, Mbak!”

Aku melangkah menuju sudut ruangan favoritku—meja kerja utama berhadapan langsung dengan jendela kaca besar yang menghadap ke taman kecil di samping gedung. Di atas meja kerja itu, sebuah sketsa kasar bangunan studio yang digambar tangan oleh Dimas terpajang rapi di dalam bingkai kayu.

*Bip. Bip.*

Ponselku yang tergeletak di atas meja berdering pendek. Sebuah pesan masuk dari Naya.

*Naya: Ya, aku udah di jalan bareng Mama. Berkas pembatalan gugatan toko almarhum Ayah akhirnya beres total hari ini! Makasih ya udah nemenin aku kemarin.*

Jemariku menari lincah membalas pesan itu.

*Alya: Alhamdulillah! Aku ikut senang banget, Nay. Nanti sore jadi syukuran kecil-kecilan di studio, kan? Makanan udah aku pesan semua.*

*Naya: Jadi dong! Aku nggak bakal melewatkan syukuran studio impian kamu. See you soon, sahabatku!*

Aku menatap layar ponselku dengan dada dipenuhi rasa hangat. Tiga bulan bukan waktu yang singkat, tetapi kami bertiga telah belajar banyak. Hubunganku dan Naya telah pulih sepenuhnya, dibangun di atas fondasi kejujuran dan saling menghargai batasan. Naya berhasil mempertahankan toko peninggalan ayahnya, sementara aku belajar untuk tidak lagi memelihara rasa tidak percaya diri yang merusak.

Suara langkah kaki yang amat kukenal mendadak berdering santai di atas lantai parket kayu.

Aku mendongak.

Dimas berdiri di sana. Pria itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga siku dan celana bahan gelap. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kado kecil berikat pita biru tua.

“Awal hari yang sibuk?” sapa Dimas dengan suara baritonnya yang hangat.

“Lumayan,” jawabku sambil berdiri dari kursi kerja. “Lagi ngecek draf desain buat proyek brosur pameran besok. Kamu kok udah sampai? Bukannya jadwal kamu di studio arsitek sampai jam lima?”

Dimas melangkah mendekati mejaku, tersenyum tipis. “Aku minta izin keluar lebih awal sama bos. Nggak mungkin aku terlambat datang ke acara syukuran studio yang aku rancang sendiri, kan?”

Aku terkekeh pelan. “Alasan yang sangat masuk akal.”

Dimas memandangi sekeliling ruangan dengan raut bangga yang tak bisa disembunyikan dari matanya. “Tempat ini kelihatan jauh lebih hidup setelah kamu isi sama karya-karya kamu, Alya.”

“Ini semua bisa terwujud karena kamu, Dim,” bisikku tulus, menatap matanya lurus. “Terima kasih banyak ya… buat semuanya.”

Dimas meletakkan kotak kado kecil itu di atas mejaku. “Bukan cuma karena aku. Ini terwujud karena kamu berani memperjuangkannya, dan kamu mau berubah.”

Mataku tertuju pada kotak kecil berpita biru itu. “Ini apa?”

“Buka aja,” jawab Dimas pelan.

Dengan tangan yang tenang tanpa getaran ketakutan seperti dulu, aku melepas ikatan pita biru itu dan membuka tutup kotaknya.

Di dalam balutan kain beludru hitam, terbaring sebuah gelang perak sederhana. Gelang yang sama yang pernah kutinggalkan di balkon dua bulan lalu—hadiah ulang tahunku yang dulu sempat kulepas karena dibutakan emosi.

Namun kali ini, ada yang berbeda. Di bagian dalam lingkar gelang perak itu, terukir sebuah tulisan kecil bertinta rapi: ***Trust & Tomorrow***.

Aku menatap ukiran itu dengan mata berkaca-kaca, lalu beralih menatap Dimas.

“Dimas…”

Dimas meraih gelang perak itu dari dalam kotak, lalu menatapku dengan lembut. “Dua bulan lalu kamu kembalikan gelang ini karena kamu merasa belum pantas. Dan aku bilang, aku butuh waktu buat melihat perubahan kamu.”

Aku menahan napas pelan, menunggu kalimat selanjutnya.

“Selama beberapa bulan terakhir ini, aku lihat sendiri gimana kamu menghadapi masalah dengan dewasa,” lanjut Dimas pelan namun mantap. “Kamu nggak lagi lari, kamu mau mendengarkan, dan kamu belajar memercayai aku sepenuhnya.”

Dimas mengulurkan tangannya, meminta izin. “Boleh aku pakaikan lagi?”

Aku tersenyum lebar dengan air mata kebahagiaan yang mengalir di pipi. Aku mengangguk dan mengulurkan pergelangan tangan kiriku padanya. “Boleh. Boleh banget, Dim.”

Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, Dimas melingkarkan gelang perak itu di pergelangan tanganku, menyatukan pengaitnya hingga terdengar bunyi *klik* yang halus. Sentuhan jemarinya yang hangat menjalar hingga ke dadaku, menghapus seluruh sisa-sisa trauma dan rasa sakit masa lalu.

“Pas banget,” bisikku sambil mengusap permukaan gelang perak itu.

“Gelang itu memang cuma punya satu pemilik dari awal, Alya,” kata Dimas pelan, lalu meraih jemari tanganku dan menggenggamnya erat.

Aku menatap genggaman tangan kami. Tidak ada lagi rasa curiga, tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan menjadi yang kedua, dan tidak ada lagi rahasia yang menyiksa di antara kami.

“Aku nggak datang buat minta kamu kembali ke masa lalu kita,” ucapku lembut, menatap lurus ke dalam manik mata hitam milik Dimas.

Dimas mengernyitkan alisnya tipis, tersenyum menggoda. “Lalu?”

“Aku datang karena kali ini aku mau membangun hubungan yang baru sama kamu,” jawabku mantap. “Hubungan tanpa rahasia, tanpa prasangka, dan dibangun di atas rasa percaya yang utuh.”

Dimas terkekeh rendah, senyuman hangatnya mengembang sempurna di wajah tegasnya. Pria itu menarik tubuhku perlahan ke dalam pelukannya. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang berirama teratur—sebuah nada tenang yang selama ini merindukanku.

“Aku juga mau membangun hal itu sama kamu, Alya,” bisik Dimas di atas rambutku, mengusap punggungku lembut. “Terima kasih sudah mau mendengarkan sampai selesai.”

“Terima kasih sudah bertahan buat aku, Dimas.”

*Bip! Bip!*

Suara klakson mobil menyapa dari luar gedung, disusul suara tawa ceria Naya yang menerobos masuk bersama ibunya sambil membawa karangan bunga besar.

“Permisi! Pemilik studio impian ada di dalam?!” seru Naya dari pintu depan, tertawa lebar melihat kami berdua yang sedang berpelukan.

Dimas melepaskan pelukannya perlahan, namun jemari tangannya tetap bertaut erat dengan jemariku. Kami berdua menoleh ke arah pintu depan, menyambut sahabat terbaik kami dengan senyuman paling bahagia.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menatap masa depan di depan mata tanpa ada rasa takut sedikit pun. Karena aku tahu, selama ada komunikasi dan rasa percaya, tidak ada lagi nama yang bisa memisahkan kami.

-TAMAT-

Prev
Novel Info
Tags:
Cinta Segitiga, Free Novel, Orang Ketiga, Pengkhianatan, Perselingkuhan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita