Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku - Bab 5
Matahari baru saja terbenam ketika aku menghentikan langkahku di depan pagar besi rumah Dimas. Jalanan perumahan yang sepi itu terasa menekan. Di tanganku, map cokelat berisi berkas sewa dan draf rancangan studio impianku tergenggam sangat erat, hingga ujung-ujung kertasnya agak remuk oleh remasan jemariku yang gemetar.
Setiap lembar gambar rancangan itu masih terbayang jelas di benakku. Catatan tangan Dimas, tulisan tegasnya, serta pengorbanannya yang luar biasa untuk mewujudkan mimpiku. Dan aku—dengan segala prasangka serta kecemburuan buta—telah melemparkan tuduhan keji dan memutuskannya secara sepihak.
Lampu teras rumah Dimas menyala. Pria itu keluar mengenakan kaos polos abu-abu dan celana kain santai. Wajahnya terlihat begitu lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan dia pun tidak tidur nyenyak selama beberapa hari terakhir.
Dimas menghentikan langkahnya saat melihatku berdiri di balik pagar.
“Alya?” suaranya terdengar datar, hampir tanpa emosi.
“Dim…” suaraku tercekat di tenggorokan. Air mata yang sudah kukuras sepanjang hari kembali menumpuk di pelupuk mata. “Boleh… boleh aku masuk?”
Dimas tidak langsung menjawab. Dia menatapku lurus selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya menghela napas panjang dan membukakan pintu pagar tanpa bersuara.
Aku mengikutinya melangkah ke teras. Kami duduk di dua kursi kayu yang terpisah meja kecil—jarak yang dulu tak pernah ada di antara kami, kini terasa bagai jurang yang tak menentu dalamnya.
“Ada apa, Alya?” tanya Dimas pelan. Matanya enggan menatap langsung ke arahku, memilih menatap lurus ke arah jalanan malam. “Bukannya semuanya udah selesai kemarin?”
Aku meletakkan map cokelat itu perlahan di atas meja di antara kami.
“Naya udah datang ke rumahku tadi siang,” bisikku dengan suara bergetar parau. “Dia… dia membawa ini semua, Dim.”
Dimas membeku seketika. Pandangannya perlahan bergulir menatap map cokelat yang sudah terbuka itu. Raut terkejut sempat melintas di wajahnya, namun dengan cepat berganti menjadi tatapan dingin dan lelah.
“Naya seharusnya nggak perlu bawa itu ke kamu,” kata Dimas pelan, hampir bisik. “Itu udah nggak penting lagi.”
“Nggak penting?” aku membelalakkan mata, air mataku akhirnya menetas jatuh. “Gimana bisa kamu bilang ini nggak penting, Dimas?! Kamu kerja keras tiap malam, kamu ambil proyek sampingan, kamu berjuang ngurusin sewa lahan ini cuma buat aku… dan aku malah tuduh kamu berselingkuh!”
“Aku yang salah,” potong Dimas cepat. Suaranya datar tanpa intonasi. “Harusnya aku sadar kalau batasan komunikasi itu penting. Harusnya aku nggak bikin kamu merasa asing.”
“Nggak, Dim! Aku yang salah!” teriakku pelan, memukul dadaku sendiri yang terasa amat sesak. “Aku yang terlalu *overthinking*! Aku nggak pernah mau dengerin penjelasan kamu! Aku langsung ambil kesimpulan sendiri dan tuduh kamu yang enggak-enggak!”
Dimas menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan.
“Aku minta maaf, Dim… Tolong maafin aku…” tangisku pecah, menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. “Aku benar-benar penyesal. Tolong… kasih aku kesempatan buat perbaiki ini semua.”
Keheningan kembali menyergap teras itu. Hanya terdengar suara isak tangisku yang terputus-putus di tengah malam yang dingin. Aku berharap Dimas akan mengulurkan tangannya, mengusap rambutku seperti yang biasa dia lakukan, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, Dimas tetap bergeming.
Ketika dia akhirnya mendongak, matanya yang biasa hangat kini terlihat begitu redup dan hampa.
“Alya,” panggil Dimas dengan suara yang sangat tenang—begitu tenang hingga rasanya justru menakutkan. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari kejadian kemarin?”
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca, menggeleng pelan.
“Bukan soal kamu yang tuduh aku sama Naya,” lanjut Dimas pelan. “Tapi kenyataan bahwa setelah tiga tahun kita jalan bareng… kamu sama sekali nggak punya rasa percaya sama aku.”
Kalimat itu menancap tepat di dadaku, lebih menyakitkan daripada bentakan mana pun.
“Aku percaya sama kamu, Dim…” bisikku memohon.
“Nggak, Alya. Kamu nggak pernah percaya,” bisik Dimas balik, menggelengkan kepalanya lambat. “Satu kali aja ada hal yang nggak sesuai di pikiran kamu, kamu langsung memvonis aku sebagai pengkhianat. Kamu bahkan nggak kasih aku kesempatan satu detik pun buat menjelaskan.”
“Karena aku takut!” jeritku lirih. “Aku takut kehilangan kamu, Dimas! Aku takut aku nggak cukup bagus buat kamu dibanding Naya!”
“Dan rasa takut kamu itu menghancurkan kita,” balas Dimas tegas, matanya menatapku lurus. “Aku capek, Alya. Selama tiga tahun ini aku selalu berusaha jadi yang terbaik buat kamu. Aku merancang masa depan kita, aku kerja keras siang malam… tapi ternyata di mata kamu, aku cuma pria jahat yang gampang berpaling ke wanita lain.”
“Dimas, tolong… jangan omong begitu…” aku meraih jemari tangannya di atas meja, namun Dimas menarik tangannya perlahan. Melepaskan peganganku.
Sentuhan yang terlepas itu terasa seperti vonis mati bagiku.
“Aku butuh waktu, Alya,” kata Dimas pelan, berdiri dari kursinya. “Aku butuh waktu buat menyembuhkan rasa kecewa aku sendiri.”
“Maksud kamu… kita nggak bisa balik lagi?” tanyaku dengan napas yang memburu ketakutan.
Dimas menatapku dengan raut penuh keputusasaan. “Kepercayaan yang udah hancur nggak bisa ditempel lagi cuma dalam waktu semalam pakai kata maaf. Kalau kita paksa balik sekarang, kamu bakal tetap curigaan, dan aku bakal terus merasa tertuduh.”
“Aku bakal berubah, Dim! Aku janji!” aku ikut berdiri, memegang lengan bajunya dengan tatapan memohon yang sangat amat. “Tolong, jangan menyerah sama hubungan kita…”
Dimas memegang jemariku yang ada di lengannya, lalu melepaskannya perlahan dengan sangat hati-hati.
“Aku nggak menyerah,” bisik Dimas serak. “Tapi saat ini… aku nggak bisa bareng kamu dulu. Aku butuh menata diri aku sendiri.”
“Dimas…”
“Pulanglah, Alya. Hari udah malam,” ucap Dimas datar, lalu berbalik dan berjalan melangkah menuju pintu rumahnya.
“Dimas, tolong!” panggilku keras.
Langkah Dimas terhenti sejenak di depan pintu. Tanpa berbalik memandangkan wajahnya padaku, dia berkata pelan:
“Terima kasih sudah datang dan minta maaf. Tapi tolong… kasih aku waktu dan ruang.”
*Klek.*
Pintu rumah itu tertutup rapat, menyisakan suara kunci yang diputar dari dalam.
Aku berdiri sendirian di bawah pendar lampu teras yang temaram, memeluk map cokelat berisi impian kami yang kini terancam sirna selamanya. Malam itu aku sadar, rahasia utama telah terbongkar dan kebenaran telah terungkap. Namun harga yang harus kubayar atas prasangkaku sendiri adalah kehilangan pria yang paling mencintaiku di dunia ini.
-BERSAMBUNG-