Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku - Bab 4
Tiga hari berlalu sejak sore yang menyedihkan di balkon studio arsitektur itu.
Tiga hari yang terasa seperti ribuan tahun. Rumah terasa begitu hening, menyisakan gema langkah kakiku sendiri yang monoton. Tidak ada lagi pesan singkat saban pagi dari Dimas, tidak ada lagi deru mesin mobil yang berhenti di pekarangan, dan tidak ada lagi sapaan ceria dari Naya di grup percakapan kami.
Aku mengurung diri di kamar, menatap layar monitor laptop yang menyala kusam. Draf pekerjaan desain grafis milik klien sama sekali tidak tersentuh. Jemariku kaku di atas papan ketik, sementara mataku berkali-kali melirik ponsel yang tergeletak bisu di samping cangkir kopi dingin.
Ponsel itu tidak pernah berdering lagi. Dimas benar-benar menepati ucapannya untuk tidak menahanku.
“Kamu gila, Alya,” bisikku pada diri sendiri, memeluk kedua lutut yang kutarik ke atas kursi. “Ini kan yang kamu mau? Kenapa sekarang rasanya sesak banget?”
Penyesalan itu datang tanpa diundang, menggerogoti perlahan dari dalam. Tapi rasa gengsi dan sakit hati yang masih membakar membuatku menolak untuk melangkah mundur.
*Bip. Bip.*
Suara bel pintu rumah berbunyi nyaring, memutus sunyi yang menyiksa.
Jantungku mendadak berdegup kencang. Mungkinkah itu Dimas? Mungkinkah dia berubah pikiran dan datang untuk menjelaskan semuanya?
Dengan napas memburu, aku berhambur keluar kamar, setengah berlari menuruni tangga menuju pintu depan. Aku menarik napas dalam-dalam, mengusap wajahku yang sembap, lalu membuka pintu kayu itu lebar-lebar.
“Dimas—”
Kalimatku terhenti di udara.
Bukan Dimas yang berdiri di balik pintu.
Naya berdiri di sana. Dia mengenakan pakaian kerja serba hitam, wajahnya tampak kusam dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Di tangan kanan Naya, terikat sebuah map kertas tebal berwarna cokelat.
Melihat sosoknya, rasa defensif dalam diriku mendadak terpancing kembali.
“Mau apa kamu ke sini?” suaraku menajam, melangkah mundur satu pijakan. “Aku kan udah bilang, jangan pernah temui aku lagi.”
Naya tidak membalas ketus. Dia menatapku lurus, matanya yang biasa berbinar kini terlihat begitu redup dan penuh kekecewaan yang tak tersampaikan.
“Aku nggak datang buat minta maaf atau mengemis persahabatan kamu lagi, Alya,” suara Naya terdengar begitu serak dan datar. “Aku cuma datang buat menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan.”
“Nggak ada yang perlu diselesaikan!” kataku keras, hendak menutup pintu. “Hubungan aku sama Dimas udah selesai, dan hubungan kita juga udah selesai!”
Naya menahan daun pintu menggunakan telapak tangannya. Tangannya gemetar, namun tekanannya begitu kuat hingga pintu kayu itu tak bergeming.
“Kamu boleh benci sama aku, Alya,” ucap Naya dengan nada mengancam yang dingin. “Kamu boleh caci maki aku sesuka hati kamu. Tapi kamu nggak punya hak buat menghancurkan hidup Dimas setelah apa yang udah dia lakuin buat kamu!”
Aku terpaku. “Maksud kamu apa?”
Tanpa menjawab, Naya menerobos masuk ke dalam rumah. Dia berjalan menuju meja kaca di ruang tamu, lalu meletakkan map tebal berwarna cokelat itu di sana dengan suara benturan yang cukup keras.
“Buka,” kata Naya singkat sambil bersedekap.
“Aku nggak sudi buka barang dari kamu,” jawabku dingin, berdiri berkacak pinggang di depan pintu yang masih terbuka.
Naya tertawa sumbang. Sebuah tawa yang dipenuhi rasa pahit luar biasa.
“Kamu selalu begitu, kan?” Naya menatapku tajam. “Kamu selalu merasa paling tersakiti. Kamu selalu bikin kesimpulan sendiri di dalam kepala kamu yang penuh *overthinking* itu, tanpa pernah mau memberi kesempatan orang lain buat bicara!”
“Naya! Menjauh dari meja aku!” gertakku.
“Buka berkas itu, Alya!” teriak Naya meluapkan emosinya, membuatku tersentak kaget. Ini pertama kalinya dalam sepuluh tahun berteman aku melihat Naya seberang ini padaku. “Buka dan baca tiap lembarnya! Biar kamu tahu seberapa jahatnya kamu sama pria yang paling mencintai kamu di dunia ini!”
Napas Naya memburu, dadanya kembang kempis. Air mata mendadak mengalir deras membasahi pipinya yang tirus.
“Kenapa kamu nangis?” suaraku pelan, mendadak diliputi rasa ragu dan ketakutan yang aneh. “Kamu yang khianati aku, Naya. Kenapa kamu yang berlagak jadi korban di sini?”
“Khianati kamu?” Naya mengusap air matanya kasar menggunakan lengan bajunya. “Tuhan tahu, Alya… Nggak pernah sekali pun terlintas di otakku buat khianati kamu. Dimas itu udah aku anggap seperti saudaraku sendiri karena dia pacar sahabat terbaikku!”
“Lalu pesan-pesan rahasia itu apa?!” cecarku, menunjuk wajah Naya. “Kenapa kalian sering ketemu tanpa pengetahuan aku?! Kenapa Dimas selalu sebut nama kamu?!”
“Karena kami sedang ngurusin berkas itu!” bentak Naya, menunjuk map cokelat di meja. “Keluargaku lagi kena krisis hukum dan masalah finansial besar soal hak guna lahan toko milik almarhum ayahku! Aku nggak mau bebanin kamu karena aku tahu kamu lagi berjuang sama kerjaan kamu. Tapi Dimas tahu! Dimas nawarin bantuan koneksi hukum dari temen-temen arsiteknya buat menyelamatkan aset keluargaku secara diam-diam!”
Dada rasanya seperti dihantam batu besar. Suaraku mendadak tercekat. “M-masalah hukum… keluarga kamu?”
“Iya!” Naya menyeka air matanya lagi. “Dan kamu tahu kenapa nama kamu selalu ada di antara obrolan kami? Kenapa Dimas ketakutan setengah mati waktu kamu lihat pesan itu?”
Aku membisu. Kakiku terasa lemas, hampir tak sanggup menopang berat tubuhku sendiri.
“Buka map itu, Alya. Buka sendiri pakai tangan kamu,” bisik Naya dengan suara yang kembali mendingin. “Lihat sendiri apa yang selama beberapa bulan ini dikerjakan Dimas di saat kamu tuduh dia berselingkuh di belakang kamu.”
Dengan jemari yang gemetar hebat, aku melangkah pelan mendekati meja kaca. Tanganku terulur ragu, menyentuh permukaan map cokelat yang terasa kaku.
Aku membuka tali pengikatnya, lalu menarik keluar tumpukan dokumen kertas tebal di dalamnya.
Di lembar pertama, terpampang surat perjanjian sewa lahan jangka panjang atas nama sebuah lokasi strategis di pusat kota. Di bawahnya, terdapat nama penyewa: **Dimas Satria**.
Namun, bukan itu yang membuat napasku terhenti total.
Di lembar-lembar berikutnya, terdapat puluhan lembar kertas kalkir berisi cetakan draf arsitektur. Gambar rancangan sebuah bangunan studio desain yang sangat megah namun hangat. Lengkap dengan ruang kerja berkonsep pencahayaan alami, sudut pameran karya, serta ruangan santai yang sangat indah.
Di pojok kanan bawah setiap lembar draf arsitektur itu, tertera sebuah tulisan tangan bergaris tegas milik Dimas:
***PROYEK: STUDIO DESAIN GRAFIS ALYA***
*Catatan Dimas: Kejutan ulang tahun Alya ke-25. Tempat impian Alya untuk punya studio sendiri.*
“Dimas kerja lembur tiap malam bukan cuma buat kantornya,” suara Naya terdengar pelan di belakangku, memecah kesunyian yang mencekam. “Dia ambil proyek sampingan bareng temen-temennya, dia bolak-balik ngurusin sewa tempat sama aku, cuma buat ngumpulin modal dan merancang tempat ini buat kamu.”
Aku menutupi mulutku dengan kedua tangan. Air mata pecah, menetes deras membasahi draf kertas kalkir di pangkuanku.
“Dia selalu salah sebut nama kamu jadi namaku karena pikiran dia terbagi dua, Alya,” lanjut Naya dengan nada penuh penyesalan. “Dia mikirin proyek studio kamu yang dikejar *deadline* ulang tahun kamu, dan di saat bersamaan dia harus bantu ngurus berkas hukum keluargaku yang rumit. Kepala dia mau pecah!”
“N-Naya…” suaraku tercekat, tangisku semakin menjadi-jadi. “Kenapa… kenapa dia nggak pernah cerita sama aku?”
“Karena dia tahu kamu gampang cemas!” teriak Naya pelan, suaranya bergetar menahan tangis. “Dia mau kasih ini sebagai kejutan murni. Dia nggak mau kamu merasa beban atau merasa bersalah karena dia berkorban sejauh ini buat wujudin mimpi kamu!”
Naya melangkah menuju pintu keluar. Sebelum melangkah pergi, dia menghentikan posisinya di ambang pintu tanpa berbalik menatapku.
“Pesan Dimas yang kamu baca waktu itu… *’Jangan bilang Alya dulu’*, itu karena tempat sewa studio kamu sempat mau dibatalkan pemilik lahan dan Dimas lagi berjuang keras buat mempertahankan tempat itu,” kata Naya lirih. “Dia belum siap cerita ke kamu karena takut bikin kamu kecewa kalau studionya gagal.”
Naya memegang gagang pintu, lalu menoleh sedikit padaku yang sudah terduduk lemas di lantai sambil memeluk berkas-berkas tersebut.
“Kamu udah hancurin orang yang paling memperjuangkan kamu, Alya,” bisik Naya pelan. “Dan kamu juga udah menghancurkan rasa percayanya.”
*Brak.*
Pintu depan tertutup rapat. Naya pergi, meninggalkanku sendirian di dalam ruangan yang mendadak terasa begitu dingin dan pekat. Aku meremas lembaran draf studio impianku di dada, meraung menangis dalam penyesalan yang membakar jiwa.
Aku telah mengusir pria yang mencintaiku setengah mati. Dan yang paling menakutkan dari semuanya… aku tidak tahu apakah aku masih memiliki kesempatan untuk memintanya kembali.
-BERSAMBUNG-