Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku - Bab 3

  1. Home
  2. Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku
  3. Bab 3 - Puncak Emosi dan Keputusan Terburu-buru
Prev
Next

Sambungan telepon itu terputus sepihak.

Suara tut-tut-tut panjang berbunyi nyaring di telingaku, seolah merayakan kehancuran kecil yang baru saja terjadi. Aku menurunkannya perlahan, menatap layar ponsel yang perlahan menggelap dengan mata berkaca-kaca.

*”Karena kalau kamu tahu yang sebenarnya… semuanya akan berubah, Alya.”*

Kalimat Dimas terus bergema di dadaku, memukul-mukul ruang hampa yang tersisa di sana. Jadi begini rasanya disembunyikan? Jadi begini rasanya diasingkan dari kehidupan orang yang paling kamu cintai?

“Alya…” Naya memanggil namaku pelan. Dia mengulurkan tangannya di atas meja, mencoba menyentuh jemariku yang kaku. “Tolong dengerin aku dulu. Jangan langsung ambil kesimpulan.”

Aku menarik tanganku cepat, menghindar dari sentuhannya seolah jemarinya adalah api yang membakar.

“Jangan sentuh aku, Naya,” suaraku dingin, nyaris tak bergetar meski air mata sudah menetes membasahi pipi.

“Alya, ini nggak seperti yang kamu pikirkan!” Naya panik. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kecemasan yang nyata. “Dimas cuma mau—”

“Cuma mau apa?” aku memotong kalimatnya, menatap lurus ke dalam mata sahabatku itu. “Cuma mau bikin aku kelihatan seperti orang bodoh? Selama tiga tahun ini, Naya, aku percaya sama kalian berdua! Tapi apa yang kalian lakukan di belakang aku?”

“Kami nggak melakukan apa-apa yang merugikan kamu, Ya! Demi Tuhan!” Naya berseru, beberapa pengunjung kafe mulai menoleh ke arah meja kami. Naya menurunkan volume suaranya, merapat ke meja. “Ada alasan kenapa Dimas nggak bisa cerita sekarang. Tolong, percaya sama aku sekali ini aja.”

“Percaya?” aku tertawa sumbang. Rasa panas dan perih membakar dadaku. “Gimana aku bisa percaya kalau pacarku sendiri ketakutan setengah mati waktu tahu aku lagi sama kamu? Gimana aku bisa percaya kalau kalimat terakhir dia sebelum matiin telepon adalah melarang kamu bicara?”

Naya terdiam. Bibirnya terkatung rapat, tak sanggup membela diri lagi. Diamnya Naya menjadi bukti paling menyakitkan yang mengonfirmasi seluruh prasangkaku.

“Kamu suka sama Dimas, kan?” tanyaku lirih, melontarkan pertanyaan yang selama ini paling kukutuki di dalam pikiran.

Mata Naya membelalak lebar. “Apa?! Alya, kamu gila?!”

“Lalu apa lagi alasannya?!” suaraku meninggi, tak peduli lagi pada orang-orang di sekitar. “Kenapa dia tahu semua hal tentang kamu? Kenapa nama kamu yang selalu ada di ujung lidahnya tiap kali dia sama aku?! Kenapa harus kamu, Naya?!”

Naya menggeleng keras, matanya mulai memerah berkaca-kaca. “Bukan gitu, Ya… Dimas nggak punya perasaan apa-apa sama aku, dan aku juga nggak pernah—”

“Cukup, Naya.” Aku berdiri dari kursi, membuat gesekan kaki kursi dan lantai berderit nyaring. “Aku nggak butuh kebohongan lain dari kamu.”

“Alya, tunggu! Kamu mau ke mana?!” Naya ikut berdiri, meraih tasnya hendak mengejarku.

“Jangan ikuti aku,” ancamku tegas, menunjuk wajahnya dengan telunjukku yang gemetar. “Kalau kamu masih menganggap aku sahabat kamu, jangan pernah temui aku atau hubungi aku lagi.”

Aku berbalik dan berjalan cepat keluar dari kafe, mengabaikan panggilan Naya yang tertahan di balik bel pintu.

—

Langkah kakiku membawaku menuju studio arsitektur tempat Dimas bekerja. Sore itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah padu padan dengan kekacauan di dadaku.

Aku menerobos masuk ke area lobi kantor tanpa memedulikan sapaan resepsionis. Langkahku mantap menuju ruangan kerja Dimas di lantai dua. Ketika aku membuka pintu kacanya, beberapa rekan kerja Dimas menoleh kaget.

Dimas sedang berdiri di depan meja gambarnya, memegang gulungan kertas kalkir. Begitu melihatku berdiri di ambang pintu dengan mata sembap dan napas memburu, gulungan kertas di tangannya merosot jatuh ke lantai.

“Alya?” gumam Dimas terkejut. “Kamu… kamu kenapa ke sini?”

“Ikut aku,” kataku singkat, lalu berbalik menuju area balkon luar yang sepi.

Dimas menyusul dari belakang. Begitu pintu balkon tertutup rapat, dia langsung meraih bahuku. “Ya, kamu tadi ketemu Naya? Apa yang Naya omongin? Kamu nggak apa-apa, kan?”

Aku menepis kedua tangannya dari bahuku secara kasar.

“Harusnya aku yang tanya,” suaraku bergetar parau. “Kamu kenapa panik banget pas tahu aku ketemu Naya?”

Dimas menelan ludah kasar. Dia mengusap wajahnya yang tampak amat lelah. “Aku nggak panik, Alya. Aku cuma nggak mau ada salah paham yang makin melebar—”

“Salah paham yang mana, Dimas?!” teriakku, melepaskan seluruh emosi yang kubendung sejak semalam. “Kamu ketakutan rahasia kalian terbongkar, kan?! Kamu takut aku tahu kalau kamu sebenarnya punya perasaan sama Naya!”

“Alya, demi Allah, enggak!” tegas Dimas, matanya menatapku tajam. “Nggak ada perasaan apa-apa antara aku dan Naya! Kenapa kamu tuduh aku sejahat itu?!”

“Lalu kenapa kamu suruh Naya diam?!” tantangku. “Kenapa kamu bilang kalau aku tahu yang sebenarnya, semuanya bakal berubah?! Jawab aku, Dimas! Jawab!”

Dimas mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Dia memalingkan wajahnya ke arah pemandangan kota, enggan menatap mataku. Keheningan yang tercipta di antara kami terasa sangat menyiksa.

“Lihat?” aku tersenyum pahit, air mata menetes deras mengaliri pipiku. “Kamu bahkan nggak bisa jawab. Kamu lebih pilih diam daripada jujur.”

“Bukan begitu, Alya,” suara Dimas mengecil, terdengar sangat serak. “Ada hal-hal yang belum saatnya kamu tahu. Aku cuma butuh waktu sedikit lagi. Tolong… percaya sama aku.”

“Waktu?” aku menggeleng lambat. “Tiga tahun aku percaya sama kamu, Dim. Tapi ternyata aku cuma jadi orang asing di antara kamu dan Naya. Kamu lebih sering cerita ke dia, kamu lebih paham dia, bahkan nama dia yang refleks keluar dari mulut kamu pas kita lagi berdua!”

“Itu refleks karena aku lagi banyak pikiran!” bantah Dimas berusaha menjelaskan.

“Pikiran kamu isinya Naya, kan?” potongku cepat.

Dimas terdiam. Tatapannya berubah menjadi sangat lelah, seolah pertahanan dirinya baru saja runtuh total. “Kalau kamu memang udah nggak bisa percaya sama aku lagi, mau aku jelasin ratusan kali pun kamu nggak bakal dengerin, kan?”

“Gimana aku bisa dengerin kalau kamu sendiri nggak pernah mau jujur?!” seruku frustrasi. “Aku capek, Dimas. Aku capek merasa nggak cukup buat kamu. Aku capek dibanding-bandingin sama sahabatku sendiri!”

“Aku nggak pernah membandingkan kamu sama siapa pun!” bentak Dimas, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dia menaikkan suaranya padaku.

Kami berdua terkejut. Dimas membelalakkan mata, seolah menyesali lontaran suaranya barusan. Namun rasa sakit di dadaku sudah terlanjur dalam.

Aku mengangguk-angguk pelan. “Oke. Makasih buat tiga tahun ini, Dim.”

Dimas membeku. “Maksud kamu apa, Alya?”

“Kita selesai,” kataku mantap, meski hatiku hancur berkeping-keping saat mengucapkan kata itu. “Aku nggak mau berada di dalam hubungan di mana aku harus bersaing sama sahabatku sendiri buat dapet perhatian pacarku.”

Aku merogoh saku tasku, mengeluarkan sebuah gelang perak sederhana hadiah ulang tahunku dari Dimas dua tahun lalu, lalu meletakkannya di atas meja pembatas balkon.

“Alya, jangan gila!” Dimas menahan pergelangan tanganku saat aku berbalik. “Jangan ambil keputusan pas kamu lagi emosi begini!”

“Lepas, Dimas,” bisikku tanpa memandangnya.

“Alya, dengerin aku—”

“Aku bilang lepas!” jeritku sambil menghentakkan tangan hingga pegangannya terlepas.

Dimas menatap pergelangan tangannya yang kosong, lalu beralih menatap wajahku. Tidak ada lagi raut panik atau memohon di wajahnya. Yang tersisa hanyalah tatapan dingin, kecewa, dan keputusasaan yang mendalam.

“Kalau ini yang kamu mau…” suara Dimas terdengar begitu asing dan datar. Pria itu mengambil gelang perak di meja, lalu menggenggamnya erat. “Aku nggak bakal tahan kamu lagi.”

Dimas memundurkan langkahnya, memberi jalan padaku tanpa mengucap sepatah kata pun lagi. Tatapannya mengosong, menembus tubuhku seolah aku tak lagi berarti apa-apa baginya.

Aku melangkah melewati Dimas dengan dada yang hancur berkeping-keping. Begitu pintu balkon tertutup di belakangku, tangisku pecah tanpa bisa ditahan lagi. Aku berlari menuruni tangga, meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Segitiga, Free Novel, Orang Ketiga, Pengkhianatan, Perselingkuhan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita