Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku - Bab 2

  1. Home
  2. Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku
  3. Bab 2 - Kebiasaan Kecil yang Mencurigakan
Prev
Next

Layar ponsel itu menggelap secara otomatis, meninggalkan bayangan wajahku yang kusam dan dipenuhi lelehan air mata.

Tanganku masih berguncang kencang. Dada rasanya dihantam godam besar, memicu sesak yang merambat hingga ke tenggorokan. Tiga tahun. Tiga tahun aku memercayakan hatiku sepenuhnya pada Dimas. Dan malam ini, sebuah pesan di ponsel kerjanya meruntuhkan seluruh rasa aman yang kubangun selama ini.

Aku menatap jam di dinding. Pukul sembilan malam.

*Bip. Bip.*

Suara klakson mobil dari depan rumah mengejutkanku. Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekati pintu depan, disusul ketukan pintu yang berturut-turut.

“Alya? Kamu belum tidur, kan?” suara Dimas terdengar dari luar. “HP kerjaku ketinggalan di meja tamu. Boleh tolong ambilin?”

Aku dengan cepat menghapus air mata di pipi menggunakan punggung tangan. Kupastikan napasku kembali tenang sebelum melangkah mendekati pintu dan membukanya sedikit.

Dimas berdiri di sana, sedikit napasnya memburu. “Eh, belum tidur, Ya? Untung belum aku kunci pintunya tadi dari luar.”

Aku berdiri mematung di ambang pintu, memegang ponsel hitam miliknya dengan erat.

“Ini,” ucapku singkat sambil mengulurkan benda itu.

Dimas meraihnya dengan senyum lega. “Makasih ya, Ya. Hampir aja aku kelupaan, padahal besok pagi-pagi banget harus *checking* bahan sama…” Dimas mendadak menghentikan kalimatnya sendiri. Matanya mengerjap ragu.

“Sama siapa?” tanyaku datar.

Dimas terkekeh canggung, mengusap tengkuknya. “Sama… tim lapangan. Klien mau lihat sampel material dulu.”

“Kenapa harus berhenti?” tanyaku lagi, melangkah satu pijakan lebih dekat padanya. “Kamu mau sebut nama Naya lagi?”

Raut wajah Dimas berubah. Alisnya bertaut rapat. “Alya, kita kan udah bahas ini tadi. Kenapa kamu jadi sensitif banget begini, sih?”

“Aku yang sensitif, atau kamu yang memang lagi nyembunyiin sesuatu dari aku, Dimas?”

“Nyembunyiin apa?” suara Dimas meninggi, terdengar lelah dan mulai kehilangan kesabaran. “Aku tuh kerja keras dari pagi sampai malam buat masa depan kita! Kenapa tiap kali aku pulang, kamu malah nyari-nyari masalah yang nggak penting?”

“Masalah nggak penting?” aku tertawa sumbang, air mata yang kutahan akhirnya menetes lagi. “Kamu memanggil nama wanita lain saat sama aku, kamu tahu semua kebiasaan dia yang bahkan nggak pernah aku ceritain, dan kamu bilang ini masalah nggak penting?”

Dimas menghela napas panjang. Dia memijat pangkal hidungnya pelan.

“Naya itu sahabat kamu, Alya. Tolong jangan bikin situasi jadi aneh,” tegas Dimas. “Aku cuma bantu dia karena dia butuh bantuan. Itu aja. Nggak ada hal aneh-aneh seperti yang ada di pikiran kamu.”

“Kalau cuma bantu, kenapa harus sembunyi-sembunyi?” cecarku pelan, menatap lurus ke dalam matanya.

“Siapa yang sembunyi-sembunyi?” Dimas membalas tatapanku dengan nada tak senang. “Aku selalu cerita kalau aku ketemu dia untuk urusan berkas. Kamu sendiri yang selalu *overthinking* dan bikin asumsi sendiri!”

“Kamu jujur?” tanyaku lirih. “Kamu yakin kamu jujur sama aku, Dim?”

Dimas terdiam sejenak. Sorot matanya goyah selama satu detik, sebelum akhirnya dia memalingkan muka ke arah jalanan malam yang sepi.

“Aku capek, Alya. Besok aku harus bangun jam lima pagi,” kata Dimas dengan suara yang mendingin. “Kita bahas ini lain kali kalau emosi kamu udah turun.”

Tanpa menunggu jawabanku, Dimas berbalik dan melangkah cepat menuju mobilnya. Pintu mobil ditutup kencang, dan dalam hitungan detik, kendaraan itu melaju meninggalkan pekarangan rumahku.

Aku berdiri di bawah pendar lampu teras yang temaram. Malam itu, aku tidak bisa tidur sepatah kata pun.

—

Keesokan harinya, dada rasanya makin sesak jika hanya berdiam diri di kamar. Bayangan isi pesan singkat tadi malam terus berputar seperti kaset rusak di dalam kepalaku. Aku butuh kepastian. Aku butuh jawaban langsung, bukan sekadar alasan tidak masuk akal yang dilemparkan Dimas.

Pukul dua siang, aku memutuskan pergi ke sebuah kafe tempat Naya biasa bertemu dengan klien-kliennya. Aku hafal betul jadwal wanita itu jika sedang berada di luar kantor.

Benar saja. Dari luar dinding kaca kafe, aku bisa melihat sosok Naya duduk di sudut ruangan. Dia tampil anggun dengan kemeja hijau sage dan rambut hitamnya yang terurai rapi. Di tangannya, sebuah tablet digital terpajang dengan berbagai draf desain.

Aku melangkah masuk, membuat suara gemerincing bel pintu berbunyi.

Naya mendongak. Matanya membelalak kaget saat melihatku berjalan lurus menuju mejanya.

“Alya?” Naya berdiri dari kursinya, menyambutku dengan senyum mengembang. “Lho, kok kamu bisa di sini? Nggak ngasih tahu aku dulu kalau mau ketemu?”

Aku tidak membalas senyumnya. Aku langsung duduk di kursi kosong di hadapannya tanpa diundang.

“Naya,” panggilku langsung pada intinya. Tanganku saling meremas rapat di atas meja.

Naya mengernyitkan dahi, menyadari ketegangan di raut wajahku. Dia perlahan duduk kembali. “Kamu kenapa, Ya? Wajah kamu pucat banget. Ada masalah?”

“Ada yang mau aku tanyain sama kamu,” ucapku dengan suara bergetar. “Dan aku mohon, tolong jujur sama aku kali ini. Sebagai sahabat.”

Naya memiringkan kepalanya, menatapku heran. “Jujur soal apa? Kamu ngomongnya serius banget, bikin aku takut aja.”

“Soal kamu… dan Dimas.”

Atmosfer di meja kami mendadak berubah kaku. Senyum ramah di bibir Naya perlahan menghilang. Tangannya yang tadinya memegang pena digital terhenti di udara.

“Dimas?” ulang Naya pelan. “Maksud kamu apa, Ya?”

“Kemarin malam Dimas tertinggal HP kerjanya di rumahku,” kataku, mencoba menahan getaran di suaraku agar tidak pecah di tempat umum. “Aku lihat semua pesan kamu sama Dimas.”

Naya menghela napas pendek. “Ya, kalau soal proyek sewa tempat itu—”

“Bukan cuma soal sewa tempat, Naya!” potongku cepat. “Kalian bicara hampir tiap hari. Kalian ketemu tanpa aku tahu. Dan kemarin sore, Dimas kirim pesan ke kamu… dia bilang *’Jangan bilang Alya dulu. Aku belum siap menjelaskannya.’*”

Naya terpaku. Matanya menatapku lurus, namun ada guratan kecemasan yang jelas terpancar dari raut wajahnya.

“Apa yang sebenarnya kalian sembunyiin dari aku?” cecarku, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. “Kenapa Dimas makin sering panggil aku dengan nama kamu? Kenapa dia tahu semua hal sepele tentang kamu? Kenapa kalian harus main belakang di belakang aku?!”

Naya memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. “Alya, dengerin aku dulu. Ini nggak seperti yang kamu bayangkan.”

“Lalu seperti apa?!” aku setengah berbisik namun penuh penekanan. “Jelasin ke aku sekarang, Naya! Katakan ke aku kalau pacarku nggak lagi diam-diam punya perasaan sama sahabatku sendiri!”

Naya membuka mulutnya, hendak bersuara. tangannya terulur ingin menggenggam tanganku di atas meja. “Alya, aku bisa jelasin. Tapi kamu harus tenang dulu—”

*Bip… Bip… Bip…*

Dering ponselku yang amat nyaring menyela pembicaraan kami. Layar ponselku yang tergeletak di atas meja menyala terang.

Nama **Dimas** terpajang di sana.

Aku dan Naya sama-sama menatap layar itu. Naya menggelengkan kepala pelan, seolah meminta agar aku tidak mengangkatnya. Namun dengan tangan gemetar, aku menggeser ikon hijau dan menempelkan benda tipis itu ke telingaku.

“Halo?” suaraku bergetar hebat.

Dari seberang telepon, tidak ada kata sapaan manis. Suara Dimas terdengar sangat panik, napasnya memburu keras seolah dia baru saja berlari maraton.

“Alya! Kamu lagi sama Naya, kan?!” seru Dimas dari seberang telepon, suaranya dipenuhi ketegangan yang amat sangat.

“Iya. Aku lagi sama Naya,” jawabku dingin. “Aku lagi minta penjelasan yang selama ini kamu sembunyiin.”

“Alya, dengerin aku baik-baik!” potong Dimas cepat, nada suaranya hampir menyerupai perintah yang setengah memohon. “Jangan tanya Naya apa pun. Jangan dengar apa pun dari dia sekarang!”

Alya membeku di kursinya. Pandangannya terkunci pada Naya yang menatapnya dengan raut wajah serba salah dan penuh penyesalan.

“Kenapa?” bisikku pelan, rasanya pasokan udara di paru-paruku mendadak menguap habis. “Kenapa aku nggak boleh tahu, Dim?”

Hening menyergap. Hanya terdengar helaan napas berat Dimas di ujung telepon selama beberapa detik yang terasa menyiksa.

Lalu, dengan suara pelan, dalam, dan dipenuhi beban berat, Dimas berkata:

“Karena kalau kamu tahu yang sebenarnya… semuanya akan berubah, Alya.”

-BERSAMBUNG-

Prev
Next
Tags:
Cinta Segitiga, Free Novel, Orang Ketiga, Pengkhianatan, Perselingkuhan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita