Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku - Bab 1

  1. Home
  2. Pacarku Selalu Menyebut Nama Sahabatku
  3. Bab 1 - Salah Sebut dan Pesan Rahasia
Next

“Makasih ya, Naya.”

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Dimas. Natural. Tanpa beban. Sangat ringan, seolah nama itu memang sudah terlalu sering berada di ujung lidahnya.

Aku yang sedang sibuk menuangkan air putih ke gelasnya mendadak membeku. Teko kaca di tanganku terasa amat berat, hampir saja goyah dan menumpahkan isinya kalau saja aku tidak segera meletakkannya kembali ke atas meja kayu. Suara benturan teko dan meja terdengar cukup keras di dalam ruang makan yang sunyi, namun Dimas tampak tidak menyadarinya sama sekali.

Pria 25 tahun itu mendongak. Matanya menatapku polos. Tidak ada raut rasa bersalah, tidak ada panik, bahkan tidak ada keraguan sedikit pun di wajah tegas bergaris rahang tajam yang sudah menemaniku selama tiga tahun terakhir ini.

“Alya, maksudku,” ralatnya cepat setelah mengamati perubahan ekspresiku, lalu terkekeh kecil tanpa dosa. “Maaf, Ya. Kepala aku agak ruwet hari ini. Garapan maket kantor lagi dikejar *deadline* ketat banget.”

Aku mencoba tersenyum. Tipis. Sangat tipis hingga rasanya otot-otot bibirku mendadak kaku dan ngilu.

“Kamu makin sering salah sebut nama,” ucapku berusaha terdengar santai, walau ada rasa berdenyut aneh yang mulai menjalar perlahan di dalam dadaku. “Minggu lalu pas kita nonton di bioskop, kamu juga latah panggil aku Naya pas minta ambilkan minum.”

Dimas meraih gelasnya, meminumnya hingga separuh lalu mengusap bibirnya kasar. “Masa, sih? Perasaan kamu aja kali. Mungkin karena belakangan ini aku memang sering ketemu Naya buat urusan berkas.”

“Berkas apa?” tanyaku cepat, menatap langsung ke manik matanya.

“Biasa. Soal sewa tempat acara yang kemarin dia minta tolong tanyain ke temen arsitekku,” jawab Dimas lancar. Terlalu lancar. Pria itu lalu tersenyum, mengulurkan tangan untuk mengacak rambutku pelan—sebuah kebiasaan manis yang biasanya selalu berhasil membuatku luluh dan melupakan kekesalan kecil. “Jangan mulai kumat *overthinking*-nya, Alya. Kamu tahu sendiri Naya itu sahabat kamu sendiri dari SMA. Aku bantu dia juga karena dia sahabat kamu, nggak lebih.”

Aku diam. Menunduk menatap jemariku sendiri yang bertaut erat di atas pangkuan.

Di atas kertas, alasan Dimas sangat masuk akal. Naya adalah sahabat terbaikku. Kami sudah berteman sejak mengenakan seragam putih abu-abu. Naya seorang *event planner* yang lincah, tegas, mandiri, dan selalu bisa menjadi pusat perhatian di mana pun dia berada. Sangat berbeda denganku yang lebih suka duduk diam di kamar, berjam-jam menatap layar laptop mengerjakan desain grafis pesanan klien sebagai *freelancer*.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang terus berbisik di dalam kepalaku bahwa ada hal yang tidak beres di antara mereka.

Bukan cuma soal salah sebut nama yang makin kerap terjadi.

Kemarin lusa saat kami makan bertiga, Dimas tahu tanpa bertanya bahwa Naya tidak suka rasa matcha dan lebih memilih kopi hitam tanpa gula. Padahal seingatku, aku belum pernah menceritakan detail sepele itu pada Dimas. Lalu minggu lalu, saat Naya tidak sengaja meninggalkan selendangnya di jok belakang mobil Dimas, pria itu langsung tahu barang itu milik Naya tanpa perlu bertanya padaku terlebih dahulu.

Bagaimana bisa seorang pria yang biasanya cuek dan pelupa pada hal-hal kecil, tiba-tiba menjadi begitu hafal dengan detail kebiasaan seorang wanita yang bukan pasangannya?

“Ya? Kok malah melamun lagi?” suara Dimas memutus pusaran pikiranku yang makin liar.

“Nggak apa-apa,” jawabku pelan sambil memaksakan tatapan mata. “Aku cuma capek aja. Hari ini revisi desain dari klien lumayan menguras energi.”

“Yaudah, mending kamu langsung istirahat setelah ini. Aku juga harus balik ke studio, masih ada *file* CAD yang belum aku *render* buat presentasi besok pagi.” Dimas berdiri dari kursinya, meraih jaket kulit hitam yang tersampir di sandaran kursi.

Dia melangkah mendekat, membungkuk sedikit lalu mencium keningku singkat. Aromanya masih sama—campuran kayu cendana dan sabun mandi hangat yang sangat kukenal selama bertahun-tahun. Tapi entah kenapa, sentuhannya malam ini terasa asing. Ada jarak tak kasatmata yang tiba-tiba terbentang lebar di antara kami berdua.

“Aku pulang dulu ya, Alya. Jangan lupa kunci pintu depan,” bisiknya sebelum melangkah keluar.

Setelah suara deru mesin mobil Dimas menyelinap pergi dan menghilang di ujung jalan, aku duduk sendirian di sofa ruang tamu. Rumah terasa sangat sepi, hanya terdengar detak jarum jam dinding yang seolah mengejek kesendirianku.

Tiba-tiba, sebuah bunyi nyaring memecah keheningan.

Ponsel yang tergeletak di atas meja kaca mendadak menyala terang. Ada notifikasi masuk. Aku meraihnya refleks, mengira itu pesan singkat dari Dimas yang mengabarkan bahwa dia baru saja jalan menuju studionya.

Namun, mataku terbelalak saat menatap benda di genggamanku.

Itu bukan ponselku.

Itu ponsel Dimas. Pria itu tertinggal ponsel khususnya untuk urusan pekerjaan di atas meja. Layarnya masih menyala terang, menampilkan notifikasi aplikasi pesan instan yang baru saja masuk dari seseorang.

Sebuah pesan dari kontak bertuliskan nama yang sudah sangat tidak asing lagi di telingaku: **Naya**.

*Pesan baru:*
*”Bahan yang tadi udah oke. Tapi kamu yakin Alya nggak curiga sama sekali?”*

Jantungku seperti berhenti berdetak saat itu juga. Darahku terasa berdesir dingin mengalir ke seluruh tubuh. Tanganku gemetar hebat ketika ibu jariku menyentuh layar ponsel milik Dimas. Pria itu memang tidak pernah menggunakan kata sandi pada ponsel kerjanya karena selalu berdalih tidak ada hal rahasia yang perlu disembunyikan dariku.

Dengan napas yang mulai memburu, aku membuka aplikasi pesan tersebut.

Dada rasanya sesak melihat ruang obrolan di antara mereka berdua. Percakapan di sana sangat panjang. Puluhan pesan terkirim hampir setiap hari. Bahkan pada jam-jam di mana Dimas memberitahuku melalui pesan bahwa dia sedang sangat sibuk rapat dengan klien, atau saat dia beralasan sudah tertidur lelah di kamar kosnya.

Mataku bergulir cepat ke atas, membaca baris demi baris kata yang tertera di sana. Jemariku yang kaku terus menggeser layar, sementara mataku makin terasa panas oleh lelehan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk.

Mereka sering bertemu di luar tanpa sepengetahuanku. Ada foto-foto dokumen, lokasi cafe, hingga obrolan mengenai janji temu yang sengaja disembunyikan rapi dariku.

Hingga akhirnya, mataku tertuju pada satu baris pesan yang dikirimkan oleh Dimas tadi sore—tepat dua jam sebelum pria itu tiba di rumahku dan memanggilku dengan nama wanita lain.

Sebuah pesan singkat dari Dimas kepada sahabat terbaikku:

*Dimas: Jangan bilang Alya dulu. Aku belum siap menjelaskannya.*

-BERSAMBUNG-

Next
Tags:
Cinta Segitiga, Free Novel, Orang Ketiga, Pengkhianatan, Perselingkuhan
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita