Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 9

  1. Home
  2. Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga
  3. Bab 9 - Pilihan yang Bukan Karena Kontrak
Prev
Next

Galih baru saja menepi di pelataran parkir apartemen ibunya ketika layar ponsel di *dashboard* meredup tanpa notifikasi masuk. Ia mematikan mesin, menatap layar hitam itu selama beberapa detik, lalu menyadari satu kenyataan sederhana: tidak ada lagi alasan baginya untuk menunggu pesan dari Nadira.

Selama satu bulan terakhir, pukul sembilan malam selalu menjadi batas waktu laporan atau sekadar koordinasi skenario untuk Tante Rosa. Sekarang, hening yang menyergap adalah hal paling wajar.

Galih mengembuskan napas pendek, melepaskan sabuk pengaman, lalu meraih tas kerjanya di jok belakang.

Ia melangkah masuk ke apartemen. Ibunya, Bu Rahyu, sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi dengan volume pelan.

“Sudah pulang, Galih?” sapa Bu Rahyu lembut.

“Sudah, Bu,” jawab Galih, melepas sepatu dan menggantung kunci di tempat biasa. “Ibu sudah minum obat?”

“Sudah tadi jam delapan. Kamu mau makan malam? Ibu buatkan sup.”

“Tidak usah, Bu. Galih sudah makan di dekat kantor tadi.” Galih mendekat, mencium tangan ibunya pelan. “Ibu langsung istirahat saja, ya.”

Rutinitas rumah selalu menjadi poros penyeimbang bagi Galih. Tidak ada obrolan soal pekerjaan, tidak ada pertanyaan soal asmara, dan tidak ada drama. Namun, ketika ia masuk ke kamarnya sendiri dan meletakkan tas kerja di atas meja, jemarinya secara tidak sengaja menyentuh sebuah benda kecil di dasar tas saat hendak mengeluarkan *charger* laptop.

Sebuah *flash drive* perak dengan ukiran stiker monogram *NCW*.

Nadira memasukkan berkas lampiran kasus tanah minggu lalu ke dalam *flash drive* ini sewaktu mereka merapikan dokumen bersama di mobil Galih. Benda itu tertinggal di selipan kantong dalam tas kerjanya.

Galih memegang benda perak itu di telapak tangannya. Secara profesional, ia bisa saja membawanya besok pagi ke kantor dan meletakkannya di meja Nadira begitu saja. Tanpa percakapan panjang. Tanpa perlu menatap mata wanita itu terlalu lama.

Namun, saat ia menatap huruf *NCW* yang terpantul samar di bawah lampu kamar, Galih tahu bahwa kontrak boleh saja selesai, tetapi ia tidak ingin hubungannya dengan Nadira mendadak kaku tanpa alasan.

Ia membalikkan *flash drive* itu, menatapnya sejenak, lalu mengambil ponselnya.

—

Di tempat lain, Nadira baru saja selesai mengeringkan rambut dan sedang membalas email klien di laptopnya ketika ponselnya di atas meja bergetar.

Nama **Galih Pramudya** tertera di layar. Bukan panggilan dari aplikasi *CompanionCorp*, melainkan sambungan telepon biasa.

Nadira menghentikan jemarinya di atas *keyboard*. Ada jeda satu detik di mana dadanya berdesir pelan—sebuah refleks spontan yang langsung coba ia rasionalkan. Ia mengangkat panggilan itu pada getaran ketiga.

“Halo, Galih?”

“Malam, Nadira. Maaf mengganggu,” suara Galih terdengar jernih dari seberang saluran. Suaranya tenang, tanpa beban drama, tetapi membawa kehangatan yang sangat familiar.

“Ada apa? Ada revisi berkas dari Pak Partner untuk esok pagi?” tanya Nadira refleks, menyandarkan punggungnya pada kursi.

“Bukan,” jawab Galih pendek. “*Flash drive* perakmu tertinggal di dalam tas kerjaku. Yang ada ukiran *NCW*.”

Nadira berkedip, mengingat-ingat. “Ah… yang warna *silver*? Ya ampun, aku cari di laci kantor tadi sore tidak ketemu. Kirain hilang.”

“Ada di tasku. Besok pagi aku bawakan ke kantor,” kata Galih.

“Oke. Terima kasih banyak, Galih.”

Secara logika, percakapan itu sudah selesai. Urusan penyampaian barang tertinggal telah terpenuhi dengan sempurna. Nadira bahkan sudah bersiap mengucapkan kata selamat malam ketika suara Galih kembali terdengar sebelum ia sempat menurunkan ponsel dari telinganya.

“Nadira.”

“Ya?”

“Sabtu ini kamu ada acara?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja—santai, tetapi sanggup membuat gerakan Nadira terhenti seketika.

“Sabtu?” Nadira mengernyit. “Tidak ada. Kenapa? Apakah ada urusan pekerjaan?”

“Bukan,” sela Galih cepat, meruntuhkan semua spekulasi hukum dan kewajiban formal yang dibangun Nadira.

“Terus?”

“Aku mau mengajakmu makan siang Sabtu ini. Cuma kita berdua.”

Keheningan mendadak merayap di antara mereka. Nadira mematung di kursinya, mendengarkan detak jarum jam dinding kamarnya sendiri yang mendadak terdengar nyaring.

“Galih… ini maksudnya bagaimana?” tanya Nadira pelan. Suaranya tidak bernada menolak, melainkan menuntut pemahaman atas situasi baru ini. “Kontrak kita kan sudah selesai dari Senin. Kamu sendiri yang bilang kita kembali profesional.”

Di seberang sana, terdengar kekehan rendah dari Galih—tipe tawa tipis yang biasanya muncul saat pria itu gemas melihat Nadira mulai menyusun pertahanan logisnya.

“Kontrak *CompanionCorp* memang sudah selesai, Nadira. Sudah ditutup,” ujar Galih tenang. “Dan ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kantor atau keluarga.”

“Lalu kenapa kamu mengajakku?” desak Nadira. “Selama satu bulan ini, setiap kali kita jalan atau makan bareng, selalu ada alasannya. Kalau bukan karena tugas sewa, ya karena tugas kantor. Sekarang tidak ada alasan dua-duanya.”

“Memangnya kita selalu butuh alasan formal cuma untuk makan siang?” tanya Galih balik. Nada suaranya tetap bernada rendah, santai, tanpa tekanan. “Aku mengajakmu karena aku mau mengajakmu. Karena aku mau mengobrol sama kamu sebagai diriku sendiri, tanpa skenario.”

Dada Nadira bergetar halus. Logikanya yang tajam biasanya selalu punya jawaban tangkisan untuk setiap argumen Galih di persidangan. Namun malam ini, untuk sebuah ajakan makan siang yang paling sederhana, Nadira tidak menemukan satu pun celah kesepakatan tertulis yang bisa ia jadikan perisai.

Galih menyadari keheningan di ujung telepon, namun ia tidak memanfaatkan momen itu untuk mendesak. Pria itu tetap memegang kendali atas kedewasaannya.

“Kalau kamu keberatan atau punya agenda lain, tidak apa-apa,” tambah Galih memberi ruang penuh. “Aku tidak akan memaksa.”

Nadira menatap layar laptopnya yang masih menyala. Beberapa hari terakhir ini, ia menghabiskan beberapa hari dengan rasa janggal yang menggerogoti dadanya hanya karena Galih kembali menjadi rekan kerja yang kaku dan berjarak. Ia bahkan sempat mengetik pesan lalu menghapusnya karena takut dianggap tidak profesional.

Sekarang, kesempatan itu ada di depan matanya—tanpa bayaran, tanpa kepura-puraan, dan tanpa perantara aplikasi.

Bukannya mencari-cari alasan untuk menolak, mulut Nadira justru mendahului pikirannya.

“Jam berapa?” tanya Nadira.

Nada suaranya datar, mencoba terdengar biasa saja, tetapi pertanyaan dua kata itu meluncur begitu mulus tanpa keraguan sedikit pun.

Di seberang telepon, Galih sempat diam sejenak, seolah terkejut sekaligus puas dengan respons secepat itu.

“Kamu tidak bilang tidak mau?” goda Galih halus, sudut bibirnya membayang jelas dalam intonasi suaranya.

“Aku kan tidak bilang mau,” balas Nadira cepat, sedikit membela diri. “Aku cuma bertanya jam berapa.”

Galih tertawa pendek. “Jam satu siang. Nanti aku jemput di rumahmu.”

“Tidak usah,” pangkas Nadira refleks. “Kita bertemu langsung di restoran saja. Kirim lokasinya lewat percakapan biasa.”

“Pesan biasa, bukan aplikasi *CompanionCorp*?” pancing Galih lagi, mempertahankan irama interaksi mereka yang santai.

“Galih,” tegur Nadira dengan nada mengancam yang tidak bersungguh-sungguh.

“Iya, iya. Nanti kukirim lokasinya lewat percakapan pribadi biasa,” jawab Galih mengalah sambil tersenyum. “Sampai ketemu Sabtu, Nadira.”

“Sampai ketemu.”

Panggilan terputus.

Nadira menutup ponselnya, meletakkannya di sebelah laptop, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia meraih planner kulit di mejanya, membalik halaman ke hari Sabtu mendatang, lalu mengetikkan satu kata di kolom pukul 13.00: *Lunch*.

Jemarinya terhenti di atas kertas.

Nadira menatap tulisan tangannya sendiri dengan kening berkerut halus. Ia baru saja menyetujui ajakan makan siang dari Galih Pramudya—pria yang baru beberapa hari lalu berhenti menjadi “pacar sewanya”. Dan kali ini, tidak ada honor yang dibayarkan, tidak ada Tante Rosa yang harus dibicarakan, dan tidak ada berkas kasus yang harus diperdebatkan.

Nadira menarik napas panjang, lalu menyunggingkan senyum tipis yang tak sempat ia sadari sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun mengenal Galih, mereka akan bertemu murni karena mereka berdua sama-sama menginginkannya.

BERSAMBUNG…

Prev
Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Drama Keluarga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita