Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 8
Status pesanan di aplikasi *CompanionCorp* resmi berubah menjadi *Selesai* tepat pukul delapan pagi.
Nadira melangkah keluar dari lift lantai empat gedung tempatnya bekerja sambil menyandang tas kulotnya dengan posisi bahu tegap seperti biasa. Di meja kubikelnya yang berjarak tiga meter, Galih sudah duduk rapi di hadapan monitor, mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan dasi yang terpasang sempurna.
“Selamat pagi, Nadira,” sapa Galih saat melihat wanita itu mendekat.
Suaranya tenang, datar, dan menggunakan intonasi profesional yang persis sama seperti dua bulan lalu. Tidak ada panggilan ‘*Counselor*’. Tidak ada lirikan jenaka berbalut senyum tipis. Dan di atas meja kerja Nadira, tidak ada cangkir teh chamomile atau kotak makan siang.
“Selamat pagi, Galih,” balas Nadira, mengangguk singkat sebelum mendaratkan tubuhnya di kursi kerja.
Ia membuka laptopnya, menata tumpukan berkas uji tuntas, dan menarik napas dalam-dalam. Semua berjalan persis seperti yang ia rencanakan. Transaksi satu bulan telah usai, acara di Bogor berlalu tanpa cacat, dan mereka berdua berhasil kembali menjadi dua *Senior Associate* yang memegang kendali atas batasan profesionalitas masing-masing.
Harusnya, rasa lega menyelimuti dadanya pagi ini.
Namun, ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh dan perutnya mulai memberikan sinyal lapar, jari Nadira refleks mengetuk meja secara tidak teratur. Ia menghentikan ketukannya, menoleh sedikit ke arah kubikel Galih. Pria itu tampak sangat fokus membaca salinan putusan, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard tanpa sekali pun menoleh ke arahnya.
Nadira membuang napas pelan, meraih ponselnya. Tidak ada notifikasi pesan pribadi. Tidak ada pertimbangan skenario untuk Tante Rosa. Tidak ada entri jadwal acara keluarga yang perlu dicatat.
—
Rapat revisi klausul arbitrase pukul dua siang berjalan tajam seperti biasa.
“Pendekatanmu di pasal enam terlalu kaku, Nadira,” uji Galih di hadapan tiga *Junior Associates* di ruang rapat kecil. “Klien butuh ruang negosiasi, bukan vonis mati di awal perundingan.”
“Ruang negosiasi tanpa batasan ganti rugi yang jelas itu namanya bunuh diri finansial untuk klien kita, Galih,” balas Nadira cepat, menatap langsung ke dalam mata pria itu dengan tatapan menilai. “Aku memilih memagari risiko sejak draf pertama.”
Galih tidak tersinggung. Ia hanya mengangguk tipis, menggeser lembaran berkasnya. “Argumen yang valid. Kita pakai draf pemagaran risikomu untuk poin A, tapi masukkan klausa arbitrase fleksibel untuk poin B.”
“Setuju,” jawab Nadira kaku.
Rekan-rekan kerja di sekeliling mereka kembali bernapas lega, menganggap perdebatan itu hanyalah bentuk dinamika kerja biasa dari dua pengacara paling ambisius di firma tersebut. Namun bagi Nadira, ada sesuatu yang hilang dari perdebatan itu. Galih bertindak sepenuhnya sebagai rekan kerja yang adil—tidak ada sengatan sindiran personal yang biasanya tersembunyi halus di balik istilah-istilah hukum mereka. Galih tidak lagi mencoba mencari celah untuk membuatnya salah tingkah.
—
Pukul lima sore, Nadira berdiri di pantry kantor, menunggu air panas dispenser terisi penuh ke dalam cangkirnya. Tangannya refleks meraih dua kantong teh dari kotak penyimpanan—satu chamomile dan satu teh hitam tanpa gula.
Gerakan jemarinya mendadak terhenti di udara.
Nadira menatap kantong teh hitam di tangan kirinya selama tiga detik penuh. Sensasi kaku menyengat kesadarannya. Galih tidak ada di pantry. Galih tidak sedang kelelahan di mejanya, dan Galih tidak pernah memintanya menyeduhkan kopi atau teh sore ini.
Nadira perlahan mengembalikan kantong teh hitam itu ke tempat semula, membawa cangkir chamomile-nya sendirian kembali ke meja.
Saat melewati koridor, ia melihat Galih sedang merapikan jasnya dan memasukkan laptop ke dalam tas kulitnya. Pria itu bersiap pulang tepat waktu.
Nadira menahan langkahnya sejenak di samping kubikel Galih. “Kau tidak lembur hari ini?”
Galih mendongak, menyunggingkan senyum sopan yang sangat netral. “Semua draf minggu ini sudah selesai. Aku ada urusan jam enam nanti.”
“Urusan…” Nadira menggantung kalimatnya, berdeham kaku sebelum melanjutkan dengan nada sefaktual mungkin. “Urusan di rumah sakit atau… ada klien baru dari agensi?”
Galih menatap Nadira dengan raut tenang, tidak ada tanda-tanda ingin menyembunyikan atau memamerkan sesuatu. “Hanya jadwal rutin terapi ibuku. Aku belum mengambil klien baru di *CompanionCorp* sejak kontrak kita selesai.”
“Kenapa?” tanya Nadira spontan.
“Aku butuh fokus untuk persiapan berkas kasasi bulan depan,” jawab Galih jujur. Pria itu meraih tasnya, berdiri dari kursi. “Aku duluan, Nadira. Sampai ketemu besok.”
“Iya. Hati-hati di jalan,” balas Nadira pendek.
Ia memperhatikan punggung Galih yang melangkah konstan menuju pintu keluar lift. Tidak ada ajakan untuk makan malam bersama. Tidak ada tumpukan dokumen yang sengaja dipindahkan. Galih melangkah pergi tanpa menoleh kembali, meninggalkan ruang kantor lantai empat yang perlahan mulai sepi.
—
Kamis malam, jarum jam menunjuk pukul delapan lewat lima belas menit. Lampu utama koridor kantor sudah diredupkan oleh petugas kebersihan.
Nadira masih duduk di meja kerjanya, mengurut pelipisnya yang berdenyut pelan karena menatap monitor terlalu lama. Punggungnya terasa kaku dan matanya lelah.
Langkah kaki terdengar berderap santai dari arah lorong. Galih baru saja kembali dari ruang arsip lantai tiga, membawa satu map tebal yang perlu ia bawa pulang untuk bahan bacaan esok hari.
Nadira menengadah, matanya secara tidak sadar mengunci sosok Galih yang berjalan mendekati kubikelnya. Ada desiran antisipasi kecil yang tak terucapkan di dadanya—sebuah kebiasaan sebulan terakhir di mana Galih biasanya akan menghentikan langkah, mengomentari cara duduknya, atau menyuruhnya mematikan monitor dan pulang.
Galih menghentikan langkahnya di depan meja Nadira. Ia memandang berkas yang bertebaran di meja Nadira, lalu menatap wanita itu dengan raut penuh tenggang rasa profesional.
“Masih banyak revisinya?” tanya Galih pelan.
“Tinggal dua halaman lagi,” jawab Nadira, menahan napasnya tipis.
Galih mengangguk maklum. Ia tidak mengulurkan tangan untuk merapikan berkasnya, tidak menyenggol bahunya, dan tidak menawarkan tumpangan ke rumah.
“Bagus kalau begitu. Aku pulang duluan,” ujar Galih tenang seraya merapatkan jasnya. “Kalau ada draf yang butuh kutingok esok pagi, kirim saja via email malam ini.”
Nadira mematung selama satu detik. “Baik. Nanti kukirim via email.”
“Selamat malam, Nadira.”
“Selamat malam, Galih.”
Galih mengangguk sopan, membalikkan badan, dan berjalan pergi menuju lift tanpa keraguan.
Nadira bersandar kaku di kursi kerjanya, menatap ruangan kosong di hadapannya. Hening menyergap dengan sangat cepat. Suara denting lift yang tertutup di ujung lorong terdengar begitu nyaring membelah sepi.
Ia menarik napas panjang, mencoba menata kembali alur pikirannya. Bukankah ini yang ia inginkan dari awal? Sebuah kesepakatan bisnis yang bersih, di mana kedua pihak menjalankan tugasnya tanpa menyeret komplikasi emosional ke dalam kehidupan profesional mereka. Galih bertindak sangat luar biasa dewasa—pria itu menghormati garis batas yang ia tetapkan sendiri sejak hari pertama di kantor ini. Tidak ada salahnya dengan perlakuan Galih. Sama sekali tidak ada.
Lalu kenapa keheningan di kubikelnya malam ini terasa begitu bising?
—
Pukul sembilan malam, Nadira akhirnya mematikan laptopnya. Ia memasukkan dokumen ke dalam tas, merapikan meja kerja yang kini tampak sangat bersih dan teratur.
Ia berjalan menuju area parkir basement sendirian. Langkah kakinya bergema di atas semen dingin. Tidak ada suara tawa rendah di sampingnya, tidak ada diskusi santai tentang celah hukum kasus perbankan, dan tidak ada kehangatan yang mengawal jalannya menuju mobil.
Nadira masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin, namun tidak langsung menginjak pedal gas.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di jok penumpang. Sebuah notifikasi pop-up dari sistem otomatis *CompanionCorp* muncul di layar utamanya:
*’Transaksi #88021 telah resmi ditutup. Terima kasih telah menggunakan layanan CompanionCorp. Berikan ulasan untuk Mitra Companion Anda.’*
Nadira menatap layar itu beberapa detik. Ibu jarinya menggeser notifikasi tersebut hingga menghilang, lalu secara refleks mengusap layar menuju aplikasi pesan singkat.
Di sana, di baris paling atas riwayat percakapannya, nama **Galih Pramudya** bertengger kaku. Pesan terakhir yang tertera di sana adalah alamat lokasi rumah orang tua Nadira yang dikirim Galih hari Minggu lalu sebelum acara Bogor.
Nadira membuka kolom percakapan itu. Ibu jarinya melayang di atas papan ketik virtual.
Ia mengetik beberapa karakter secara perlahan:
*Sudah sampai rumah? Ibu—*
Jarinya terhenti di udara. Nadira menatap kalimat setengah jadi di layarnya. Untuk apa ia menanyakan hal itu? Kontrak mereka sudah berakhir. Galih bukan lagi pacar bayarannya yang harus memberikan laporan keberadaan demi konsistensi peran. Galih adalah rekan kerjanya—seorang pria mandiri yang memiliki batas kehidupan pribadi yang kaku.
Menanyakan hal tersebut di luar jam kantor tanpa alasan pekerjaan akan merusak seluruh batasan logis yang selama dua tahun ini ia pertahankan dengan susah payah.
Nadira menahan napasnya, menekan tombol *backspace* berulang kali hingga seluruh karakter huruf di kolom pesan itu terhapus bersih tanpa sisa.
Ia mematikan layar ponselnya, meletakkannya kembali ke jok penumpang, lalu memegang lingkar kemudi dengan kedua tangannya yang dingin.
Malam itu, di dalam mobilnya yang sunyi di tengah perjalanan menuju rumah, Nadira akhirnya menyadari satu hal yang paling mengganggunya sejak Senin pagi: kehidupan normal tanpa keberadaan Galih sebagai pacar palsunya ternyata tidak terasa salah—hanya saja, kehidupan itu tidak lagi terasa persis sama seperti sebelum pria itu masuk ke dalamnya.
BERSAMBUNG…