Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 7
“Ini acara keluarga terakhir yang masuk dalam hitungan kita, Galih,” ujar Nadira seraya merapikan sabuk pengamannya begitu sedan hitam milik Galih meluncur memasuki jalan tol Jagorawi menuju Bogor.
Galih tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya, tetapi sudut bibirnya terangkat tipis. “Kau mencatatnya seperti sedang menghitung masa retensi dokumen arsip, Nadira.”
“Aku cuma menegaskan fakta,” balas Nadira cepat, menyandarkan punggungnya ke sandaran jok. “Setelah acara syukuran hari ini selesai, tidak ada lagi alasan untuk memperpanjang semua ini. Kita kembali ke setelan awal.”
“Iya,” sahut Galih singkat, suaranya mengalun tenang dan santai. “Kembali ke setelan awal. Dua *Senior Associate* yang saling sikut di lantai empat.”
Nadira menoleh ke luar jendela, menatap deretan pohon yang melintas cepat. Kata ‘kembali’ yang diucapkan Galih terdengar begitu bersih dan tanpa beban. Harusnya kalimat itu memberikan rasa lega yang luar biasa setelah satu bulan penuh menyusun sandiwara. Namun, janggal rasanya saat menyadari bahwa dadanya justru dihantam keheningan kaku yang tak beralasan.
Satu jam perjalanan berlalu tanpa canggung. Tidak ada lagi sesi latihan menghafal draf skenario atau perdebatan sengit tentang aturan main seperti saat mereka hendak bertemu Pak Wirawan. Mereka bertukar pikiran tentang kasus sengketa lahan yang sedang ditangani firma, sesekali menyindir cara kerja satu sama lain, lalu tertawa kecil saat salah satu dari mereka kehabisan retorika.
Ketika mobil Galih berhenti di pelataran rumah bergaya kolonial di kawasan Bogor, Tante Rosa sudah berdiri di teras bersama dua kerabat lainnya.
“Nadira! Galih!” sapa Tante Rosa hangat, melangkah lebar menghampiri mereka begitu Galih membukakan pintu untuk Nadira. “Tante pikir kalian bakal terlambat karena macet.”
“Jalanan cukup lengang, Tante,” jawab Galih sopan, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sebelum menyalami Paman Budi dan Sepupu Aris yang berdiri di belakang Tante Rosa.
“Kalian makin kelihatan serasi, ya,” goda Tante Rosa, matanya berbinar memperhatikan bagaimana Galih secara refleks menaruh telapak tangannya di pinggang belakang Nadira—bukan untuk menariknya rapat, melainkan memberi ruang protektif di tengah kerumunan kerabat yang mulai menyambut.
Nadira tidak menegang seperti saat pertama kali mereka tampil bersama. Ia tidak perlu lagi membisikkan instruksi di telinga Galih tentang siapa Paman Budi atau apa jabatan Sepupu Aris. Selama satu bulan terakhir, Galih sudah menghafal peta keluarga Wirawan tanpa perlu diminta.
—
Sesi makan siang di halaman belakang berlangsung meriah. Tiga puluh anggota keluarga besar berkumpul di bawah naungan tenda putih, menikmati hidangan prasmanan.
Nadira berdiri di dekat meja pencuci mulut, mengobrol singkat dengan beberapa sepupunya tentang perkembangan kantor hukum tempatnya bekerja. Namun, matanya beberapa kali secara spontan beredar ke sekeliling halaman, mencari keberadaan kemeja batik bernuansa gelap yang dikenakan Galih.
Begitu menemukannya di dekat kolam ikan sedang mengobrol santai dengan Paman Budi, napas Nadira menghembus pelan. Ada kepuasan aneh melihat betapa mudahnya Galih melebur tanpa harus bersikap berlebihan.
Ketika Galih berjalan menghampirinya sepuluh menit kemudian, Nadira secara otomatis meraih cangkir teh hangat dari meja saji di sebelahnya dan menyodorkannya sebelum pria itu sempat meminta.
“Gula sedikit, tanpa krimer,” kata Nadira datar.
Galih menerima cangkir itu, mengamati uap teh yang membubung sebelum menatap Nadira dengan alis terangkat. “Kau mengambilkannya untukku?”
Nadira mendadak menyadari tindakan refleksnya. Wajahnya menghangat, dan ia dengan cepat memasang raut defensif. “Tehnya terlalu banyak di meja, daripada dingin tidak ada yang minum.”
“Tentu,” gumam Galih, menyembunyikan senyumnya di balik tegukan pertama teh tersebut. “Terima kasih, *Counselor*.”
Di tengah percakapan sore, Tante Rosa mendadak menarik Nadira ke area teras samping untuk bergabung dengan lingkaran kerabat senior.
“Nadira, Tante sedang cerita ke Tante Yuni kalau Galih itu tipe pria yang sangat perhatian,” pangkas Tante Rosa cepat. “Coba cerita, waktu kamu lembur minggu lalu, dia benar-benar nungguin kamu di kantor?”
Nadira menelan ludah. Tiba-tiba lima pasang mata ibu-ibu keluarga besar menatapnya dengan rasa ingin tahu yang membumbung tinggi. Pertanyaan-pertanyaan susulan mulai berhamburan secara bertubi-tubi—tentang kapan rencana lamaran, di mana mereka akan tinggal, hingga apakah Nadira akan mengurangi jam kerjanya jika sudah menikah nanti.
Rasa kaku dan tidak nyaman seketika menghimpit dada Nadira. Ia paling benci jika kehidupan pribadinya dijadikan bahan sirkus keluarga, namun etika kesopanan membuatnya tidak bisa merespons dengan ketajaman bahasa hukumnya.
Sebelum Nadira sempat memberikan jawaban yang canggung, sebuah suara bariton yang teratur memotong dari balik bahunya.
“Permisi, Tante Rosa, Tante Yuni,” Galih berdiri di samping Nadira, membawa piring kecil berisi kudapan manis. “Saya izin pinjam Nadira sebentar ya. Atasan saya baru saja menelepon dan menanyakan draf berkas yang harus ditandatangani sore ini.”
Tante Rosa tertawa kecil seraya mengibaskan tangannya. “Ah, kalian ini bisnis terus! Ya sudah, sana selesaikan dulu.”
Galih mengangguk sopan, lalu memegang siku Nadira dengan lembut dan menuntunnya menjauh dari kerumunan teras menuju area taman samping yang sepi di dekat pohon mangga.
Begitu mereka jauh dari jangkauan pendengaran para tante, Galih melepaskan pegangannya.
“Bos tidak benar-benar menelepon, kan?” bisik Nadira, menghela napas lega yang panjang.
“Tidak,” aku Galih tenang. “Tapi wajahmu dari jarak lima meter sudah kelihatan seperti terdakwa yang siap mengajukan hak ingkar.”
Nadira terkekeh pelan—sebuah tawa jujur tanpa benteng pertahanan. Ia menatap Galih yang berdiri santai di sampingnya, memutar-mutar kancing kemejanya.
“Terima kasih,” gumam Nadira tulus. “Aku benar-benar butuh keluar dari sana.”
“Sama-sama,” balas Galih lembut.
Nadira memperhatikan cara Galih berdiri di dekatnya. Pria ini tidak menggunakan momen salvasi itu untuk menggodanya, tidak menuntut pujian, dan tidak pernah memanfaatkan kebingungannya untuk mengikis jarak. Perhatian yang diberikan Galih tidak terasa seperti hafalan skrip *CompanionCorp*, melainkan sebuah refleks alami dari seseorang yang memang telah terbiasa menjaganya selama sebulan terakhir.
Dan fakta itu justru membuat benak Nadira semakin liar bertanya-tanya: *Mana bagian dari Galih yang sedang berakting, dan mana bagian yang memang nyata?*
—
Matahari mulai tenggelam di balik bukit Bogor ketika acara syukuran perlahan surut. Para tamu mulai berpamitan satu per satu.
Galih dan Nadira berdiri di dekat gerbang depan, bersiap untuk pamit kepada Tante Rosa dan Paman Budi.
“Kalian hati-hati di jalan ya,” tutur Tante Rosa seraya mengusap bahu Nadira. Lalu, wanita paruh baya itu menatap mereka berdua dengan senyum penuh arti. “O ya, bulan depan kan ada acara ulang tahun pernikahan Tante di Bandung. Kalian datang berdua lagi, kan?”
Pertanyaan itu meluncur santai, sederhana, dan tanpa beban.
Namun, di udara sore yang dingin, pertanyaan itu menghantam seperti batu besar yang dijatuhkan ke air tenang.
Nadira hendak membuka mulutnya untuk memberikan jawaban prosedural yang biasa—alasan pekerjaan, jadwal sidang yang padat, atau bentrok agenda kantor. Namun, lidahnya mendadak terasa kelu dan kaku. Kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Ia melirik Galih di sebelahnya.
Galih juga tidak langsung menjawab. Pria yang biasanya punya retorika instan untuk segala jenis situasi itu hanya diam. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada jeda ragu yang sangat nyata dalam sorot matanya saat ia menatap Nadira sekilas.
Untuk pertama kalinya sepanjang sandiwara ini berjalan, mereka berdua sama-sama sadar bahwa mereka tidak lagi memiliki alasan yang sah untuk memberikan jawaban ‘ya’. Acara Bogor adalah batas akhir yang tak tertulis dari kesepakatan mereka.
“Nanti kami kabari ya, Tante, tergantung jadwal persidangan bulan depan,” potong Galih akhirnya dengan nada sangat sopan, memberikan jawaban paling aman yang bisa dirancang seorang pengacara.
Tante Rosa mengangguk maklum tanpa curiga sedikit pun. “Iya, Tante mengerti. Yang penting kalian makin kompak begini Tante sudah senang.”
—
Perjalanan pulang ke Jakarta didominasi oleh keheningan yang tebal. Lampu-lampu jalan tol menyinari bagian dalam mobil secara bergantian dalam pendar kuning yang ritmis.
Tidak ada perdebatan sengketa lahan. Tidak ada sindiran tentang draf aturan.
Nadira merogoh tas tangannya, mengeluarkan ponsel pribadinya. Ia membuka aplikasi *CompanionCorp* yang sudah tidak pernah disentuhnya selama tiga minggu terakhir. Di sana, di bagian atas layar, bertengger notifikasi status pesanan jasanya.
*Status: Masa Layanan Berakhir dalam 24 Jam.*
Nadira menatap baris tulisan digital itu lama. Layar ponsel yang terang memantulkan bayangan wajahnya yang datar. Transaksi ini akan ditutup secara otomatis besok malam. Tugas Galih selesai. Uang sewa sudah terpotong penuh. Di mata hukum dan sistem agensi, hubungan mereka sudah tuntas tanpa menyisakan kewajiban apa pun.
Nadira mematikan layar ponselnya, meletakkannya kembali ke dalam tas dengan gerakan lambat. Ia berpaling menatap Galih yang fokus mengemudi.
Galih tidak membuka pembicaraan tentang memperpanjang kontrak. Pria itu tidak menawarkan diri untuk acara Bandung bulan depan, dan tidak menyentuh topik tentang apa yang akan terjadi hari Senin pagi di kantor nanti. Sikap tenang dan profesionalitas penuh yang ditunjukkan Galih justru menegaskan satu hal yang sangat nyata: Galih menghormati batas yang pernah dipasang Nadira sejak hari pertama.
Mobil melambat saat memasuki kompleks perumahan Nadira, berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya.
“Terima kasih untuk hari ini, Galih,” ujar Nadira pelan, tangannya memegang gagang pintu mobil.
Galih menoleh, menatap Nadira dengan raut yang sulit dibaca di balik temaram lampu kabin. “Sama-sama, Nadira. Kau sudah mengatasi acara keluarga besar dengan sangat baik.”
Nadira mengangguk tipis. Kaki kirinya sudah menginjak aspal, tetapi tubuhnya masih tertahan sejenak di ambang pintu mobil.
“Sampai bertemu hari Senin di kantor,” tambah Nadira, mencoba menyuntikkan nada formalitas yang biasa ke dalam suaranya.
“Sampai bertemu hari Senin,” balas Galih halus, tanpa imbuhan godaan, tanpa panggilan ‘*Counselor*’, dan tanpa senyum tipis yang biasa.
Nadira menutup pintu mobil. *Klak.* Suara pintu yang terkunci terdengar begitu tegas membelah malam.
Ia berdiri di balik pagar, memperhatikan mobil sedan hitam milik Galih perlahan bergerak menjauh dan menghilang di belokan jalan kompleks.
Nadira melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sunyi. Ketika sandiwara ini benar-benar telah mencapai garis akhir, dan ia mendapatkan kembali kebebasan serta kendali penuh atas kehidupannya… kenapa rasanya justru seperti ada sesuatu yang baru saja terlepas dan tertinggal di jalan tol menuju Bogor tadi sore?
Sebab Senin pagi esok, ketika mereka kembali berdiri di lantai empat sebagai dua *Senior Associate*, mereka berdua sama-sama tahu bahwa berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka akan menjadi pekerjaan paling sulit yang pernah mereka tangani.
BERSAMBUNG…