Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 6

  1. Home
  2. Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga
  3. Bab 6 - Hubungan Yang Berlanjut
Prev
Next

“Kau memang selalu menuntut draf simulasi untuk hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi, Nadira,” cetus Galih seraya meletakkan dua cangkir kopi di atas meja kerja Nadira, tepat di samping tumpukan berkas perkara yang menggunung.

Nadira tidak langsung mendongak dari layar laptopnya. “Acara syukuran keluarga besar di Bogor itu tinggal tiga minggu lagi, Galih. Tante Rosa bakal ada di sana, ditambah sepuluh kerabat lain yang jauh lebih cerewet. Kita tidak bisa datang tanpa strategi.”

Galih terkekeh pelan, melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku. “Strategi? Nadira, kita baru saja melewati makan malam dengan ayahmu tanpa draf pertahanan sama sekali, dan kita masih hidup sampai hari ini.”

“Itu keberuntungan,” balas Nadira cepat, meski dalam hatinya ia tahu pernyataan itu bohong. Makan malam hari Minggu lalu tidak berjalan lancar karena keberuntungan, melainkan karena Galih secara ajaib sanggup membaca alur pikiran ayahnya dan menyeimbangkan kekakuannya sendiri.

Namun, di luar dugaan Nadira, hari-hari setelah makan malam itu tidak lantas membuat hubungan mereka kembali normal. Pertanyaan “kapan kita berhenti?” yang sempat ia lontarkan di depan pagar rumah orang tuanya malam itu seperti menguap, tergantikan oleh realitas baru bahwa acara keluarga berikutnya sudah menanti di kalender.

—

Memasuki minggu berikutnya, rutinitas di lantai empat firma hukum mereka kembali berjalan dengan ritme yang memburu.

Di depan rekan-rekan pengacara lainnya, Nadira dan Galih tetaplah dua *Senior Associate* yang tidak pernah mau mengalah. Mereka masih saling mengoreksi draf gugatan di ruang rapat, berdebat mengenai strategi saksi ahli, dan melempar sindiran-sindiran halus berbalut bahasa hukum yang tajam.

“Sanggahanmu di poin empat terlalu defensif, Nadira,” komentar Galih saat mereka meninjau kembali berkas sengketa lahan di ruang arsip. “Hakim akan melihatnya sebagai bentuk keraguan.”

“Itu bukan keraguan, Galih. Itu namanya memperhitungkan celah banding lawan,” sanggah Nadira kaku, merampas map dari tangan Galih.

Namun, di luar koridor formalitas kantor, garis pembatas kaku yang dulu memisahkan mereka perlahan-lahan terkikis oleh waktu. Transisi itu tidak terjadi melalui kejutan besar, melainkan lewat retakan-retakan kecil pada benteng pertahanan Nadira.

Di akhir minggu itu, lampu kantor sudah padam sebagian besar ketika Nadira masih sibuk merapikan catatan persidangan. Sebuah kotak berisi makan malam diletakkan begitu saja di samping kubikelnya.

Nadira mengerutkan kening, menoleh pada Galih yang baru keluar dari ruangannya seraya menyampirkan jas di lengan. “Aku tidak minta dibelikan makan malam.”

“Tapi kau sudah lima jam tidak beranjak dari kursi itu dan ketukan pulpenmu mulai sumbang,” sahut Galih santai. “Makanlah. Aku tidak mau pasanganku pingsan di jalan.”

“Aku bukan pasanganmu,” cetus Nadira otomatis.

“Di depan agensi dan kalender bulan depan, kau masih klienku,” balas Galih dengan sudut bibir terangkat tipis. “Selesaikan makanmu, lalu kita pulang. Aku yang antar.”

Nadira hendak membantah bahwa ia membawa mobil sendiri, tetapi rasa lelah yang menggelayuti bahunya membuat argumen itu tertahan di tenggorokan. Tanpa sadar, ia menuruti ucapan pria itu.

—

Menjelang pertengahan bulan, kebiasaan-kebiasaan baru mulai terbentuk tanpa pernah disepakati secara resmi.

Nadira mulai hafal jadwal-jadwal aneh Galih. Pria itu selalu menghilang tepat pukul enam sore setiap hari Selasa dan Kamis, menolak segala bentuk lembur atau ajakan makan malam pekerjaan, hanya untuk kemudian kembali bekerja dari rumah hingga larut malam.

Rasa penasaran yang merayap halus membuat Nadira akhirnya melemparkan pertanyaan itu saat mereka sedang menunggu antrean kopi di luar gedung kantor pada suatu sore.

“Kau selalu buru-buru pulang setiap Selasa malam,” ujar Nadira, berpura-pura sibuk memeriksa pesan di ponselnya. “Ada klien lain dari agensi?”

Galih menoleh, mengamati profil samping wajah Nadira sebelum tertawa kecil. “Kau sedang menginterogasi riwayat kerjaku, *Counselor*?”

“Aku cuma memastikan tidak ada pembagian fokus yang merugikan acaraku bulan depan,” kilat Nadira defensif, melipat tangan di dada.

“Tidak ada klien lain bulan ini,” jawab Galih jujur, tangannya terbenam di saku celana. “Setiap Selasa dan Kamis malam aku harus menemani ibuku di rumah sakit swasta di Jakarta Pusat. Beliau butuh terapi pendampingan berkala.”

Nadira tertegun. Gerakan tangannya di layar ponsel seketika terhenti. “Ibumu sakit?”

“Sudah dua tahun,” sahut Galih tenang, tanpa gurat kepedulian dramatis atau nada meminta kasihan. “Fasilitas perawatan kesehatannya butuh biaya yang lumayan besar, dan asuransi hanya menanggung sebagian.”

Sebuah pemahaman baru menyengat benak Nadira. Potongan-potongan teka-teki tentang Galih Pramudya yang selama ini tersembunyi di balik penampilan rapi dan sikap profesionalnya mendadak tersusun rapi. Kebiasaan pria itu bekerja tanpa kenal lelah, disiplin jam kerjanya yang ketat, hingga keberadaannya di platform *CompanionCorp* sebagai pendamping bayaran.

“Jadi… itu alasanmu mengambil pekerjaan sampingan di agensi?” tanya Nadira pelan, suaranya spontan merendah.

“Gaji dari firma ini cukup untuk hidupku, tapi biaya terapi jangka panjang butuh dana tak terduga,” tutur Galih lugas. “Platform itu memberikan bayaran yang sangat profesional untuk waktu luangku.”

“Jadi aku bukan klien pertamamu?”

“Kau yang keenam,” jawab Galih tanpa ragu. “Lima klien sebelumnya cuma butuh pendamping untuk acara sosial singkat, gala makan malam, atau sekadar membungkam tekanan keluarga. Tidak ada yang rumit.”

“Dan aku?” desak Nadira, menatap lurus ke dalam iris mata hitam Galih. “Kenapa caramu memperlakukanku terasa beda dari penjelasan draf agensi?”

Galih membalas tatapan itu, raut wajahnya tetap tenang dan terukur. “Karena lima klien sebelumnya adalah orang asing yang baru kutemui dua jam sebelum acara. Sedangkan kau… aku sudah mengenal caramu berpikir, caramu marah, dan kebiasaanmu saat stres selama dua tahun di kantor ini. Tentu saja rasanya beda.”

Ada kejujuran yang begitu gamblang dalam jawaban itu hingga membuat Nadira kehabisan kata-kata. Tidak ada pengakuan cinta, tidak ada godaan romantis yang berlebihan, hanya sebuah pernyataan faktual yang justru terasa jauh lebih menghantam di dadanya.

Melihat raut wajah Nadira yang berubah kaku dan penuh rasa bersalah, Galih tersenyum tipis.

“Jangan menatapku seperti itu, Nadira,” ujar Galih lembut namun tegas. “Aku tidak menceritakan ini supaya kau merasa iba atau memperlakukanku secara berbeda. Aku melakukan pekerjaanku secara sadar dan profesional.”

“Aku tidak kasihan padamu,” sanggah Nadira cepat, kembali menegakkan kepalanya meski dadanya berdesir hangat. “Aku cuma… baru sadar kalau aku tidak benar-benar mengenalmu selama dua tahun ini.”

“Sekarang kau sudah tahu sebagian,” pangkas Galih santai seraya mengambil dua cangkir kopi yang disodorkan barista. “Mari kembali ke kantor sebelum draf gugatanku dianggap terlambat olehmu.”

—

Hari hari berikutnya berlalu tanpa terasa. Sandiwara yang awalnya terasa seperti tugas beban kini bergeser menjadi sesuatu yang secara tak sadar menyusup ke dalam keseharian mereka. Nadira tidak lagi merasa terancam saat Galih duduk di sampingnya di kafetaria kantor, dan Galih tidak lagi segan menelepon Nadira hanya untuk menanyakan apakah draf revisi sudah dikirim ke panitera.

Mereka mulai saling membagi ruang. Nadira mendapati dirinya sering membelikan kopi tanpa gula kesukaan Galih saat berangkat pagi, sementara Galih tanpa banyak bicara selalu menyisakan area parkir yang lebih luas untuk mobil Nadira jika mereka tiba di kantor bersamaan.

Konflik di benak Nadira bukan lagi tentang ketakutan akan ketahuan oleh Tante Rosa atau Ayahnya. Ketegangan baru yang muncul di dalam dirinya jauh lebih tenang, namun lebih dalam: *Kenapa hubungan yang seharusnya sementara dan berbatas tegas ini mendadak terasa begitu wajar?*

Ia tidak takut kehilangan Galih. Nadira adalah wanita yang terlalu logis untuk menyerahkan perasaannya pada sebuah peranan bayaran. Namun, ia mulai menyadari bahwa kehadiran Galih di sekitarnya tidak lagi terasa seperti sebuah invasi, melainkan seperti sebuah kebiasaan yang mulai sulit dieliminasi.

—

Satu minggu menjelang keberangkatan ke Bogor, suasana di ruangan Galih tampak lebih sibuk dari biasanya. Berkas-berkas perjalanan dan jadwal acara keluarga sudah menumpuk di meja Nadira.

Sore itu, Nadira melangkah masuk ke ruangan Galih tanpa mengetuk pintu, membawa sebuah draf lembaran baru di tangannya.

“Ini draf aturan untuk acara di Bogor Sabtu depan,” ujar Nadira seraya menaruh kertas itu di atas meja Galih.

Galih mendongak dari layar komputernya, mengangkat sebelah alisnya. “Aturan baru lagi?”

“Ada sepuluh kerabat keluarga besar yang akan hadir,” jelas Nadira dengan nada bicara resminya. “Poin pertama: kau jangan terlalu banyak tersenyum pada Tante Rosa, nanti beliau makin curiga. Poin kedua: kalau sepupuku menanyakan rencana masa depan kita, jawab saja ‘kami sedang fokus pada karier’. Poin ketiga—”

“Nadira,” potong Galih pelan, menyandarkan punggungnya di kursi kerja seraya menatap wanita di hadapannya dengan binar jenaka di matanya. “Kau membuat draf aturan ini seolah-olah kita sedang bersiap masuk ke ruang sidang Arbitrase Internasional.”

“Ini demi keamanan kita, Galih!” tegur Nadira, memoles raut galaknya. “Acara di Bogor ini berskala lebih besar. Kalau kita melakukan satu kesalahan kecil saja—”

“Kita sudah melewati satu bulan berselang-seling makan siang, lembur bersama, dan bertukar draf setiap hari, Nadira,” selak Galih santai, menopang dagunya dengan sebelah tangan. “Di titik ini, kalau kita duduk berdekatan di Bogor nanti, orang-orang tidak akan melihat dua aktor yang sedang menghafal teks pidato. Mereka cuma akan melihat kita yang seperti biasa.”

Nadira terdiam. Kalimat Galih tepat menyasar celah pertahanannya. Suka atau tidak, satu bulan ini telah melatih mereka untuk saling memahami tanpa perlu teks skenario.

Nadira mendengus pelan, berusaha menyembunyikan rasa salah tingkah yang mendadak menyerang wajahnya. Ia merampas kembali lembaran kertas di meja Galih dan memutarnya menuju pintu keluar.

Namun, baru dua langkah berjalan, Nadira menghentikan langkahnya di dekat ambang pintu. Tanpa memutar tubuhnya sepenuhnya, ia menoleh sedikit ke arah Galih.

“Besok jam makan siang, jangan lupa makan,” ujar Nadira kaku. “Kau sudah dua hari ini cuma minum kopi dari pagi.”

Galih membeku sejenak di kursinya. Pandangannya tertuju lurus pada Nadira, matanya menyempit tipis seraya sudut bibirnya terangkat lambat.

“Kau… baru saja mengingatkanku untuk makan?” tanya Galih dengan nada keheranan yang sengaja dibuat-buat.

Wajah Nadira seketika memerah kencang. Ia dengan cepat memutar tubuhnya kembali ke arah pintu, memasang benteng defensif setinggi mungkin.

“Aku cuma tidak mau pacar palsuku pingsan atau sakit sebelum acara di Bogor!” tembak Nadira cepat, suaranya naik setengah oktaf. “Itu bakal merusak seluruh rencanaku!”

Galih tidak membalas argumen defensif itu. Pria itu hanya tertawa rendah—sebuah tawa halus dan hangat yang menggema pelan di dalam ruang kerjanya yang sepi. Ia menatap punggung Nadira yang berjalan cepat meninggalkan ruangannya, tahu betul bahwa alasan profesionalitas yang diucapkan wanita itu baru saja kehilangan maknanya.

BERSAMBUNG…

Prev
Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Drama Keluarga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita