Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 5
“Keisha tidak boleh datang,” cetus Nadira tegas, menyilangkan kedua tangannya di dada. “Ini makan malam keluarga inti. Kita sudah punya cukup banyak masalah untuk dihadapi bersama Ayah, tanpa perlu ditambah kehadiran sepupuku.”
Galih meletakkan map di meja, menatap Nadira dengan raut tenang. “Jangan langsung menolak secara emosional, Nadira. Kalau Keisha memang punya urusan profesional yang sah dengan kantorku, melarangnya secara tiba-tiba justru bisa membuat situasi terlihat aneh. Sepupumu bisa berpikir kau sengaja menjauhkanku darinya.”
“Aku tidak sedang menjauhkan siapa-siapa!” sanggah Nadira cepat, suaranya naik satu nada. “Aku cuma tidak ingin makan malam yang seharusnya menjadi ujian hubungan kita berubah menjadi sesi konsultasi antara kau dan Keisha.”
Galih tidak langsung membalas. Ia melangkah mendekat, mengamati perubahan raut wajah Nadira dengan matanya yang tajam dan observatif. “Kau sebenarnya takut ayahmu mengetahui hubungan kita palsu… atau takut aku terlalu nyaman berbicara dengan Keisha?”
Nadira tertegun seketika. “Jangan konyol,” balasnya dingin, membuang muka. “Aku cuma memikirkan efisiensi dan fokus acara nanti malam. Tidak ada hubungannya dengan perasaan pribadi.”
“Bagus kalau begitu,” ujar Galih tenang, tanpa niat memojokkan Nadira lebih jauh.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Nadira merenggut ponselnya dan mengetik balasan untuk Keisha. Ia menjelaskan secara sopan bahwa makan malam hari Minggu adalah acara keluarga yang sangat terbatas, sehingga konsultasi hukum sebaiknya dijadwalkan pada hari kerja. Keisha membalas dengan sangat cepat dan pengertian, menegaskan bahwa ia sama sekali tidak bermaksud mengganggu.
Namun, hanya berselang dua menit kemudian, ponsel Galih di atas meja berdenting. Sebuah pesan pribadi masuk dari Keisha: *’Maaf kalau tadi merepotkan, Mas Galih. Kalau Mas sempat di jam kerja, aku tetap ingin konsultasi soal struktur pendanaan kantor.’*
Galih meraih ponselnya dan mengetik balasan singkat yang sangat profesional: *’Tentu, Keisha. Silakan atur jadwal lewat sekretaris kantor saya pada hari kerja.’*
Nadira melirik layar ponsel Galih dari sudut matanya. Meskipun ia tahu Galih merespons murni karena alasan pekerjaan dan Keisha tidak berniat merusak apa pun, dada Nadira tetap dihinggapi rasa tidak nyaman yang terus merayap kaku.
—
Hari Minggu sore tiba. Langit di atas kawasan Jakarta Selatan dinaungi awan mendung tipis saat mobil Galih berhenti di halaman rumah orang tua Nadira.
Sesuai permintaan Ayah Nadira, Galih datang tepat satu jam lebih awal. Pria itu keluar dari mobil mengenakan kemeja batik tulis bernuansa gelap yang dipadu celana kain rapi—penampilan yang formal, elegan, namun tidak terkesan berlebihan.
Nadira sudah menunggu di teras depan. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang nyata.
“Dengar,” bisik Nadira setengah mendesak saat berjalan berdampingan menuju pintu masuk. “Ayahku itu sangat teliti. Jangan menjawab terlalu seperti pengacara yang sedang membacakan nota pembelaan. Jangan pernah sebut CompanionCorp. Jangan mengarang terlalu banyak detail tentang keluargamu. Dan yang paling penting, jangan sekali-kali menyebutku sebagai ‘calon istri’ atau istilah muluk lainnya.”
Galih menghentikan langkahnya di depan pintu jati yang kokoh, menoleh menatap Nadira dengan senyum tipis. “Nadira, terlalu banyak aturan justru akan membuat kita terlihat seperti sedang menghafal teks pidato.”
“Aku cuma mau kita selamat malam ini, Galih,” tegas Nadira.
“Kalau kita ingin meyakinkan ayahmu,” potong Galih pelan namun mantap, “kita tidak boleh terlihat seperti dua pengacara yang sedang menyusun draf pertahanan. Santai saja. Percayalah padaku.”
Nadira terdiam. Kalimat Galih memukul kesadarannya bahwa dalam upaya mengendalikan segala risiko, ia justru memperlihatkan kekakuannya sendiri.
Pintu terbuka. Ayah Nadira, Pak Wirawan, menyambut mereka di ruang tamu. Pria paruh baya berpenampilan bersahaja namun berwibawa itu tersenyum tipis.
“Galih, terima kasih sudah datang tepat waktu,” sapa Pak Wirawan seraya menjabat tangan Galih dengan hangat. “Mari ikut saya ke ruang kerja. Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan sebentar sebelum makan malam.”
“Tentu, Om,” jawab Galih sopan.
Pak Wirawan menoleh pada keponakannya. “Nadira, kamu tunggu di ruang keluarga dulu ya bersama Ibu.”
Nadira menatap punggung kedua pria itu saat mereka melangkah menuju ruang kerja di lantai bawah. Pintu kayu berukir itu tertutup rapat, menyisakan Nadira yang berdiri terpaku dengan dada berdebar kencang.
—
Di dalam ruang kerja yang beraroma kayu jati dan buku-buku tua, Pak Wirawan duduk di balik meja kerjanya, mempersilakan Galih duduk di kursi kulit di hadapannya.
“Saya tidak suka berbelit-belit, Galih,” ujar Pak Wirawan membuka percakapan, mengamati pria muda di depannya dengan tatapan menelisik yang sangat tenang. “Nadira itu anak perempuan saya satu-satunya. Dia mandiri, sangat keras kepala, dan selalu memasang benteng tinggi di sekitar dirinya.”
“Saya sangat memahami hal itu, Om,” balas Galih, menatap langsung ke dalam mata Pak Wirawan tanpa sedikit pun keraguan.
“Bagaimana kamu bisa mengenal dia lebih dalam daripada pria-pria lain yang pernah mencoba mendekatinya?” tanya Pak Wirawan. “Enam bulan adalah waktu yang singkat.”
Galih menghentikan napasnya sejenak, berpura-pura merenung agar jawaban tidak terdengar seperti hafalan. “Kami bekerja di ruangan yang sama setiap hari, Om. Saya melihat Nadira bukan cuma saat dia memenangi kasus di pengadilan, tapi juga saat dia kelelahan di meja kerjanya. Dia memang terkesan keras di luar, tapi integritas dan kepeduliannya pada orang-orang di sekitarnya yang membuat saya tertarik.”
“Kalian pernah bertengkar hebat?” cecar Pak Wirawan lagi.
“Hampir setiap hari di kantor,” aku Galih jujur, diiringi senyum tipis. “Kami punya sudut pandang berbeda dalam banyak hal. Tapi kami selalu menemukan cara untuk menyelesaikan perbedaan itu secara profesional.”
“Dan bagaimana kamu menghadapi Nadira kalau dia sedang dalam mode keras kepalanya?”
Galih terdiam sebentar, lalu menjawab perlahan. “Saya tidak mencoba memenanginya, Om. Saya memberi dia ruang untuk berpikir, dan berada di dekatnya sampai dia siap untuk bicara.”
Pak Wirawan mengangguk-angguk pelan, menyandarkan punggungnya. Jawaban Galih tidak terdengar seperti gombalan manis, melainkan pengamatan nyata atas sifat anaknya.
“Kamu serius dengan anak saya, Galih?” tanya Pak Wirawan, memberikan penekanan pada kata *serius*.
“Saya tidak akan berada di ruang kerja ini kalau saya tidak serius, Om,” jawab Galih mantap.
Pak Wirawan menatap Galih dalam-dalam selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang paling tidak diantisipasi:
“Kalau begitu, kapan kamu berencana menikahi Nadira?”
Keheningan seketika mencengkeram ruang kerja itu. Galih tidak langsung menjawab. Ini adalah pertanyaan yang sama sekali tidak ada di draf simulasi mereka.
Galih menarik napas halus, lalu menjawab dengan nada rendah dan jujur. “Menurut saya, pernikahan bukan sesuatu yang harus terburu-buru dikejar hanya karena batasan waktu atau tuntutan lingkungan, Om. Nadira punya karier yang sedang ia bangun, dan saya ingin memastikan bahwa ketika kami melangkah ke jenjang itu, Nadira benar-benar siap dan merasa nyaman, bukan karena tertekan.”
Pak Wirawan tidak langsung menanggapi. Pria tua itu hanya menatap Galih dengan raut wajah yang sulit dibaca, membiarkan keheningan mengantung di antara mereka.
—
Sementara itu di ruang keluarga, Nadira berjalan bolak-balik di atas karpet. Matanya tak lepas menatap pintu ruang kerja yang masih tertutup rapat. Sudah hampir empat puluh menit berlalu.
Ibu Nadira datang membawa nampan berisi cangkir teh, tersenyum melihat tingkah kepunyaan putrinya. “Nadira, duduklah. Kamu membuat Ibu pusing dengan berjalan mutar-mutar begitu.”
“Mereka lama sekali di dalam, Bu,” gumam Nadira, duduk di tepi sofa dengan gelisah.
“Ayahmu itu jarang mengajak laki-laki bicara empat mata di ruang kerjanya kalau dia tidak menganggap orang itu penting,” tutur Ibunya lembut seraya meletakkan cangkir. “Lagipula, Galih itu kelihatan sangat memahami kamu.”
Nadira berdeham kaku. “Kami baru enam bulan dekat, Bu. Belum lama.”
Ibunya tersenyum bermakna. “Justru itu yang bikin Ibu heran. Cara Galih memperhatikan hal-hal kecil soal kamu… dia seperti orang yang sudah mengenalmu jauh lebih lama dari enam bulan.”
Kalimat Ibunya menghantam benak Nadira. *Jauh lebih lama dari enam bulan?* Nadira terdiam, bayangan tentang bagaimana Galih mengetahui teh favoritnya, kebiasaan mengetuk pulpennya, hingga cara pria itu membacanya di kantor mendadak berputar kembali di kepalanya.
Sebelum Nadira sempat memikirkan itu lebih jauh, pintu ruang kerja akhirnya terbuka.
Galih dan Pak Wirawan melangkah keluar. Nadira seketika berdiri, matanya langsung tertuju pada Galih. Pria itu tampak tenang, meski ada gurat kelelahan tipis di matanya.
Nadira menghampiri Galih saat ibunya dan Pak Wirawan berjalan duluan menuju meja makan.
“Apa yang Ayah tanyakan?” bisik Nadira setengah panik.
“Terlalu banyak,” jawab Galih pelan.
“Kau… kau tidak membuat kesalahan, kan?” desak Nadira, menahan napas.
Galih menatap mata Nadira, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lembut yang sangat langka. “Ayahmu cuma ingin memastikan satu hal: apakah aku mampu memahami anak perempuannya saat dia sedang tidak mudah dipahami.”
Nadira tertegun, menelan ludah. “Dan… jawabanmu?”
Galih menatapnya lurus, suaranya terdengar begitu jernih tanpa kepura-puraan. “Aku bilang, aku masih belajar.”
Dada Nadira berdesir hebat. Kata-kata itu terdengar sangat tulus hingga membuat lidahnya kelu.
“Tapi aku tidak keberatan belajar lebih lama,” tambah Galih rendah, sebelum melemparkan kedipan mata tipis dan berjalan mendahuluinya menuju meja makan.
Nadira berdiri membeku di tempatnya selama beberapa detik, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mendadak berantakan. *Dia cuma berakting,* bisik Nadira pada dirinya sendiri, meski alasan itu terasa makin rapuh.
—
Sesi makan malam berlangsung jauh lebih hangat daripada yang dibayangkan Nadira. Pak Wirawan yang biasanya kaku tampak lebih santai, bahkan beberapa kali melempar kelakar ringan.
“Nadira ini kalau di rumah suka lupa tempat menaruh kunci mobilnya sendiri,” ujar Pak Wirawan terkekeh seraya memotong daging steak-nya. “Di pengadilan apa dia seteliti itu, Galih?”
Galih tertawa kecil. “Di pengadilan dia sangat teliti, Om. Tapi kalau di kantor, dokumennya sering menumpuk sampai memenuhi setengah meja saya. Saya yang harus merapikan berdasarkan tanggal kalau tidak mau melihat dia kram kepala.”
“Itu karena kau yang selalu memindahkan berkasku tanpa izin, Galih!” potong Nadira spontan, menatap Galih dengan mata menyempit.
“Aku memindahkannya supaya meja kerjamu tidak kelihatan seperti gudang arsip terbakar, Nadira,” balas Galih santai, menikmati riak kekesalan Nadira.
Pak Wirawan dan Ibunya tertawa melihat interaksi saling silat kata di antara mereka berdua. Dinamika persaingan yang biasa terjadi di kantor bertransformasi menjadi olok-olokan alami khas pasangan yang sudah sangat terbiasa dengan tabiat satu sama lain.
Namun di tengah tawa itu, Pak Wirawan mendadak meletakkan sendoknya dan menatap Galih serta Nadira bergantian.
“Kalau begitu, saya ingin kalian datang bersama ke acara syukuran keluarga besar di Bogor bulan depan,” ujar Pak Wirawan dengan nada penuh keputusan.
Nadira hampir saja menjatuhkan garpunya. Matanya melebar menatap ayahnya. “Bulan depan, Yah? Tapi pekerjaan kami di kantor—”
“Saya sudah memberi tahu Tante Rosa,” pangkas Pak Wirawan mantap. “Dia sangat senang dan bilang akan menyiapkan sambutan khusus untuk kalian.”
Nadira membeku, kepalanya mendadak pening. Satu acara reuni keluarga saja sudah menguras seluruh tenaganya, dan kini mereka terseret ke acara keluarga besar lain bulan depan.
Nadira melirik Galih di sebelahnya, bermaksud memberi isyarat agar pria itu mencari alasan pekerjaan. Namun, Galih justru tersenyum sopan pada Pak Wirawan.
“Tentu, Om. Kami akan mengusahakan jadwal kami kosong untuk acara itu,” jawab Galih tenang.
Di bawah meja makan yang tertutup taplak tebal, Nadira secara refleks melayangkan tendangan pelan ke kaki Galih. *Brak.* Ujung sepatu hak Nadira mendarat tepat di tulang kering celana Galih.
Galih menahan napasnya sesaat, rahangnya mengetat menahan kaget, namun wajahnya di atas meja tetap memamerkan senyuman paling manis tanpa cela. Ia melirik Nadira dari sudut matanya, menahan tawa geli.
—
Pukul sembilan malam, makan malam akhirnya selesai. Nadira berjalan mengantar Galih keluar menuju mobilnya yang terparkir di tepi jalan depan rumah.
Begitu gerbang pagar tertutup di belakang mereka, Nadira langsung memutar tubuhnya dan menatap Galih dengan penuh kejengkolan.
“Kenapa kau bilang iya lagi?!” desak Nadira. “Acara bulan depan itu bukan bagian dari kesepakatan kita! Kita cuma sewa-menyewa untuk satu malam!”
Galih menyandarkan punggungnya di pintu mobil, menatap Nadira dengan raut santai. “Kalau aku menolak di depan ayahmu setelah semua percakapan di ruang kerja tadi, beliau bakal langsung merasa ada yang tidak beres, Nadira.”
“Tapi ini makin liar, Galih!” seru Nadira pelan, meremas jemarinya sendiri. “Sandiwara kita sekarang punya jadwal bertahap bulan depan!”
Galih menatap Nadira yang tampak sangat kalut. Tatapannya melunak.”Kalau begitu, kita punya waktu satu bulan untuk memastikan sandiwara ini tetap terlihat nyata di mata mereka.”
Nadira menatap pria di hadapannya, kehabisan kata-kata untuk membalas argumen itu. Namun, detik demi detik yang berlalu justru membuat dadanya terasa makin sesak oleh kesadaran yang baru menghantamnya.
“Kita sudah jauh keluar dari kesepakatan awal, Galih,” ujar Nadira pelan, suaranya kehilangan nada ketus yang biasa ia gunakan, berganti dengan helaan napas berat yang sarat akan kekhawatiran logis.
Galih memperhatikan perubahan raut wajah wanita di depannya. “Aku tahu.”
“Awalnya ini cuma untuk satu malam,” lanjut Nadira seraya meremas jemarinya sendiri di depan dada. “Satu malam untuk membungkam Tante Rosa. Itu saja transaksi kita di awal.”
“Iya,” sahut Galih singkat, masih berdiri tenang dengan punggung bersandar pada pintu mobilnya.
“Lalu Keisha muncul,” cecar Nadira, melangkah satu tindak lebih dekat. “Lalu kau harus melewati interogasi empat mata dengan Ayahku di ruang kerjanya. Dan sekarang… sekarang kita sudah punya agenda acara keluarga besar bulan depan di Bogor.”
Nadira mengusap keningnya yang mendadak berdenyut. Setiap kali ia merasa sandiwara ini bisa selesai dan mereka bisa kembali menjadi dua pengacara yang saling sikut di pengadilan, selalu saja ada alasan baru yang menarik mereka kembali ke dalam pusaran sandiwara ini.
Galih tidak memotong. Pria itu membiarkan Nadira meluapkan seluruh hitung-hitungan logisnya. Wajahnya yang biasa tenang kini mengeras tipis, matanya mengamati dengan cermat bagaimana pertahanan diri Nadira perlahan terkikis oleh kegelisahan murni.
Nadira mendongak, menatap lurus tepat ke dalam iris mata Galih. Adrenalin di dadanya tidak lagi dipicu oleh kekesalan, melainkan oleh sebuah ketidakpastian yang tiba-tiba terasa menakutkan.
“Kalau terus seperti ini… kapan kita berhenti?” tanya Nadira rendah.
Keheningan seketika menyergap halaman rumah yang sunyi di bawah naungan awan mendung malam.
Galih tidak langsung menjawab. Pria yang biasanya selalu memiliki argumen hukum tanpa cela, jawaban instan, dan retorika yang logis itu kini terdiam membisu.
Dua detik. Tiga detik.
Jeda itu merayap panjang dan janggal. Tatapan Galih kepada Nadira bertambah dalam, ada kilat keterkejutan tipis di matanya—seolah pertanyaan sederhana dari Nadira barusan juga memukul sesuatu yang sensitif di dalam benaknya sendiri. Sesuatu yang selama ini sengaja tidak ingin ia pertanyakan.
Galih perlahan menegakkan posisi tubuhnya, melepaskan sandaran punggungnya dari mobil. Tangan kirinya masuk ke dalam saku celana kainnya, sementara pandangannya sama sekali tidak teralih dari wajah Nadira.
“Galih?” panggil Nadira lagi, menuntut kepastian yang tak kunjung datang dari pria yang biasanya paling bisa diandalkan dalam mengendalikan situasi.
Galih menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan ke udara malam yang dingin. Sudut bibirnya tidak lagi terangkat membentuk senyuman menggoda. Ia hanya menatap Nadira dalam diam, membiarkan pertanyaan itu menggantung kaku di antara mereka tanpa jawaban.
BERSAMBUNG…