Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 4
“Sepupuku baru saja meminta nomor kontakmu,” ulangi Nadira, jemarinya meremas tepi ponselnya dengan ketat.
Galih melirik layar ponsel yang diarahkan Nadira padanya, lalu kembali menatap lurus ke jalan raya yang mulai lengang. Ekspresinya tetap tenang, tanpa raut terkejut maupun kilat jenaka yang biasa ia tunjukkan.
“Lalu?” tanya Galih santai. “Kau mau memberikan nomor kerja atau nomor pribadiku?”
Nadira menaikkan sebelah alisnya, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan se-pragmatis itu. “Dia bilang mau konsultasi soal hukum bisnis kantornya. Secara logika, tidak ada alasan valid untuk melarangnya.”
“Tapi kau ragu,” potong Galih tepat sasaran. “Kenapa? Kau keberatan kalau dia menghubungi aku?”
“Aku tidak keberatan,” bantah Nadira cepat, terlalu cepat sampai suaranya terdengar makin kaku. “Hanya saja… aku tidak mau urusan pekerjaan atau urusan pribadi keluargaku makin tumpang-tindih. Kita sepakat hubungan ini cuma untuk membungkam Tante Rosa, kan? Bukan untuk menambah daftar klien CompanionCorp di antara kerabatku.”
Galih terkekeh rendah, memutar kemudi ke kiri untuk memasuki kawasan apartemen Nadira. “Kalau alasannya profesionalitas, berikan saja nomor kantorku. Lagipula, Keisha sepupumu. Kalau kau tiba-tiba melarang, dia justru bisa curiga kenapa kau se-posesif itu pada pacarmu sendiri.”
Nadira terdiam. Logika Galih selalu tidak bercelah, dan itu sangat menjengkelkan. Ia menyandarkan punggungnya ke jok mobil, menatap keluar jendela saat mobil Galih berhenti tepat di lobi apartemen.
“Baik,” gumam Nadira seraya membuka sabuk pengaman. “Akan kukirimkan nomor kantormu.”
“Nadira,” panggil Galih sebelum wanita itu membuka pintu.
Nadira menoleh. Galih sedang menatapnya dengan raut wajah datar, namun ada kehangatan tipis di matanya. “Terima kasih untuk malam ini. Kau tampil luar biasa di depan keluargamu.”
Nadira berdeham pelan, berusaha mengabaikan hangat yang mendadak menyebar di pipinya. “Kau juga tidak buruk untuk ukuran pacar sewaan. Selamat malam, Galih.”
—
Hari Senin di Firma Hukum Wiratama & Partners berjalan dengan tensi tinggi. Di dalam ruang rapat lantai empat, berkas sengketa akuisisi lahan milik perusahaan manufaktur menumpuk di meja.
“Opsi hukum paling aman adalah mengajukan gugatan perdata atas wanprestasi,” tegas Nadira seraya mengetukkan jarinya ke atas meja rapat. “Kita punya bukti transfer dan adendum perjanjian yang sah.”
Galih yang duduk berseberangan dengannya menggeleng pelan. “Langkah itu memakan waktu minimal delapan bulan di Pengadilan Negeri, Nadira. Klien butuh kepastian aset dalam dua bulan. Kita harus masuk lewat jalur somasi kaku dan mediasi terstruktur.”
“Mediasi hanya memberi mereka waktu untuk mengaburkan aset!” tembak Nadira, menatap langsung ke dalam mata Galih.
“Dan gugatan hanya akan membekukan aset klien kita sendiri,” balas Galih tak kalah tajam, suaranya tetap tenang tetapi menusuk.
Rekan-rekan *Associates* di sekeliling mereka hanya bisa saling lirik. Dinamika persaingan antara Nadira dan Galih telah kembali normal. Nadira dengan sengaja memutus semua gestur kasual yang sempat terjadi di antara mereka akhir pekan lalu. Ia bersikap dingin, sangat profesional, dan menjaga jarak sejauh mungkin.
Setelah rapat selesai dan ruangan berangsur kosong, Nadira membereskan dokumennya dengan gerakan cepat. Saat ia hendak berbalik menuju pintu, Galih melangkah memotong jalurnya.
“Kau menembak argumenku lebih agresif dari biasanya hari ini,” ujar Galih pelan, melipat kedua tangannya di dada. “Ada masalah, *Counselor*?”
“Aku cuma memikirkan kepentingan klien,” jawab Nadira datar tanpa menatap mata pria itu. “Tidak ada hubungan dengan hal lain.”
“Oh ya?” Galih melangkah satu tindak lebih dekat. “Termasuk fakta bahwa Keisha mengirimkan pesan singkat padaku kemarin malam?”
Langkah Nadira terhenti seketika. Ia mendongak, berusaha menjaga raut wajahnya tetap kaku. “Keisha menghubungi nomor kantor?”
“Nomor pribadi,” ralat Galih. “Kau memberikan nomor pribadiku padanya, kan?”
“Aku…” Nadira menyintesis kebohongan dalam otaknya, tetapi ingatan malam itu membuatnya tak bisa mengelak. Ia memang keliru menyalin kontak dari buku teleponnya karena panik malam itu. “Itu tidak sengaja. Lagi pula, kau bisa mengabaikannya kalau itu bukan urusan penting.”
“Aku tidak mengabaikannya,” sahut Galih santai. “Dia benar-benar bertanya soal struktur modal *venture capital*. Kami mengobrol sekitar sepuluh menit.”
Perut Nadira mendadak melilit aneh. Sepuluh menit. “Bagus kalau begitu. Berarti nomor itu berguna.”
Galih menatap reaksi Nadira yang begitu kaku, lalu sudut bibirnya terangkat tipis menyunggingkan senyuman yang sangat menjengkelkan. “Kau sedang marah padaku karena Keisha?”
“Jangan percaya diri, Galih Pramudya,” tebas Nadira dengan nada ketus. “Aku tidak peduli siapa yang menghubungi ponselmu. Mau Keisha, mau klienmu dari CompanionCorp, itu sama sekali bukan urusanku.”
Galih menatapnya selama dua detik, lalu mengangguk pelan. “Bagus. Berarti aku tidak perlu menjelaskan setiap kali ponselku berbunyi saat kita sedang bersama.”
“Galih!” Nadira mendelik tajam, matanya memancarkan kekesalan murni.
Galih hanya tertawa kecil, suara tawa rendah yang jarang sekali didengar orang-orang di kantor. Ia tidak menekan Nadira lebih jauh, hanya berbalik menuju mejanya seraya melambaikan tangan singkat. Nadira menarik napas panjang, merapikan blazer hijau tuanya dengan napas gusar. Pria itu sengaja memancing emosinya.
—
Rabu sore, beban kerja membuat Nadira bertahan di mejanya hingga pukul tujuh malam. Pelipisnya berdenyut kram akibat menatap layar monitor terlalu lama. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghela napas berat.
Tiba-tiba, sebuah cangkir keramik diletakkan perlahan di sebelah keyboard-nya.
Uap tipis membumbung tinggi, membawa aroma khas yang sangat ia kenali: teh chamomile hangat tanpa gula.
Nadira mendongak. Galih berdiri di samping mejanya, sudah mengenakan mantel cokelat mewahnya dengan tas kerja terlempai di bahu.
“Minum dulu,” kata Galih singkat. “Biar kepalamu tidak pecah sebelum makan malam minggu depan.”
Nadira menatap cangkir teh itu, lalu menatap Galih. “Kau belum pulang?”
“Baru mau jalan,” jawab Galih. Tanpa diminta, jemari pria itu terulur meraih berkas yang tersusun berantakan di sudut meja Nadira, membedakannya berdasarkan prioritas tanggal dengan gerakan cepat dan rapi.
Saat jemari mereka tak sengaja bersentuhan saat sama-sama meraih map merah di tengah meja, keduanya mendadak terhenti.
Sentuhan itu hanya berlangsung sepersekian detik, namun sensasi hangat yang terpancar membuat Nadira menahan napas. Galih tidak langsung menarik tangannya; ia menatap jemari Nadira yang menempel di jemarinya, sebelum perlahan menarik tangannya kembali dengan sangat halus.
“Jangan tidur terlalu malam,” ujar Galih, suaranya mendadak melunak dari nada tajam yang biasa ia gunakan. “Ayahmu menelponku tadi sore.”
Pikiran Nadira yang baru saja terdistraksi langsung siaga penuh. “Ayahku? Menelponmu langsung?”
“Iya,” Galih menarik kursi di depan meja Nadira dan duduk. “Beliau memintaku datang lebih awal hari Minggu nanti. Satu jam sebelum acara makan malam dimulai.”
“Untuk apa?” tanya Nadira dengan raut cemas yang tidak bisa ia tutupi. “Kenapa Ayah tidak bilang padaku?”
“Beliau bilang ada hal pribadi yang ingin dibicarakan berdua saja denganku sebelum anggota keluarga lain kumpul,” terang Galih. “Makanya kita harus merapikan detail cerita kita malam ini juga.”
Nadira menyandarkan tubuhnya, tangannya mencengkeram cangkir teh chamomile yang hangat. “Detail apa lagi? Kita sudah menyusun skenario awal pertemuan, makanan favorit, sampai argumen pertengkaran.”
“Ayahmu itu mantan diplomat, Nadira,” penggal Galih, tatapannya berubah sangat serius. “Dia tidak akan menanyakan makanan favoritku. Dia akan menguji keseriusanku. Bagaimana kita bertemu orang tuaku nanti, bagaimana rencana kita dua tahun ke depan, siapa yang biasanya mengalah kalau kita ada masalah besar. Masalah terbesar kita sekarang bukan Tante Rosa yang gampang diimpresi, tapi ayahmu.”
“Ini makin rumit…” gumam Nadira, memijat pelipisnya. “Aku harusnya tidak pernah menyewa pasangan dari agensi itu.”
“Tapi kau sudah melakukannya,” sahut Galih tenang. “Dan kita sudah sejauh ini. Kita harus menyamakan persepsi. Kalau ayahmu bertanya kenapa aku bisa yakin padamu dalam waktu enam bulan, aku harus memberi jawaban yang masuk akal.”
Nadira menatap pria di hadapannya. “Lalu apa yang akan kau katakan?”
Galih menatap mata Nadira tanpa berkedip. “Aku akan bilang, karena aku belum pernah bertemu perempuan yang bisa membuatku ingin menjadi versi terbaik dari diriku sendiri setiap hari—baik di dalam maupun di luar pengadilan.”
Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang begitu datar namun tajam, meninggalkan keheningan panjang di antara mereka. Nadira merasakan detak jantungnya berdegup kencang yang tidak wajar. Ia mencoba mencari tanda-tanda bahwa Galih sedang membaca draf hafalan, tetapi ekspresi pria itu begitu jujur.
“Galih… itu terlalu…” Nadira kehilangan kata-kata.
“Terlalu meyakinkan?” potong Galih seraya berdiri dari kursinya. “Memang harus begitu. Kalau aku jadi ayahmu, aku juga akan menguji calon pasangan anakku sebelum memberinya tempat di keluarga.”
“Jangan bilang calon pasangan,” potong Nadira menatapnya tajam, berusaha membarikade dirinya sendiri dari kata-kata itu.
Galih tersenyum tipis, merapikan posisi jasnya. “Bukankah itu peran yang sedang kita mainkan, *Counselor*?”
—
Kamis malam, dua hari sebelum acara makan malam di rumah orang tua Nadira.
Nadira sedang duduk di meja makannya di apartemen, mengoreksi berkas persiapan makan malam yang dikirimkan Galih lewat email—pria itu benar-benar memperlakukan fake dating ini seperti manajemen proyek hukum yang ketat.
Ponsel Nadira di atas meja bergetar, menampilkan notifikasi pesan masuk dari Keisha.
Nadira menghela napas, menggeser layar ponselnya. Namun saat membaca baris demi baris pesan tersebut, kening Nadira makin berkerut dan napasnya tertahan.
*Mbak Nadira, maaf ya kalau aku lancang. Minggu malam nanti kan ada makan malam keluarga di rumah Om Wirawan. Boleh tidak aku ikut datang? Sekalian aku mau konsultasi babak lanjutan sama Mas Galih soal berkas pendanaan kantorku, biar tidak perlu bikin janji terpisah di luar. Boleh ya, Mbak?*
Nadira membaca pesan itu tiga kali. Rasa tidak nyaman yang sejak kemarin tertahan di dadanya kini meletup menjadi kejengkolan yang nyata. Keisha secara halus mencoba masuk ke dalam acara makan malam keluarga intinya, menggunakan alasan konsultasi bisnis yang sangat rasional.
Bel pintu apartemennya berbunyi dua kali.
Nadira berjalan menuju pintu dan membukanya. Galih berdiri di sana, membawa map cokelat berisi dokumen revisi skenario yang sempat mereka bahas kemarin. Pria itu mengenakan kaos polos hitam dan jaket kasual—tampak jauh lebih santai dari penampilannya di kantor.
“Aku membawakan draf poin-poin yang—” Kalimat Galih terhenti saat melihat raut wajah Nadira yang terlipat kaku dan menatapnya tajam.
“Ada apa?” tanya Galih mengernyit, melangkah masuk ke dalam apartemen setelah Nadira menggeser tubuhnya. “Pekerjaanmu bermasalah?”
“Bukan pekerjaan kantor,” ujar Nadira dingin, mengunci pintu kembali lalu berjalan menuju meja makan.
Galih menyusulnya, meletakkan map di atas meja. “Lalu?”
Nadira meraih ponselnya, mengetuk layarnya, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Galih. “Lihat sendiri.”
Galih menerima ponsel itu, mengamati pesan panjang dari Keisha yang terpampang di layar. Pria itu membacanya dengan seksama, alisnya perlahan bertaut rapat.
“Dia bilang apa?” tanya Galih pelan, mendongak menatap Nadira.
“Dia mau ikut makan malam keluarga inti kita hari Minggu nanti,” tutur Nadira, suaranya bergetar tipis antara kekesalan dan ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan lagi. “Katanya mau sekalian ‘konsultasi’ denganmu agar tidak perlu bertemu di luar.”
Galih menatap layar ponsel itu sekali lagi, lalu perlahan mengalihkannya pada Nadira. Keheningan merayap cepat di antara mereka di dalam ruangan apartemen yang sunyi.
BERSAMBUNG…