Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 3
“Galih… Wajahmu ini… Tante rasanya sangat tidak asing. Kamu bukannya anak dari keluarga Suwandi yang pernah…” Tante Rosa menggantung kalimatnya, matanya menatap Galih tanpa berkedip.
Dada Nadira berdegup kencang bak dihantam godam. Jemarinya seketika mencengkeram lipatan kemeja di siku Galih dengan refleks panik. Skenario yang mereka susun dua hari di ruang arsip mendadak terasa lenyap dari ingatannya.
“Suwandi yang pemilik firma penilai aset di Kebayoran Baru, Tante?” potong Galih tenang, suaranya mengalir tanpa jeda atau riak kegugupan sedikit pun. Ia tersenyum sangat sopan. “Almarhum Ayah saya memang sahabat lama Pak Suwandi. Waktu kecil saya sering main ke rumah beliau. Mungkin Tante pernah melihat saya di acara syukuran keluarga mereka beberapa tahun lalu?”
Tante Rosa menepuk tangannya sekali, matanya berbinar lega. “Nah! Betul! Pantas saja! Tante kan sepupuan dengan istrinya Pak Suwandi! Dunia sempit sekali, ya?”
“Sangat sempit, Tante,” balas Galih mantap, memiringkan kepalanya sedikit ke arah Nadira seraya tersenyum manis. “Dan berkat pergaulan lingkaran yang sama itu juga, saya akhirnya bisa ketemu Nadira.”
Nadira menahan napasnya, menghembuskan napas perlahan setelah rasa cemas yang mencengkeram dadanya surut. Improvisasi Galih sangat rapi, masuk akal, dan menyapu bersih potensi kecurigaan dalam hitungan detik.
“Ayo, ayo duduk! Makanan sudah dihidangkan dari tadi,” ajak Tante Rosa, menuntun mereka menuju meja panjang yang sudah dipenuhi anggota keluarga besar Wirawan.
Galih melangkah di samping Nadira, memegang pinggang belakang Nadira dengan sangat natural untuk menuntunnya berjalan—sebuah sentuhan ringan yang membuat kulit punggung Nadira mendadak merinding.
Saat mereka tiba di meja, Galih secara otomatis menarik kursi untuk Nadira sebelum duduk di sebelah perempuan itu. Ketika pelayan menuangkan minuman ke gelas masing-masing, Galih langsung menggeser gelas jus mangga milik Nadira dan menukarnya dengan gelas air putih hangat.
“Kau tidak minum manis kalau malam,” bisik Galih di dekat telinga Nadira, cukup rendah hingga tidak terdengar sepupu di sebelah mereka.
Nadira menoleh, menatap Galih dengan alis terangkat. “Kau bahkan ingat itu di depan keluargaku?”
“Perhatian kecil itu kuncinya, *Counselor*,” bisik Galih balik seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Nadira!” panggil Tante Rosa dari seberang meja, membuka serangan utama malam itu. “Tante masih penasaran. Kenapa kamu menyembunyikan pria seperti Galih ini selama enam bulan? Biasanya kamu paling malas kalau disinggung soal pacar.”
Mata seluruh keluarga di meja itu mendadak tertuju pada Nadira. Nadira menelan ludah, siap mengeluarkan jawaban yang sudah dihapalnya. “Itu… karena kami berdua sama-sama sibuk di kantor, Tante. Kami mau memastikan dulu kalau—”
“Saya yang melarang Nadira cerita ke keluarga sebelum saya yakin bisa membahagiakannya, Tante Rosa,” sela Galih, mengambil alih pembicaraan dengan nada bicara yang hangat dan meyakinkan. “Nadira ini pengacara yang sangat hebat dan berprinsip. Saya harus mengejarnya hampir tiga bulan hanya untuk membuat dia mau diajak makan malam pertama di luar urusan pekerjaan.”
“O ya?” Tante Rosa tertawa renyah, tampak sangat terhibur. “Lalu apa yang bikin kamu akhirnya melirik Galih, Nadira? Biasanya kamu kan paling skeptis sama laki-laki.”
“Dia…” Nadira jeda sejenak, melirik Galih yang sedang menatapnya dengan raut menanti yang geli. Nadira berdeham pelan. “Dia gigih, Tante. Dan dia satu-satunya pria yang sanggup mengimbangi argumenku tanpa terbawa emosi.”
“Dan tentu saja karena dia tampan!” sahut Tante Rosa tertawa, disusul tawa beberapa kerabat lainnya. “Bandingkan dengan Raka yang kemarin Tante ceritakan. Galih ini jauh lebih berwibawa.”
Nadira hanya bisa tersenyum kaku, tidak menyangka Tante Rosa yang tadinya paling gencar ingin menjodohkannya kini berbalik memuji Galih setinggi langit.
“Tapi Galih,” ujar Ayah Nadira yang duduk di kepala meja, memajukan tubuhnya. Pria paruh baya yang tenang itu menatap Galih dengan pandangan meneliti ala pria senior. “Nadira ini dari luar kelihatan keras dan keras kepala. Pekerjaannya membuat dia jarang menunjukkan sisi lembutnya. Apa kamu tidak kerepotan?”
Suasana meja makan mendadak hening sejenak. Nadira menatap ayahnya, agak tersinggung namun juga penasaran bagaimana Galih akan menjawabnya.
Galih meletakkan garpunya, menatap Ayah Nadira dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat serius dan hangat.
“Nadira memang keras kepala kalau mempertahankan apa yang menurutnya benar, Om,” tutur Galih perlahan, suaranya bergema jernih di meja makan. “Tapi di balik ketegasannya di depan pengadilan, Nadira itu orang yang paling peduli pada detail dan orang-orang di sekitarnya. Dia mungkin tidak pandai mengumbar kata-kata manis, tapi tindakan dan integritasnya selalu menunjukkan betapa besarnya perhatian yang dia punya. Bagi saya, itu jauh lebih berharga daripada perempuan yang cuma manis di bibir.”
Nadira tertegun. Kalimat itu meluncur dari bibir Galih tanpa nada seperti orang yang sedang menghafal skrip perdata. Sorot mata pria itu saat mengucapkannya terasa sangat jernih dan jujur, membuat dada Nadira berdesir aneh. Untuk beberapa detik, Nadira lupa bahwa mereka sedang berada di tengah-tengah sandiwara bayaran.
*Dia cuma akting,* tegur batin Nadira cepat, berusaha menekan getaran aneh di dadanya. *Dia pengacara hebat. Tentu saja dia pintar menyusun kata-kata.*
“Wah, luar biasa!” puji paman Nadira seraya bertepuk tangan kecil. “Jawaban kelas satu!”
“Foto dulu dong! Ayo Nadira, Galih, merapat!” seru sepupu Nadira seraya mengarahkan kamera ponselnya.
Galih langsung merangkul bahu Nadira, menarik tubuh perempuan itu makin rapat ke sisinya. Nadira yang refleks terkejut secara otomatis menyandarkan tangannya di dada bidang Galih. Kilatan lampu kamera menyambar dua kali, mengabadikan gestur mesra yang tampak sangat nyata di mata siapa pun yang melihatnya.
—
Saat hidangan penutup disajikan, Nadira memberi kode mata pada Galih lalu berdiri dari kursi. “Permisi sebentar, mau ke toilet.”
Satu menit kemudian, Galih menyusulnya ke koridor sepi dekat area taman dalam restoran. Nadira yang sedang menunggu bersandar di dinding kayu langsung menyilangkan tangannya begitu melihat Galih mendekat.
“Kau terlalu bagus memainkan peran ini,” bisik Nadira setengah mendesis saat Galih berdiri di hadapannya.
Galih menyunggingkan senyum khasnya, bersandar pada dinding di sebelah Nadira. “Bukankah itu yang kau bayar, *Counselor*? Kualitas akting kelas atas agar Tante Rosamu tidak bisa berkutik lagi.”
“Tapi jawabanmu ke Ayahku tadi…” Nadira menggantung kalimatnya, menatap Galih penuh selidik. “Kau dapat dari mana narasi soal ‘integritas dan perhatian pada detail’ itu? Kita tidak pernah menyusun draf jawaban seperti itu kemarin.”
Galih menatap Nadira, matanya mengunci pandangan Nadira selama beberapa detik sebelum menjawab dengan nada santai. “Itu bukan draf, Nadira. Itu murni hasil observasiku selama dua tahun melihatmu bekerja di kantor. Aku cuma menyampaikannya dengan kemasan yang sedikit lebih romantis.”
Nadira bungkam. Lidahnya yang biasanya lincah membalas argumen di ruang sidang mendadak kelu. Sebelum suasana menjadi makin canggung, sebuah suara wanita yang ramah menyapa mereka dari arah koridor.
“Oh, kalian di sini rupanya?”
Keisha, sepupu Nadira yang berusia 25 tahun dan bekerja di bidang pemasaran digital, berjalan mendekat dengan senyum manis. Ia mengenakan gaun jingga yang modis, melambaikan tangan kearah mereka.
“Keisha,” sapa Nadira, memaksakan senyum netral.
“Mbak Nadira, selamat ya. Sumpah, aku kaget banget waktu Tante Rosa bilang Mbak bawa pacar,” ujar Keisha ramah, lalu pandangannya beralih pada Galih. “Mas Galih, tadi aku dengar Mas Galih juga menangani kasus-kasus akuisisi dan hukum korporasi, ya?”
“Iya, betul,” jawab Galih sopan, menegakkan posisinya. “Saya dan Nadira satu tim untuk beberapa spesialisasi korporasi.”
“Wah, keren banget,” mata Keisha berbinar. “Kantor tempatku bekerja sekarang lagi ada rencana retsrukturisasi hukum untuk pendanaan *venture capital*. Mas Galih biasa pegang klien *start-up* atau korporasi besar saja?”
Galih menanggapi pertanyaan Keisha dengan profesional. “Dua-duanya kami pegang. Bergantung pada skema investasi yang diajukan.”
Nadira berdiri di samping Galih, mengamati bagaimana sepupunya itu menatap Galih dengan binar ketertarikan yang sangat jelas. Keisha beberapa kali tertawa menyahuti kelakar Galih, dan Galih—sesuai sifat dasarnya yang ramah dan komunikatif—menjawab pertanyaan Keisha dengan sangat terbuka.
Ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba merayap halus di dada Nadira. Perasaan seperti ada area pribadinya yang sedang diusik. Nadira tahu betul ini hanya hubungan transaksi palsu, tetapi melihat Keisha begitu antusias mengajaknya mengobrol membuat perut Nadira terasa agak melilit.
“Keisha,” potong Nadira halus namun tegas. “Makanan penutupnya nanti keburu dingin di meja.”
Keisha tertawa kecil seraya mengibaskan tangannya. “Ah, iya! Sampai lupa waktu ngobrol sama Mas Galih. Mas Galih asyik banget diajak bicara.”
Ketika mereka kembali ke meja utama, acara makan malam sudah memasuki sesi akhir. Ayah Nadira berdiri, menjabat tangan Galih dengan hangat.
“Galih, Om sangat senang bisa kenal kamu malam ini,” kata Ayah Nadira dengan raut wajah puas. “Minggu depan, datanglah makan malam ke rumah kami. Kita bisa mengobrol lebih santai tanpa keramaian keluarga besar seperti ini.”
Nadira hampir saja tersedak liurnya sendiri. Matanya melebar, menatap ayahnya lalu beralih menatap Galih dengan isyarat mata panik yang sangat jelas: *TOLAK!*
Makan malam keluarga inti di rumah tidak pernah ada dalam rencana operasional mereka.
Galih menyadari tatapan panik Nadira, namun wajahnya tetap menunjukkan ketenangan mutlak di depan Ayah Nadira. Ia membalas jabat tangan itu dengan mantap. “Suatu kehormatan, Om. Saya pasti datang minggu depan.”
“Bagus! Nanti Nadira yang kirimkan alamat lengkap rumah,” ujar Ayah Nadira seraya menepuk bahu Galih.
—
Tiga puluh menit kemudian, di dalam mobil Galih yang sedang meluncur membelah jalanan malam Jakarta, suasana di dalam kabin terasa sangat hening dan tegang.
Nadira memutar tubuhnya menghadap Galih yang sedang fokus mengemudi. “Kita tidak pernah menyepakati makan malam keluarga minggu depan, Galih!”
“Aku tahu,” jawab Galih tenang, matanya tetap menatap lurus ke jalan raya.
“Lalu kenapa kau terima?!” serca Nadira, suaranya naik satu nada. “Tugasmu itu cuma membungkam Tante Rosa di acara reuni ini! Kenapa harus berlanjut sampai ke rumah orang tuaku?”
Galih melirik Nadira sekilas saat mobil berhenti di lampu merah. “Kalau aku menolak undangan ayahmu di depan semua orang setelah aku baru saja berpidato soal betapa seriusnya aku padamu, mereka bakal langsung curiga, Nadira. Ayahmu itu mantan diplomat. Dia punya radar kebohongan yang sangat tajam.”
Nadira mengepalkan tangannya di pangkuan, tidak bisa membantah logika pria itu, walau hatinya tetap merasa kalut. “Tapi ini makin tidak terkendali. Ini bukan lagi sekadar sandiwara acara tiga jam.”
“Lagipula,” tambah Galih dengan nada rendah yang santai, menyandarkan siku kanannya di jendela mobil, “bukankah kita sedang belajar jadi pasangan yang meyakinkan? Makin sering kita latihan, makin rapi sandiwaranya.”
Nadira terdiam, menatap samping wajah Galih yang diterangi remang lampu jalanan. Kata-kata pria itu terdengar masuk akal, tetapi cara Galih mengucapkannya membuat batas antara tugas dan kenyataan terasa makin kabur.
Sebelum Nadira sempat menyusun kalimat balasan, ponsel di dalam tas tangannya bergetar mendengung.
Nadira merogoh tasnya dan merengkuh ponsel tersebut. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari nomor Keisha muncul di layar utama:
*Mbak Nadira, Mas Galih asyik banget diajak diskusi soal hukum bisnis. Boleh minta nomor kontak Mas Galih? Aku mau konsultasi sedikit soal kantorku. Boleh ya Mbak?*
Nadira menatap layar ponselnya lama. Raut wajahnya berubah kaku, napasnya tertahan di tenggorokan.
“Ada apa?” tanya Galih, menyadari perubahan aura di sebelah kirinya saat ia kembali menekan pedal gas.
Nadira menoleh pelan, menatap Galih dengan mata yang menyempit dan ekspresi yang sulit diartikan. “Sepupuku baru saja meminta nomor kontakmu.”
BERSAMBUNG…