Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 2

  1. Home
  2. Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga
  3. Bab 2 - Berkas Pemeriksaan Fakta
Prev
Next

Tepat pukul sebelas malam, ponsel Nadira bergetar menunjukkan sepuluh pesan beruntun dari nomor Galih.

*1. Kapan tepatnya kita mulai resmi berpacaran?*
*2. Siapa yang menyatakan perasaan duluan?*
*3. Tempat kencan pertama yang bakal dicatat Tante Rosa?*
*4. Makanan yang paling kamu benci kalau kita makan bareng?*
*5. Kebiasaan burukku yang paling sering bikin kamu mengomel?*
*6. Panggilan sayang yang tidak bikin kita mual di depan umum?*
*7. Cerita kalau kita bertengkar hebat, siapa yang biasanya minta maaf duluan?*

Nadira melempar ponselnya ke atas kasur dengan dengusan napas panjang. Mengurus berkas pembuktian banding ratusan halaman di pengadilan terasa jauh lebih sederhana daripada menjawab kuesioner yang dibuat pria itu.

“Dia pikir ini pemeriksaan berkas saksi?” gumam Nadira seraya memijat pangkal hidungnya. Namun, menyadari betapa tajamnya intuisi Tante Rosa dalam menginterogasi orang, Nadira terpaksa meraih kembali ponselnya dan mengetik balasan: *’Besok jam makan siang. Ruang arsip lantai tiga. Kita susun kronologinya.’*

—

Pintu ruang arsip lantai tiga Firma Hukum Wiratama & Partners tertutup rapat. Di antara deretan rak besi bermap cokelat, Galih berdiri menyandarkan punggungnya dengan clipboard dan pulpen di tangan, menatap Nadira yang sibuk mengetuk-ngetukkan pulpennya ke atas meja kayu.

“Kenapa harus ruang arsip?” tanya Galih, sudut bibirnya terangkat tipis. “Suasananya terlalu misterius untuk pasangan yang katanya sedang dimabuk asmara.”

“Ini satu-satunya ruangan tanpa kamera CCTV dan jarang dilewati *Associates* lain,” jawab Nadira tegas, menyilangkan tangannya di dada. “Mari kita perjelas kronologinya. Kita tidak boleh punya versi jawaban yang saling bertentangan saat Tante Rosa atau sepupuku mulai memberondong pertanyaan.”

“Setuju, *Counselor*,” sahut Galih seraya mengarahkan pulpennya. “Pertanyaan pertama: siapa yang mendekati duluan?”

“Kau,” potong Nadira tanpa ragu. “Biar terkesan kau yang sangat berusaha mendapatkan perhatianku.”

“Masuk akal,” gumam Galih seraya mencatat. “Lalu kapan kita mulai dekat? Jangan bilang sejak kasus arbitrase tahun lalu. Semua orang di kantor tahu waktu itu kita hampir saling lempar berkas di ruang rapat.”

“Enam bulan lalu,” usul Nadira. “Setelah proyek akuisisi bank. Kita bilang saja sering kerja lembur bareng lalu ketagihan mengobrol.”

Galih mengangguk-angguk kecil. “Boleh. Lalu bagaimana dengan makanan favorit dan kebiasaan? Kalau tantemu mengajak makan malam, aku harus kelihatan tahu seleramu.”

“Aku suka makanan pedas, tidak suka yang terlalu manis—”

“Aku sudah tahu itu,” pangkas Galih santai tanpa mendongak dari catatannya. “Kau benci makanan manis berlebihan, selalu menyingkirkan daun ketumbar dari mangkuk supmu, dan kau mengetuk-ngetuk pulpen kalau lagi panik atau berpikir keras—seperti yang sedang kau lakukan sekarang.”

Gerakan tangan Nadira yang sedang mengetuk pulpen mendadak terhenti. Ia menatap Galih dengan kening berkerut dalam, matanya menyempit curiga.

“Kau… tahu dari mana soal daun ketumbar?” desak Nadira. “Aku tidak pernah memberitahumu.”

Galih menaikkan pandangannya, menatap Nadira dengan raut wajah yang tetap tenang tanpa cela. “Nadira, kita sudah dua tahun duduk di ruangan yang sama dan makan di kantin yang sama. Aku punya mata. Sebagai pengacara, kemampuan observasiku cukup berguna untuk memperhatikan detail kecil di sekitarku.”

“Detail kecil?” cibir Nadira. “Kau bahkan tahu kapan aku memesan teh chamomile.”

“Itu karena tiap kali kau stres, wajahmu makin galak dan bau teh chamomile langsung memenuhi area meja kerja kita,” balas Galih santai, menyunggingkan senyum tipis yang menjengkelkan. “Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku hanya beradaptasi agar tidak salah melangkah saat nanti di depan keluargamu.”

Nadira menatapnya skeptis selama beberapa detik, namun jawaban Galih terlalu rasional untuk dibantah. Ia memutuskan untuk mengalihkan topik sebelum ketegangan aneh ini berlanjut.

“Sekarang gestur,” kata Nadira. “Keluargaku tidak cuma mendengar cerita. Mereka akan memperhatikan bagaimana kita berinteraksi.”

“Maksudmu seperti ini?” Galih melangkah maju dua tindak, memangkas jarak di antara mereka. Sebelum Nadira sempat mundur, Galih meraih tangan kanan Nadira dan menggenggamnya.

Tubuh Nadira mendadak kaku. Jemari Galih terasa hangat dan kokoh, memeluk jemarinya dengan rileks. Ini pertama kalinya dalam dua tahun mereka berinteraksi lewat sentuhan fisik secara langsung, bukan sekadar jabat tangan formal setelah memenangi perkara.

“Kau terlalu tegang,” bisik Galih, mengamati wajah Nadira yang membeku. “Kalau kau sekaku ini di depan tantemu, dalam tiga detik dia bakal tahu ini hubungan transaksi.”

“Aku tidak tegang,” elak Nadira, mencoba menarik tangannya pelan, namun Galih justru menahannya tanpa menyakiti.

“Biar kutebak,” ujar Galih pelan, matanya menatap tepat ke iris mata Nadira. “Kau tidak suka disentuh tanpa aba-aba.”

Galih tidak memaksa. Ia perlahan merenggangkan genggamannya, memberikan ruang. “Kau nyaman kalau begini?”

Nadira menelan ludah, menatap tangannya yang kini dilepaskan. Ada sedikit kehangatan yang tertinggal di telapak tangannya, membuat dadanya berdesir aneh. “Aku… aku baik-baik saja. Hanya belum terbiasa.”

“Bagus. Karena nanti malam, aku harus merangkul bahumu atau memegang tanganmu sepajang makan malam,” kata Galih, kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

Nadira berdeham keras untuk menutupi kecanggungannya. “Ngomong-ngomong… soal pekerjaanmu di CompanionCorp.”

Galih menghentikan catatannya. “Ada apa?”

“Kenapa kau mengambil pekerjaan sampingan seperti ini?” tanya Nadira ragu, berusaha menjaga nadanya tetap netral. “Gajimu di firma hukum ini kan tidak kecil.”

Galih diam sejenak. Sorot matanya yang biasanya penuh percaya diri mendadak meredup tipis, digantikan oleh bayangan kelelahan yang selama ini tersembunyi rapi di balik kemeja elegannya.

“Ada tagihan rumah sakit dan perawatan jangka panjang yang tidak sepenuhnya ditanggung asuransi,” jawab Galih singkat, suaranya tenang tanpa nada memelas. “Agensi itu memberi fleksibilitas waktu dan bayaran yang lumayan untuk menutupinya. Sudah, cuma itu.”

Nadira tertegun. Pria yang selama ini ia anggap sebagai lawan kompetisi yang arogan ternyata sedang memikul beban berat di luar jam kerja kantornya. Rasa hormat yang tak terduga perlahan tumbuh di sudut hati Nadira, menggeser pandangan sinisnya terhadap Galih.

“Aku mengerti,” gumam Nadira pelan. “Aku tidak akan membahasnya lagi.”

“Terima kasih,” balas Galih, lalu tersenyum tipis—kali ini senyum itu terasa jauh lebih tulus. “Sekarang, mari kita simulasikan kalau tantemu bertanya kenapa kau mau berpacaran denganku.”

“Karena kau tampan, punya pekerjaan tetap, dan cukup pintar untuk tidak membuatku bosan,” ceplos Nadira cepat.

Galih terkekeh rendah. “Pujian yang sangat pragmatis, *Counselor*.”

—

Sore harinya di ruang rapat utama firma hukum, dinamika mereka kembali berbalik seratus delapan puluh derajat.

“Bukti saksi ahli dari pihak musuh lemah di bagian metodologi,” tegas Nadira di depan Partner Senior dan tim hukum. “Kita bisa mematahkan seluruh kesaksian mereka di sesi lintas pemeriksaan.”

“Risikonya terlalu tinggi kalau hakim menganggap kita menyerang personal saksi,” sanggah Galih dingin dari meja penyeberangan. “Kita harus fokus pada cacat prosedur administrasi mereka. Itu jalur yang lebih aman.”

“Aman bukan berarti efektif, Galih!” tembak Nadira tajam.

Beberapa *Associates* di ruangan menahan napas, menyaksikan debat panas rutin antara dua bintang muda di firma tersebut. Tidak ada satu pun dari rekan kerja di ruangan itu yang menyangka bahwa lima jam lalu, tangan kedua pengacara kompetitif ini saling bertaut di ruang arsip.

Setelah rapat dibubarkan dan para pengacara mulai meninggalkan ruangan, Galih berjalan melewati meja Nadira yang sedang merapikan lembar catatannya.

“Analisis metodologimu tadi sebenarnya bagus,” bisik Galih pelan saat melintas di sampingnya, cukup rendah hingga hanya Nadira yang bisa mendengar. “Kau hebat di persidangan nanti.”

Nadira membeku seraya memegang pulpennya, mendongak menatap punggung Galih yang terus berjalan keluar ruangan. Pujian langsung dari seorang Galih Pramudya di dunia kerja adalah hal yang sangat langka, dan itu sukses membuat jantung Nadira berdesir agak berantakan.

—

Hari Sabtu malam yang ditakutkan akhirnya tiba.

Nadira berdiri di depan cermin apartemennya, merapikan gaun *cocktail* berwarna hijau zamrud yang elegan namun tidak berlebihan. Tangannya sedikit gemetaran saat mengoleskan lipstik.

Bel pintu apartemennya berbunyi. Nadira menarik napas dalam-dalam, melangkah membukakan pintu.

Galih berdiri di ambang pintu. Pria itu mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi dengan kemeja putih yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka—menampilkan kesan rapi, sangat maskulin, namun tetap santai. Rambutnya ditata rapi ke belakang, sangat berbeda dengan gaya kaku yang biasa ia kenakan di kantor.

Nadira sempat terpaku selama beberapa detik, matanya tak bisa menyembunyikan rasa terpukau.

Galih yang menyadari pandangan itu tersenyum tipis, memiringkan kepalanya sedikit. “Kenapa? Aku terlihat seperti pacar sewaan yang terlalu mahal untuk anggaranmu?”

“Jangan percaya diri,” repet Nadira cepat, menutupi kekagumannya dengan dengusan. “Kau hanya kelihatan seperti pengacara yang lupa memakai dasinya.”

“Tapi kau menyukainya, kan?” goda Galih seraya menyodorkan lengannya. “Ayo. Waktu kita tidak banyak.”

Nadira menatap lengan Galih yang terulur. Ia menyandarkan jemarinya di atas lipatan siku Galih, meragukan keputusannya sendiri namun tidak punya jalan untuk mundur.

“Inget aturannya, Galih,” bisik Nadira saat mereka berjalan menuju lift. “Jangan bikin kesalahan.”

Galih menoleh, menatap Nadira dengan tatapan mantap yang memberikan rasa aman secara instan. “Kau tidak perlu menghafal atau mengkhawatirkan semua jawabanmu, Nadira. Kalau nanti kau bingung atau gugup, cukup tatap mataku. Aku yang akan mengambil alih ceritanya.”

Kalimat itu terucap bukan sebagai rayuan, melainkan sebagai janji seorang mitra yang bisa diandalkan. Untuk pertama kalinya, Nadira merasa tidak sedang bertarung sendirian.

—

Restoran bergaya klasik di kawasan Dharmawangsa itu sudah disewa separuh oleh keluarga besar Wirawan. Begitu Nadira dan Galih melangkah masuk ke area privat, suasana riuh perbincangan keluarga mendadak mereda.

Di ujung meja utama, Tante Rosa—dengan gaun merah menyala dan perhiasan yang berkilau—langsung berdiri dan melangkah menghampiri mereka.

“Nadira!” Tante Rosa memeluk Nadira singkat, lalu matanya langsung tertuju pada pria tinggi yang berdiri di sebelah keponakannya. Tante Rosa meneliti Galih dari ujung rambut hingga sepatu kulitnya dengan tatapan tajam.

“Tante Rosa, kenalkan,” ujar Nadira, berusaha menjaga suara dan senyumnya agar tetap tenang. “Ini Galih. Pacarku.”

Galih mengumbar senyum paling ramah dan sopan, menundukkan tubuhnya sedikit. “Selamat malam, Tante Rosa. Senang akhirnya bisa bertemu langsung.”

Tante Rosa tidak langsung membalas sapaan itu. Wanita itu justru menyipitkan matanya, memiringkan kepala, dan melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Galih.

“Galih…” gumam Tante Rosa dengan nada penuh selidik yang membuat dada Nadira mendadak berdesir panik. “Wajahmu ini… Tante rasanya sangat tidak asing. Kamu bukannya anak dari keluarga Suwandi yang pernah…”

Tante Rosa menggantung kalimatnya, menatap Galih dengan raut terkejut yang luar biasa.

Nadira menoleh cepat ke arah Galih, jantungnya berdegup kencang bak dihantam godam. Skenario yang mereka susun dengan rapi mendadak terasa terancam hancur bahkan sebelum mereka sempat duduk di meja makan.

BERSAMBUNG…

Prev
Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Drama Keluarga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

Ā© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita