Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 1

  1. Home
  2. Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga
  3. Bab 1 - Kesepakatan di Bawah Meja
Next

“Kalau sampai Reuni Keluarga Wirawan bulan depan kau masih datang sendirian, Tante akan jodohkan kau dengan Raka, titik.”

Nadira Calya Wirawan hampir saja menyemburkan kopi hitamnya saat kalimat tajam itu terlontar dari bibir Tante Rosa. Wanita paruh baya dengan tatanan rambut sasak sempurna itu menatap Nadira dengan tatapan yang biasa digunakan hakim senior saat membacakan vonis bersalah.

“Tante Rosa, Nadira ini pengacara,” sahut Nadira seraya meletakkan cangkirnya dengan gerakan tenang, berusaha menjaga martabatnya sebagai Associate Attorney di Wiratama & Partners. “Jadwal sidang Nadira penuh sampai akhir tahun. Nadira tidak punya waktu untuk kencan buta dengan anak teman Tante yang masih bingung memilih warna dasi.”

“Raka itu manajer investasi, Nadira!” potong Tante Rosa cepat, tidak memberi celah sedikit pun. “Dia rapi, sopan, dan yang paling penting, dia mau berkenalan dengan perempuan yang jam kerjanya seperti orang kesurupan. Usiamu sudah dua puluh tujuh. Mau tunggu sampai kapan? Sampai sepupumu Keisha punya anak tiga?”

Nadira memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Setiap kali reuni keluarga tahunan di restoran keluarga besar mereka mendekat, skenario yang sama selalu berulang. Baginya, menghadapi pembelaan jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri jauh lebih mudah daripada menghadapi obsesi perjodohan Tante Rosa.

“Nadira tidak butuh dijodohkan, Tante,” tegas Nadira dengan nada suaranya yang paling tegas. “Nadira bisa mencari pasangan sendiri.”

“Oh, ya?” Tante Rosa bersedakap, menatapnya skeptis. “Mana? Sudah dua tahun Reuni Keluarga dan kursi di sebelahmu selalu kosong. Jadi, keputusannya sudah bulat. Bawa pacarmu ke reuni bulan depan, atau Tante sendiri yang akan menuntun Raka untuk duduk di sebelahmu.”

Napas Nadira tertahan. Rasa frustrasi yang sudah menumpuk di dadanya akhirnya menembus benteng pertahanan rasionalitasnya. Dengan dorongan ego dan keputusasaan yang berpadu sempurna, Nadira menegakkan punggungnya.

“Baik,” ucap Nadira lantang, menatap lurus mata Tante Rosa. “Nadira akan bawa pacar Nadira ke reuni bulan depan. Jadi Tante tidak perlu repot-repot menyusun daftar pria lajang lagi.”

“Bagus,” balas Tante Rosa dengan senyum puas yang memenangi pertempuran. “Tante tunggu bulan depan.”

Satu jam kemudian, di dalam mobilnya yang terparkir di basement gedung kantor, Nadira mengerang keras seraya menjatuhkan dahinya ke lingkar kemudi.

“Bodoh, Nadira. Bodoh sekali,” gumamnya pada diri sendiri.

Ia tidak punya pacar. Ia bahkan tidak punya waktu untuk sekadar menggeser aplikasi kencan di ponselnya. Namun, menyerah pada perjodohan Tante Rosa adalah bencana reputasi yang tidak sanggup ia tanggung.

Jemarinya bergerak cepat menari di atas layar ponsel, mencari jalan keluar darurat yang rasional—atau setidaknya tampak rasional bagi otaknya yang sedang panik. Kata kunci *“Professional Event Companion Agency Jakarta”* membawa jemarinya pada sebuah situs web agensi independen bernama *CompanionCorp*. Situs itu menawarkan jasa pendamping profesional untuk acara formal, lengkap dengan garansi kerahasiaan dan privasi tingkat tinggi.

“Pacar sewaan?” Nadira tertawa hambar, menatap layar ponselnya dengan kepalanya yang terasa agak miring. “Sejak kapan seorang Nadira Wirawan menyewa figuran hanya untuk makan malam keluarga?”

Tetapi bayangan wajah Tante Rosa dan pria bernama Raka yang siap duduk di sebelahnya membuat jemari Nadira mantap menekan tombol *Booking*.

*Hanya satu malam,* batinnya menenangkan diri. *Hanya sandiwara tiga jam untuk membungkam seluruh keluarga besar, lalu semuanya selesai.*

—

“Strategi dokumen P-14 yang kau ajukan itu sangat berisiko, Nadira. Kau membiarkan pihak tergugat punya celah untuk mengajukan rekonvensi.”

Suara bariton yang teratur dan datar itu menyambut Nadira begitu ia melangkah masuk ke ruang rapat lantai empat Firma Hukum Wiratama & Partners. Galih Pramudya, pria berusia 28 tahun dengan kemeja abu-abu gelap yang tergulung rapi hingga siku, sedang berdiri di depan papan tulis seraya memegang spidol hitam.

Nadira menarik kursi kayu di ujung meja rapat, melempar map berkasnya ke atas meja dengan gerakan terukur. “Celah itu justru umpan, Galih. Kalau mereka mengajukan rekonvensi, kita punya dasar hukum kuat untuk membuka audit keuangan anak perusahaan mereka. Kau membaca memori bandingnya sampai selesai atau cuma membaca ringkasannya saja?”

Galih menaikkan sebelah alisnya, menghentikan goresan spidolnya di papan tulis. Ia memutar tubuhnya menghadap Nadira, menatapnya dengan pandangan menguji yang selalu berhasil memancing emosi Nadira.

“Aku membaca seluruh tiga ratus halaman berkas itu semalam, Nadira,” balas Galih santai, berjalan mendekati meja rapat dan bersandar di tepinya. “Dan sebagai rekan timmu di kasus akuisisi ini, aku berhak memastikan partnerku tidak membawa kita terjun bebas hanya karena dia terlalu percaya diri.”

“Ini bukan masalah percaya diri, ini kalkulasi,” tembak Nadira tajam. “Gugatan balik mereka hanya gertakan. Kalau kau ragu, kau bisa duduk manis di kursi belakang saat sidang minggu depan dan biarkan aku yang melakukan argumentasi lisan.”

Beberapa pengacara junior lain di ruangan itu mendadak menahan napas. Perdebatan antara Nadira dan Galih sudah menjadi konsumsi harian di kantor. Keduanya adalah lulusan terbaik dari kampus berbeda, sama-sama berambisi mengejar posisi *Senior Associate*, dan sama-sama tidak mau mengalah setengah inci pun.

Namun, alih-alih meledak, Galih justru terkekeh pelan. Ia menarik napas pendek, lalu menatap Partner Senior yang duduk di ujung meja.

“Saran saya tetap masukkan P-14, Pak,” ujar Galih mendadak, mengalihkan fokusnya ke atasan mereka. “Argumen Nadira soal umpan audit itu berisiko, tapi secara doktrin hukum bisnis, itu langkah paling agresif yang kita punya saat ini. Saya akan bantu amankan berkas pembuktian sekundernya.”

Nadira sempat melirik Galih dengan dahi berkerut. *Lagi-lagi pria ini,* batin Nadira. Galih akan mendebat setiap incisinya dalam rapat, menguji setiap sudut logika hukumnya sampai batas maksimal, namun saat eksekusi akhir, pria itu adalah orang pertama yang akan berdiri memasang pagar pelindung untuk analisanya.

“Kau tidak perlu membantuku amankan berkas sekunder, Galih,” bisik Nadira saat rapat selesai dan orang-orang mulai meninggalkan ruangan. “Aku sudah menyiapkannya semalam.”

Galih yang sedang merapikan laptopnya menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap Nadira dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis—jenis senyum tipis yang selalu membuat Nadira bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan pria itu.

“Aku tahu kau sudah menyiapkannya, Nadira. Kau kan selalu bekerja sampai jam dua pagi kalau sedang tertekan,” sahut Galih santai seraya mencangking laptopnya. “Jangan lupa minum air putih. Kantung matamu mulai tidak bisa ditutupi *concealer*.”

“Galih Pramudya!” desis Nadira kesal.

Namun Galih hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, melangkah keluar ruangan dengan langkah santai yang menjengkelkan. Nadira menyenderkan punggungnya di kursi, menghembuskan napas kasar. Pria itu selalu tahu kapan harus menyerang dan kapan harus mundur, meninggalkan Nadira dengan kejengkolan yang tertahan.

—

Tiga hari kemudian.

Sebuah kafe bernuansa remang dan privat di kawasan Senopati menjadi tempat yang disepakati oleh agen dari *CompanionCorp*. Nadira duduk di sudut ruangan yang cukup jauh dari jangkauan pandangan pengunjung lain. Ia mengenakan blus krem dan blazer kasual, beberapa kali melirik jam tangan Cartier di pergelangan tangannya.

Empat belas menit lewat dari waktu yang dijanjikan.

“Tidak disiplin,” gumam Nadira seraya mencatat poin minus pertama di kepalanya untuk sang pacar sewaan. “Kalau di pengadilan, dia sudah kena gugur hak bicara.”

Suara gemerincing bel pintu kafe terdengar. Seorang pria tinggi berjaket kasual hitam melangkah masuk, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sebelum matanya tertuju pada meja Nadira. Pria itu melangkah mendekat dengan gestur tubuh yang sangat familier.

Saat pria itu menarik kursi di hadapan Nadira dan melepas kacamata hitamnya, napas Nadira mendadak tertahan di tenggorokan.

Dunia seolah berhenti berputar selama tiga detik penuh.

“Kau?!” pekik Nadira, suaranya naik satu oktav meski ia berusaha setengah mati menahannya agar tidak memancing perhatian pengunjung lain.

Galih Pramudya meletakkan kacamata hitamnya di atas meja. Ekspresi percaya diri yang biasa bertengger di wajahnya mendadak runtuh, berganti dengan kilat terkejut yang sangat langka terlihat dari seorang Galih.

“Nadira?” gumam Galih, matanya melebar. Ia dengan cepat meraih ponsel di saku celananya, memeriksa aplikasi agensi, lalu menatap Nadira kembali. “Klien kode N-C-W… Nadira Calya Wirawan?”

“Kenapa kau bisa ada di sini?!” desik Nadira seraya memajukan tubuhnya, matanya menatap Galih seolah pria itu baru saja berubah menjadi makhluk asing. “Jangan bilang kau membuntutiku!”

“Membuntutimu?” Galih mengusap tengkuknya, mendengus tidak percaya. “Aku di sini karena dapat instruksi pekerjaan dari agensi! Pihak agensi cuma bilang ada klien eksklusif yang butuh pendamping untuk acara keluarga besar minggu depan!”

“Kau… kau bekerja di *CompanionCorp*?!” suara Nadira tertahan, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Seorang Galih Pramudya, *Associate* yang paling congkak di firma hukum top Jakarta, bekerja sebagai pacar sewaan?!”

Galih mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan siaga, lalu memajukan tubuhnya, menatap Nadira dengan tatapan tajam dan peringatan yang jelas. “Kecilkan suaramu, Nadira.”

“Jelaskan padaku sebelum aku melaporkanmu ke komite etik kantor!” ancam Nadira, kedua tangannya terlipat rapat di dada.

Galih menarik napas panjang, merapikan duduknya. Ketenangan profesionalnya perlahan kembali, meski rona canggung masih tersisa di garis wajahnya. “Pertama, ini tidak melanggar aturan firma karena aku melakukannya di luar jam kerja dan tidak menggunakan nama firma. Kedua, ini agensi independen legal. Ketiga… itu bukan urusanmu.”

Galih menatap Nadira dengan pandangan meneliti yang dalam. “Yang jadi pertanyaan sekarang… kenapa seorang pengacara sukses seperti kau harus menyewa pacar cuma untuk datang ke Reuni Keluarga?”

Wajah Nadira mendadak terasa panas. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan menatap mata Galih. “Itu… itu urusan pribadiku.”

“Tante Rosa?” tebak Galih tiba-tiba.

Nadira mendadak menoleh cepat, matanya membelalak. “Bagaimana kau bisa tahu?!”

Galih bersedakap, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum tipis yang amat sangat menjengkelkan. “Dua minggu lalu, waktu kau menerima telepon di koridor lantai empat, kau lupa matikan speaker. Suara wanitanya terdengar sampai ke meja pantri. Dia mengancam akan menjodohkanmu dengan pria bernama Raka kalau kau datang sendirian lagi.”

Nadira mengepalkan tangannya di bawah meja. Pria ini ternyata memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan tidak disadari orang lain di kantor.

“Baik, ini gila,” pangkas Nadira cepat, berdiri dari kursinya seraya meraih tas tangannya. “Aku akan batalkan pesanan ini sekarang. Aku akan minta agensi ganti orang lain. Tidak mungkin aku memakai rekan satu kantor sebagai pacar pura-pura. Ini bencana profesional.”

“Duduk, Nadira,” ujar Galih tenang.

“Tidak mau.”

“Duduk atau aku akan panggil pelayan dan bilang kalau pacarku sedang merajuk,” ancam Galih dengan suara teratur yang terdengar sangat meyakinkan.

Nadira melotot tajam, namun ancaman itu berhasil membuatnya kembali duduk dengan hentakan kekalutan di kursinya. “Kau gila, Galih.”

“Dengar,” kata Galih, menopang kedua tangannya di atas meja. “Hari reuni keluargamu tinggal tiga hari lagi. Agensi butuh waktu minimal satu minggu untuk verifikasi latar belakang klien baru jika kau mau ganti personil. Kau tidak punya waktu.”

“Lebih baik aku bayar denda pembatalan daripada harus berpura-pura mesra denganmu di depan keluargaku!” sergah Nadira mantap.

“Memangnya kau pikir aku sangat bersemangat berpura-pura menyukaimu?” balas Galih tajam, matanya menatap Nadira tanpa kedip. “Tapi secara kalkulasi realistis, kau tidak punya pilihan lain. Kalau kau batalkan ini sekarang, kau akan datang sendirian ke reuni itu dan Tante Rosa akan langsung mendudukkan pria Raka itu di sebelahmu. Kau mau itu terjadi?”

Kalimat Galih menembus tepat di titik terlemah Nadira. Otak hukumnya mencoba mencari celah logika, namun argumentasi Galih kali ini tidak bisa dibantah. Waktu sangat tidak berpihak padanya.

Nadira menghembuskan napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menetralkan kepalanya yang mulai pening. “Kenapa kau mau melanjutkan ini? Kau bisa saja menolak pesanan ini karena mengenal klienmu.”

Galih diam sejenak. Tatapannya meredup sebentar sebelum kembali tenang. “Sebut saja aku profesional. Lagipula, komisi dari agensi untuk kasus tingkat tinggi seperti ini cukup bagus. Aku punya kebutuhan operasional yang harus diselesaikan.”

Nadira menatap Galih. Ia tahu Galih berasal dari keluarga sederhana di daerah dan sering mengirimkan sebagian pendapatannya untuk pengobatan ibunya di kampung halaman—sebuah detail yang pernah Nadira dengar tanpa sengaja saat sekretaris firma membicarakan asuransi kesehatan karyawan. Nadira memutuskan untuk tidak menggali lebih dalam soal itu.

“Baik,” kata Nadira akhirnya, suaranya kembali dingin dan penuh kendali. “Kita jalankan ini. Tapi ada aturan main yang ketat.”

“Aku mendengarkan, Counselor,” sahut Galih seraya meraih cangkir teh chamomile milik Nadira yang ada di meja dan meminumnya santai.

“Hei! Itu minumanku!” protest Nadira.

“Kau selalu memesan chamomile tanpa gula kalau sedang stres berat,” sahut Galih santai, meletakkan cangkir itu kembali. “Aturan pertama?”

Nadira menahan napasnya yang mendadak tercekat. *Sejak kapan pria ini tahu kebiasaan minum tehku?* bisik sanubarinya. Namun ia dengan cepat menepis pikiran itu dan menegakkan posisinya.

“Aturan pertama: Ini hanya sandiwara mutlak,” tegas Nadira. “Hanya berlaku selama Reuni Keluarga berlangsung di restoran itu. Begitu kita keluar dari pintu restoran, hubungan ini selesai.”

“Disetujui,” jawab Galih cepat.

“Aturan kedua: Tidak boleh membawa drama reuni ini ke firma hukum,” lanjut Nadira. “Di kantor, kita tetap rival. Kita tetap berdebat soal kasus, kita tetap bersaing mengejar posisi *Senior Associate*. Tidak ada perlakuan khusus.”

“Sangat disetujui. Aku justru akan makin menikmati mematahkan argumenmu di rapat esok hari,” balas Galih dengan cengiran tipis.

“Aturan ketiga,” Nadira menatap Galih sangat tajam, “tidak boleh ada yang tahu di kantor bahwa kau bekerja di agensi ini, dan tidak boleh ada yang tahu soal hubungan palsu ini. Jika ada satu orang saja di firma yang tahu, aku akan memastikan karirmu di dunia hukum selesai.”

“Dan aturan keempat,” potong Galih sebelum Nadira melanjutkan, “tidak boleh ada perasaan yang terlibat. Ini murni transaksi profesional antara klien dan penyedia jasa.”

Nadira terkekeh sinis. “Kau tidak perlu khawatir soal itu, Galih. Jatuh cinta padamu adalah hal terakhir di muka bumi yang akan kulakukan.”

“Bagus kalau begitu,” kata Galih. Pria itu menyandarkan tubuhnya, menatap Nadira dari atas ke bawah dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi lebih lembut dan teratur. “Sekarang, karena kita punya waktu dua hari untuk persiapan… ceritakan padaku tentang ‘kita’.”

Nadira mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?”

“Kita butuh cerita latar belakang, Nadira,” jelas Galih, mengetuk jemarinya di meja. “Bagaimana kita bertemu, berapa lama kita pacaran, apa hal yang paling aku sukai darimu, dan apa kebiasaan burukmu yang paling kubenci. Tante Rosamu itu pasti akan menginterogasi kita seperti jaksa penuntut.”

Nadira tertegun. Logika Galih lagi-lagi sangat masuk akal.

“Katakan,” pangkas Galih seraya memajukan tubuhnya, menatap lurus mata Nadira dengan kehangatan yang mendadak terasa terencana namun terlalu natural. “Bagaimana cara seorang Galih Pramudya bisa melunakkan hati pengacara paling dingin di Jakarta ini?”

Jantung Nadira berdesir aneh saat tatapan Galih mengunci matanya. Ia berdeham kencang, berusaha menutupi kegugupan singkat yang tiba-tiba menyerangnya.

“Kita bilang saja kita mulai dekat setelah kasus arbitrase tahun lalu,” jawab Nadira cepat, mencoba fokus. “Kau yang mendekatiku duluan karena kau terpesona dengan argumen penutupku di persidangan.”

Galih tertawa rendah. “Sangat narsis. Tapi masuk akal untuk karaktermu.”

Pria itu kemudian berdiri, meraih jaketnya dan mengenakannya kembali. Sebelum melangkah pergi, Galih menundukkan tubuhnya sedikit ke arah Nadira, membisikkan sesuatu di dekat telinga perempuan itu dengan nada suara yang halus namun sarat akan kurasi akting yang memukau.

“Sampai ketemu hari Sabtu, Pacar,” bisik Galih pelan. “Pastikan kau tidak terlihat terlalu galak saat aku menggenggam tanganmu di depan tantemu nanti.”

Galih berbalik dan melangkah keluar dari kafe tanpa menunggu jawaban.

Nadira tetap duduk di kursinya, mematung dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia meremas jemarinya sendiri di atas meja, menatap pintu kafe yang baru saja tertutup.

Masalah Tante Rosa mungkin akan selesai dalam beberapa hari. Namun, saat menatap punggung Galih yang menghilang di balik pintu kaca, Nadira mendadak menyadari satu hal yang jauh lebih berbahaya: ia baru saja menandatangani kontrak sandiwara dengan satu-satunya pria yang paling tahu cara menembus benteng pertahanannya.

BERSAMBUNG…

Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Drama Keluarga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita