Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 10

  1. Home
  2. Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga
  3. Bab 10 - Tanpa Peran, Tanpa Alasan
Prev
Next

Nadira sudah memeriksa jam di pergelangan tangannya tiga kali dalam lima menit terakhir. Layar ponselnya menunjukkan pukul 12.43—tujuh belas menit lebih awal dari janji makan siang yang disepakati.

Ia menatap menu digital di atas meja resto bistro kawasan Menteng itu, membolak-balik halamannya tanpa benar-benar membaca daftar makanan yang tertera.

“Konyol,” gumam Nadira pelan pada dirinya sendiri.

Sebagai pengacara perdata yang terbiasa mengendalikan jalannya negosiasi, berada di lokasi sebelum pihak lawan tiba adalah strategi dasar. Namun hari ini, tidak ada negosiasi, tidak ada draf perjanjian, dan Galih bukan pengacara lawan. Kedatangannya yang terlalu cepat murni karena ia menyelesaikan pekerjaannya di rumah lebih awal dan—entah bagaimana—kaki serta pikirannya langsung bergerak tanpa jeda untuk langsung menuju tempat ini.

Ia baru saja hendak merapikan posisi tasnya ketika bayangan seseorang berhenti di samping mejanya.

“Kamu sudah menunggu lama?” suara Galih menyapa, tenang dan berjarak pas.

Nadira mendongak. Galih berdiri dalam balutan kemeja kasual warna sage dengan lengan dilipat rapi hingga siku—jauh dari kesan kaku jas kantor yang biasa ia kenakan.

“Lima menit,” jawab Nadira refleks, mencoba mempertahankan sisa pertahanannya.

Galih menarik kursi di hadapan Nadira, melirik jam tangan pintarnya, lalu menyunggingkan senyum tipis. “”Berarti aku terlambat satu menit.”

Nadira mendengus pelan, menahan senyum yang hampir lolos dari sudut bibirnya. “Terserah kamu.”

Ada jeda dua detik ketika keduanya saling tatap di atas meja kayu yang memisahkan mereka. Tidak ada gerakan membukakan pintu, tidak ada panggilan ‘*Counselor*’, dan tidak ada lirikan jenaka yang biasa Galih lempar untuk membuat Tante Rosa percaya pada sandiwara mereka. Pria di hadapannya saat ini murni Galih Pramudya—rekan kerjanya yang kini duduk sebagai dirinya sendiri.

Kecanggungan tipis merayap halus di antara mereka.

“Jadi…” Nadira berdeham kaku, menyandarkan siku di atas meja. “Kita mau membicarakan apa?”

“Tidak tahu,” sahut Galih singkat, meraih lembar menu.

“Kamu yang mengajak,” protes Nadira dengan kening berkerut.

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Ya makan,” jawab Galih santai, menatap Nadira dari balik lembar menu dengan mata jenaka. “Memangnya kalau makan siang harus selalu ada agenda rapat?”

Nadira menahan napas sejenak, lalu melepaskan sandaran punggungnya. Percakapan ini terasa sangat tidak efisien untuk standar mereka berdua, namun anehnya, ketidakpastian itu tidak membuatnya ingin melarikan diri.

—

Seorang pelayan mendekati meja mereka untuk mencatat pesanan. Galih memesan nasi goreng iga dan es teh tawar, sementara Nadira memilih pasta aglio olio dengan minuman jeruk hangat.

“Aku pikir kamu bakal memesan espresso,” ujar Nadira begitu pelayan berlalu membawa catatan mereka.

“Hari Sabtu aku membatasi kafein,” balas Galih, menyatukan jemarinya di atas meja. “Kalau minum kopi di luar jam kerja, rasanya seperti sedang bersiap-siap menghadapi sidang kasasi.”

“Sejak kapan kamu punya aturan seperti itu?”

“Sejak kuliah tingkat tiga. Waktu itu aku pernah minum empat cangkir kopi dalam semalam untuk mengejar tenggat makalah, dan berakhir di UGD karena asam lambung naik.” Galih tertawa kecil, mengingat kebodohan masa mudanya. “Sejak hari itu, Sabtu dan Minggu adalah area bebas kopi kental.”

Nadira tertegun tipis. Selama dua tahun duduk di kubikel yang berjarak hanya tiga meter dari pria ini, ia mengenal Galih sebagai mesin pengolah draf hukum yang sanggup menelan dua cangkir americano hitam setiap sore tanpa berkedip. Informasi tentang masa kuliah dan kebiasaan akhir pekan ini terasa sangat baru—sebuah sisi manusiawi yang tak pernah muncul dalam dokumen sengketa maupun laporan *CompanionCorp*.

“Kamu sendiri?” Galih balik bertanya, menopang dagunya dengan satu tangan. “Kalau sedang tidak ada kerjaan atau tugas keluarga di akhir pekan, biasanya melakukan apa?”

“Tidur,” jawab Nadira jujur tanpa ragu. “Atau maraton menonton dokumenter kejahatan nyata sampai tertidur lagi.”

“Dokumenter kejahatan?” Galih mengangkat alisnya. “Pekerjaanmu meneliti pasal pidana dan perdata setiap hari belum cukup?”

“Bedanya, di dokumenter aku cuma penonton. Aku tidak perlu menyusun berkas eksepsi lima puluh halaman untuk membela klien,” balas Nadira tajam, memicu tawa rendah dari Galih.

—

Pelayan kembali membawa hidangan mereka. Di tengah obrolan santai tentang selera musik dan pengalaman gagal dalam ujian SIM pertama mereka dulu, pelayan meletakkan cangkir minuman Nadira.

Nadira penasarannya mencoba menyesap minuman jeruk hangatnya, namun baru satu tegukan kecil mendarat di lidahnya, keningnya langsung berkerut dalam. Alisnya bertaut tajam, bibirnya terkatup kaku.

“Kemudahan gula?” tanya Galih mendadak.

Nadira menengadah, terkejut. “Kok tahu?”

Galih memotong potongan iganya dengan tenang tanpa mendongak dari piring. “Sudah pernah lihat kamu menatap minuman manis seperti sedang membaca draf perjanjian yang klausul ganti ruginya bermasalah. Ekspresimu persis seperti itu.”

Nadira tertegun, lalu tawa kecil lolos begitu saja dari mulutnya—suara tawa renyah yang sangat jarang terdengar di lantai empat kantor mereka.

Ia memindahkan cangkir itu sedikit menjauh. “Mereka sepertinya memasukkan dua sendok makan sirup gula. Ini bukan minuman jeruk, ini air gula aroma jeruk.”

“Sini,” Galih mengulurkan tangan, mengambil cangkir jeruk manis itu dan menggeser gelas es teh tawarnya yang belum tersentuh ke hadapan Nadira. “Tukar. Es tehku murni tanpa gula.”

“Tapi kamu sudah pesan es teh—”

“Aku bisa minta air putih biasa ke pelayan,” pangkas Galih cepat, mengambil cangkir jeruk itu dan menyesapnya tanpa ragu sedikit pun. “Lagipula, sirup manisnya tidak buruk-buruk amat kalau diminum sambil makan iga.”

Nadira menatap gelas es teh tawar di depannya, lalu menatap Galih yang sedang mengunyah santai.

Di masa lalu, sewaktu kontrak *CompanionCorp* masih berlaku, setiap perhatian kecil dari Galih selalu diberi label oleh pikiran logis Nadira sebagai “efisiensi peran profesional”. Namun saat ini, di sebuah bistro Menteng yang ramai pada hari Sabtu sore, tidak ada kontrak yang mewajibkan Galih menukar minumannya. Tidak ada poin bonus ulasan aplikasi. Dan tidak ada orang lain yang perlu diyakinkan.

Perhatian itu murni hadir karena Galih mengingatnya, dan karena pria itu memang menginginkannya.

Kesadaran itu menghantam dadanya dengan kehangatan halus yang membuat napas Nadira tertahan sejenak. Ia tidak mencoba merasionalkannya lagi. Ia hanya meraih gelas es teh tawar itu dan meminumnya.

—

Makan siang yang semula diperkirakan Nadira hanya akan berlangsung empat puluh lima menit itu membengkak hingga hampir dua jam. Percakapan meluncur begitu saja—ringan, terkadang diwarnai perdebatan kecil khas dinamika mereka, namun tanpa beban target pekerjaan.

Saat Galih melambaikan tangan meminta bil pembayaran, Nadira refleks merogoh tasnya. “Kita bagi dua.”

“Aku yang mengajak, Nadira,” tahan Galih tenang, mengeluarkan dompet kulitnya dan meletakkan kartu debit di atas baki bil. “Biarkan aku yang bayar.”

“Galih, ini bukan kencan formal,” tegur Nadira defensif.

“Memang bukan,” sahut Galih mantap, menatap mata Nadira dengan ketenangan yang menghanyutkan. “Ini cuma makan siang. Dan aku mau mentraktir rekan kerja tersulitku minggu ini. Terima saja.”

Nadira menarik tangannya kembali dari tas, menatap pria itu dengan pandangan menilai. “Kamu sangat pandai membalikkan argumen.”

“Itu alasannya Pak Wiratama membayar gajiku,” balas Galih terkekeh.

Mereka berjalan keluar dari resto menuju area parkir valet. Angin sore berembus pelan, membawa kesegaran di antara deretan pohon Menteng.

Saat menunggu mobil Galih dipanggil, Galih memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Kalau Sabtu depan kamu tidak sibuk, kamu biasanya melakukan apa?” tanya Galih santai, menatap lurus ke arah jalan raya.

Nadira melirik pria di sampingnya. Ia langsung menangkap arah implikasi dari pertanyaan tersebut—sebuah pintunya kemungkinan untuk pertemuan berikutnya.

“Kenapa?” tanya Nadira balik, memiringkan kepalanya sedikit.

“Cuma bertanya,” sahut Galih ringan.

“Biasanya di rumah. Seperti yang kubilang tadi, maraton dokumenter kejahatan.”

Galih menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang sarat arti. “Berarti Sabtu depan kamu di rumah?”

Nadira menatap pria itu dengan mata menyempit penuh selidik. “Kamu sedang merencanakan sesuatu, Galih?”

“Belum,” jawab Galih jujur, suaranya halus namun mantap. “Tapi aku bisa saja merencanakannya kalau kamu tidak keberatan.”

Mobil sedan hitam Galih berhenti di depan mereka. Petugas valet keluar dan menyerahkan kunci. Galih tidak mendesak jawaban, tidak pula meminta kepastian detik itu juga. Ia hanya membukakan pintu mobil untuk Nadira dengan gerakan wajar, memberi ruang penuh tanpa paksaan.

Nadira masuk ke dalam mobil, menyandarkan tubuhnya pada jok kulit yang dingin, dan menyadari satu hal: jantungnya berdegup pelan bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa antisipasi yang tak sabar menunggu apa yang akan direncanakan pria itu berikutnya.

—

Pukul lima sore, Nadira sudah kembali ke kamarnya. Ia melepas sepatu hak tingginya, melemparkan tas ke atas tempat tidur, lalu berjalan menuju meja rias untuk merapikan rambutnya.

Layar ponselnya bergetar pendek. Sebuah pesan masuk.

**Galih Pramudya:**
*Terima kasih untuk makan siangnya, Nadira.*

Nadira meraih ponsel itu, membaca pesan singkat tersebut, lalu sudut bibirnya terangkat. Jemarinya menari cepat di atas layar.

**Nadira:**
*Bukannya kamu yang mengajak dan membayar semuanya?*

Tidak sampai sepuluh detik, balasan kembali muncul.

**Galih Pramudya:**
*Tetap saja. Aku senang kamu datang.*

Nadira menatap kalimat sederhana itu. Dulu, jika ia menerima pesan seperti ini dari Galih, jemarinya akan refleks menyusun balasan formal yang penuh garis batas profesionalisme untuk menegaskan bahwa mereka hanyalah dua pengacara yang sedang menjalankan misi kontrak.

Namun sore ini, jemarinya berhenti di atas papan ketik virtual. Ia tidak merasa perlu membentengi dirinya lagi.

Ponselnya bergetar sekali lagi sebelum ia sempat mengetik.

**Galih Pramudya:**
*Lain kali, kamu yang pilih tempatnya.*

Nadira menatap layar ponselnya yang terang di dalam remang kamar. Pesan itu bukan lagi tentang ajakan mendadak. Pesan itu adalah sebuah kepastian bahwa pertemuan hari ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru yang mereka bangun atas kemauan sendiri.

Nadira mengembuskan napas pelan, menyunggingkan senyum tipis yang jujur, lalu mulai mengetikkan balasannya tanpa lagi mencari alasan hukum atau kesepakatan tertulis di dalam kepalanya.

*Aku tahu tempat pasta yang jauh lebih enak dari bistro tadi. Sabtu depan.*

Ia menekan tombol kirim.

BERSAMBUNG…

Prev
Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Drama Keluarga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita