Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 11

  1. Home
  2. Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga
  3. Bab 11 - Inisiatif Tanpa Klausa
Prev
Next

Kursor di layar ponsel Nadira berkedip-kedip kaku di ujung baris teks. Ia sudah mengetik kalimat yang sama sebanyak tiga kali, menghapusnya, lalu menatap layar kosong itu dengan alis bertaut.

*Ternyata tempat pasta yang kukatakan kemarin tutup untuk renovasi.*

Terlalu panjang. Terlalu berbelit-belit. Rasanya seperti menyusun draf notifikasi surat sengketa. Nadira menekan tombol *backspace* sampai bersih, lalu mengembuskan napas pendek ke arah jajaran berkas perdata di meja kerjanya.

Bukan karena ia takut menghubungi Galih. Yang membuat kepalanya sedikit berdenyut adalah ketiadaan perisai hukum yang biasanya ia pakai. Dulu, setiap kali jemarinya mengirim pesan kepada Galih, selalu ada alasan kuat.

Sekarang, alasan itu murni karena ia ingin memberi tahu Galih.

Sambil mengetuk-ngetukkan pena ke meja, ia kembali mengetik.

**Nadira:**
*Restoran pasta yang kukatakan kemarin ternyata tutup untuk renovasi sampai bulan depan.*

Ia memejamkan mata sejenak, lalu menekan tombol kirim sebelum logikanya sempat membatalkan.

Tidak sampai dua menit, ponselnya bergetar.

**Galih Pramudya:**
*Kamu sudah cek ke lokasinya langsung?*

**Nadira:**
*Aku telepon pihak restorannya tadi jam sepuluh. Berarti rencana Sabtu depan batal.*

Nadira menahan napasnya, menunggu reaksi di seberang sana. Ia sengaja melempar umpan itu untuk melihat apakah Galih akan langsung mengambil alih seperti biasa.

**Galih Pramudya:**
*Siapa bilang batal?*

**Nadira:**
*Restorannya tutup, Galih.*

**Galih Pramudya:**
*Tempatnya yang tutup, bukan Sabtunya. Kamu sedang mencari restoran alternatif atau sedang mencari alasan untuk membatalkan makan siang denganku?*

Refleks, jemari Nadira bergerak cepat di atas layar.

**Nadira:**
*Aku cuma menyampaikan fakta. Lagipula aku yang janji cari tempatnya.*

**Galih Pramudya:**
*Bagus kalau ingat. Berarti tugasmu belum selesai. Cari restoran lain yang kamu suka.*

Nadira menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa sadar. Galih tidak mengambil alih. Pria itu sengaja membiarkan kendali tetap ada di tangannya.

**Nadira:**
*Kalau sampai Jumat aku tidak ketemu tempat yang pas bagaimana?*

**Galih Pramudya:**
*Kabari aku. Tapi aku ragu seorang Nadira Wirawan mau menyerah cuma karena urusan reservasi tempat makan.*

Nadira tertawa kecil—sebuah tawa halus yang langsung ia bungkam ketika menyadari beberapa pengacara yunior sedang lalu-lalang di lorong depan kubikelnya. Ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah, mencoba fokus kembali pada berkas di depannya.

Hari itu, tumpukan dokumen perdata terasa sedikit lebih ringan dari biasanya.

—

Di kantor, tidak ada yang berubah secara mencolok. Di hadapan para *partner* dan pengacara lain, Galih dan Nadira tetaplah dua pengacara senior yang profesional, tegas, dan tak segan saling sanggah dalam rapat divisi. Tidak ada sapaan manja, tidak ada kontak mata yang dibuat-buat, dan jelas tidak ada yang curiga.

Namun, dalam ruang-ruang kecil yang tak terlihat oleh orang lain, pola mereka telah bergeser.

Pukul satu siang, Nadira melangkah keluar dari lif basement membawa nampan karton berisi dua cangkir kopi dari kedai di seberang gedung kantor. Ia berjalan menuju area pantry lantai empat yang sedang sepi.

Galih sedang berdiri di depan dispenser, mengisi ulang botol minumnya.

Nadira meletakkan satu cangkir di atas meja pantry, tepat di samping lengan Galih.

Galih melirik cangkir kertas itu, lalu menatap Nadira. “Kamu beli dua?”

Nadira merapikan blazer hitamnya dengan gerakan wajar. “Yang satu… kebetulan tadi ada promo beli satu gratis satu.”

Galih mengangkat alisnya, menatap cangkir kopi itu lebih dekat. “Promo *Buy 1 Get 1* untuk *cold brew* tanpa gula, ukuran besar, pakai ekstra es?”

Nadira berdeham kaku, menghindari tatapan mata pria itu. “Toko kopinya yang menentukan jenis promonya.”

“Kebetulan jenis promonya persis seperti pesanan favoritku tiap jam satu siang?” goda Galih dengan suara rendah, menahan tawa yang membayang di matanya.

“Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa. Biar kutaruh di kulkas untuk staf yunior,” sahut Nadira defensif, hendak meraih kembali cangkir itu.

Sebelum jemari Nadira menyentuhnya, tangan Galih bergerak lebih cepat, mengambil cangkir kertas tersebut dan menyesapnya perlahan.

“Aku tidak bilang tidak mau,” ujar Galih tenang, menatap Nadira dari balik bibir cangkirnya. “Terima kasih.”

Nadira memperhatikan Galih yang sedang menikmati kopinya. Ada detik di mana kesadaran itu menghantamnya secara tiba-tiba: ia memikirkan pesanan Galih saat berdiri di antrean kedai kopi, ia tahu persis jam berapa pria itu butuh asupan kafein, dan ia membawa kopi itu murni karena ia ingin memberikannya.

*Kenapa aku sekarang mencari Galih bahkan ketika tidak ada urusan?*

Pikiran itu berkelebat cepat di kepalanya. Sebelum logikanya sempat membedah pertanyaannya lebih jauh, Nadira cepat-cepat memangkasnya, mengambil cangkir kopinya sendiri, lalu berbalik.

“Aku harus kembali ke meja. Draf gugatan sengketa tanah harus dikirim sebelum jam tiga,” pangkas Nadira cepat.

“Nadira,” panggil Galih saat Nadira baru melangkah dua tindak.

Nadira menoleh di ambang pintu pantry. “Ya?”

“Kamu memang sering membelikan promo kebetulan begini ke teman kerjamu yang lain?” tanya Galih santai, menopang pinggulnya di tepi meja pantry.

“Tidak,” jawab Nadira jujur.

“Berarti aku spesial?”

Nadira menatap pria itu, mencoba mencari celah gurauan di wajah Galih, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata cokelat gelap yang menatapnya dengan ketenangan mendalam.

“Aku tidak tahu,” jawab Nadira pelan.

Galih menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum yang teramat halus namun sanggup membuat dada Nadira berdesir aneh.

“Nanti juga tahu,” sahut Galih ringan, lalu melanjutkan meminum kopinya tanpa memberi penjelasan lebih jauh.

Nadira tidak membalas. Ia melangkah keluar dari pantry dengan jantung yang berdetak sedikit lebih kencang dari irama normalnya.

—

Hari Sabtu tiba lebih cepat dari yang dikira.

Restoran pilihan Nadira kali ini adalah sebuah kedai pasta kecil ala Italia autentik yang terselip di kawasan Senopati. Tempatnya hangat, dengan pencahayaan temaram dan meja-meja kayu kecil yang tertata rapi.

Galih melangkah masuk tepat pukul satu siang. Ia menemukan Nadira sudah duduk di salah satu meja sudut dekat jendela, dengan dua gelas air mineral yang sudah tersaji.

Galih menarik kursi di hadapan wanita itu, menatap meja yang sudah rapi. “Jadi sekarang kamu yang mengatur semuanya?”

Nadira menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, menatap Galih dengan dagu terangkat tipis. “Kamu sendiri yang bilang minggu lalu, ‘Lain kali kamu yang pilih tempatnya’.”

“Dan aku tidak menyangka kamu benar-benar melakukannya dengan seefisien ini. Sampai reservasi meja dan air putihnya sudah siap,” puji Galih terkekeh pelan.

“Aku tidak suka meninggalkan janji tanpa kepastian,” balas Nadira datar, meski ada binar puas di matanya. “Lagipula, pasta di sini dibuat manual setiap hari. Kamu harus coba gnocchi saus gorgonzola mereka.”

“Aku ikut pilihanmu,” pasrah Galih santai, melipat kedua tangannya di atas meja.

Makan siang kali ini terasa jauh lebih cair ketimbang minggu sebelumnya. Tidak ada lagi percakapan kaku yang mencoba meraba batas. Mereka berbicara tentang kebiasaan buruk bos mereka di kantor, bertukar cerita tentang masa-masa sulit saat baru lulus ujian advokat, hingga memperdebatkan hal sepele seperti apakah nanas boleh dijadikan *topping* pizza.

Setiap kali Galih tertawa lepas atas komentar tajam Nadira, wanita itu menyadari satu hal: ia tidak pernah merasa perlu berpura-pura menjadi orang lain di depan pria ini. Tanpa disadari, keberadaan Galih telah menjadi ruang aman di mana ia tidak perlu selalu memasang perisai ketegasan.

—

Pukul tiga sore, mereka selesai makan. Namun, ketika pelayan mengambil piring kosong dan Galih sudah menyelesaikan pembayaran, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak untuk bangun dari kursi.

Galih melihat jam tangannya, lalu menatap Nadira. “Hari masih sore. Mau jalan sebentar?”

Nadira melirik jam di ponselnya. Logika kerjanya seharusnya menyarankan ia pulang dan beristirahat.

Namun, Nadira menatap mata Galih, lalu mengangguk pelan. “Boleh. Ke mana?”

“Taman di dekat sudut jalan ini saja. Udara sorenya sedang bagus,” jawab Galih.

Merekapun berjalan menyusuri trotoar Senopati yang teduh di bawah naungan pohon-pohon rindang. Angin sore berembus pelan, membawa kesegaran di tengah riuh lalu lintas ibu kota. Langkah kaki mereka selaras—tidak terburu-buru, seolah keduanya sedang sengaja mengulur waktu agar sore itu tidak cepat usai.

Setelah berjalan sekitar seratus meter tanpa bicara, Galih mendadak menghentikan langkahnya di bawah deretan pohon angsana.

Nadira ikut berhenti dua langkah di depannya, lalu berbalik bingung. “Kenapa, Galih?”

Galih memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kasualnya. Ia menatap Nadira cukup lama—sebuah tatapan yang tidak lagi membawa candaan atau rona kepura-puraan.

“Nadira,” panggil Galih dengan suara rendah dan mantap.

“Hm?”

“Ada sesuatu yang sebenarnya ingin aku ceritakan sama kamu,” ujar Galih pelan. Matanya terkunci lurus pada manik mata Nadira. “Sesuatu yang sudah ada… sejak sebelum kita membuat kontrak *CompanionCorp*.”

Langkah angin seolah berhenti seketika.

Nadira membeku di tempatnya berdiri, menatap Galih yang kini melangkah satu tindak mendekatinya, sementara dadanya mendadak bergemuruh hebat tanpa sanggup ia cegah.

BERSAMBUNG…

Prev
Next
Tags:
Benci Jadi Cinta, Cinta di Kantor, Drama Keluarga, Free Novel, Pacaran Palsu
Informasi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Bantuan & Layanan
Kebijakan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Ruangan Cerita. All rights reserved

Sign in

Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to Ruangan Cerita

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to Ruangan Cerita