Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 12
Langkah angin seolah berhenti seketika.
Nadira membeku di tempatnya berdiri, menatap Galih yang kini melangkah satu tindak mendekatinya, sementara dadanya mendadak bergemuruh hebat tanpa sanggup ia cegah.
“Apa?” tanya Nadira meluncur pelan dari bibirnya.
Pertanyaan itu keluar polos, tanpa kerangka pertahanan yang biasa ia bangun. Ia belum tahu apa yang akan dikatakan pria di hadapannya, tetapi ada keseriusan yang teramat jujur di mata Galih yang menahannya untuk memotong atau berpaling.
Galih menyunggingkan senyum tipis—sebuah gestur kecil yang biasa ia pakai untuk menenangkan diri sebelum menyampaikan argumen krusial.
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan, sejak sebelum kita membuat kontrak CompanionCorp,” ulang Galih tenang, tatapannya tidak lepas dari mata Nadira. “Sesuatu yang sebenarnya sudah ada di sana, bahkan saat kita masih menganggap satu sama lain sebagai rival kantor yang menyebalkan.”
Nadira menahan napasnya sejenak. “Maksudmu… perasaan?”
“Iya,” jawab Galih tanpa ragu. “Bukan karena satu kejadian besar yang dramatis, Nadira. Aku tidak terbangun di suatu pagi lalu mendadak sadar kalau aku… menyukaimu. Semuanya tumbuh pelan-pelan selama dua tahun kita bekerja di lantai yang sama.”
Nadira masih menatapnya rapat, mencerna setiap kata yang keluar dari bibir pria itu.
“Awalnya aku cuma menganggapmu rekan kerja yang tangguh,” lanjut Galih, suaranya mengalir santai namun tegas. “Seseorang yang seru untuk diajak berdebat dalam rapat divisi. Tapi lama-kelamaan, aku mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kecilmu. Aku tahu kamu sedang stres kalau kamu mulai mengetuk-ngetukkan pena ke meja tiga kali berturut-turut. Aku tahu kamu lagi jengkel kalau cara bicaramu berubah jadi sangat formal dan irit kata.”
Galih terkekeh rendah, mengingat kembali memori dua tahun terakhir.
“Aku juga memperhatikan kamu sering lupa makan siang kalau sudah tenggelam di depan tumpukan berkas perdata. Dan di balik caramu yang kelihatan keras dan tidak mau kalah, aku melihat bagaimana kamu diam-diam membantu staf junior memperbaiki draf mereka tanpa pernah mengambil kreditnya. Tanpa sadar, tiap kali aku masuk kantor, mataku refleks mencari kubikelmu. Percakapan dan perdebatan kita jadi hal yang selalu kutunggu, dan pendapatmu… perlahan jadi salah satu pendapat yang paling penting buat aku.”
Nadira mendengarkan dalam hening. Pengakuan itu tidak disampaikan dengan nada menggebu-gebu atau tatanan kalimat puitis. Galih mengucapkannya seperti mengungkapkan sebuah fakta hukum yang sudah teruji kebenarannya: tenang, jujur, dan sederhana. Semua pengamatan itu terasa wajar, tumbuh alami dari rutinitas dua tahun yang mereka bagi di bawah atap kantor yang sama.
“Sejak kapan?” tanya Nadira pelan, kali ini menuntut linimasa.
“Aku sendiri tidak bisa menunjuk satu tanggal pasti,” aku Galih sambil menggeleng tipis. “Perasaan itu berubah bertahap. Dari sekadar menghormati, jadi tertarik, sampai akhirnya aku sadar kalau aku mulai menyukaimu. Dan jujur saja, aku tidak selalu suka dengan semua sifatmu. Kamu keras kepala, dingin kalau sedang fokus, dan sering bikin aku jengkel setengah mati kalau kita beda pendapat dalam kasus.”
Nadira menaikkan satu alisnya. “Bagus.”
Galih tertawa kecil. “Justru karena itu terasa nyata, Nadira. Aku tidak menyukaimu karena kamu selalu menyenangkan. Aku menyukaimu lengkap dengan semua sifat menyebalkanmu.”
Dada Nadira berdesir aneh. Rasa hangat yang merayap itu berusaha ia tekan dengan insting kritisnya yang tersisa. Ada satu pertanyaan mendasar yang menggantung di kepalanya—pertanyaan yang paling menuntut kepastian dari seluruh konfigurasi ini.
“Kalau kamu sudah menyukaiku sebelum ada kontrak,” cecar Nadira, menatap Galih lurus, “kenapa kamu menerima pesanan dariku di CompanionCorp?”
Galih menarik napas pelan, mengerti betul kenapa pertanyaan itu krusial bagi Nadira.
“CompanionCorp itu murni pekerjaan sampingan yang kuambil karena aku butuh penghasilan tambahan untuk biaya pengobatan rutin Ibu,” jelas Galih transparan. “Sistem aplikasi itu menutup identitas klien sampai pesanan dikonfirmasi secara resmi. Waktu nama dan detail pesananmu muncul di layar ponselku untuk acara Tante Rosa, aku terkejut setengah mati.”
“Kamu tidak berpikir untuk membatalkannya?”
“Aku sempat berpikir begitu,” jawab Galih jujur. “Aku berpikir mungkin aku harus menolak karena aku sudah punya perasaan padamu. Tapi di sisi lain, kebutuhan biaya pengobatan Ibu saat itu sangat mendesak. Jadi aku memutuskan untuk bersikap profesional. Dan selama kontrak berjalan, aku menjalankan peranku sepenuhnya sebagai companion yang kamu bayar.”
Galih melangkah satu tindak lebih dekat, memastikan tidak ada jarak atau kesalahpahaman di antara mereka.
“Aku tidak pernah menggunakan kontrak itu untuk mendekatimu secara manipulatif,” tegas Galih. “Aku tidak sengaja memanfaatkan situasimu untuk bikin kamu menyukaiku. Semua perhatian yang kuberikan waktu itu adalah bagian dari peranku. Dan begitu masa kontrak satu bulan itu selesai, aku sengaja kembali menjaga jarak.”
Pikiran Nadira merangkai potongan-potongan peristiwa dari beberapa minggu terakhir. Bayangan saat Galih menutup laporan kerja CompanionCorp tanpa basa-basi, kembali melintas di kepalanya.
“Makanya kamu bersikap formal kepadaku setelah kontrak selesai?” tanya Nadira, menyadari alasan di balik sikap Galih waktu itu.
“Iya,” sahut Galih mantap. “Aku tidak mau memulainya lagi sebelum batasnya jelas. Aku tidak mau kamu merasa punya kewajiban untuk merespons cuma karena kita pernah terlibat kontrak atau karena segan denganku. Kalau kamu memilih bersikap sebagai rekan kerja, aku akan menghormati keputusan itu. Kalau kamu menolak ajakan makan siangku, aku juga akan menerimanya.”
Galih menatap Nadira dengan binar lembut di matanya.
“Tapi kamu menerima ajakan makan siangku,” lanjut Galih pelan. “Kamu membalas pesanku. Waktu restoran pilihanmu tutup, kamu tidak memakai itu sebagai alasan untuk membatalkan, tapi malah mencari restoran lain, memilih tempat ini sendiri, dan datang bertemu denganku hari ini.”
Nadira terdiam. Setiap poin yang disebutkan Galih adalah fakta yang tidak bisa ia bantah. Pria itu tidak sedang menuduhnya menyimpan perasaan yang sama, tetapi ia dengan cermat menunjukkan bahwa Nadira sendiri telah memberikan ruang tanpa dipaksa oleh siapa pun.
Di balik dada Nadira, ada pergolakan yang perlahan mereda. Ia menyadari bahwa perasaannya sendiri memang telah bergeser. Tidak ada lagi klausul kontrak yang mengharuskannya duduk di depan Galih saat ini. Namun, ia tetap berada di sini.
“Aku belum tahu harus menyebut perasaan ini apa, Galih,” ujar Nadira jujur, suaranya datar namun matanya menyuarakan keraguan yang transparan. “Aku tidak mau terburu-buru memberi nama atau label pada situasi ini.”
Galih menyunggingkan senyum hangat—senyum yang teramat lega. “Aku tidak minta jawaban atau status hari ini, Nadira. Aku cuma mau kamu tahu posisiku yang sebenarnya.”
Nadira mengembuskan napas panjang, merapikan letak tas di bahunya saat rasa canggung yang tersisa perlahan meluruh. Ia menatap Galih, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan.
“Tapi aku tidak keberatan kalau kita makan siang lagi minggu depan.”
Mata Galih berbinar mendengarnya. Tanpa mendesak lebih jauh, tanpa menuntut komitmen yang belum siap diberikan, ia mengangguk pelan. “Sabtu depan. Janji.”
—
Atmosfer berat yang sempat menggantung di antara mereka menguap sepenuhnya. Suasana sore di Senopati kembali terasa hangat saat mereka berbalik dan menyusuri trotoar menuju area parkir.
“Jadi,” cetus Nadira sambil melangkah di samping Galih, tangannya melipat di dada, “selama dua tahun kita saling bantai argumen dalam rapat divisi, kamu sebenarnya sibuk memperhatikan kebiasaanku?”
Galih terkekeh pelan. “Memperhatikan kebiasaanmu dan menikmati argumenmu adalah dua hal yang berbeda. Argumen hukummu tetap saja sering bikin kepalaku pusing.”
“Kamu sendiri yang mulai,” balas Nadira tidak mau kalah. “Kamu selalu suka memotong pembicaraanku di bagian eksepsi.”
“Karena eksepsimu selalu terlalu tajam,” puji Galih santai. “Tapi harus kuakui, tanpa perdebatan itu, suasana kantor pasti membosankan.”
Nadira menyunggingkan senyum kecil. Dinamika di antara mereka tidak mendadak berubah menjadi sesuatu yang asing atau manis secara berlebihan. Mereka tetaplah Galih dan Nadira yang biasa: saling melempar sindiran, saling menantang, namun kini ada kenyamanan mendalam yang melandasi setiap kata.
Mereka tiba di dekat mobil Galih. Petugas valet menyerahkan kunci, dan Galih membukakan pintu untuk Nadira sebelum berjalan memutari kap mobil menuju kursi pengemudi.
Nadira duduk di dalam kabin, memasang sabuk pengaman saat Galih masuk dan menyalakan mesin. Mobil perlahan bergerak membelah jalanan sore Jakarta yang mulai temaram oleh sinar matahari terbenam.
Nadira menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, menatap bayangan pepohonan yang berlalu di luar jendela.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, kepalanya terasa tenang. Tidak ada draf laporan CompanionCorp yang harus ia periksa besok pagi. Tidak ada skenario pacar palsu yang perlu ia hafalkan untuk menghadapi keluarga. Tidak ada perisai hukum atau alasan formal apa pun yang melatarbelakangi pertemuannya dengan Galih hari ini.
Ia datang murni karena ia ingin berada di sana. Dan menyadari fakta sederhana itu, Nadira menyunggingkan senyum tipis di kegelapan kabin mobil, tahu bahwa Sabtu depan ia akan berada di tempat yang sama lagi—bukan sebagai klien, melainkan sebagai dirinya sendiri.
BERSAMBUNG…