Pacar Sewaan untuk Reuni Keluarga - Bab 13
Kopi di cangkir Nadira sudah dingin sejak pukul sembilan pagi, tetapi ia belum juga menyentuhnya.
Di sudut ruangan lantai empat, Galih sedang berdiri menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja Bagas. Pria itu tampak sibuk mendiskusikan draf memori banding sambil terkekeh pelan atas tanggapan sang associate junior. Suara tawanya yang rendah ter dengar sampai ke kubikel Nadira—tidak terlalu keras, tetapi entah bagaimana sanggup menembus konsentrasinya.
Nadira mengalihkan pandangannya dari layar monitor, menatap tumpukan berkas di depannya.
Senin pagi bergulir seperti biasa. Tidak ada adegan romantis ganjil yang mendadak mengubah atmosfer kantor. Galih tetaplah pengacara senior yang profesional, tegas, dan irit bicara saat rapat divisi. Pagi tadi, ketika mereka berpapasan di lorong lif, pria itu hanya mengangguk sopan dan menyapanya singkat, persis seperti yang selalu ia lakukan selama dua tahun terakhir.
Namun, Nadira yang merasa berbeda.
Mengetahui bahwa di balik sikap tenang pria itu ada perasaan yang tumbuh selama dua tahun ternyata mengubah cara Nadira memandang hal-hal kecil. Ia mendapati dirinya lebih sadar pada keberadaan Galih: cara pria itu menyesap kopinya saat membaca draf eksepsi, kebiasaannya melonggarkan ikatan dasi ketika hari mulai sore, atau langkah kakinya yang mantap saat melewati meja kerjanya.
Dan yang paling membuat Nadira bingung adalah kenyataan bahwa mengetahui semua itu tidak membuatnya ingin menarik diri. Ia tidak merasa terancam, tidak merasa terdesak, dan yang paling utama: ia tidak ingin menjauh.
—
Pukul lima sore lebih sedikit. Ruangan divisi perdata perlahan mulai sepi.
Nadira masih duduk di kursi kerjanya, mengetik revisi gugatan yang batas waktunya baru lusa. Dari sudut matanya, ia melihat Galih mengambil jas hitam di sandaran kursi, mematikan layar komputer, lalu meraih tas kulitnya.
Galih bersiap untuk pulang.
Pria itu tidak berjalan ke arah meja Nadira. Ia juga tidak menawarkan tumpangan seperti yang biasa ia lakukan saat masa kontrak *CompanionCorp* dulu. Galih murni menjaga batas yang telah mereka sepakati, memberi Nadira kendali penuh tanpa tekanan sedikit pun.
Galih melangkah menuju pintu keluar area kerja.
Jemari Nadira berhenti di atas papan ketik. Ia menatap punggung pria itu yang makin menjauh. Logika kerjanya mengatakan bahwa ia masih punya beberapa paragraf untuk diselesaikan. Ia bisa pulang naik taksi satu jam lagi. Tetapi di dalam dadanya, timbul desakan spontan yang enggan ia lawan.
Nadira mendadak tidak ingin pulang sendirian.
Galih baru saja memegang gagang pintu kaca ketika suara Nadira memecah keheningan ruangan.
“Galih.”
Galih menghentikan langkahnya, lalu berbalik. “Ya?”
Nadira ragu-ragu sejenak. Ia merapikan beberapa lembar kertas di mejanya dengan gerakan yang dibuat-buat, mencoba menutupi detak jantungnya yang sedikit berakselerasi.
“Kamu… langsung pulang?” tanya Nadira.
Galih menatapnya lurus, mengepit tas kulit di lengannya. “Iya. Pekerjaanku sudah selesai semua hari ini.”
Nadira terdiam dua detik. Ia menatap layar komputernya, lalu menatap Galih kembali.
“Kalau begitu… aku ikut, mobilku sedang di bengkel.” ujar Nadira pelan namun jelas.
Galih sempat tertegun. Alisnya terangkat tipis, tidak menyangka frasa itu akan keluar dari mulut wanita yang biasanya sangat protektif terhadap jarak pribadinya. Namun, pria itu tidak menggoda atau membesar-besarkannya.
“Kamu mau pulang sekarang?” tanya Galih tenang. “Pekerjaanmu sudah selesai?”
“Bisa dilanjutkan besok pagi,” jawab Nadira mantap. Ia langsung mematikan monitor, meraih tas tangannya, dan berdiri dari kursi. “Iya. Aku pulang sekarang.”
—
Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu saat sedan hitam Galih bergerak membelah kepadatan lalu lintas sore Jakarta.
Keheningan di dalam kabin mobil terasa menenangkan. Musik jazz berirama pelan mengalir tipis dari pengeras suara, berpadu dengan deru mesin yang stabil. Nadira menyandarkan punggungnya pada jok kulit, menatap pendar merah lampu belakang mobil-mobil di depan mereka.
Tidak ada pembicaraan tentang status, tidak ada pengakuan baru, dan tidak ada atmosfer canggung. Percakapan mereka mengalir ringan, berputar pada hal-hal sepele yang terjadi di kantor sepanjang hari.
“Bagas tadi kelihatan panik sekali waktu kamu periksa drafnya,” cetus Galih tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
“Dia melakukan kesalahan dasar lagi di pasal ganti rugi,” sahut Nadira datar. “Tapi drafnya sudah jauh lebih rapi dibanding bulan lalu.”
“Kamu tetap memarahi dia?”
“Aku tidak memarahi,” ralat Nadira dingin. “Aku cuma mengoreksi dengan intonasi yang tepat.”
Galih terkekeh pelan. “Sama saja di mata anak-anak junior, Nadira.”
Nadira menoleh, menatap profil samping wajah Galih yang tersiram pendar lampu jalan. Garis rahang pria itu tampak rileks, jemarinya memegang kemudi dengan santai.
“Kamu yakin tidak keberatan ikut denganku?” tanya Galih tiba-tiba, meliriknya sekilas lewat kaca spion dalam. “Aku tidak memaksamu.”
Nadira menyilangkan tangannya di dada. “Kalau aku keberatan, aku tidak akan berdiri dan memanggilmu di pintu tadi, Galih.”
Galih menyunggingkan senyum tipis. “Bagus kalau begitu.”
Beberapa kilometer kemudian, Galih melambatkan laju mobilnya dan meminggirkan kendaraan di depan sebuah kedai roti kecil yang ramai di pinggir jalan utama.
“Sebentar ya, aku mau beli roti isi untuk Ibu,” ujar Galih sambil melpas sabuk pengamannya. “Kamu mau sesuatu?”
“Tidak,” jawab Nadira refleks.
Galih menatapnya sejenak, lalu matanya berbinar jenaka. “Bahkan bukan *croissant* almond hangat yang ada di etalase depan itu?”
Nadira menoleh ke arah jendela kedai dan melihat baki *croissant* yang baru saja diangkat dari oven. Ia berkedip pelan, lalu kembali menatap Galih.
“Kamu ingat?” tanya Nadira.
“Kamu pernah pesan itu dua kali waktu kita lembur sampai tengah malam bulan lalu,” sahut Galih santai sambil membuka pintu mobil. “Tunggu sebentar.”
Galih melangkah masuk ke dalam kedai. Nadira memperhatikan dari dalam mobil saat pria itu berdiri di antrean, memesan kotak roti, dan dengan teliti memastikan *croissant* almond pesanan khususnya terbungkus rapi.
Kedekatan mereka tidak dibangun di atas janji-janji manis yang muluk. Itu terbentuk dari serangkaian kebiasaan kecil, perhatian jujur, dan ingatan-ingatan sederhana yang terkumpul tanpa disadari.
—
Mobil kembali berjalan melintasi area pemukiman yang mendekati kediaman Nadira.
Ketika papan nama kompleks rumahnya mulai terlihat di ujung jalan, Nadira mendadak menyadari satu hal: ia belum ingin perjalanan ini berakhir. Percakapan mereka yang tenang dan atmosfer nyaman di dalam mobil membuat kepalanya yang lelah setelah seharian menangani berkas hukum terasa sangat ringan.
Ia melirik jam digital di dasbor. Masih pukul setengah tujuh malam.
“Kamu sudah makan malam?” tanya Nadira tiba-tiba.
Galih meliriknya sekilas. “Belum. Rencananya mau makan di rumah setelah ini.”
Nadira diam sejenak, menyusun alasan di kepalanya, sebelum akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mengutarakannya langsung.
“Kalau begitu makan dulu,” kata Nadira.
Galih menoleh sepenuhnya saat mobil berhenti di lampu merah. “Di mana?”
“Ada kedai soto mi di sudut jalan sebelah kiri depan,” ujar Nadira sambil menunjuk ke arah kedai kecil berkanvas biru yang tampak terang oleh lampu pijar. “Tempatnya bersih dan kuahnya enak.”
Galih menatap kedai itu, lalu kembali menatap Nadira dengan binar mata menggoda yang tak bisa disembunyikan. “Kamu yakin sedang mengajakku makan malam?”
Nadira langsung membuang muka ke jendela, memasang ekspresi defensifnya yang khas. “Jangan dibesar-besarkan. Aku cuma memastikan kamu tidak kelaparan. Lagipula aku juga mendadak lapar.”
“Aku cuma bertanya, Nadira,” kekeh Galih rendah. “Kalau kamu cuma mau makan soto mi, ya sudah.”
“Kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa,” potong Nadira cepat. “Langsung antar aku pulang saja.”
“Aku mau,” pangkas Galih mantap, memotong kalimat Nadira sebelum wanita itu sempat membatalkan tawarannya. Ia menyalakan lampu sein kiri. “Aku sangat mau.”
Kedai soto mi itu sederhana. Meja-meja kayunya bersih dan aroma rempah gurih memenuhi udara malam. Mereka duduk berhadapan di sudut ruangan yang agak terpisah dari pengunjung lain. Mereka hanya duduk berdua, menikmati mangkuk soto mi hangat yang disajikan, bertukar cerita lucu tentang ulah Tante Rosa yang tadi siang sempat mengirim pesan pada Nadira, dan tertawa bersama.
Di tengah-tengah percakapan itu, saat Galih sedang menuangkan sedikit sambal ke mangkuknya, Nadira memperhatikannya dalam diam.
Sabtu depan—hari di mana mereka berjanji untuk pergi makan siang bersama lagi—sebenarnya masih beberapa hari lagi. Namun malam ini, tanpa ada alasan apa pun, Nadira sendiri yang memilih untuk menciptakan kesempatan ini.
Ia tidak melompati prosesnya. Ia belum siap menyebut ini sebagai hubungan asmara. Tetapi dalam hatinya, Nadira mulai mengakui sebuah fakta sederhana: ia merasa sangat nyaman berada di dekat pria ini. Dan bagi seseorang yang selama ini selalu membutuhkan pijakan alasan yang sah untuk setiap tindakannya, melangkah keluar hanya karena ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Galih adalah sebuah keputusan besar.
—
Pukul delapan malam, sedan hitam Galih berhenti tepat di depan pagar rumah Nadira.
Galih mematikan mesin mobil dan menyalakan lampu kabin yang temaram.
“Sabtu tetap jadi, kan?” tanya Galih pelan, menatap Nadira yang sedang melepas sabuk pengamannya.
“Jadi,” jawab Nadira mantap. “Aku pilih tempat yang enak kali ini.”
Galih tersenyum hangat. Ia tidak mencoba untuk turun membukakan pintu, tidak meminta untuk mampir ke dalam rumah, dan tidak mencoba menciptakan momen romantis yang berlebihan. Ia tetap menjaga kenyamanan dan batas yang disukai Nadira.
Nadira meraih tas tangannya, memegang gagang pintu mobil, lalu menghentikan gerakannya. Ia menoleh kembali pada Galih.
“Galih.”
“Ya?”
“Terima kasih sudah mengantarku,” ujar Nadira, suaranya tulus tanpa lapisan defensif. “Dan… terima kasih sudah menemaniku makan.”
Galih menatapnya dengan tatapan lembut. “Sama-sama, Nadira. Selamat istirahat.”
Nadira turun dari mobil dan melangkah menuju pagar rumahnya. Saat ia memutar kunci pagar, langkahnya terhenti. Ia berbalik dan menoleh kembali ke arah jalan.
Sedan hitam Galih masih terparkir diam di sana. Lampu utamanya masih menyala, menunggu di kegelapan malam sampai Nadira benar-benar melangkah masuk dan menutup pintu depan rumahnya dengan aman.
Nadira menyunggingkan senyum kecil di balik pintu rumahnya yang tertutup rapat.
Ia belum tahu hubungan ini akan membawa mereka ke mana. Ia belum siap memberi nama pada apa yang sedang tumbuh di antara mereka. Namun malam ini, Nadira tidak lagi mencari alasan resmi untuk membenarkan perasaannya.
Ia hanya ingin bersama Galih—dan itu sudah lebih dari cukup.
BERSAMBUNG…